Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Tuesday, December 22, 2009

Selamat Natal

Sebagai seorang Muslim, penulis mengucapkan selamat hari raya Natal kepada saudara-saudari Kristiani di mana pun berada.

Bagi seorang Muslim, mengucapkan selamat hari raya Natal bukan hanya menjadi kesadaran persaudaraan, melainkan tuntunan keimanan yang sangat mendasar. Karena Nabi Isa atau Yesus menegaskan (sebagaimana disampaikan Al Quran), keselamatan atas diriku ketika dilahirkan, ketika meninggal dunia, dan ketika (nanti) dihidupkan kembali, Qs 19: 22.

Dalam konteks negara majemuk seperti Indonesia, ucapan selamat hari raya Natal merupakan salah satu bentuk kesadaran kebangsaan yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara; bahwa Indonesia adalah negara bagi semua agama yang ada di haribaan Bumi Pertiwi; bahwa setiap pemeluk agama memiliki kebebasan untuk merayakan dan menjalankan keyakinannya; dan bahwa penganut satu agama di Indonesia harus menghormati penganut agama lain.

Kerukunan

Bagi agamawan, mengucapkan selamat kepada umat agama lain dalam merayakan hari besar keagamaan, seperti Natal, mempunyai makna yang sangat penting. Selain tuntunan agama, ucapan selamat bagi seorang agamawan bisa juga karena menjadi langkah awal untuk menciptakan kerukunan dan kebersamaan dalam kehidupan umat beragama, terutama dalam kehidupan bangsa majemuk seperti Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh agamawan di Mesir bisa dijadikan sebagai contoh oleh para agamawan di Tanah Air. Dalam persoalan hari raya Natal, contohnya, sejumlah agamawan terkemuka di Mesir, seperti Grand Syeikh Al-Azhar Kairo, Sayyid Muhammad Thanthawi, tak hanya membolehkan seorang Muslim turut merayakan hari raya Natal. Lebih daripada itu, mereka memberikan keteladanan baik dengan menghadiri undangan perayaan Natal umat Kristen (Koptik) di sana. Momen-momen damai seperti ini digunakan oleh sejumlah agamawan di Mesir untuk mengukuhkan tali persaudaraan kebangsaan, mengukuhkan bangunan perdamaian, dan menghormati segala jenis perbedaan.

Begitu pun sebaliknya, sejumlah pemimpin Kristen (Koptik) di Mesir turut merayakan dan mengucapkan selamat ketika hari raya keagamaan umat Islam tiba. Suasana damai, kondusif, dan penuh persaudaraan menyelimuti kehidupan masyarakat di sana, dimulai dari kalangan agamawan kemudian diikuti oleh segenap umat dan pengikutnya.

Peran agamawan seperti di Mesir memberikan sumbangsih cukup besar bagi terjaganya hubungan damai dalam kehidupan masyarakat Mesir, terlepas apa pun agama ataupun kelompoknya. Setidak-tidaknya masyarakat Muslim di sana tidak diharamkan bila turut merayakan Natal bersama sahabat atau kerabat yang beragama Koptik.

Pengalaman Mesir seperti di atas sangat patut dipertimbangkan. Sejauh ini, konflik berbau agama jarang terjadi di Negeri Piramida itu.

Melahirkan ketegangan

Hal inilah yang jarang terjadi dalam kehidupan umat beragama di Tanar Air. Peran agamawan sangatlah terbatas dalam mendorong bangsa ini terbebas dari konflik agama. Sebaliknya, peran dan keterlibatan agamawan yang cukup masif terjadi dalam kehidupan politik, apalagi pada saat menjelang pemilu.

Hingga hari ini, konflik antaragama masih terus membayang, bahkan juga konflik intraagama. Umat beragama tidak disuguhi pemandangan damai dari kalangan agamawan yang mengucapkan selamat kepada umat agama lain dalam merayakan hari besarnya, termasuk hari raya Natal. Dan hingga hari ini masih terdapat sejumlah pihak yang mengharamkan hadir pada perayaan Natal bagi seorang Muslim atau hari raya agama lainnya.

Pengharaman seperti di atas tidak melahirkan apa pun, kecuali ketegangan dalam kehidupan umat yang berbeda agama. Pihak paling diuntungkan oleh fatwa seperti ini adalah mereka yang ”bersyahwat” politik. Bangsa, masyarakat, dan agama adalah pihak yang paling dirugikan oleh pengharaman seperti di atas yang merupakan akibat tak langsung keterlibatan kaum agamawan dalam dunia politik pragmatis yang cukup masif, baik perpolitikan nasional maupun lokal.

Dikatakan akibat tidak langsung karena tidak semua dan tidak setiap saat agamawan melakukan ”politisasi agama” dalam bentuk fatwa-fatwa politis atau lainnya. Harus jujur diakui, masih terdapat sekian agamawan yang turun ke kancah politik dengan niat tulus-ikhlas dan membawa tujuan perjuangan murni. Namun, agamawan seperti ini tampak sangat terbatas.

Natal adalah momen penting yang bisa digunakan oleh kaum agamawan untuk menyampaikan sabda perdamaian, kasih sayang, dan menghormati perbedaan keagamaan. Silaturahim antaragamawan dapat dilakukan dalam momen-momen keagamaan seperti Natal ini. Hingga umat beragama terbiasa dalam menghormati perbedaan dan perayaan hari besar agama lain.

Penulis: Hasibullah Satrawi Alumnus Al-Azhar Kairo, Mesir; Aktivis Moderate Muslim Society, Jakarta
Sabtu, 19 Desember 2009 | 02:58 WIB

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/19/02582247/selamat.natal

Sunday, December 20, 2009

Gereja St. Albertus Bekasi Dihujani Lemparan Batu dan Nyaris Dibumihanguskan

Peristiwa pelemparan batu dan pembakaran gereja terjadi di kawasan Perumahan Harapan Indah, Kota Bekasi, Kamis (17/12/2009) malam. Massa yang terdiri dari ratusan orang mulai dari anak-anak hingga orangtua termasuk ibu-ibu mendatangi Gereja Katolik Santo Albertus yang terletak di Jalan Boulevard untuk merusak serta membakar fasilitas gereja.

Ketua Umum Pembangunan Gereja Santo Albertus, Kristina Maria R, dalam keterangan per telepon kepada Kompas.com, menjelaskan, massa yang menumpangi beberapa mobil dan motor sempat melempari gereja yang tengah dalam tahap akhir pembangunan itu sebelum akhirnya dibubarkan oleh polisi dari Polsek Harapan Indah dan Polres Bekasi. Selain melempari gereja, massa membakar pos satpam, 1 motor satpam, dan kontainer yang dijadikan sebagai kantor kontraktor pembangunan gereja.

Kristina Maria R yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Menko Polhukam menguraikan, massa juga membuang sejumlah marmer dan keramik yang akan digunakan untuk pembangunan gereja ke jalan sekitarnya. Massa tampak melengkapi diri dengan minyak tanah untuk melancarkan aksinya dan ini terbukti dari 1 jeriken berisi minyak tanah yang ditemukan di lokasi.      

"Satu komputer dari kantor kontraktor diinjak-injak massa dan ditemukan di got depan gereja," jelas Kristina yang tidak mengira apabila massa yang berpapasan dengannya saat ia akan pulang ke rumahnya tadi malam melakukan aksi perusakan gereja.

"Gereja ini sudah mendapatkan izin pembangunan dan tiang pancang pertamanya sudah sejak 11 Mei 2008," tambah Kristina. Menurut Kristina, aparat mulai dari Danrem hingga Kapolres Bekasi telah menjamin keamanan bagi kegiatan ibadah ataupun acara penyambutan Natal di gereja ini.

Polisi yang mendapatkan laporan massa berasal wilayah utara Kabupaten Bekasi sempat memasang police line di sekitar gereja pada malam hari sebelum mencabutnya kembali Jumat pagi. Massa dapat dibubarkan aparat menjelang pukul 24.00 tadi malam dan beberapa orang yang dicurigai sebagai otak aksi perusakan gereja juga telah diringkus.

Jumat, 18 Desember 2009 | 12:20 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com —http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/12/18/12204719/gereja.dihujani.lemparan.batu.dan.nyaris.dibumihanguskan

Friday, December 18, 2009

Pesan Yesus Tanggal 13 Desember 2009

Urgent Severe Message of God December 13, 2009!!

December 14, 2009
Vassula writes:

This past Saturday here in Rhodes we have our prayer meeting. Not everyone was present that day but some only. Towards the end we took up the prayer I have given you, that one of the 25th November and we all prayed it. After that we opened the Greek bible (that was brand new) and I opened it. My finger went on Ezekiel  ch. 7,  verses 1-14. While reading it we all felt that it was like we were reading again the prayer!  A continuation. When I opened the English bible so that I read it as my Greek is not that perfect, I had a book mark just there. What we understood from this is that the Lord was trying to emphasize the seriousness and urgency of His previous message which is the prayer.

(This was the prayer, sent out on November 28: )

"Address Me Vassula in this way:

Tender Father, lash not Your wrath on this generation, lest they perish altogether;
Lash not on Your flock distress and anguish,
for the waters will run dry and nature will wither;
all will succumb at Your wrath leaving no trace behind them;

The heat of Your Breath will put aflame the earth turning it into a waste!
From the horizon a star will be seen;
The night will be ravaged and ashes will fall as snow in winter,
covering Your people like ghosts;

Take Mercy on us, God, and do not assess us harshly;
Remember the hearts that rejoice in You and You in them!
Remember Your faithful and let not Your Hand fall on us with force,
But, rather in Your Mercy lift us and place Your precepts in every heart. Amen”


The next day on Sunday, as I sat at Church, after 5 minutes or so, I heard the Lord call me and speak to me. My worry was that I would not remember to write what He said. Our Lady in the end said just a few words. But, our Lord made me understand that I do not have to worry because He will remind me when I will write His words, in fact He will lead my hand again. So this is what Jesus Christ said yesterday and today, Monday 14 December His Words were written.

Testify my child on My behalf and in My Name, and speak and tell this generation:

do not listen anymore to false prophets who keep stroking you with caresses telling you that all is well and that you have improved when you, at the same time who call yourself a Christian do not behave like one, for you hardly act on My Words in the Gospel; for I tell you, if your virtue in being a Christian goes no deeper than the godless ones, My Father, not recognizing Me in you will never allow you to enter in Our Kingdom! My Father’s wrath will unleash on you; have you not learnt that My severity is as great as My Mercy? You who sell yourself to your surrounding as a good Christian, giving them this false image of Christianity, when you are just the opposite, you will be uncovered and your sin as well; and you, you whose tongue never stopped judging unjustly, your sin will recoil on your own head; My anger rages against your sort and I will judge you for your conduct as it deserves;

you who cannot forgive and forget as I forgive and forget, My Father too will hold that sin against you! Yahweh is near, coming with all speed, so tell Me, where will you hide? To lead a sinful life is to belong to the devil; you have learnt in which manner you will be judged when you are unwilling to reconcile with the one you still hold a grudge against him; I tell you, this sin of unwillingness to come to terms with the one you hold responsible, will be bitterly paid by you till the last penny; have I not said: you must love your neighbour as yourself and even more that you must learn to love your enemies? Well, what have My Eyes been witnessing?  I have been witnessing a meager lot who truly follow My ways, but the majority are in sin and doing Satan’s work; do not deceive yourselves, for in these coming days you are bound for destruction because you are not following My Word*1; if anyone refuses to this day to obey My principles My Father too will refuse him an abode in heaven; and you who have taken My Name*2, yet act in violence, anger and pride, that same scourge your sharp tongue used on your brothers, you will receive likewise and your sin will condemn you; and you who still sleep in your apathy and lethargy do not think that I have not noticed you, you will be ranked among the pagans and you will be reaping what you have sown;

as for the apostates, they will taste the fire of hell! My Father’s wrath is lit up with this evil and pervert generation; how can I hold back His Arm furthermore from lashing on you? Turn back from your evil ways was Our constant theme, but good and bad have been refusing to abandon their ways of life; the good for not taking My Words seriously in these messages and acting on them, the bad for refusing to be saved, refusing My Mercy, refusing My Hand; tell Me what will you do when you realize that Day that you are mere clay and that clay without My Presence within you, you are nothing but dust?

disaster is just around the corner and the foliage will turn dry; amend all of you your conduct and actions, let not destruction overtake you; take the right course and stop your abominations and your perversions; set your heart on Me your Lord, if not  you will crumble down in ashes like a burnt city;

now, even if I distressed you, even for a mere moment, it was out of the greatness of the love I have for you; I want to lead you to repentance and save you; I want lips that are clean to invoke My Holy Name, especially in these days where My Holy Name will be profaned and mean nothing to many while they celebrate My birth without honour and praise; repent all of you and focus on Me; and pray that this generation’s guilt will not be the cause of your destruction; otherwise the Father’s wrath will lead Him to cry out: enough! And His fiery rage will cover many nations and the world will disintegrate; happy the man who listens to Me now and purifies himself; I will support him;

I am Jesus Christ and am the Author of these Messages and I am known to govern you with lenience; I am known to flower you if you are willing and if need I water you with My Tears; I am known as the Good Shepherd who never abandons His sheep; I lead you into green pastures, but when treaties are broken, witnesses that I am sending despised and rejected, could I keep silent? When I know you are heading to a fatal destruction, would I not react? On that Day of the Father’s wrath those who had forgotten Me, will remember Me; and they will be treated accordingly;

Many indeed ask, what sins? sins that I have mentioned and sins of your blasphemy against My Holy Spirit, sins of your rebellion and of your division, sins of perversion that are an abomination in My Eyes, sins of prejudice, sins of contempt, of corruption, of haughtiness, of pride, sins of degradation and of lethargy, the world is polluted with sin; understand now how My Sacred Heart is offended and is in pain; master your thoughts and sin no more;   never forget Me, Vassula, and let My people know of My warnings; I am here; ic

*1 Holy Bible
*2 Christians

Then our Lady said:

Follow and write down all that My Son has given you, never fear;

Thursday, October 22, 2009

Uskup Agung Anglikan Menyambut Baik Solusi Benediktus XVI

Anglican Archbishop: Our Prayers Have Been Answered
Welcomes Pope's Offer of Personal Ordinariates

BLACKWOOD, South Australia, OCT. 20, 2009 (Zenit.org).- The prayers of Anglicans wishing to enter into full communion with the Catholic Church have been more than answered today, according to the primate of the Traditional Anglican Communion.

Archbishop John Hepworth said this today in a statement that responded to the Vatican announcement that Benedict XVI would allow Anglicans to enter full communion with the Catholic Church while preserving elements of the Anglican spiritual and liturgical tradition.

This policy has been established in a forthcoming apostolic constitution, and it responds to requests from Anglicans who have expressed wishes to become Catholic, particularly as the Anglican Tradition continues to take steps toward opening their priesthood and episcopate to women and active homosexuals, and blessing same-sex unions.

Between 20 and 30 Anglican bishops have made such a request.

The constitution was announced at a press conference at the Vatican today, offered by Cardinal William Levada, prefect of the Congregation for the Doctrine of the Faith.

Hepworth, who also heads the Diocese of Australia in the Anglican Catholic Church in Australia, said that the Traditional Anglican Communion is "profoundly moved by the generosity of the Holy Father, Pope Benedict XVI."

Dedicated to unity

"He offers in this Apostolic Constitution the means for 'former Anglicans to enter into the fullness of communion with the Catholic Church,'" Hepworth explains. "He hopes that we can 'find in this canonical structure the opportunity to preserve those Anglican traditions precious to us and consistent with the Catholic faith.'

"He then warmly states 'we are happy that these men and women bring with them their particular contributions to our common life of faith.'"

"May I firstly state that this is an act of great goodness on the part of the Holy Father," continued Hepworth. "He has dedicated his pontificate to the cause of unity."

"It more than matches the dreams we dared to include in our petition of two years ago," he added. "It more than matches our prayers.

"In those two years, we have become very conscious of the prayers of our friends in the Catholic Church. Perhaps their prayers dared to ask even more than ours."

The archbishop said he would take the offer of the Holy See to each of the national synods of the Traditional Anglican Communion.

"Now the Holy See challenges us to seek in the specific structures that are now available the "full, visible unity, especially Eucharistic communion," for which we have long prayed and about which we have long dreamed. That process will begin at once," he affirmed.

Noting that the Anglican Office of Morning Prayer included the Hymn of Thanksgiving, the Te Deum, Hepworth added: "It is with heartfelt thanks to Almighty God, the Lord and Source of all peace and unity, that the hymn is on our lips today.

"This is a moment of grace, perhaps even a moment of history, not because the past is undone, but because the past is transformed."

Benediktus XVI Buka Jalan Bagi Anglikan Masuk ke Gereja Katolik

Pope Paves Way for Anglicans to Enter Church
Apostolic Constitution to Establish "Personal Ordinariates"

VATICAN CITY, OCT. 20, 2009 (Zenit.org).- Groups of Anglicans will now be able to enter full communion with the Catholic Church while preserving elements of the Anglican spiritual and liturgical tradition.

This policy has been established in a forthcoming apostolic constitution the Vatican announced today.

It responds to requests from Anglicans who have expressed wishes to become Catholic, particularly as the Anglican Tradition continues to take steps toward opening their priesthood and episcopate to women and active homosexuals, and blessing same-sex unions.

Between 20 and 30 Anglican bishops have made such a request.

The constitution was announced at a press conference at the Vatican today, offered by Cardinal William Levada, prefect of the Congregation for the Doctrine of the Faith.

A statement from the congregation explained that with the apostolic constitution, "the Holy Father has introduced a canonical structure that provides for such corporate reunion by establishing Personal Ordinariates, which will allow former Anglicans to enter full communion with the Catholic Church while preserving elements of the distinctive Anglican spiritual and liturgical patrimony."

These groups of Anglicans will be overseen and guided through the personal ordinariate, the leader of which will normally be chosen from among former Anglican clergy.

Married priests

The statement from the Vatican explained that the constitution "provides for the ordination as Catholic priests of married former Anglican clergy."

It clarified that "historical and ecumenical reasons preclude the ordination of married men as bishops in both the Catholic and Orthodox Churches."

Thus, the apostolic constitution stipulates that the leader of the personal ordinariate be "either a priest or an unmarried bishop."

As to future priests, the statement explained: "The seminarians in the ordinariate are to be prepared alongside other Catholic seminarians, though the ordinariate may establish a house of formation to address the particular needs of formation in the Anglican patrimony. In this way, the apostolic constitution seeks to balance on the one hand the concern to preserve the worthy Anglican liturgical and spiritual patrimony and, on the other hand, the concern that these groups and their clergy will be integrated into the Catholic Church."

Worldwide

The Vatican statement said the apostolic constitution provides a "reasonable and even necessary response" to what it called a "worldwide phenomenon."

It offers a "single canonical model for the universal Church which is adaptable to various local situations and equitable to former Anglicans in its universal application."

The profile of a "personal ordinariate" is similar in some ways to that of a personal prelature (Opus Dei is the only personal prelature right now) or the military ordinates, wherein a bishop has ecclesiastical authority over people of the armed forces and their families, regardless of their geographical location.

Many individual Anglicans have already entered into full communion with the Catholic Church.

Sometimes there have been groups of Anglicans who have entered while preserving some "corporate" structure, the Vatican statement noted, offering the example of an Anglican diocese in India and some parishes in the United States.

"In these cases, the Catholic Church has frequently dispensed from the requirement of celibacy to allow those married Anglican clergy who desire to continue ministerial service as Catholic priests to be ordained in the Catholic Church," the statement explained.

Enriched

According to Cardinal Levada: "It is the hope of the Holy Father, Pope Benedict XVI, that the Anglican clergy and faithful who desire union with the Catholic Church will find in this canonical structure the opportunity to preserve those Anglican traditions precious to them and consistent with the Catholic faith.

"Insofar as these traditions express in a distinctive way the faith that is held in common, they are a gift to be shared in the wider Church. The unity of the Church does not require a uniformity that ignores cultural diversity, as the history of Christianity shows. [...]

"Our communion is therefore strengthened by such legitimate diversity, and so we are happy that these men and women bring with them their particular contributions to our common life of faith."

--- --- ---

On ZENIT's Web page:

Full text of Vatican statement: www.zenit.org/article-27268?l=english

Sunday, October 11, 2009

Bapanya Penderita Kusta Jadi Orang Kudus


Paus Benediktus XVI mengukuhkan lima orang Kudus baru, termasuk seorang pastor Belgia, Josef De Veuster, yang hidup bersama dengan para pasien kusta di kepuluan terpencil di Hawaii pada abad 19.

Para umat Katolik asal Hawai memenuhi Lapangan Santo Petrus saat pengukuhkan itu diumumkan, Minggu (11/10) pagi. Termasuk mereka yang datang adalah seorang warga Hawaii, Audrey Toguchi, yang sembuh dari penyakit kanker paru-paru. Vatikan menyebut itu adalah sebuah keajaiban. Toguchi mengaku sembuh setelah berdoa untuk Josef De Veuster atau dikenal dengan sebutan Bapa Damienus. Bapa Damienus dikenal sebagai bapanya penderita kusta yang akhirnya meninggal dunia karena kusta di pulau Molokai.

Empat orang Kudus lainnya, dua asal Spanyol, satu lagi seorang pastor Polandia serta seorang biarawati asal Perancis. Paus mengatakan kelima orang Kudus itu memperoleh kesucian dan kesempurnaan karena berani "menentang arus" masyarakat.


MINGGU, 11 OKTOBER 2009 | 17:42 WIB



KOTA VATIKAN, KOMPAS.com


Tuesday, October 6, 2009

Without God We are Nothing

Cardinal Pell Shares "Dangerous Ideas"
Says to Atheists: Without God We're Nothing

SYDNEY, Australia, OCT. 5, 2009 (Zenit.org).- In a packed Sydney Opera House studio Sunday evening, Cardinal George Pell confronted the myth of modern atheism in the first ever Festival of Dangerous Ideas.

The archbishop of Sydney gave a conference titled "Without God We Are Nothing," shortly after one of the most prominent exponents of modern atheism, British journalist Christopher Hitchens, presented the claim that "Religion Poisons Everything."

The cardinal stated that although there are many people, including anti-theists and provocateurs, who regard God as an enemy, recent developments in physics and biology have strengthened the case for God, reported the Archdiocese of Sydney in a press statement.

He noted, however, that despite the affirmations of science, God cannot be contained within that field's framework since he is outside space and time.
The prelate affirmed that "the God for which we are arguing is not a God of the gaps, not a God who is brought in to paste over the gaps in our present scientific knowledge, which might be filled later as science progresses."

Rather, he said, this God explains "the whole of the universe, which is not self-explanatory, including the infrastructure and elements we understand scientifically."

Cardinal Pell made reference to Antony Flew, a philosopher who converted from atheism, who affirmed, "How can a universe of mindless matter produce beings with intrinsic ends, self replication capabilities and 'coded chemistry?'"

The cardinal pointed out that science involves the study of physical bodies such as sub-atomic particles, but to answer the question of why these particles exist, the inquirer must move from physics to metaphysics, and find the solution in philosophy.

Only 17% of people do not accept the existence of God, the prelate affirmed, striking down the claim that "most Australians are godless."

The reason God is not spoken of in society, he said, is the current secularist hostility to Christianity.

Culture wars

"Often God gets caught up in the secular hostility to the Christian defense of human life, especially at the beginning and end, the Christian defense of marriage, family and the linking of sexuality to love and life," Cardinal Pell affirmed.

He added: "Here in these culture wars lies the origin for most of the hatred of God and religion, while the new violence of a minority of Islamist terrorists has given Western secularists new grounds to attack all religions.

"However it is much safer to attack Christians!"

Nonetheless, the cardinal affirmed, God has "international popularity," which can be seen in some current trends. For example, he said, some statistics show that China, despite its religious freedom issues, could have measured the largest Christian population worldwide at the end of the 21st century.

In conclusion, the prelate stated that he is personally intrigued at the fact that there are so many people in the Western world today who are "unable to believe," especially those with a Christian or Jewish cultural background.

He said, "For me the issue is too important" to be subjected to self-indulgence or left on the level of polemics.

"I will continue to believe in the one true God of love because I maintain that no atheist can explain the smile of a child," Cardinal Pell affirmed.

He noted that in this light, current natural disasters such as the recent tsunami "also reminds us brutally of the problem of innocent suffering."

"But such suffering is worse if there is no afterlife to balance the scales of misfortune and injustice," he asserted, "and worse again if there is no innocence or guilt, no good or evil, if everything has the moral significance of froth on a wave."

The cardinal affirmed once again, "Without God we are nothing."

Monday, October 5, 2009

Paus Menentang Kolonialisme Baru


Paus Benediktus ke-16 membuka pertemuan khusus (sinode) uskup-uskup Afrika di Vatikan, Roma, Minggu (4/10).

Dalam pidatonya Paus menentang apa yang disebut bentuk baru kolonialisme negara-negara Barat. Menurut Sri Paus, zaman kolonialisme politik memang telah berakhir, tapi saat ini warga Afrika menghadapi ancaman lain.

Menurut Paus negara-negara Barat mengekspor "limbah beracun" ke Afrika. Yang dimaksudnya adalah materialisme dan kurangnya nilai-nilai moral. Sri Paus memuji kekayaan budaya dan spiritual benua Afrika. Ia menyebut Afrika adalah "paru-paru spiritual" dunia.

Pertemuan sinode diikuti hampir 200 uskup dari 53 negara Afrika. Dalam tiga pekan mendatang mereka membahas peran Gereja Katolik Roma dalam perang melawan ketidakadilan sosial di Afrika.

Ini untuk kedua kali Roma menggelar sinode uskup Afrika. Yang pertama diselenggarakan tahun 1994, semasa genosida Rwanda. Gereja Katolik berkembang lebih cepat di Afrika ketimbang di negara-negara lain di dunia. Tiga dasawarsa belakangan jumlah umat Katolik Roma di Afrika meningkat hampir tiga kali lipat.

Senin, 5 Oktober 2009 | 04:59 WIB
VATIKAN, KOMPAS.com-http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/10/05/04595645/paus.menentang.kolonialisme.baru

Bicarakan Timur Tengah, Paus Umumkan Sinode

Paus Benediktus XVI pada Sabtu (19/9) mengumumkan pelaksanaan pertemuan khusus untuk membahas upaya perdamaian di Timur Tengah. Pihak Tahta Suci mengatakan pertemuan yang bakal dihadiri oleh para uskup dan para patriak atau pemimpin Gereja Katolik Ortodoks diselenggarakan tahun depan. Tepatnya, pada 10 hingga 24 Oktober. Di dalam ritus Gereja Katolik, pertemuan khusus tersebut dikenal sebagai sinode.

Paus dan Tahta Suci sudah lama aktif untuk mengupayakan perdamaian Timur Tengah melalui diplomasi. Perlindungan terhadap umat Kristiani di Tanah Suci dan pemberian dukungan kepada semua orang di seluruh dunia yang memperjuangkan damai di Timur Tengah menjadi salah satu landasan langkah diplomasi Paus dan Tahta Suci.

Sabtu, 19 September 2009 | 18:52 WIB

VATICAN CITY, KOMPAS.com -  http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/09/19/18525936/bicarakan.timur.tengah.paus.umumkan.sinode

Paus Angkat Tiga Uskup Baru Vietnam

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Paus Benedictus XVI telah mengangkat tiga uskup baru untuk Vietnam. Para uskup baru itu diberi tanggung jawab untuk mempererat hubungan dengan pemerintah komunis Vietnam.

Pernyataan resmi Vatikan, Sabtu (25/7), menyebutkan, ketiga uskup baru itu adalah Mgr Joseph Vu Duy Thong untuk Keuskupan Phan Thiet, Mgr Pierre Nguyen Van De untuk Keuskupan Thai Binh, dan Joseph Nguyen Nang untuk Keuskupan Phat Diem.

Bulan lalu, Paus Benediktus menyampaikan harapannya yang besar untuk terjalinnya hubungan yang lebih sehat antara Gereja Katolik Roma dan pemerintah Vietnam. Di Vietnam, jumlah umat Katolik mencapai enam juta orang, dan termasuk jumlah terbanyak di Asia.

Ketegangan antara umat beriman --sebutan untuk penganut Katolik-- dan pemerintah sudah berlangsung lama, sejak 1954. Pemerintah mengawasi dengan ketat umat Katolik. Pemerintah juga selalu menolak pengangkatan pemimpin gereja.

Akan tetapi, akhir-akhir ini hubungan antara Gereja Katolik dan pemerintah itu makin cair. Perdana Menteri Nguyen Tan Dung bahkan menemui Paus ketika ia mengunjungi Vatikan pada tahun 2007. Tan Dung adalah pemimpin tertinggi negeri itu yang pernah bertemu Paus.

Awal pekan ini kantor berita Asia News mengutip pernyataan Kardinal Pham Minh Man yang menyatakan bahhwa Presiden Vietnam akan bertemu Paus di Vatikan pada bulan Desember mendatang.

Sabtu, 25 Juli 2009 | 21:19 WIB

VATICAN CITY, KOMPAS.com-  http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/07/25/21195962/paus.angkat.tiga.uskup.baru.vietnam

Friday, October 2, 2009

Djohan Effendi, Merayakan Perbedaan


Ikut merasa sakit dengan mereka yang tidak punya kebebasan, Djohan Effendi—1 Oktober 2009 genap 70 tahun—lebih dari 40 tahun menjadi penggiat dialog agama. ”Agama itu bukan penjara,” tegasnya.

Djohan Effendi tidak sedang bicara politis atau upaya membangun citra. Dia bicara hal yang substansial tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai hak eksistensial manusia. Bukan basa-basi, melainkan aktif mempraktikkan teologi toleransi dengan tujuan memperkuat fondasi dan wawasan kebangsaan. Baginya, Indonesia dengan berbagai keragaman dan perbedaan merupakan berkah yang perlu disyukuri dan dikembangkan.

Terbentang panjang rekam jejaknya. Sejak tahun 1967, bersama Ahmad Wahib dan Dawam Rahardjo, Djohan mengembangkan teologi toleransi dalam diskusi kelompok Limited Group di Yogyakarta. ”Inisiatif kegiatan digagas Wahib. Nama Limited Group berasal dari Dawam,” kata Djohan merendah.

Bersama Mukti Ali, dosen mereka di IAIN Sunan Kalijaga (UIN Sunan Kalijaga), Yogyakarta, awalnya kegiatan ini hanya melibatkan empat orang. Lama-lama bergabung pula sejumlah tokoh agama lain, seperti Dick Hartoko SJ, JWM Bakker SJ, dan Purbowinoto. Buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, refleksi pembaruan kelompok diskusi mingguan itu, sempat menghebohkan. Kontroversi merebak menyangkut gugatan anak-anak muda terhadap berbagai hal yang tabu dalam Islam.

Kegiatan Limited Group ibarat pembuka kunci pembaruan. ”Padahal sebelumnya istilah pembaruan di kalangan Islam masih tabu.” Otokritik yang mereka lakukan ibarat bola salju menggelindingkan pembaruan dalam Islam.

Memang, inklinasi merayakan perbedaan Djohan terbentuk semakin liat di Yogyakarta, semasa kuliah di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga (1963-1970). Dia memperoleh lahan subur yang dipupuk oleh kehadiran Mukti Ali, yang waktu itu masih sebagai dosen. Lingkungan intelektual yang terbiasa diskusi bebas membentuk intelektualitas Djohan yang dari sono-nya pluralis dan moderat. Limited Group menyemarakkan diskursus keislaman.

Menurut Djohan, para pendiri negara ini sudah menaruhkan fondasi visi kebangsaan Indonesia. Pancasila merupakan warisan amat berharga, bekal mengembangkan visi kebangsaan. Mereka pun merumuskan teologi yang diterima semua kalangan. Kaum Muslim rela menghapuskan tujuh kata dalam klausul Piagam Jakarta dan menghentikan hasrat mendirikan negara Islam. Kebebasan beragama merupakan pertaruhan kelestarian Indonesia yang dibangun atas kemajemukan. Indonesia merupakan melting pot yang menyatukan berbagai unsur agama.

Kedudukan sebagai pejabat Departemen Agama dan penulis pidato-pidato Soeharto yang berkaitan dengan masalah keagamaan membuka ruang bagi kesempatan mewujudkan ide-ide kemajemukan dalam keputusan politis, termasuk meletakkan dasar-dasar toleransi dan kehidupan umat beragama.

Ketika Mukti Ali sebagai Menteri Agama—Djohan begitu lulus IAIN tahun 1970 ditarik ke Departemen Agama dan kemudian staf pribadi menteri—hidup subur upaya dialog antaragama. Pada masa itu berkembang berbagai bentuk terobosan, mulai dari dialog antaragama, dialog antarumat beragama, sampai dialog karya sebagai awal dari dialog iman.

Dalam pidato penganugerahan gelar ahli peneliti utama (profesor riset) tahun 1992, Djohan menyinggung keberadaan kelompok minoritas seperti Konghucu. Pernyataan ini diminta agar dicoret. ”Saya tak mau. Dalam pidato, kalimat itu saya ucapkan.”

Bukan penjara

”Pada setiap agama mengandung kebenaran,” kata Djohan Effendi, di kantornya Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Cempaka Putih, Jakarta. Agama bukanlah penjara, tetapi sarana evolusi diri mencapai pencerahan tanpa batas. Adanya berbagai agama adalah anugerah. Itulah pencarian spiritual yang tulus. Sebuah penziarahan bersama. Djohan merasa sedih ketika terjadi pertikaian yang berlatar belakang agama di Indonesia. Agama tak bisa dilihat hitam putih. Semua dikembalikan kepada humanisme dengan kemanusiaan yang mempersatukan.

Mengutip pernyataan salah satu temannya, teolog Katolik, Hans Kung, Djohan berkata, mempelajari bermacam-macam agama berarti memperoleh perdamaian. Dalam setiap agama ditemukan perdamaian. Tak salah kalau dia kemudian terlibat dalam berbagai lembaga yang mempertemukan agama-agama, seperti di Majelis Budhayana Indonesia, DIAN/Interfidei, Madia, dan ICRP—lembaga yang dia bersama-sama ikut dirikan—kantor yang kini menjadi salah satu terminal kegiatan Djohan sehari-hari.

Begitu lulus sarjana tahun 1970, bersama Mukti Ali, ia lagi-lagi memperoleh lahan subur mengembangkan dialog agama. Setelah lima tahun sebagai staf pribadi Menteri Agama, Djohan dikaryakan di Sekretariat Negara. Karier sebagai penulis pidato Soeharto selesai ketika Djohan mendampingi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkunjung ke Israel, tahun 1984, kunjungan yang memperoleh banyak tentangan di Indonesia.

Ketika Malik Fadjar sebagai Menteri Agama, Djohan diangkat sebagai Kepala Litbang Departemen Agama. Dia berkantor selama 24 jam. ”Rumah”-nya berupa kamar istirahat, satu pintu masuk dengan ruang tamunya di Lantai II Kantor Balitbang Departemen Agama, Jalan MH Thamrin. Setiap tiga bulan sekali pergi ke Geelong, di Victoria, Australia, sebab selain istri dan ketiga anaknya tinggal di sana, Djohan tengah menempuh kandidat doktor di Universitas Deakin, Geelong. Dia memperoleh gelar doktor (2005) dengan disertasi tentang pemikiran progresif kalangan muda NU, kiai muda NU, dan wanita NU.

Tidak selantang Gus Dur atau Nurcholish Madjid (Cak Nur), inklusivitas Djohan Effendi termasuk liberal yang rajin mengampanyekan dialog antaragama, membangun jaringan di antara mereka, serta punya perhatian besar kepada kelompok minoritas.

Dalam rangka perayaan 70 tahun usianya, terbit dua buku: Sang Pelintas Batas. Biografi Djohan Effendi yang ditulis Ahmad Gaus AF serta Merayakan Kebebasan Beragama—bunga rampai tulisan koleganya tentang persoalan yang selama ini digeluti Djohan Effendi. Peluncuran kedua buku itu akan dilaksanakan 6 Oktober.

Persisnya ulang tahun tanggal 1 Oktober, mengapa baru 5 Oktober (diskusi terbatas) dan 6 Oktober dirayakan? ”Habis Lebaran. Teman-teman masih mudik, belum kumpul semua,” sergah Siti Musdah Mulia, Ketua Umum Pengurus Yayasan ICRP.

Penulis: St.Sularto 

Kamis, 1 Oktober 2009 | 04:25 WIB
Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/01/04250027/djohan.effendi.merayakan.perbedaan

Wednesday, September 23, 2009

Akankah "Roma Ketiga" Bersatu Dengan "Roma Pertama"?


Will the "Third Rome" Reunite With the "First Rome"?
Recent Meeting Could Mark Turning Point

By Robert Moynihan

WASHINGTON, D.C., SEPT. 21, 2009 (Zenit.org)- Sometimes there are no fireworks. Turning points can pass in silence, almost unobserved. 

It may be that way with the "Great Schism," the most serious division in the history of the Church. The end of the schism may come more quickly and more unexpectedly than most imagine.

On Sept. 18, inside Castel Gandolfo, the Pope's summer palace about 30 miles outside Rome, a Russian Orthodox Archbishop named Hilarion Alfeyev, 43 (a scholar, theologian, expert on the liturgy, composer and lover of music), met with Benedict XVI, 82 (also a scholar, theologian, expert on the liturgy and lover of music), for almost two hours, according to informed sources. (There are as yet no "official" sources about this meeting -- the Holy See has still not released an official communiqué about the meeting.)

The silence suggests that what transpired was important -- perhaps so important that the Holy See thinks it isn't yet prudent to reveal publicly what was discussed.

But there are numerous "signs" that the meeting was remarkably harmonious.

If so, this Sept. 18 meeting may have marked a turning point in relations between the "Third Rome" (Moscow) and the "First Rome" (Rome) -- divided since 1054.

Archbishop Hilarion was in Rome for five days last week as the representative of the new Russian Orthodox Patriarch Kirill of Moscow.

One key person Archbishop Hilarion met with was Cardinal Walter Kasper. On Sept. 17, the cardinal told Vatican Radio that he and Archbishop Hilarion had a "very calm conversation."

Cardinal Kasper also revealed something astonishing: that he had suggested to the archbishop that the Orthodox Churches form some kind of "bishops' conference at the European level" that would constitute a "direct partner of cooperation" in future meetings. 

This would be a revolutionary step in the organization of the Orthodox Churches.
Papal-Patriarch encounter?
Cardinal Kasper said a Pope-Patriarch meeting was not on the immediate agenda, and would probably not take place in Moscow or Rome, but in some "neutral" place (Hungary, Austria and Belarus are possibilities).

Archbishop Hilarion himself revealed much about how his Rome visit was proceeding when he met on the evening of Sept. 17 (before his meeting with the Pope) with the Community of Sant'Egidio, an Italian Catholic group known for its work with the poor in Rome.

"We live in a de-Christianized world, in a time that some define -- mistakenly -- as post-Christian," Archbishop Hilarion said. "Contemporary society, with its practical materialism and moral relativism, is a challenge to us all. The future of humanity depends on our response… More than ever before, we Christians must stand together."

A report from Interfax, the news service of the Moscow Patriarchate, on Sept. 18 revealed that Archbishop Hilarion spoke to the Pope about "cooperation between the Russian Orthodox and Roman Catholic Churches in the area of moral values and of culture" -- in particular during the "Days of Russian Spiritual Culture," a type of exhibit with lectures scheduled for spring 2010 in Rome. (One might imagine that the Pope himself could attend such an exhibition).

In memory of the visit, Archbishop Hilarion gave the Pope a pectoral cross, made in workshops of Russian Orthodox Church, the report said, Interfax reported.

Today, an Interfax report supplied details of Hilarion's remarks this morning in the catacombs of St. Callixtus.

"Denied by the world, far from human eyes, deep under ground in caves, the first Roman Christians performed the feat of prayer," Hilarion said. "Their life brought the fruit of holiness and martyr heroism. The Holy Church was built on their blood shed for Christ."

Then the Church came out of the catacombs, but Christian unity was lost, the archbishop said. 

Archbishop Hilarion said that human sin is the cause of all divisions, while Christian unity can be restored only in the way of sanctity.

"Each of us, conscientiously fulfilling a task the Church has given him or her, is called to personally contribute to the treasury of Christian sanctity and work to achieve God-commanded Christian unity," the archbishop said.

A second Interfax report today added further information about the meeting with the Pope.

Growing influence

"During a talk with Pope Benedict XVI, Archbishop Hilarion of Volokolamsk pointed out the status of Orthodox believers in Western Ukraine where three Orthodox dioceses had been almost eliminated as a result of coercive actions of Greek Catholics in late 1980s and early 1990s," Interfax reported.

Archbishop Hilarion "stated the need to take practical steps to improve the situation in Western Ukraine," within the territories of Lvov, Ternopol and Invano-Frankovsk Dioceses, the report said.

Meanwhile, in Russia itself, the influence of the Russian Orthodox Church, headed by Patriarch Kirill, seems to be growing, though not without opposition.
 
The rise in Russia of Kirill and his increasing influence in legislative matters seems to be arousing opposition from the "siloviki," forces connected with the old KGB. 

In an article in the current issue of Argumenty Nedeli, Andrey Uglanov says that Kirill's extraordinary activity has attracted attention from some who do not like to have their positions questioned, let alone challenged. And that has become Kirill's "big problem." 

These "siloviki," Uglanov says, have been offended by Kirill's "anti-Stalinist and anti-Bolshevik actions," including his appearance at the Solovetsky stone in Moscow's Lubyanka Square on the very Day of the Memory of the Victims of Political Repression.
      
In this context, Hilarion's visit to Rome takes on even more importance. 

The Russian Orthodox Church is a power in Russia, but it faces opposition and needs allies.

What is occurring in Hilarion's visit to Rome, then, may have ramifications not only for the overcoming of the "Great Schism," but also for the cultural, religious and political future of Russia, and of Europe as a whole.
 
It is especially significant, in this context, that Hilarion, Kirill's "Foreign Minister," has some of the same deep interests as Benedict XVI: the liturgy, and music.

"As a 15-year-old boy I first entered the sanctuary of the Lord, the Holy of Holies of the Orthodox Church,” Hilarion once wrote about the Orthodox liturgy. “But it was only after my entrance into the altar that the 'theourgia,' the mystery, and 'feast of faith' began, which continues to this very day. 

"After my ordination, I saw my destiny and main calling in serving the Divine Liturgy. Indeed, everything else, such as sermons, pastoral care and theological scholarship were centered around the main focal point of my life -- the liturgy."
Liturgy

These words seem to echo the feelings and experiences of Benedict XVI, who has written that the liturgies of Holy Saturday and Easter Sunday in Bavaria when he was a child were formative for his entire being, and that his writing on the liturgy (one of his books is entitled "Feast of Faith") is the most important to him of all his scholarly endeavors.

"Orthodox divine services are a priceless treasure that we must carefully guard," Hilarion has written. "I have had the opportunity to be present at both Protestant and Catholic services, which were, with rare exceptions, quite disappointing… Since the liturgical reforms of the Second Vatican Council, services in some Catholic churches have become little different from Protestant ones."

Again, these words of Hilarion seem to echo Benedict XVI's own concerns. The Pope has made it clear that he wishes to reform the Catholic Church's liturgy, and preserve what was contained in the old liturgy and now risks being lost.

Hilarion has cited the Orthodox St. John of Kronstadt approvingly. St. John of Kronstadt wrote: "The Church and its divine services are an embodiment and realization of everything in Christianity... It is the divine wisdom, accessible to simple, loving hearts."

These words echo words written by Cardinal Ratzinger, now Benedict XVI, who often said that the liturgy is a "school" for the simple Christian, imparting the deep truths of the faith even to the unlearned through its prayers, gestures and hymns.

Hilarion in recent years has become known for his musical compositions, especially for Christmas and for Good Friday, celebrating the birth and the Passion of Jesus Christ. These works have been performed in Moscow and in the West, in Rome in March 2007 and in Washington DC in December 2007.

Closer relations between Rome and Moscow, then, could have profound implications also for the cultural and liturgical life of the Church in the West. There could be a renewal of Christian art and culture, as well as of faith.

All of this was at stake in the quiet meeting between Archbishop Hilarion and Benedict XVI on Friday afternoon, in the castle overlooking Lake Albano.

Uskup Agung Rusia Hilarion Alfeyev Kunjungi Paus di Roma


Russian Orthodox Official: Time for Solidarity
Visits Pope and Ecumenism Council President in the Vatican

ROME, SEPT. 21, 2009 (Zenit.org).- Russian Orthodox Archbishop Hilarion Alfeyev says there are so many reasons for Catholics and Orthodox to cooperate in our de-Christianized world that it is time to move past divisions and competition and exist in solidarity and mutual love.

The archbishop affirmed this after he met in the Vatican on Friday with Benedict XVI and on Thursday with Cardinal Walter Kasper, president of the Pontifical Council for Promoting Christian Unity. The cardinal invited the archbishop, who since March has been the chairman of the Department of External Affairs of the Moscow Patriarchate. 

Archbishop Alfeyev was already well-known at the Vatican, having previously been the Russian Orthodox Church's representative to the European Institutions in Brussels. He is also an accomplished composer, using his music to bring East and West together. His interpretation of St. Matthew's account of the Passion was performed at the Vatican before Easter in 2007; his Christmas oratorio premiered that year at a Catholic Church in Washington, D.C..

With his new role in the Russian Orthodox Church, the archbishop met with the Pope on Friday, later telling a group of journalists that he hopes the Holy Father and Patriarch Kirill will be able to meet soon.

"We support the Pope in his commitment to the defense of Christian values" he said. "We also support him when his courageous declarations arouse negative reactions on the part of politicians or public figures or they are criticized and sometimes misrepresented by some in the mass media."

"We believe that he has the duty to witness to the truth and we are therefore with him even when his word encounters opposition," the archbishop affirmed.

"Personally, I hope that sooner or later the meeting that many are awaiting between the Pope and the patriarch of Moscow will take place. I can say with responsibility that on both sides there is the desire to prepare such a meeting with great care," he said.

This meeting, Archbishop Alfeyev acknowledged, would represent a major step forward in relations between Catholics and Orthodox.

Much to do

The Orthodox prelate re-emphasized that at present there are enormous possibilities for cooperation between the two Churches.

Before us, he said, there opens the vast expanse of "today’s de-Christianized world."

"All Christians, and especially we Orthodox and Catholics, can and must respond together to these challenges," the archbishop affirmed. "Together we can propose to the world the spiritual and moral values of the Christian faith. Together we can offer our Christian vision of the family [and] affirm our concept of social justice, of a commitment to protect the environment [and] to defend human life and its dignity."

The Church "is not a supermarket of the spirit," he continued; the Church "makes life fuller, more human and divine."

The archbishop then expressed his hope that the relationship between Catholics and Orthodox develops more intensely and that the problems that remain between the two traditions be soon overcome. 

He further pointed out that the patriarch of Moscow would like to open a new page in relations between the Ecumenical Patriarchate of Constantinople, pursuing an open and sincere dialogue.

Constructive ties

The archbishop was on his first visit to Rome since his appointment to the external affairs office. 

Cardinal Kasper spoke to Vatican Radio after his meeting with the Orthodox representative, affirming that "the meeting reflected the new situation between the Catholic Church and the Patriarchate of Moscow: We have overcome all the tensions that existed in past years and at present we have a normal relationship, tranquil and even positive, constructive."
 
"From the beginning, Hilarion expressed his high esteem for Pope Benedict XVI, who is much appreciated in the Russian Orthodox Church; later we spoke of our relations, especially the theological dialogue that will take place in Cyprus in the coming weeks," the cardinal explained.
 
The International Mixed Commission for Theological Dialogue between the Catholic Church and the Orthodox Church as a whole will meet next month for its 11th plenary session. The Church leaders will examine a draft document outlined during a 2008 meeting in Crete. At present, the commission is reflecting on the role of the Bishop of Rome in the communion of the Church in the first millennium -- before the Great Schism of 1054.

This was the topic of discussion during the 10th plenary assembly of the Mixed Commission which, in 2007, brought together 30 Catholic delegates and 30 Orthodox to reflect on the ecclesiological and canonical consequences of the sacramental nature of the Church.

During the Ravenna meeting, the delegation of the Patriarchate of Moscow decided to withdraw because of conflict among the various members of the Orthodox delegation.

Cardinal Kasper explained that that situation has been resolved: "Now [the Russian Orthodox] wish to return to dialogue; they have overcome these tensions between Moscow and Constantinople on the case of Estonia, and wish to collaborate normally."

He continued: "[W]e also spoke about our bilateral relations: By way of example, a concert they wish to have here in Rome; I suggested, [in turn] that we might also have an exhibition in Moscow.
 
"We have spoken of the exchange of priests, of theologians and of all that which might help to improve relations and also to overcome the prejudices and resistance that exist in Russia against the Catholic Church and ecumenism; however, little by little, we can also overcome this."
 
"Both sides are determined to go forward," Cardinal Kasper affirmed, admitting that "for the moment, a papal visit to Moscow is not on the agenda," though "they do not reject a meeting with the Pope."

Beginning to love
 
On Sept. 17, Archbishop Alfeyev attended afternoon prayer with the Sant'Egidio Community, in the Basilica of Santa Maria in Trastevere, addressing a greeting to those present.
 
On that occasion, thanking the members of the community for their "contribution to dialogue" and their commitment to the poor and the neediest, he spoke of the common challenge represented by "a de-Christianized world," dominated by "consumerism, hedonism, practical materialism and moral relativism."
 
"Only united will we be able to propose to the world the spiritual and moral values of the Christian faith; together we will be able to offer our Christian vision of the family, of procreation, of a human love made not only for pleasure; to affirm our concept of social justice, of a more equitable distribution of goods, of a commitment to safeguarding the environment, for the defense of human life and its dignity," said the Orthodox prelate.
 
"Therefore, the time has come to move from a failure to meet and competition, to solidarity, mutual respect and esteem; I would even say, without a doubt, that we must move to mutual love," he stressed. "Our Christian preaching can have effect, can be convincing also in our contemporary world, if we are able to live this mutual love between us, Christians."

Tuesday, September 22, 2009

Yesus adalah Manusia dan Allah

Akhir-akhir ini banyak orang termasuk sebagian Umat Kristen yang meragukan ke-Allah-an Yesus Kristus. Cukup banyak orang Kristen yang menggambarkan Yesus dengan berbagai versi pun banyak juga orang Kristen yang pindah ke lain hati. Penyebabnya sangat beragam, tetapi saya pribadi membuat 2 (dua) macam tipologi manusia (Kristen) yang mudah meragukan Yesus, membuat ajaran Yesus bermacam versi hingga pada akhirnya meninggalkanNya. Dua tipologi adalah sbb:

  1. Kaum rasionalistik-ambivalen à Tipe ini biasanya terjadi karena kurang pahamnya mereka terhadap ajaran Kristen yang sahih, terlalu mengedepankan rasio semata-mata, ditambah kurangnya jam terbang untuk melacak balik sejarah Yesus ketika menjadi Daging. Pelacakan balik ini sangat diperlukan terutama yang bersumber dari kesaksian dan tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja Perdana. Hal ini berguna untuk menambah “amunisi” pengetahuan iman seseorang. Jadi akal budi seseorang yang keluar sebagai pendapatnya itu tidak cukup untuk mengenal secara lebih dalam Siapa dan Bagaimana Yesus. Sifat ambivalennya adalah seakan-akan orang mengenal betul 100% ajaran-ajaran Yesus tanpa mau mempelajari kesaksian umat Kristen perdana (yang pernah hidup sejaman dengan para Rasul). Alkitab dijadikan tolak ukur satu-satunya berdasarkan akal-budinya sendiri sehingga melahirkan sosok Yesus yang beranekaragam. Orang semacam ini tidak peduli dengan Tradisi Suci Gereja. Bahkan baginya gereja dilihat cukup sebagai kumpulan orang-orang Kristen tanpa perlu menegakkan suatu displin iman yang tegas, benar serta “traceable” sampai ke awal Gereja mula-mula. Ini tercermin dari ribuan denominasi Kristen hingga berjumlah 33.000 di seluruh dunia.
  2. Kaum humanistik-egaliter à Tipe ini biasanya terjadi pada segelintir orang yang terlalu menekankan aspek kemanusiaan Yesus secara tidak proporsional. Dia dianggap dapat berbuat dosa dan memiliki kecenderungan kedagingan yang sama sifatnya dengan manusia fana. Ini menyebabkan pemahaman teologi dan iman terhadap Yesus menjadi ‘sinkretik’ dengan penggambaran sisi kemanusiaan Yesus layaknya manusia yang berpotensi untuk berbuat dosa.
Singkat kata, tulisan pendek ini mau menjelaskan – seperti yang sudah ditetapkan dalam Doktrin Gereja Katolik dan Katekismus – Yesus memiliki SATU PRIBADI dengan DUA KODRAT. Yakni 100% Manusia dan 100% Allah. Dua Kodrat ini bersatu dalam Pribadi Yesus tetapi tidak bercampur satu sama lainnya. Kodrat ini bersifat dualitas yang esa (Oneness in Duality) tetapi memiliki derajat yang unik. Artinya derajat ke-Allah-an 100% dan ke-Manusia-an 100% menyemat pada diri atau Pribadi Yesus dari Nazareth.

Namun demikian, ada kalanya orang atau umat Kristen masih berasumsi atau mempertimbangkan bahwa Yesus itu secara kemanusiaanNya bisa saja berpikiran dan atau bertindak jahat yang menghasilkan dosa.

Oleh sebab itu saya pribadi mau menegaskan bahwa Yesus TIDAK PUNYA POTENSI untuk berpikir dan atau berbuat jahat, dosa. Ia sepenuhnya, luar dan dalam, baik Sebagai Manusia 100% dan Allah 100% adalah KEBENARAN. Karena sebagai SANG KEBENARAN baik dalam rupa daging dan Roh Murni, Dia tidak memiliki KEINGINAN dan atau NIAT dan atau memiliki POTENSI untuk berbuat KESALAHAN, dan atau KEJAHATAN dan atau berbuat DOSA. Inilah sebenarnya yang membedakan secara lebih spesifik kemanusiaan Yesus dengan kemanusiaan kita sebagai mahluk fana. Itu juga sebabnya FREE WILL (Kehendak Bebas) yang dimiliki YESUS sedikit berbeda dengan FREE WILL manusia.

Ini bisa dilihat, dalam kisah dimana adalah ketika menjelang penyalibanNya (malam kamis Putih di taman Getsemani) Dia mengatakan : “…Bapa, Sekiranya Piala ini berlalu daripadaKu..” Apakah ini menggambarkan Pribadi Yesus yang berpotensi untuk berbuat dosa? Jawabannya adalah bahwa rasa takut, rasa marah atau mungkin rasa sedih adalah ATRIBUT SIFAT kemanusiaan Yesus yang sama dengan kita sebagai manusia biasa. Atribut ini bukanlah potensi dosa. Free will Yesus ketika mau menolak Piala Penebusan bukan berarti Dia mau berniat mengingkari misi tuntasnya untuk disalibkan tetapi mau menggambarkan penderitaan berat Yesus sebagai manusia (100%) memanggul dosa-dosa manusia baik di masa lalu maupun di masa datang. Ini semacam ”keluh-kesah” sesaat karena begitu hebatnya derita itu sehingga manusia biasa pun tak akan mampu menanggung beban itu.

Oleh sebab itu free will Yesus ”dicegah dini” pada kesempatan pertama oleh sifat ke-Allah-anNya secara sempurna. Proses pencegahan dini free will oleh sifat ke-Allah-anNya ini bukan berarti sebagai manusia Dia tidak mampu mengurungkan niatNya itu (untuk menolak Piala Penderitaan) tetapi berhubung sifat ke-Allah-anNya itu melekat otomatis pada Pribadi Yesus maka secara ”feit accompli” ke-Allah-anNya itu turun tangan langsung mengatasi situasi tersebut. Dengan demikian pada akhirnya Yesus menjalani proses penyaliban dan hingga akhirnya proses penebusan dosa-dosa manusia berjalan sukses 100%.

Perlu juga kita camkan dalam hati bahwa sebagai Firman Allah maka Yesus sudah ada sejak kekekalaan. Artinya kini sebagai Firman Allah, yang telah masuk dalam sejarah manusia dengan menjadi daging, Dia tetaplah Allah yang sempurna 100% tanpa noda, tanpa cacat cela dan tanpa dosa. Dia tetap murni Roh Allah 100%. Sifat ke-Manusia-an Yesus juga jauh di atas rata-rata manusia biasa. Ini terbukti dari deritaNya yang sangat berat (tak terucapkan oleh bibir manusia) nampak dari ribuan cambukan, siksaan, aniaya yang tak terperikan. Ratusan liter darah telah keluar dari badan Yesus hingga berceceran di sepanjang jalan siksaan. Namun Yesus sebagai manusia yang nampak tak berdaya pada saat itu, berhasil menjalani siksaan dasyat itu secara sempurna hingga ke kalvari. Inilah keunikan sifat kemanusiaan Yesus. Kalau sifat kemanusiaan dalam siksaan yang tak terperikan ini dijalani oleh manusia biasa, saya pikir pasti ia sudah mati kehabisan tenaga dan darah. Ia pasti sudah tewas sebelum mencapai puncak kalvari.

Lebih jelasnya lagi mari kita lihat kutipan-kutipan Injil sebagai data pendukung sbb:

A. Yesus adalah 100% Manusia

1.      Fil 2 : 7 --> ....melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.
2.      Ibr 2 : 14 --> Karena anak2 itu adalah anak2 dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnakan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.
3.      Ibr 2 :17 -->  Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara2Nya......
4.      Yoh 1 : 14 -->  Firman itu telah menjadi manusia...........
5.      Gal 4 : 4 -->  ......yang lahir dari seorang perempuan.....(artinya Ia adalah seorang manusia).
6.      Mrk 6 : 3 --> ........, anak Maria......(artinya : karena Maria adalah seorang manusia maka anaknya pastilah juga manusia).
7.      Luk 1 : 42 --> Yesus buah rahim Maria.............(keterangan sama seperti di atas).

B. Yesus adalah 100% Ilahi


1.      Kol 2 : 9 --> Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an (ke-Ilahi-an).
2.      Kol 1 : 19 --> Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.

C. Yesus tidak memiliki POTENSI untuk berbuat Dosa dan atau kejahatan.

1.      2 Kor 5 :21 --> Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
2.      1 Yoh 3 : 5 --> ......supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.
3.      Yoh 8 : 46 --> Siapakah diantaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa ?
4.      Ibr 4 : 15 --> ...... Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.
5.      1 Pet 2 : 22 --> Ia tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulutNya.


Penulis: Leonard T. Panjaitan

Tujuh Patriak Katolik Timur Bertemu Paus Benediktus XVI

VATICAN CITY, SEPT. 18, 2009 (Zenit.org).- Tujuh Patriak Katolik Timur akan bertemu dengan Benediktus XVI pada hari Sabtu (19/09/09) untuk berbicara tentang hubungan Katolik Timur dengan Islam dan isu-isu lain yang mempengaruhi Gereja-gereja Katolik Timur di wilayah tersebut.

Menurut Radio Vatikan, topik diskusi lain yang akan dibicarakan adalah peningkatan fundamentalisme di Timur Tengah dan situasi yang dihadapi oleh umat Kristen di sana, begitu juga masalah pentingnya dialog dengan kaum Muslim, kemudian tentang legislasi Patriak Katolik Timur dalam Gereja Universal serta yurisdiksi eklesial di Kuwait dan negara-negara di wilayah Teluk Persia.

Delegasi para Patriak tersebut terdiri dari Patriak Maronite, Nasrallah Sfeir; Patriak Katolik Armenia, Nerses Bedros XIX; Patriak Siro-Katolik, Ignace Youssef III Younan; Patriak Melkite, Gregory III; Patriak Kaldean, Emmanuel III Delly; Patriak Latin di Yerusalem, Fouad Twal; dan Patriak Koptik, Antonios Nagib.

Menghadapi isu negara-negara Teluk, para Patriak tersebut akan mendiskusikan dengan Bapa Suci dinamika perubahan Gereja-gereja di negara-negara tersebut sehubungan dengan ribuan orang-orang Kristen yang beremigrasi keluar dari wilayah tersebut.

Menurut kantor berita AsiaNews, selama keberadaan mereka di Roma, para Patriak tersebut akan menghadiri pertemuan pendahuluan untuk sinode para Uskup yang akan bersidang khusus membahas isu di Timur Tengah yang akan diadakan tahun depan.

*) Diterjemahkan oleh Leonard T. Panjaitan dari judul asli: Eastern Catholic Patriarchs to Meet With Pope

Allah Tritunggal Maha Kudus

Allah Tritunggal Maha Kudus
Disusun Oleh Joseph Handoko

PENDAHULUAN .

Kitab Suci atau Injil ditulis untuk mewartakan Keselamatan dan Kabar Gembira untuk seluruh umat manusia, jadi seyogianya harus bisa dimengerti dan dipahami oleh para pembacanya. Tentunya tidak semuanya dapat dimengerti secara langsung, tetapi banyak tulisan bapak-bapak gereja yang dapat membantu kita. Tulisan-tulisan para bapak gereja ini sangat beharga sebab sudah teruji sepanjang sejarah gereja, yang diteruskan secara berkesinambungan sampai generasi masa kini.

Ayat-ayat berikut ini adalah bukti bahwa Allah tidak menyembunyikan Warta KeselamatanNya.


Mar  4:22    Sebab  tidak  ada sesuatu  yang  tersembunyi  yang tidak dinyatakan, dan tidak ada sesuatu
                    yang rahasia yang tidak akan terungkap.

Ul  29:29     Hal-hal  yang  tersembunyi ialah bagi Allah, TUHAN kita,  tetapi hal-hal yang dinyatakan
                    ialah  bagi kita  dan bagi anak-anak kita  sampai  selama-lamanya,  supaya kita melakukan
                    segala perkataan hukum Taurat ini.

KONTROVERSI  ALLAH  TRITUNGGAL  MAHAKUDUS.

Mengapa  issue  Allah Tritunggal Mahakudus  (ATM)  sangat penting di Indonesia ? ATM sering di salah pahami dan kerapkali menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan terutama dari orang Muslim yang kebetulan merupakan penduduk mayoritas Indonesia. Persoalan ATM hampir tidak pernah timbul di negara yang moyoritas penduduknya Kristen. Paling paling hanya terjadi perbedaan konsep antara kekristenan yang satu dengan lainnya

Saudara kita yang Muslim tidak bisa mengerti dan tidak bisa menerima bagaimana Bapa, Putera dan Roh Kudus  merupakan Allah yang Tauhid atau Esa. Hal ini tidak masuk akal dan dianggap sebagai pelecehan terhadap Allah dan agama mereka, dianggap musyrik atau pendurhakaan terhadap Allah.Dan siapa yang mempersamakan  Allah dengan sesuatu yang lain dosanya tak terampuni dan akan masuk  ke neraka yang paling dahsyat.

Apa lagi mempersamakan Yesus dengan Allah  seperti yang dilakukan oleh saudara saudara beberapa denominasi Protestan betul betul merupakan hujatan. Menyebut Yesus sebagai Putera Allah menambah kemarahan mereka, sebab menurut ajaran Islam Lam yalid wa lam yulad atau Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakan. Yesus juga putera Maria jadi bearti Allah menikah dengan Maria dan memperanakkan Yesus. Hal ini tentunya tidak benar sebab Allah adalah roh dan Maria adalah manusia, juga Allah adalah Pencipta dan Maria adalah ciptaan. Syahadat kaum Muslim adalah : La ilaha illa’l-lah, tidak ada illah atau Tuhan selain Allah. Jadi untuk penganut Islam ke Esa-an  atau ke-Tauhid-an Allah adalah mutlak. Sebutan Tuhan Yesus adalah musyrik.

Sebaliknya menurut ajaran Kristen ATM adalah Kebenaran yang mendasar bagi keselamatan penganutnya. Tanpa ATM keselamatan pengikut Kristus tak mungkin terjadi.

Kalau begitu siapakah  Tuhan Yesus Kristus itu ? Apakah Dia sama dengan  Allah ? Mari kita periksa dari ayat ayat Kitab Suci dan mencari siapakah Tuhan Yesus ini.

APAKAH  YESUS  SAMA  DENGAN  ALLAH ?

Yoh 17:3       Inilah  hidup  yang  kekal itu,  yaitu  bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah
                      yang  benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah  Engkau utus.
                      (Jadi Allah adalah satu-satunya dan Yesus adalah utusanNya)

Yoh 14:28     Karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.

Yoh 20:17   Kata Yesus kepadanya :”Janganlah engkau memegang Aku,sebab Aku belum pergi kepada
                    Bapa, tetapi  pergilah  kepada  saudara-saudaraKu  dan  katakanlah  kepada mereka, bahwa
                    sekarang  Aku akan pergi kepada  BapaKu dan Bapamu, kepada  AllahKu  dan  Allahmu

Gal  4: 4      Tetapi setelah  genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya,   yang lahir dari seorang
                    perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.

Mar 15:34   Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring :”Eloi, Eloi, lama sabakhtani ?”,
                    yang  bearti : AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku ?

Disini kita melihat bahwa benar Allah dan Yesus itu beda. Allah atau Sang Bapa ini lebih besar dari Yesus dan Yesus diutus oleh Sang Bapa, Yesus juga berdoa kepada Sang Bapa.
Data Alkitab tidak pernah mengatakan Allah sama dengan Yesus, Alkitab menyebut Yesus adalah Anak Allah. Mari kita lihat data di Alkitab berikut ini,

Yoh 3:16     Karena  begitu besar kasih Allah akan  dunia  ini, sehingga  Ia telah mengaruniakan  Anak-
                    Nya  yang tunggal, supaya  setiap orang yang  percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan
                    beroleh hidup yang kekal.

Alkitab tidak pernah menyebut Yesus itu Allah atau Bapa tetapi Anak Allah, karena itu  Yesus lebih rendah dari Allah sebab Yesus diutus oleh Allah dan Yesus berdoa kepada Allah. Kita harus tahu secara jelas siapa  Yesus itu  agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh ajaran-ajaran yang membingungkan..

BAGAIMANA  AJARAN  YESUS  TENTANG  ALLAH ?

Sekarang mari kita lihat apa yang diajarkan Yesus tentang Allah atau Bapa itu ? Kita lihat dari  Injil  Markus,

Mrk 12:28   ”Hukum manakah yang paling utama?”

Mrk 12:29   Jawab Yesus :”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan  Allah kita,
                    Tuhan itu esa.

Mrk 12:32   Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus :”Tepat sekali, Guru, benar kataMu  itu bahwa  Dia
                    Esa,dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

Jelas dari jawaban Yesus sendiri mengatakan hukum yang paling utama adalah bahwa  Allah itu esa. Allah itu tidak punya sekutu dan tidak punya tandingan dan tidak terbilang. Inilah yang diyakini oleh setiap orang Israel sejak ia lahir sampai mati. Dalam seluruh Perjanjian Lama dan Taurat penuh pernyataan tentang ke-echad-an Allah. Jadi di Perjanjian Lama tidak ada masalah.

Yang menjadi masalah adalah di Perjanjian Baru dimana ada sebutan Tuhan Yesus, dimana orang Islam menyatakan : Tidak ada Tuhan selain Allah. Orang Islam menuduh orang Kristen menyembah  dua Tuhan, yaitu Tuhan Yesus dan Tuhan Allah. Lebih parah lagi kalau kita mengatakan  Yesus itu sama dengan Allah, ini adalah musyrik, dan dalam Islam dosa yang tidak bisa diampuni adalah dosa mempersekutukan atau mempertandingkan Allah.

BETULKAH  ST. PAULUS  MENGAJARKAN  ALLAH  TIDAK  ESA ?

Orang Islam mengakui ajaran Isa atau Yesus adalah benar  yaitu bahwa Allah itu esa, demikian pula dengan ajaran para nabi sebelum Isa. Tuduhan orang Islam, Pauluslah yang  menyimpang dengan mengubah ajaran Allah yang Mahaesa menjadi yang Mahatiga, yaitu Bapa,Putera dan Roh Kudus.  Mari kita lihat kebenaran  tuduhan ini dari surat-surat rasul Paulus yang dikirimkan kepada umat gereja di kota-kota  bersangkutan seperti terlihat di ayat-ayat berikut,

Rom  3:30       Artinya,  kalau  ada  satu  Allah,  yang  akan  membenarkan  baik  orang-orang  bersunat
                        karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.

1Kor  8: 4       Tentang  hal  makan daging  persembahan  berhala  kita tahu :”tidak ada berhala di dunia
                       dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.”

(Memang tidak ada berhala di dunia ini, berhala adalah ciptaan pikiran kita sendiri. Kitalah yang menciptakan dewa-dewa atau makhluk makhluk lainnya dengan pikiran kita)
                      
1Kor  8:  6      namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala
                       sesuatu dan yang  untuk  Dia kita  hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu  Yesus Kristus, yang
                       olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup

1Kor 12: 6      Dan  ada  berbagai-bagai  perbuatan  ajaib,   tetapi  Allah adalah  satu yang  mengerjakan
                       semuanya dalam semua orang.

Gal   3:20      Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu.

Ef    4:  6      satu Allah dan Bapa dari semua,  Allah yang di atas semua dan  oleh semua dan di dalam
                     semua.

Ternyata dari surat-surat rasul Paulus tidak satupun didapati kata yang menyatakan Allah itu tidak esa, kesemuanya mengacu kepada Allah yang esa. Juga dari surat Yudas di bawah ini menyatakan tentang ke-esa-an  Allah,

Yud  1:25    Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus,Tuhan kita,bagi Dia adalah kemuliaan,
                    kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang sampai selama-lamanya.

Ternyata seperti pada Perjanjian Lama, seluruh Perjanjian Baru pun mengajarkan kepada kita bahwa Allah itu esa, tidak ada yang menyamai, tidak ada yang menemani, dan tidak ada yang menyaingi.

APAKAH  SEBUTAN  TUHAN  SAMA DENGAN  ALLAH  ?

Seperti telah diterangkan sebelumnya, masalah timbul dalam sebutan Tuhan Yesus. Dalam pengertian umum  sebutan Tuhan adalah sama dengan sebutan yang diberikan kepada Allah. Lebih-lebih untuk orang Islam dimana sebutan Tuhan  hanyalah untuk Allah. Dalam Alkitab sebutan Tuhan  ternyata dibedakan dengan sebutan untuk Allah. Mari kita periksa beberapa ayat dari Alkitab seperti di bawah ini,

Rom  10:  9    Sebab  jika kamu  mengaku dengan  mulutmu, bahwa  Yesus adalah Tuhan, dan percaya
                       dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati,maka kamu
                       akan diselamatkan.

Rom  10: 10   Karena  dengan  hati orang  percaya dan  dibenarkan, dan dengan  mulut orang mengaku
                       dan diselamatkan.

1Kor   6: 14    Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasaNya.

Jelas dari ayat ayat di atas sebutan Tuhan dibedakan dengan Allah sebab Allah tidak bisa membangkitkan Allah. Jadi sebutan Tuhan adalah untuk Yesus dan bukan untuk Allah. Kalau begitu sebutan apakah untuk Allah ? Untuk itu marilah kita lihat ayat berikut ini,

1Kor  8:  6     namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu  Bapa, yang dari padaNya berasal segala
                      sesuatu  dan  yang  untuk  Dia kita  hidup, dan satu Tuhan  saja, yaitu Yesus Kristus, yang
                      olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

YESUS  TELAH  ADA  SEBELUM  DUNIA  DIJADIKAN .

Kalau Yesus beda dengan Allah  apakah Yesus hanya sebagai seorang nabi seperti yang dipercayai oleh orang Islam, atau sebagai kembarannya malaekat Lucifer yang memberontak pada Allah seperti kepercayaan orang Mormon, atau sebagai makhluk yang diciptakan paling mula-mula oleh Allah untuk membantu Allah dalam penciptaan jagat raya beserta isinya seperti yang diajarkan oleh bidat Arianisme yang sekarang dianut oleh pengikut Saksi Yehova ?

Ternyata Yesus bukanlah sebarang makhluk seperti diajarkan oleh bidat-bidat diatas dan sudah ada sebelum jagat raya ini ada,dan sebelum dunia ini ada.. Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh Alkitab,

Yoh  17:  5     Oleh  sebab  itu, ya Bapa, permuliakanlah  Aku  padaMu  sendiri dengan kemuliaan yang
                       Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada.

.Yoh  17: 24    Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun  Aku berada, mereka juga berada  bersama-sama
                        dengan  Aku, mereka yang  telah  Engkau berikan  kepadaKu,  agar mereka memandang
                        kemuliaanKu yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab Engkau telah mengasihi  Aku
                        sebelum dunia dijadikan.

Keberadaan Yesus bukan dalam bentuk manusia sebab dunia belum ada dan manusiapun belum ada. Jadi keberadaan Yesus dalam wujud  roh. Wujud manusiaNya baru ada kemudian, yang diambil dari Bunda Maria  pada waktu inkarnasi

Yoh  8:56-58   Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu dan ia telah melihatnya dan
                        ia  bersukacita.57 Maka kata  orang-orang Yahudi kepadaNya:”UmurMu  belum sampai
                        lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham ?”
                        58  Kata  Yesus   kepada   mereka  :”Aku  berkata  kepadamu,  sesungguhnya   sebelum
                        Abraham jadi,  Aku  ada.”

Ternyata existensi Yesus ada sebelum  Abraham ada, sedang Abraham ada 2000 tahun sebelum Yesus. Jadi Yesus mempunyai  2  existensi  yaitu sebagai manusia ketika dilahirkan oleh  Bunda Maria dan pra-manusia dalam keadaan kekalNya di hadirat Allah. Di hadirat Allah ini di manaNya, di kanan, kiri, depan, belakang, atas atau bawah. Untuk mengetahui tepat di sebelah mana  Yesus berada di hadirat Allah itu, mari kita lihat ayat berikut ini,

Yoh  8: 42     Kata  Yesus  kepada  mereka :”Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi  Aku,
                      sebab  Aku  keluar  dan  datang  dari  Allah.  Dan  Aku  datang  bukan  atas  kehendakKu
                      sendiri, melainkan Dialah yang mengutus  Aku.

YESUS  ITU  SIAPA  ?

Ternyata sebelum inkarnasi dalam keadaan kekalNya Yesus keluar dan datang dari Allah artinya Ia berasal dari dalam Allah. Di dalam  Allah sebagai apa ?   Sebelum menjawab pertanyaan ini mari kita lihat apa  yang  ditulis di dalam Alkitab,

Ibr  1:  2        maka  pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan  AnakNya,
                      yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.  Oleh  Dia  Allah
                      telah menjadikan alam semesta.

1Kor 8:6       ….ada satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan
                     dan yang oleh karena Dia kita hidup.

Dari ayat-ayat di Perjanjian Baru di atas, kita ketahui Allah menciptakan alam semesta dengan perantaraan AnakNya, yaitu Yesus Kristus.

Sekarang, mari kita lihat siapa mencipta alam semesta pada awalnya dari ayat ayat berikut,

Yoh  1:1-3     Pada mulanya adalah  Firman; Firman  itu  bersama-sama dengan  Allah dan  Firman  itu
                      adalah  Allah. 2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. 3 Segala sesuatu dijadikan
                      oleh  Dia  dan  tanpa  Dia  tidak  ada  sesuatupun  yang  telah  jadi  dari  segala yang telah
                      dijadikan.

 Kitab Kejadian yaitu  Kej 1: 3,6,9,11,14,20,24,26  Allah menjadikan alam semesta dengan segala isinya melalui  FirmanNya (Berfirmanlah Allah……)

Sekali lagi kita telusuri, dari Perjanjian Baru segala sesuatu dijadikan oleh  Anak , sedang pada awalnya segala sesuatu dijadikan oleh  Firman .

Kesimpulannya :                                   ANAK  =  FIRMAN

Kalau begitu,sebelum manjadi manusia Yesus adalah sebagai  Firman Allah  yang diam di dalam diri Allah, sebab Ia mengatakan “Aku keluar dan datang dari Allah”

Karena Yesus atau Firman berasal dari dalam diri Allah,  dapat disimpulkan, Yesus atau  Firman dan Allah adalah  SATU.
                                                                                                              
 MENGAPA  FIRMAN  DISEBUT  ANAK ?

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa Firman disebut Anak ? Seperti pada manusia kita punya akal budi atau pikiran, kalau pikiran itu kita keluarkan atau dengan bahasa simbolik kita “lahirkan” akan berupa kata-kata. Demikian juga Allah punya akal budi yang disebut Logos, kalau Logos ini dilahirkan akan berupa Firman. Karena itu,  Firman disebut  Anak  Allah.

Jelas kelahiran Sang Anak di sini bukan kelahiran secara biologis dan tidak memerlukan seorang isteri, dan terjadi secara kekal sebelum terjadinya Penciptaan. Maka konsep Lam yalid wa lam yulad atau Allah tidak beranak dan tidak diperanakan tidak pernah  dilanggar . Jadi tuduhan orang Islam, bahwa  orang Kristen menghojat Allah, tidak berdasar.

ANAK  TUNGGAL  ALLAH .

Mengapa Sang Anak disebut juga sebagai Anak Tunggal Allah ? Sebutan ini adalah sebagai konsekwensi logis bahwa Firman Allah itu hanya satu. (Lihat  Yoh 3:16)

Yoh 3:16    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga  Ia telah mengaruniakan AnakNya
                   yang  Tunggal,   supaya  setiap  orang  yang  percaya  kepadaNya  tidak  binasa,  melainkan
                   beroleh hidup yang kekal.

Yoh 1:14    Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-
                   Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai  Anak Tunggal Bapa, penuh kasih
                   karunia dan kebenaran.

MENGAPA  FIRMAN  DISEBUT  ALLAH ?

Mengapa Firman juga disebut Allah seperti tertulis di Yoh 1:1  “……dan Firman itu adalah Allah”

Telah diterangkan sebelumnya bahwa Yesus mempunyai dua existensi, yaitu sebelum inkarnasi sebagai Firman Allah yang kekal bersama-sama dengan Allah dan existensi kedua, yaitu setelah inkarnasi sebagai manusia ketika dilahirkan oleh Bunda Maria. Firman itu disebut Allah pada existensi sebelum inkarnasi, yaitu pada keadaan kekalNya.

Seperti pada manusia, orang dikenal dari kata-katanya sebab kata-kata adalah identik dengan pemilik kata-kata tersebut. Sebagai ilustrasi dapat diambil contoh pembicaraan lewat tilpon, masing-masing pembicara tahu, bahwa suara yang didengar merupakan identitas orang yang berbicara di ujung tilpon tersebut 

Demikian pula Allah dikenal melalui FirmanNya, jadi Firman identik dengan Allah dalam hal kodratNya. Di mana Allah ada, Firman itu ada,….” Aku (Firman Allah yang menjelma) dan Bapa (Allah) adalah satu”….(Yoh 10:30). Firman dan Allah mempunyai kodrat dan hakekat yang sama, bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan.

Selanjutnya mari kita periksa ayat berikut ini sekali lagi,

Yoh  1:14    Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantera kita, dan kita telah melihat kemuliaan
                    Nya, yaitu  kemuliaan  yang  diberikan  kepadaNya  sebagai  Anak  Tunggal  Bapa,  penuh
                    kasih  karunia dan kebenaran.

Dari ayat tersebut di atas jelas yang menjelma menjadi Manusia adalah Firman Allah dan bukan Allah sendiri selaku Bapa seperti yang dituduhkan orang Muslim.

Tertulis di Alkitab,
                            …..Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1)
                            …..Firman itu telah menjadi manusia (Yoh 1:14)
Untuk mempersingkat orang Kristen sering mengucapkan “Allah telah menjadi manusia”, padahal yang dimaksud adalah “Firman Allah telah menjadi manusia” Inilah salah satu penyebab kesalah-pahaman dengan orang Islam maupun Yahudi.

APAKAH  ALLAH  KEHILANGAN FIRMANNYA ?

Sebaliknya dengan menjelmanya  Firman Allah menjadi manusia, tidak bearti Allah kehilangan FirmanNya, ini terbukti pada pembaptisan Yesus di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis terdengar suara Allah :”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku  berkenan.” (Mat 3:17), demikian pula pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung terdengar suara  Allah :”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."”(Mat 17:5). Sebagai ilustrasi dapat diberi contoh suara orang yang direkam dalam kaset, suara orang tersebut telah pindah ke dalam kaset tanpa orang tersebut kehilangan suaranya.

DUA  KELAHIRAN  YESUS

Dari uraian diatas ternyata Yesus mengalami dua macam kelahiran,

      1 Kelahiran secara  Ilahi (Divine Birth), terjadi pada saat keluarnya Sang Firman dari Bapa pada
         keadaan kekalNya tanpa seorang ibu.
      2 Kelahiran secara manusia dari seorang perawan (Virgin Birth) tanpa campur tangan laki-laki.

SIAPAKAH  ROH  KUDUS  ITU  ?

Sekarang mari kita membahas Pribadi yang ketiga dari ATM, yaitu  ROH KUDUS.

Dari data Alkitab kita menemukan,

Yoh  15:26     Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar
                       dari  Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.

1 Kor 2:10,11 Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki  segala
                       sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.
                       11 Siapa gerangan di antara manusiayang tahu, apa yang terdapat di dalam diri  manusia
                       selain  roh  manusia  sendiri  yang  ada di dalam  dia?  Demikian pulalah tidak ada orang
                       yang  tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.                   
 
Dari  data Alkitab di atas jelas Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri yang keluar dari diri Allah dan berfungsi untuk memberi kehidupan pada seluruh ciptaan  yang diciptakan oleh Firman Allah.

ALLAH  TRITUNGGAL  MAHAKUDUS  ADALAH  ALLAH  YANG  ESA .

Pembahasan di atas memberi fakta bahwa, baik  Anak Allah (Firman Allah), maupun Roh Kudus (Roh Allah), keduanya berasal, dan keluar dari Bapa, yaitu Allah yang Esa, sehingga Allah Tritunggal Mahakudus bukan merupakan tiga Allah tetapi Allah yang Esa, sebab Firman dan RohNya adalah  SATU dalam diri  Allah.

MENGAPA  YESUS  DISEBUT  TUHAN ?

Kata Tuhan berasal dari  kata Yunani Kyrios yang mempunyai tiga arti ,
                  
                    1 Tuhan, sebutan untuk  Allah
                    2 Tuan atau Pak, sebutan untuk manusia
                    3 Sebutan untuk Penguasa

Sama seperti dalam bahasa Inggris kata “Lord”, bisa untuk manusia, misalnya , Lord Mountbattan atau untuk  Allah, demikian pula dalam bahasa Jawa “Gusti”, bisa untuk manusia, Gusti Pangeran dan untuk Allah, Gusti Allah. Sedang dalam bahasa Indonesia tidak ada kata padanan yang serupa yang mempunyai arti ganda tersebut.

Jadi untuk penggunaan arti ganda  untuk terjemahan “Kyrios” dikembangkan dari kata “Tuan”. Untuk mengunjuk kepada manusia dipakai “Tuan”, sedang untuk mengunjuk kepada Allah disisipkan huruf  “h” di tengah kata “Tuan” menjadi “Tuhan”. Pemakaian kata “Tu(h)an” inilah yang sering menimbulkan kerancuan dan salah pengertian.

Dalam bahasa Yunani dipakai  kata “Kyrios” untuk Yesus sebelum kebangkitanNya, dimana Dia masih sebagai manusia biasa dan belum dipermuliakan dan setelah kebangkitanNya yaitu setelah terjadi permuliaan pada DiriNya tetap dipakai sebutan “Kyrios”  tapi dalam arti yang berbeda, yaitu sebagai Penguasa.

Sedang dalam bahasa Indonesia seharusnya dibedakan, sebelum permuliaan dipakai sebutan “Tuan” dan setelah kebangkitan dari mati dan dipermuliaan dipakai sebutan “Tuhan”, yang bearti  Penguasa.

Pertanyaannya mengapa setelah bangkit dari kematian dan dipermuliaan Yesus disebut Tuhan atau Penguasa ?  Untuk menjawab ini mari kita periksa  ayat-ayat berikut ini,

Mat 28:18    Yesus  mendekati  mereka  dan berkata :”KepadaKu  telah  diberikan segala kuasa di sorga
                     dan  di bumi”.

Setelah Yesus bangkit dari mati  dan kemanusiaannya dimuliakan maka kepadaNya diberi kuasa atau mandat . Siapa yang memberi kuasa ini ? Mari kita lihat ayat di bawah ini,

Kis  2:36     Jadi kaum Israel harus  tahu dengan pasti, bahwa  Allah  telah membuat Yesus, yang kamu
                   salibkan  itu  menjadi Tuhan dan Kristus. 

Sebutan Tuhan disini menunjuk kepada Yesus sebagai Penguasa yang diberikan oleh Sang Bapa kepada Yesus. Jadi sebutan Tuhan bukan mangacu kepada Allah, mari sekali lagi kita melihat ayat dibawah ini,

1 Kor 8:6    namun bagi  kita  hanya ada  satu Allah saja, yaitu Bapa,  yang dari padaNya berasal segala      
                   sesuatu  dan  yang untuk  Dia  kita  hidup,  dan  satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus,  yang  
                   olehNya  segala sesuatu telah dijadikan dan yang karenaNya kita hidup.

ANAK-ANAK   ALLAH .

Allah, adalah nama pribadi sedangkan Tuhan, adalah gelar atau jabatan Penguasa. Sering kita dikacaukan dengan sebutan anak-anak Tuhan, yang seharusnya berbunyi anak-anak Allah. Sebab jabatan tidak bisa punya anak, yang bisa punya anak adalah pribadi. Contoh, yang bisa beranak adalah pribadi Megawati bukan jabatan presidennya. Kita lihat ayat-ayat berikut,

Yoh  1: 12  Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak  Allah,
                    yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.

Rom  8:15   Sebab  kamu  tidak  menerima  roh  perbudakan  yang  membuat  kamu menjadi takut  lagi,
                    tetapi  kamu  telah  menrima  Roh  yang  menjadikan  kamu  anak  Allah. Oleh Roh itu kita
                    berseru :”ya Abba, ya Bapa”.

Gal  3:26     Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.

MENGAPA  MANDAT DIBERIKAN KEPADA YESUS SECARA  MUTLAK  ?

1         Pernyataan ulang bahwa yang menjadi manusia, yaitu Yesus, adalah Firman yang sama yang membuat semua ciptaan.
2         Kuasa yang hilang akibat dosa Adam diberikan kembali kepada Adam yang kedua yaitu, Yesus.
3         Untuk tujuan keselamatan, yaitu kalau Yesus tidak punya kuasa Ia tidak bisa membangkitkan kita,
dan  memberikan  tubuh kemuliaan kepada kita.

Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan ini sangat penting untuk keselamatan kita, manusia. Mari kita baca pernyataan Kitab Suci mengenai hal tersebut,

Rom  10: 9   Sebab  jika  kamu mengaku   dengan  mulutmu,  bahwa Yesus adalah Tuhan, dan  percaya
                    dalam hatimu, bahwa Allah telah  membangkitkan  Dia dari antara orang mati, maka kamu
                    akan diselamatkan.

Flp 3:20,21  Karena  kewargaan  kita  adalah  di dalam  sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan
                    Yesus Kristus  sebagai  Juruselamat, 21  yang  akan  mengubah  tubuh  kita  yang  hina ini,
                    sehingga   serupa     dengan   tubuhNya   yang    mulia,   menurut   kuasaNya   yang   dapat
                    menaklukkan segala sesuatu kepada diriNya.

Yoh 5:27-29   Dan  Ia telah memberikan kuasaNya   kepadaNya  untuk menghakimi,  karena  Ia  adalah
                   Anak Manusia, 28  Janganlah  kamu  heran  akan  hal itu,  sebab  saatnya  akan tiba,  bahwa  
                   semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suaraNya, 29 dan  mereka yang  telah
                   berbuat  baik akan   keluar dan  bangkit untuk hidup  yang  kekal,  tetapi  mereka yang telah
                   berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.



MENGAPA  ALLAH  DISEBUT  BAPA  ?

Sebutan Bapa bukan menunjuk pada jenis kelamin sebab Allah itu Roh dan tidak berjenis kelamin dan lagi pula manusia tidak pernah melihat Dia.  Mari kita lihat ayat ayat di bawah ini,

Hos 11: 9   Aku tidak akan melaksanakan murkaKu yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan
                  Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia,Yang Kudus  di tengah-tenganmu,
                   dan  Aku tidak datang untuk menghanguskan,

1 Tim 6:16   Dia lah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut,  bersemayam dalam terang yang tak
                     terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat
                     Dia. BagiNyalah hormat dan kuasa yang kekal. Amin.

Jadi sebutan Bapa adalah menunjuk kepada sifat pengayoman, yaitu yang memberi makan,pendidikan dan anugerah. Dan, Bapa juga menunjuk kepada semua asal usul. Lihatlah ayat-ayat berikut ini,

Mat  6:26   Pandanglah   burung-burung  di langit,  yang  tidak  menabur dan  tidak  menuai  dan tidak
                   mengumpulkan bekal dalam lumbung,  namun  diberi makan oleh BapaMu  yang di sorga.

Ibr  12: 7   Jika   kamu  harus  menanggung   ganjaran;  Allah   memperlakukan   kamu    seperti    anak.
                 di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya.

Yak 1:17   Setiap  pemberian  yang  baik  dan  setiap anugerah   yang  sempurna,  datangnya  dari  atas,
                  Diturunkan  dari Bapa segala  terang, padaNya tidak ada  perubahan atau  bayangan karena
                  pertukaran.

C A T A T A N    I  :

KATA TRITUNGGAL TIDAK PERNAH SECARA EXPLISIT DISEBUT DALAM ALKITAB TETAPI ADALAH MERUPAKAN KONSEKWENSI LOGIS DAN MERUPAKAN HAKEKAT YANG HAKIKI DALAM IMAN KRISTIANI.

TRITUNGGAL  DI DALAM  PERJANJIAN LAMA.

Ada dua kata  SATU dalam bahasa Ibrani :

          ECHAD            =  SATU  dalam kesatuan majemuk
          YACHEED       =  SATU  dalam kesatuan mutlak

Untuk  Allah yang Esa selalu dipakai kata  ECHAD, yang bearti menunjukkan kemajemukan  Allah yang Esa.

Kej  1:26     Berfirmanlah Allah:”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,…

Kej  3:22       Berfirmanlah TUHAN Allah :”Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu
                     dari  Kita,…….

Kej 1:1-3      Pada mulanya  Allah menciptakan langit dan bumi. 2 Bumi belum berbentuk dan kosong ;
                     gelap gulita menutupi samudera raya, dan  Roh Allah melayang-layang di atas permukaan
                     air. 3 Berfirmanlah Allah :”Jadilah terang”.Lalu terang itu jadi.

Yes 48:16     Mendekatlah  kepadaKu,  dengarlah  ini:  Dari  dulu  tidak  pernah  Aku  berkata   dengan
                     sembunyi dan pada waktu  hal  itu terjadi Aku ada di situ. Dan sekarang, Tuhan ALLAH
                     mengutus  Aku (nubuatan untuk Yesus) dengan  RohNya.


Yes 63:8-10 …….maka  Ia (Allah)  menjadi   Juruselamat (Yesus)  mereka dalam  segala  kesesakan.
                     Bukan  seorang  duta atau  utusan,  melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka;
                     Dia lah yang menebus mereka dalam kasihNya dan belas kasihanNya…….
                     Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh KudusNya;

Yes 42: 1     Aku (Allah) telah menaruh RohKu ke atasNya (nubuatan untuk Yesus)……..


TRITUNGGAL  DALAM  PERJANJIAN  BARU .

Mat 3 : 16-17  …dan  Ia (Yesus)  melihat Roh Allah  seperti  burung merpati turun ke atasNya, 17 lalu
                     terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan :”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNya-
                     lah  Aku (Allah)  berkenan.”

Mat 28:19      jadikan semua bangsa muridKu dan baptiskan mereka dalam NAMA Bapa dan Anak
                    dan  Roh Kudus .

2Kor 13:13  Kasih  karunia   Tuhan Yesus Kristus  dan kasih   Allah,  dan  persekutuan   Roh Kudus
                    menyertai  kamu sekalian.

1Yoh  5:  7  Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam surga : Bapa, Firman dan Roh Kudus ;
                    dan ketiganya adalah satu.                                                                                                                     

Demikianlah kehadiran  Allah, Firman dan Roh KudusNya selalu bersama-sama sebagai  Tritunggal Mahakudus yang tidak bisa dipisahkan yang menyatakan ke-Esa-an  Allah.

Sebaliknya Allah yang Esa harus Tritunggal, sebab tanpa Firman tidak ada penciptaan dan tanpa Roh Kudus tidak ada penghidupan.

C A T A T A N   II .  

Karena menemui kesulitan untuk menerangkan secara Theologis maupun secara praktis mengenai Allah Tritunggal Mahakudus, banyak saudara-saudara kita Prostestan dari denominasi tertentu mencoba menghilangkan pengertian Allah Tritunggal Mahakudus. Hal ini sangat berbahaya  sekali untuk keselamatan umat manusia. Tanpa Ketritunggalan Allah, tidak mungkin Sang Firman bisa ber-inkarnasi oleh Roh Kudus menjadi manusia, sehingga keselamatan mustahil bisa terjadi.

Ada pula denominasi yang mencari jalan pintas dengan mengotak-atik beberapa ayat dari Kitab Suci serta memakai logika secara matematis, mereka membuat kesimpulan  bahwa Allah Tritunggal Mahakudus itu adalah : TUHAN YESUS KRISTUS.

Mari kita telusuri dari mana mereka memperoleh paham tersebut. Ayat-ayat penting yang mereka pakai adalah yang berkaitan dengan perintah untuk baptisan,

Mat 28:19    Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam  nama
                    Bapa  dan  Anak dan  Roh Kudus.

Kis  2:38     Jawab Petrus kepada mereka :”Bertobatlah  dan hendaklah  kamu masing-masing memberi
                   dirimu  dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan
                   menerima karunia  Roh Kudus.

Kis  8:16     Sebab Roh Kudus belum turun  di atas seorangpun di antara mereka,  karena mereka hanya
                   dibaptis dalam nama  Tuhan Yesus.

Dari ketiga ayat di atas saudara-saudara Protestan kita mencoba menarik kesimpulan secara gampangan dan merumuskan bahwa,

                                   Bapa, Anak dan Roh Kudus  =  Tuhan Yesus Kristus

Dengan rincian sebagai berikut : Bapa           = Tuhan
                                                     Anak           = Yesus
                                                     Roh Kudus = Kristus

1         Rumusan  Bapa = Tuhan  adalah tidak benar menurut  1 Kor 8:6 , yang mengatakan  hanya ada satu  Allah saja, yaitu Bapa,…….satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus.
2         Rumusan  Anak = Yesus , juga tidak  tepat sebab yang dimaksud dengan Anak disini menunjuk kepada Firman Allah, yaitu Anak Allah dalam keadaan kekalNya, sebelum inkarnasi, tanpa awal dan tanpa akhir. Sedang  nama Yesus baru muncul pada saat Perawan Maria mengandung.
3         Rumusan  Roh Kudus = Kristus, tidak benar dan ada kesan dipaksakan dari kedua ayat dari Kis 2:38  dan Kis 8:16, dimana pada ayat yang pertama dikatakan : orang yang dibaptis dalam nama Yesus Kristus, akan menerima Roh Kudus, sedang ayat kedua mengatakan : Roh Kudus belum turun di atas seorangpun, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
Kesimpulan gampangannya, adalah turun atau tidaknya Roh Kudus adalah karena Kristus, jadi Roh Kudus = Kristus.
Tentunya pernyataan ini sama sekali tidak benar sebab Kristus adalah pangganti kata Mesias  yang bearti  Yang DI-urapi, sedang tugas Roh Kudus adalah  MENG-urapi. Jelas terlihat di sini Kristus adalah “obyek”(DI-urapi), sedang  Roh Kudus adalah “subyek” (MENG-urapi). Hal ini tidak bisa dipertanggung-jawabkan, baik secara Alkitabiah maupun secara tata bahasa.

Dengan demikian rumusan :  Bapa, Anak dan Roh Kudus = Tuhan Yesus Kristus , tidak dapat dibenarkan, apalagi menyamakan  Allah Tritunggal Mahakudus dengan Tuhan Yesus Kristus, sama sekali tidak punya dasar.
                 
  Tritunggal Mahakudus merupakan Dogma Kristen yang paling penting dan mendasar, dimana Penciptaan, Pemeliharaan dan Keselamatan Ilahi bertumpu. Oleh karena itu  sangatlah penting bagi kita, umat Kristen, untuk memahaminya sehingga kita dapat mengenal Misteri Ilahi ini dengan benar.

      Kita telah membahas mengenai  Allah Yang Esa atau Tauhid, Firman-Nya dan Roh-Nya  dimana Allah Yang Esa sebagai Tritunggal Mahakudus. Dalam tulisan ini perlu kita membahas lebih lanjut mengenai Kehadiran dari Allah Tritunggal Mahakudus ini dalam semesta alam ciptaan-Nya terutama kepada kita umat manusia.
     
     Ada sekelompok orang yang mengatakan  Allah Bapa adalah zamannya Perjanjian  Lama, Tuhan Yesus adalah zamannya Perjanjian Baru, sedang  saat ini adalah zamannya Roh Kudus. Menurut mereka Allah Bapa dan Tuhan Yesus adalah penting tapi Roh Kudus lebih penting.
     Ada pula kelompok yang menganggap yang penting adalah Yesus saja. Menurut keyakinan kelompok ini Nama Yesus adalah segala-galanya. Apakah benar demikian?

1   INTERAKSI  ANTARA  ALLAH,   FIRMAN ALLAH  DAN   ROH ALLAH
  
     Mari kita periksa  Interaksi antara Allah, Firman Allah dan Roh Allah  dari data Kitab Suci dibawah ini,
  
Sesudah dibaptis  Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan : Inilah Anak-Ku  yang Ku-kasihi, kepada-Nya-lah Aku berkenan. (Mat 3 : 16~17 ;  Mar 1 : 9~10)

.    Data Alkitab di atas mengatakan bahwa “ langit terbuka”, sebagai simbol dari terbukanya misteri sorgawi, inilah pewahyuan atau pernyataan Ilahi. Dan dari langit itu terdengar suara Bapa (Allah) yang dinyatakan sebagai suara dari sorga. Dan dari langit atau dari sorga yang terbuka itulah “Roh Allah seperti burung merpati turun”.
   
     Ini jelas menunjukkan pewahyuan bahwa Roh Allah itu memang berasal dari Bapa, atau keluar dari Bapa, karena langit atau sorga itu simbol dimana Bapa  berada,  dan berasal dari situ Roh Kudus keluar dan turun, serta tujuan sasaran keluar-Nya atau turun-Nya  Roh Allah dari Bapak adalah “ke atas-Nya”, yaitu kepada “Firman Allah” yang menjelma, ialah Yesus Kristus. Bersamaan dengan turunnya Roh Kudus inilah maka dinyatakan suara Bapa “Inilah Anak-Ku yang Ku-kasihi”.

     Ternyata peristiwa baptisan Kristus ini mengungkapkan  Penampakan Ilahi”, yaitu misteri hubungan dalam Diri Allah dengan Firman-Nya dan Roh-Nya sebagai Allah Tritunggal Mahakudus yang untuk pertama kalinya dinyatakan kepada manusia dalam bentuk yang begitu jelas dan kongkrit. Dari data Alkitab ini ternyata memang Roh Kudus (Roh Allah) itu keluarnya dari  Allah (Bapa) saja, namun juga Ia tetap tinggal di dalam Allah, dan bahwa Anak Allah (Firman Allah) itulah sasaran “Kasih Allah” (“Inilah Anak-Ku yang Ku-kasihi”). Dan bahwa pernyataan Kasih Allah kepada  Firman-Nya itu bertindih tepat, atau bersamaan dengan keluarnya Roh Allah dari Allah untuk tinggal pada Firman-Nya, sebagai  Pencurah Kasih Allah.

      Jadi Roh Allah itu bukan keluar dari Firman Allah, namun tinggal dalam Firman Allah, sedang keluarnya Roh Allah sejak kekal, hanya dari Bapa saja.
    
2    HUBUNGAN KEKAL DENGAN  BAPA
     
      Walaupun  Sang Firman Allah telah ber-inkarnasi menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus (Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran –Yoh 1 : 14), ternyata Allah tidak kehilangan Firman-Nya, sebab Allah masih dapat berkata-kata : “Inilah  Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Nya-lah Aku berkenan”.  Jadi meskipun kelihatannya Firman Allah yang menjelma itu terpisah dari Allah, karena Ia berada  didalam air di sungai Yordan sebagai Yesus Kristus, sedangkan Allah berada di sorga, Allah tidak kehilangan Firman-Nya.
Nampak di sini seolah-olah Firman Allah terpisah dari Allah, dan Roh Allah. Ini disebabkan Firman Allah menampakkan diri dalam wujud Penjelmaan-Nya, sedang ke-Ilahian-Nya tak dapat dilihat mata.

     Dalam ayat Kitab Suci di atas dikatakan :  Roh Allah  seperti  burung merpati turun ke atas-Nya, yaitu hinggap pada Yesus Kristus, Sang Firman Menjelma itu, untuk tinggal pada-Nya, tanpa Wujud Roh Kudus itu terpisah dari  Allah Bapa yang di sorga.  Ini terbukti Allah Bapa tetap hidup, sebab Roh Allah atau Roh Kudus adalah Tuhan yang menghidupkan (Lihat Pengakuan Iman Panjang : Nikea-Konstantinopel), dan menyatakan Firman-Nya kepada manusia : Inilah Anak-Ku yang Ku-kasihi,….. Dengan demikian Roh Allah itu tinggal pada Bapa, namun juga pada Firman yang Menjelma. Jadi Firman Allah tetap satu dalam Allah, melalui Roh-Nya ini, seperti yang dinyatakan Kitab Suci di bawah ini,

                Aku dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30) 

               ….Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…..Kita adalah
                satu (Yoh 17:21b,22c)

     Dari ayat KS di atas kita dapat mengerti bahwa hubungan antara Bapa (Allah Yang Esa), Putra (Firman Allah yang berada secara kekal melekat satu dalam Diri Allah itu), dan Roh Kudus (Roh Allah yang juga berada secara kekal melekat satu, bersama Firman Allah, dalam Diri Allah itu), adalah hubungan yang kekal.

    Dan hubungan kekal dimana Roh Kudus keluar dari Bapa (Allah Yang Esa) dan tinggal di dalam Putra (Firman Allah) itu bahkan dinyatakan dengan jelas pada manusia ketika Putra (Firman Allah) itu menjelma menjadi manusia, yaitu saat Sang Kristus dibaptiskan

3   DALAM  INKARNASI-NYA  TETAP  TRITUNGGAL

      Mari kita periksa ayat lain dari Kitab Suci di bawah ini,

                Sebab  di dalam  Dialah  (Putra / Firman Allah)  berdiam  secara  jasmaniah        
                seluruh kepenuhan ke-“Allah”an (Kol  2: 9)

      Ternyata secara jasmaniah, yaitu dalam wujud kemanusiaan yang nampak sedang dibaptis itu sebenarnya seluruh kepenuhan ke-“Allah”an, yang jelas tak dapat dilihat oleh mata itu tetap berdiam atau bersemayam dan berada di dalam Dia, yaitu di dalam diri terdalam dari wujud penjelmaan Firman Allah, yaitu Yesus Kristus, sebagai manusia yang nampak mata itu.

      Dengan demikian seluruh kepenuhan ke-Ilahi-an yang ada di sorga, juga berada di dalam Firman-Nya, dan secara jasmaniah juga berada dalam wujud Penjelmaan-Nya. Dengan demikian Firman Allah tetap satu dalam Diri Allah bahkan ketika menjelma menjadi manusia. Jadi Allah tetap tak terpisahkan dari Firman-Nya dan Firman pun tetap satu dengan Allah, atau tetap tinggal dalam Bapa.

     Berarti Yesus Kristus, melalui kepenuhan  ke-Ilahi-anNya, dan dengan tinggal-Nya Roh Allah dalam Bapa dan dalam Diri-Nya, tetap satu di dalam Allah yang Esa itu, atau dengan perkataan lain membuktikan bahwa Allah yang Esa itu adalah Allah yang Tritunggal.
     
    Hanya hal itu tak terlihat mata, karena peristiwa di sini adalah peristiwa “penampakan” oleh karena itu memang yang nampak oleh mata saja yang harus diketahui manusia, sedang yang tak nampak mata tetap tak diketahui manusia. Keberadaan kekal itulah  yang dinyatakan dalam “penampakan” ini agar manusia dapat belajar dan mengerti rahasia mengenai kebenaran hubungan yang ada dalam Allah Yang Satu itu.  Firman itu adalah Anak Allah yang menjadi sasaran Kasih dan perkenan Allah Bapa, dan bahwa Roh Kudus itu keluar dari Allah Bapa untuk mencurahkan Kasih Allah kepada Sang Firman serta tinggal di dalam-Nya.  Mengenai hal ini dikatakan oleh  St Yohanes Pembaptis sebagai saksi mata dalam peristiwa ini,

                     Dan Yohanes memberi kesaksian katanya :“Aku telah melihat Roh turun                                                                                                                                      
                     dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh  1: 32)
     
      Kesaksian Yohanes ini menegaskan bahwa Roh Allah turun dari langit, yaitu keluar dari Bapa, serta Ia tinggal di atas Putra, dan tentunya langsung juga ke dalam-Nya.  Karena Allah,

                     …..mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas (kepada Firman-Nya
                      ini) (Yoh  3:34)

4    S A L I N G   M E N D I A M I

       Roh Allah itu tinggal dalam Allah, namun juga sekaligus tinggal dalam Firman Allah, karena Firman  tinggal di dalam Allah, sebagaimana Allah  tinggal di dalam Firman-Nya (“…..Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku….”---Yoh 14:10). Otomatis Firman juga tinggal dalam Roh Allah dan Allah-pun tinggal dalam Roh-Nya sendiri.

       Demikianlah ketika dibicarakan tentang Allah Bapa, Firman-Nya dan Roh-Nya ternyata ketiganya adalah satu, karena saling mendiami secara tak terpisahkan. Dengan demikian ternyata Allah itu Esa dan dikenal sebagai Allah Tritunggal Mahakudus, dimana Allah Bapa, Firman-Nya dan Roh-Nya bukanlah Ilah-ilah yang mandiri dan terpisah dari Allah yang Esa, sehingga memiliki Kuasa yang mandiri dan berbeda dari Kuasa Allah yang Esa itu, seperti yang dinyatakan dari ayat KS berikut ini,

Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari Diri-Nya sendiri…apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak (Yoh 5:19)

tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku : “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus  (1 Kor 12: 3)

5    T U G A S   R O H   K U D U S
      
        Keluarnya Roh Kudus dari Bapa sejak kekal itu (….,yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. ---Yoh 15:26) berfungsi sebagai pencurah Kasih Allah kepada Firman-Nya (“….Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan” ---Yoh 17:24…..”kasih Allah telah dicurahkan……oleh Roh Kudus”…Rom 5 : 5) dan bertindih tepat atau bersamaan dengan diperanakannya Putra  (Firman)  oleh  Bapa, maka di sinilah Roh Kudus mencurahkan Kasih Bapa sepenuhnya kepada Putra (Firman) dan sekaligus Roh Kudus memantulkan balik Kasih Putra kepada Bapa.

       Demikianlah Roh Kudus berfungsi ganda dalam gerak Hidup Allah Yang Esa itu, sebagai pencurah Kasih Bapa kepada Putra (Firman) dan sebagai pemantulan Kasih itu dari Putra (Firman) kepada Bapa (Allah Yang Esa), sebagaimana yang terkandung dalam makna kata “…kai ho Logos en pros ton Theon…” (Yoh 1: 1),  kai ho Logos = dan Firman itu, en pros ton Theon = bersama-sama dengan Allah atau arti yang lain adalah menuju kepada Allah, yang bermakna berhadap-hadapan dengan Allah. Inilah keberadaan saling memandang secara kekal  antara Bapa (Allah) dan Putra-Nya (Firman-Nya).

       Allah dalam bahasa Yunani, yaitu bahasa asli Kitab Suci Perjanjian Baru disebut sebagai “Ho Theos”. Kata Ho Theos ini dimengerti oleh Bapak Bapak Gereja sebagai berasal dari kata  thea atau  theinyang berarti  memandang”.

       Di dalam Firman-Nya, Allah melihat “Citra Diri-Nya”, yaitu “Gambar dan Rupa-Nya”, sebab Firman atau Putra-Nya itu adalah Gambar dan Rupa Allah sendiri. Ia (Firman) adalah gambar Allah yang tidak kelihatan,….(Kol 1:15),  Ia (Firman) adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah….(Ibr 1:3), ….yang walaupun dalam rupa Allah,…(Fil 2:6).

      Bapa memandang Firman-Nya sendiri dan mengasihi Firman-Nya itu (….sebab Engkau (Bapa) telah mengasihi Aku (Firman) sebelum dunia dijadikan.---Yoh 17:24),
(…dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,…Inilah Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepadaNya-lah Aku berkenan.---Mat 3:16~17 ; Mar 1: 9~10), dimana kasih itu dicurahkan oleh Roh Kudus kepada Sang Putra (Firman). Dan Putra (Firman Allah) itu memantulkan kembali kasih ini kepada Bapa melalui Roh Kudus, sehingga di dalam Allah Yang Esa terdapat satu gerakan  Kasih yang kekal.

       Sehingga keberadaan Allah yang Hidup itu adalah keberadaan  Kasih.  Itulah sebabnya Kitab Suci mengatakan bahwa  “Allah adalah Kasih” (1 Yoh 4: 8)

      Jelas fungsi Roh Kudus itu bukanlah untuk menyatakan Diri-Nya sendiri tetapi untuk menyatakan Putra (Firman Allah), yaitu menjadi perantara Allah sendiri untuk mengenal Diri-Nya di dalam Firman-Nya, atau sebagai lingkup pernyataan Diri Allah melaluiFirman-Nya.                                                                                                     Itulah yang dimaksud oleh Kristus mengenai Roh Kudus, berikut ini,

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan menuntun kamu dalam seluruh kebenaran ; sebab Ia tidak akan berkata-kata dalam diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya ; sebab itu Aku berkata : Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku (Yoh 16:13~15)

       Memang ayat ini berbicara mengenai pekerjaan Roh Kudus di dalam dunia ini kepada manusia. Namun karena aktivitas hubungan antara Bapa, Firman dan Roh Kudus itu adalah kekal, maka demikian pula apa yang dikatakan dalam ayat ini mengenai karya Roh Kudus itupun kekal (“…Roh yang kekal…” Ibr 9:14).
Aktivitas Roh Kudus menurut ayat ini, ialah “memuliakan Aku” serta  “akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku”.  Roh Kudus memuliakan Kristus karena Ia menerima isi berita dari Kristus. Berarti isi berita yang disampaikan oleh Roh Kudus adalah Kristus, karena Ia memuliakan Kristus, namun sumbernya juga dari Kristus. Maka jelas Kristus-lah yang dinyatakan Roh Kudus dan bukan Diri-Nya sendiri. Maka Roh Kudus adalah sarana dan lingkup dimana Kristus dimengerti dan dipahami, yaitu diwahyukan.

6   S A T U   K O D R A T
      
      Lebih jauh dikatakan “diterima-Nya dari pada-Ku, sebab segala sesuatu yang Bapa punya adalah Aku punya” (Yoh 16: 15) atau dengan kata lain “Apa yang menjadi milik-Mu adalah milik-Ku, milik-Ku adalah milik-Mu” (Yoh 17: 10), sehingga ketika Roh Kudus berkarya maka Firman Allah yang dinampakkan, namun karena milik dan punya Bapa adalah juga milik dan punya Firman, jelas dengan Firman dinampakkan atau diwahyukan oleh Roh Kudus, maka sekaligus Bapa yang diwahyukan. Itulah sebabnya melalui Firman-Nya di dalam Roh-Nya , Bapa dapat memandang Diri-Nya.
    
      Demikian juga dengan mengenal Kristus, manusia mengenal Allah. Serta dengan melihat Kristus orang telah melihat Allah “…Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14: 9). Karena melalui Roh Kudus itu punya Kristus dinyatakan pada manusia, dan punya Kristus adalah punya Bapa. Demikianlah berarti punya dan milik Roh Kudus, adalah punya dan milik Firman, dan punya dan milik Firman adalah punya dan milik Bapa. Sehingga dalam Allah Bapa, dimana Firman Allah dan Roh Allah  itu bersemayam terdapat satu milik dan satu kepunyaan , yaitu  satu Sifat-sifat Ilahi, satu  Kemuliaan, satu Kekekalan, satu Kuasa, satu  Kodrat. 

      Semuanya itu bersumber dari Allah yang Esa dan dimiliki oleh Firman dan Roh-Nya sekaligus, sebab keduanya ini berdiam dalam Kodrat Diri Allah yang Satu itu.
     
7    MAKNA  HYPOSTASIS  (PRIBADI)  

      
       Bagi iman Kristen, Allah itu Esa karena Bapa itu Esa, sebagaimana dinyatakan oleh Kitab Suci : “…bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa…” (1 Kor 8: 6) dan yang diteguhkan oleh Pengakuan Iman Gereja : “Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa…”. Sehingga Bapa itu adalah pokok dan sumber  dalam Diri Allah yang Esa.
      
      Karena Bapa itu adalah Allah yang Hidup maka Bapa itu bukan sekedar suatu keberadaan Ilahi tak berpribadi, namun Ia adalah Allah yang berpribadi, atau ber-hypostasis.
      
      Sedangkan  di dalam Alkitab ditegaskan  bahwa Firman Allah atau Kalimatullah itu bukan hanya sekedar serangkaian bunyi dan suara yang memiliki makna dalam wujud kata dan kalimat, sebagaimana “firman/kata-kata” yang dimiliki manusia. Allah tidak sama dengan manusia, oleh karena itu  Firman-Nya-pun  tidak sama dengan kata-kata manusia. Sementara kata-kata manusia  adalah sesuatu yang tercipta dari getaran udara oleh pita suara dan merupakan benda mati, namun Firman Allah itu disebut sebagai  “Firman yang hidup” (1 Yoh 1: 1), karena memang “Dalam Dia (Firman) ada hidup” (Yoh 1: 4), sebab “…Anak (Firman) mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yoh 5:26).
Itulah sebabnya Dia (Firman Allah) dapat menjadi sarana penampakan Ilahi dan akhirnya dapat menjelma menjadi  manusia yang hidup.

       Karena Firman itu hidup maka Ia mempunyai kesadaran, dan karana mempunyai kesadaran Ia dapat dikasihi Allah (Yoh 17:24). Keberadaan Firman Allah yang semacam  inilah yang dikatakan bahwa Firman itu memiliki “hypostasis” (“pribadi”).
      
      Demikian juga Roh Allah meskipun itu adalah prinsip Hidup dan Kuasa di dalam Diri Allah sendiri, namun karena Roh Allah ini mempunyai ciri sebagai “Roh yang memberi hidup…”  (Rom 8 : 2), sebagaimana juga yang ditegaskan dalam Pengakuan Iman Gereja, bahwa  Roh Kudus itu adalah “Tuhan yang menghidupkan”, maka ini berarti bahwa Roh Allah-pun memiliki Hidup, sama seperti  yang dimiliki Firman.              
.  
      Demikianlah sebagaimana Firman yang Hidup itu memiliki “Pribadi” (“Hypostasis”) karena memiliki Hidup, maka Roh-pun untuk alasan yang sama juga memiliki  “Pribadi” (“Hypostasis”).
      
      Sehingga di dalam Diri Allah yang  Esa itu terdapat tiga Pribadi. Tiga Pribadi ini sama sekali tidak bisa dipisahkan karena melekat satu dalam Diri Bapa, dan dalam Kodrat Allah, namun ciri ciri-Nya dapat dibedakan.      

      Karena Roh itu,  sama seperti Firman Allah berada di dalam Diri Allah Yang Esa, dan Roh itu sama-sama memiliki Hidup seperti Firman, maka pastilah Hidup yang ada dalam Roh itu adalah Hidup yang sama, yaitu Hidup-Nya Bapa seperti yang ada di dalam Firman juga. Jadi jelas dalam Allah itu hanya ada  Satu Hidup” saja yang Bapa itulah sumber Hidup tadi. Ini makin menegaskan  Esa-nya Allah itu .

8     HYPOSTASIS (PRIBADI)  DAN  ALLAH  YANG  ESA
      
       Berdasarkan  uraian mengenai Makna Hypostasis di atas jelaslah bahwa ketiga Hypostasis itu bukanlah merupakan tiga Allah, karena masing-masingnya saling diam-mendiami, satu di dalam yang lain dan berada dalam Kodrat Allah yang Satu dengan Sifat-sifat Ilahi yang tunggal dan sama bertindih tepat itu. Ciri khas masing-masing memang dapat dibedakan namun jelas tak dapat dipisahkan. 

      Pribadi-pribadi ini bukan Ilah-ilah yang saling terpisah dan saling mandiri (“…Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari Diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang  dikerjakan Anak”-(Yoh 5:19), namun Pribadi-pribadi yang sejak kekal berada di dalam Diri Allah yang Esa itu, dengan satu Pribadi berada di dalam Pribadi yang lain secara tak terpisahkan. Bahwa  ketiga Pribadi Ilahi ini tak terpisahkan itu adalah jelas, karena Bapa tinggal di dalam Firman sepenuhnya dan Firman-Nya tinggal di dalam Bapa. Bapa tinggal di dalam Roh-Nya, Roh-Nya sepenuhnya tinggal di dalam Bapa. Roh tinggal di dalam Firman, dan Firman-pun tinggal di dalam Roh seperti yang telah kita bahas di atas.

       Allah Bapa menyatakan Diri-Nya kepada manusia melalui Firman-Nya dalam Roh Kudus sebagaimana yang dinyatakan oleh Kitab Suci berikut ini,

Barang siapa telah melihat Aku (Firman),  ia telah melihat Bapa… (Yoh 14: 9)

Jikalau Penghibur yang akan Ku-utus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku (Yoh 15:26)

Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku  (Yoh 16:14)

         Roh Kudus “keluar dari Bapa” untuk “bersaksi tentang Firman”, yaitu untuk menyatakan Firman itu. Dalam proses pernyataan itu kepada Bapa, maka Roh Kudus oleh Firman dikembalikan kepada Bapa, yaitu   “diutus oleh Firman”, sehingga kepada Bapa,  Firman itu dinyatakan. Dengan demikian Bapa melihat Diri-Nya melalui Firman di dalam Roh Kudus. Kemudian “pengutusan Roh Kudus” oleh Firman itu berlanjut setelah adanya ciptaan. Karena sumber pewahyuan Firman kepada manusia itu berlandaskan Kodrat kekal yang ada di dalam Allah, dimana memang Firman itu adalah sarana pernyataan Diri Allah di dalam Roh Kudus, sebagaimana dikatakan berikut ini,

tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya  (Mat 11:27) 

        Ayat ini menjelaskan bahwa manusia mengenal Allah hanya karena perkenan Firman  Allah untuk menyatakannya, berarti Firman memang sarana pernyataan Diri Allah. Namun pernyataan  Diri Allah kepada manusia oleh Firman ini disebabkan karena Firman  telah mengenal Bapa, yaitu sebab hubungan-Nya  sejak kekal dalam Kodrat Allah yang Esa itu sendiri. Dan cara Firman itu menyatakan Bapa (Allah yang Esa) adalah melalui  Roh Kudus yang diutus-Nya, atau yang dipantulkan kembali setelah Ia menerimanya dari Bapa. Melalui pemantulan Diri Firman itulah dikatakan Roh itu “memberitakan…apa yang diterima dari pada-Ku (Firman)”.

        Jadi jelas tugas utama Roh Kudus adalah menyatakan Firman  (“memberitakan”, “memuliakan”, “bersaksi” tentang Firman), karena Ia menerima dari Firman, artinya di dalam Firman itu Roh tinggal sebagai yang dipantulkan oleh-Nya, meskipun sejak kekal Roh itu keluarnya dari Bapa saja. Jadi Allah mengenal Diri-Nya melalui Firman-Nya di dalam Roh-Nya  yang keluar dari  Diri Allah sendiri sebagai satu-satunya sumber keberadaan kekal dari Roh itu, karena Roh itu yang memantulkan Firman Allah kepada Allah sendiri.


9    ALLAH  TRITUNGGAL  DAN  KESELAMATAN


          Betapa pentingnya hubungan antara Ke-Tritunggalan Allah dan Keselamatan dapat kita lihat dari ayat Kitab Suci berikut ini,

Jikalau Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk
mereka, yang akan binasa, yaitu orang orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran  Allah. Sebab Allah telah berfirman : Dari dalam gelap akan terbit terang! Ia juga membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus  (2 Kor 4:3~4, 6)
        
         Ayat ayat ini menjelaskan bahwa  Kristus (Firman Allah yang menjadi manusia), adalah gambaran Allah, karena itulah kemuliaan Allah…nampak pada wajah Kristus. Bagi orang yang akan binasa, yaitu orang kafir, yang pikirannya dibutakan oleh Iblis yaitu ilah zaman ini, mereka tak dapat melihat Kemuliaan Kristus, sehingga mereka tak dapat mengenal Kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus, sebagai Firman Allah yang menjelma .
Ini disebabkan karena hanya Roh Kudus saja yang dapat menyatakan Kemuliaan Kristus atau ke-Tuhan-an Kristus  sebagaimana dikatakan ayat KS dibawah ini,

tidak ada seorangpun,yang dapat mengaku : “Yesus adalah Tuhan” selain oleh Roh Kudus  (1 Kor 12: 3)
     
        Roh Kudus adalah lingkup dimana Kemuliaan Kristus dapat dimengerti, dan keberadaan ini memang keberadaan kekal di dalam Diri Allah yang Esa itu. Jika Roh Kudus menyatakan diri yang dinyatakan adalah Kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

        Dari uraian di atas, kebinasaan akan terjadi pada orang “kafir”, yaitu orang yang tidak percaya pada ke-Tritunggal-an Allah yang Esa. Juga pada orang yang memisah-misahkan Pribadi-pribadi Ilahi yang kekal dalam Kodrat Allah yang Esa itu, sebagai Ilah-ilah yang mandiri.

        Tak seorangpun mengenal Allah Bapa kecuali melalaui Firman-Nya yang merupakan Gambar dan Rupa Allah Bapa. Dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku :”Yesus adalah Tuhan” ,selain oleh Roh Kudus. Sedangkan sejak kekal Roh Kudus ini tinggal di dalam Allah Bapa, seperti tertulis di dalam Alkitab, berikut ini,

Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam  diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah  (1 Kor 2 : 10~11)


        Juga bagi kelompok yang mengatakan, sekarang adalah zamannya Roh Kudus dan yang penting adalah Roh Kudus, sebab Roh Kudus-lah yang memberikan bermacam-macam karunia. Seperti telah dijelaskan di atas, manifestasi Roh Kudus adalah untuk “memberitakan” dan “memuliakan” serta  “bersaksi” tentang Firman Allah / Anak Allah. Jadi bukan untuk Diri-Nya sendiri.

        Dari uraian singkat diatas jelas bagi kita bahwa Allah Tritunggal Mahakudus tidak dapat dipisah-pisah,  dipecah-pecah atau dipilah-pilah mana yang lebih besar, mana yang lebih kuasa atau mana yang lebih penting, sebab  Allah Tritunggal Mahakudus itulah  Allah Yang Esa.