Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Thursday, September 25, 2008

Vatican Larang Penggunaan Nama "Yahweh"

Petunjuk Vatikan : “Yahweh” Tidak Tepat Digunakan Dalam Liturgi

Diterjemahkan oleh Leonard T. Panjaitan dari : http://www.catholicculture.org/news/features/index.cfm?recnum=60153

13 Agustus 2008 (CWNews.com) - Vatikan telah memutuskan bahwa Nama Allah, yang umumnya dimaksud sebagai “Yahweh”, tidak boleh diucapkan dalam liturgi Katolik.
Petunjuk Vatikan tidak mewajibkan adanya perubahan apa pun dalam bahasa liturgi, karena Nama Allah tidak dicantumkan dalam terjemahan resmi Misa Romawi. Tetapi sebagian lagu mungkin dianggap tidak tepat dalam penggunanannya dalam liturgi.

Konggregasi Ibadat Suci, dalam mengeluarkan petunjuk baru ini, mengingatkan para uskup bahwa dalam tradisi Yahudi, dimana umat Kristen perdana mengadopsinya, bahwa ketika itu umat beriman menghindari pengucapan Nama Allah. Petunjuk Vatikan juga menjelaskan bahwa “sebagai sebuah ungkapan kebesaran dan keagungan Allah yang tak terbatas, maka nama tersebut tetap dipertahankan untuk tidak boleh diucapkan”.

Dalam hal Nama Allah, orang-orang Yahudi yang saleh menggunakan empat tetragammaton YHWH, atau menggantikannya dengan istilah “Adonai” atau “Tuhan”. Umat Kristen pertama melanjutkan praktek ini, kutip Vatikan.

Konggregasi Ibadat Suci mengamati bahwa penyebutan “Tuhan” dalam teks Kitab Suci mengikuti praktek tersebut. Jadi ketika St. Paulus berdoa agar “setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan,” maka surat Vatikan mengatakan bahwa pernyataan St. Paulus itu “berkaitan dengan tepat kepada pernyataan ke-ilahian [Kristus]”.

Kitab Suci merefleksikan tradisi Yahudi dan Nama Allah tidak dicantumkan dalam terjemahan resmi Katolik. Instruksi Vatikan ini menyatakan bahwa bahasa liturgis harus dengan teliti mengikuti teks-teks Kitab Suci, sehingga Firman Allah “diperbincangkan dan disebarluaskan dalam sikap yang taat dan utuh”.

Tetapi, instruksi ini mencatat, bahwa “dalam tahun-tahun terakhir praktek ini telah masuk secara sembunyi-sembunyi”, dalam hal penggunaan Nama Allah dan pencantuman tetragammaton. Dengan demikian, menurut Vatikan, praktek tersebut harus dihindari dalam liturgi Katolik.

Efek dari petunjuk Vatikan ini harus menjadi jelas dalam pemilihan lagu-lagu, karena beberapa musik liturgi kontemporer menyalahgunakan kebijakan Vatikan dengan menyebutkan Nama Allah. Kebijakan Vatikan ini juga mencakup perhatian dalam rangka persiapan elemen-elemen variabel liturgi, seperti Doa Umat Beriman.

Surat dari Konggregasi Ibadat Suci, bertanggal 29 Juni 2008, ditandatangani oleh Kardinal Francis Arinze dan Uskup Agung Malcom Ranjith, masing-masing sebagai prefek dan sekretaris konggregasi tersebut.

Dalam surat bertanggal 8 Agustus 2008 kepada uskup-uskup dalam hirarki AS, yang disiarkan dalam petunjuk Vatikan ini, Uskup Arthur Serratelli – Ketua Komite Liturgi Konferensi Uskup AS – menyambut baik instruksi Vatikan ini, dengan mengatakan bawah “petunjuk tersebut membantu menekankan pada akurasi teologis dari sisi bahasa dan merupakan suatu penghormatan yang tepat bagi Nama Allah”.

No comments: