Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Thursday, April 5, 2007

Menuju Persatuan Gereja Yang Visible dan Penuh

Menuju Persatuan Gereja yang Visible dan Penuh

Oleh Leonard T. Panjaitan

Persatuan Gereja yang sebenarnya urgent dilaksanakan sekarang ini adalah antara Timur dan Barat dimana Gereja Katolik Roma dan Gereja-gereja patriarkal Orthodox harus terlebih dahulu mengkonsolidasikan dirinya secara bersama-sama dengan penuh kerendahan hati dan semangat pembaharuan iman. Gereja-gereja Timur ini pun sebenarnya menyadari bahwa perpecahan Gereja sangat merugikan mereka sehingga mereka pun tidak dapat melakukan konsili ekumenis tanpa keikutsertaan Roma. Jelas sekali bahwa konsili ekumenis yang diakui adalah bersama-sama Roma yakni sejak Konsili Ekumenis ke-1 di Nicea thn 385 sampai Konsili Ekumenis ke-7 thn 787 di Nicea pula. Oleh sebab itu yang perlu disadari oleh segenap klerus dan umat awam adalah bahwa perpecahan gereja merupakan suatu dosa yang akibat ulah iblis Tubuh Kristus yang Satu itu mengalami “mutilasi” dan “pendarahan”. Kita secara kejam telah membiarkan Yesus untuk sekali lagi menderita secara mistik akibat perpecahan gereja ini. Salah satu tokoh Gereja Orthodox Indonesia bahkan pernah mengatakan kepada saya bahwa sebagai orang Kristen sebenarnya kita harus malu pada perpecahan gereja ini yang menurut Erwin Fahlsbusch, David B. Barrett dkk dalam The Encyclopedia of Christianity (Wm. B Eerdman Publishing Co, Desember 1998) berjumlah 33.800 denominasi protestan. Sebab kalau kita bandingkan dengan Islam, yang meskipun memiliki beberapa aliran yang berbeda-beda di dalamnya namun di seluruh dunia mereka hanya memiliki Satu mesjid saja. Di mana pun mereka sembahyang atau berdoa mereka tidak bingung memilih tempat karena mereka dapat datang ke mesjid mana pun. Dan bila kita sadari bahwa Yesus hanya memiliki satu jubah tanpa jahitan sehingga para serdadu Romawi tak kuasa untuk memotong-motongnya sehingga harus diundi maka kita akan semakin sedih bercampur galau melihat kekacauan yang kita buat sendiri demi egoisme masing-masing. Kita telah “menciptakan” Kristus menurut gambaran bahkan selera kita masing-masing. Gereja-gereja saat ini sudah banyak dihuni oleh figur-figur seperti Kain, Esau hingga Yudas Iskariot -yang penuh ambisi pribadi, memanfaatkan Gereja untuk menumpuk kekayaan- baik dari kalangan pemimpin maupun yang dipimpin. Sudah terlalu lama kita berpisah dan bahkan sering pula kita saling mengejek. Tak terkecuali Paus yang secara kasar sering digambarkan oleh beberapa sekte protestan sebagai kaki tangan setan. Kita membutuhkan pemimpin yang berhati seperti Habel dan Jacob yang jujur, rendah hati dan terbuka. Dan bila kita menghindari persatuan Gereja ini niscaya kita akan memakan buah yang kita tanam dan akan musnah. Maka kini saatnya kita semua menyadari betapa gawatnya “penderitaan” Kristus ini dan mulai membangun kehidupan baru yang dibimbing oleh Roh Kudus, Roh yang dapat mempersatukan kita semua dalam ikatan Kasih Kristus.

Persatuan yang Visible dalam Full Communion

Bentuk persatuan Gereja yang visible (terlihat jelas) dan penuh adalah persatuan sakramental- teologis yang dilandasi oleh Tradisi dan suksesi apostolik serta memiliki kepenuhannya (fullness) pada eucharistic communion atau eucharistic unity (persekutuan/kesatuan ekaristik) sebagai pusat atau jantung kehidupan Gereja. Tanpa menuju pada kesatuan ekaristik ini Gereja tidak akan hidup baik secara esensial maupun institusional. Esensi sakramen ekaristi terletak pada panunggalan atau bersatunya Kristus dalam diri kita melalui korban Roti dan Anggur yang secara substansial berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Sementara banyak dari kalangan jemaat protestan yang kurang memahami dan bahkan mengurangi makna dari tradisi sakramental ini. Diantara mereka bahkan memandang sakramen ekaristi ini hanya sebagai simbol iman yang tidak memiliki fungsi soterologis atau keselamatan. Maka tak heran bila dalam jemaat-jemaat protestan terdapat perbedaan waktu memberikan 2 (dua) rupa Roti dan Anggur dalam kebaktiannya. Sebagai contoh jemaat advent hanya 3 bulan sekali, bethel sebulan sekali hingga lutheran yang hanya 3 kali setahun. Secara institusional pun keberadaan sakramen ekaristi akan memperkuat “pondasi” Gereja berupa ketaatan dan kesetiaan pada Hukum Allah. Tanpa ada ketaatan dan kesetiaan ini maka akan mudah bagi iblis untuk menipu dan menjerat kita ke dalam perpecahan ini.

Persatuan Gereja pun harus menyentuh aspek teologis yang bertumpu pada ketujuh sakramen yang ada baik pada Gereja Katolik Roma maupun Orthodox. Tanpa ketujuh sakramen ini maka akan mustahil bagi umat protestan untuk dapat masuk ke dalam inti persatuan yang mendasarkan kepenuhannya pada Ekaristi Kudus. Sehingga melalui ketujuh sakramen ini pengakuan iman akan Kristus yang Satu dan Kudus menjadi lengkap. Bentuk konfesional ini pun akan membawa kita semua pada satu tujuan keselamatan yang sama dan visioner sebab bila terjadi pereduksian sakramen akan semakin menjauhkan kita dari pusat kehidupan beriman di dalam Gereja yaitu Ekaristi Suci. Keterbatasan protestan dalam hal dogma pun turut mempersulit kesatuan gereja ini. Terlalu banyaknya denominasi protestan (33.800) mengakibatkan diantara mereka sendiri kadang-kadang mengalami keterasingan. Dogma yang merupakan suatu ajaran resmi Gereja yang mengikat seluruh umat seperti Purgatory (Api Penyucian), Immaculate Conception (Maria Dikandung Tanpa Noda), Theotokos (Maria Bunda Allah), dan lain-lain, turut memberi andil untuk memperkuat iman dan relasi antara manusia dengan Allah. Begitu juga dengan Tradisi Gereja seperti penghormatan kepada orang Kudus, mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, yang membawa kita pada pengamalan kasih yang tak berkesudahan.

Hembusan Roh Kudus untuk mengilhami segenap umat Kristiani agar bersatu rupanya mulai dirasakan oleh beberapa tokoh protestan bahkan Paus sendiri. Pada tahun 1995 Paus mengeluarkan surat apostolik Orientale Lumen (Terang dari Timur) yang berisi ajakan Paus untuk kepada umat Katolik agar menggali terus-menerus kekayaan dan khasanah spiritualitas Timur serta menghimbau Gereja-gereja partikular untuk membantu perkembangan Gereja-gereja Orthodox yang kebetulan berada dalam wilayah keuskupan lokal. Sebelumnya pada tahun 25 Maret 1993, Dewan Kepausan untuk peningkatan persatuan umat Kristiani mengeluarkan directory (petunjuk) pelaksanaan dan norma-norma ekumenisme. Beranjak ke tahun 2002 tepatnya tanggal 21 Juni pada saat Uskup Agung Canterbury George L Carey dari Gereja Anglikan berkunjung ke Roma, beliau mengatakan kepada Paus : “Your great courage, wisdom and holiness of life have touched and inspired Christians throughout the world. Your invitation to church leaders and theologians to engage with you in a patient and fraternal dialogue about the Petrine ministry has made it possible for us to reflect on ways in which a Primacy of love and service could be a gift to share. While we are not yet in the full communion to which the Lord calls us, I rejoice in our shared baptismal faith and the growth in fellowship between our two churches”. Lalu pada tanggal 22 Agustus 2002 Tom Oden seorang ahli teologi dari Gereja United Methodist AS melalui tulisannya di situs “Catholic Exchange” mengatakan “I have predicted the imminent death of the "old ecumenism" that is centered around the failing structures of mainline Protestantism. Kemudian ia melanjutkan “An emerging new ecumenism will depend on theologically evangelicals, Roman Catholics and Eastern Orthodox who prefer ‘classic orthodox Christianity’ to left-wing politics”. Dan pada tanggal 17 November 2002 diadakan pertemuan antara Federasi Gereja-gereja Lutheran dengan Gereja Katolik di Vatican yang bertujuan untuk membicarakan full visible unity dengan Roma. Dan pada tanggal 12 Desember 2002 seorang Prof. Stephan Tobler -seorang ahli teologi dari gereja reformasi injili-dari Universitas Tubingen Jerman dalam rangka mengomentari Surat Apostolik Paus tentang “Rosarium Virginis Mariae” mengatakan "It is a letter of a spiritual and theological depth that I wasn't expecting -- a letter that breathes an evangelical dimension, which has very much surprised me. The letter says that it is necessary to relaunch the rosary as a Christological prayer. In fact, it does so, from the first to the last line”.

Dengan demikian dari berbagai uraian di atas maka sudah saatnya kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus untuk segera mewujudkan persatuan Gereja menjadi terlihat dan penuh (full visible unity) dan marilah kita tinggalkan retorika-retorika persatuan yang hanya bersifat sloganistis yang dapat melelahkan Hati Yesus Yang Maha Kudus. Sudah jelas dari pemaparan di atas bahwa persatuan Gereja harus kembali kepada Roma sebagai penerus Tahta Petrus (Mat 16 : 18, Yoh 21 : 15 – 19, Kis 15 : 7 – 8). Persatuan tanpa gembala ibarat membangun rumah tanpa pondasi. Atau pernahkah kita melihat ada kawanan domba tanpa gembala ? Paus adalah gembala Gereja dunia yang diberi tanggung jawab untuk menjaga domba-domba-Nya sampai Dia datang kembali dan Yesus adalah Gembala Sejati Gereja yang akan menyatukan seluruh umat manusia dalam satu bahasa dan pemerintahan. Dan kita harus yakin bahwa Kitab Suci tidak pernah berbohong dan ketetapan Yesus yang memilih Petrus sebagai penerus Gereja-Nya di dunia haruslah kita hormati setulus-tulusnya. Dilihat secara hakekat kedua Gereja Katolik Roma dan Gereja-gereja Orthodox sebenarnya merupakan brethren Church atau Gereja yang bersaudara dan seangkatan serta memiliki Tradisi suci dan jabatan rasuli yang sama. Memang ada beberapa masalah politis dan perbedaan penafsiran dalam beberapa doktrin seperti Infalibilitas (kebal salah) dan yurisdiksi Paus yang membuat kedua Gereja kita ini berpisah hampir seribu tahun lamanya sejak tahun 1054. Namun hendaknya hak utama atau yang dikenal sebagai primat Uskup Roma yang diperhalus dengan primus inter pares atau first among equals atau yang terutama namun sejajar (dengan Batrik lainnya) harus benar-benar dihormati dan diwujudkan oleh kedua induk Gereja ini. Untuk itu “papalisme phobia” yang secara implisit sering ditunjukkan oleh beberapa kalangan Orthodox maupun Protestan dalam melihat Tahta Petrus sebagai Vicar of Christ (wakil Kristus di dunia ini) haruslah dihilangkan sebab persatuan Gereja yang sedang dirintis oleh Paus Johanes Paulus II bukanlah meletakkan sosok pengganti Petrus ini dalam kekuasaan Gereja yang monarkis absolut namun lebih pada kepemimpinan yang inklusif dalam bingkai kasih, moral dan iman. Menurut Paus Johanes Paulus II, “usaha dan semangat ekumenis dari Gereja bersaudara yang berlandaskan pada dialog dan doa merupakan pencapaian terhadap total communion (persekutuan total) secara sempurna sehingga persatuan bukan merupakan bentuk ‘absorpsi (penyerapan) dan fusi (penggabungan)’ melainkan lebih pada sebuah perjumpaan dalam kebenaran dan kasih” (Slavorum Apostoli no.27). Dengan demikian Persatuan Gereja bukanlah suatu bentuk proselytism (mengajak orang pindah agama) seperti yang dikhawatirkan oleh Orthodox terhadap Gereja Katolik namun lebih pada kerjasama kasih yang tulus antara Gereja-gereja Timur dan Barat.

Pentingnya persatuan Timur dan Barat ini juga akan semakin menyempurnakan dua buah “paru-paru” Kristus yang berfungsi sebagai organ “pernafasan” yang membuat Gereja-Nya atau Tubuh-Nya akan dapat terus menerus bernafas dan bertahan hidup. Dalam rangka memulihkan Tubuh Kristus ini Allah menginginkan kerjasama dengan Gereja sehingga usaha awal persatuan Gereja antara Timur dan Barat harus dimulai dengan menyatukan Tanggal Paskah. Dengan menyatukan tanggal Paskah ini maka Luka-Luka Yesus akibat perpecahan ini akan mulai pulih dan bagian-bagian TubuhNya yang tercerai-berai akan berangsur-angsur menyatu kembali. Sementara sisanya kita serahkan kepada Yesus seperti kata orang bijak do your best and God do the rest. Dan suatu saat bila Roma dan Orthodox bersatu maka orang-orang Katolik dapat menerima Komuni Kudus di Gereja-gereja Orthodox dan sebaliknya demikian. Perlu diketahui bahwa sampai saat ini larangan bagi Gereja-gereja Orthodox untuk memberi roti dan anggur kepada umat non Orthodox tetap berlaku sementera Gereja Katolik sudah cukup lunak yang mana menurut hukum Kanon pasal 844 Gereja tidak melarang umat non Katolik seperti Orthodox dan Protestan untuk menerima komuni dalam Gereja Katolik asal mereka beritikad baik.

Di lain pihak semua umat protestan yang berada di bawah Lutheran dan mereka yang telah mengisolasi diri secara total harus kembali kepada Petrus (baca Paus). Sekali lagi ketetapan Yesus ini harus ditaati dengan jujur dan sudah saatnya kita pun menyingkirkan semua argumen yang sia-sia yang menyangkal kebenaran ini. Kalau semua umat beriman beserta pemimpin Gereja terutama protestan mengedepankan sikap kerendahan dan ketulusan hati maka kenyataan seperti ini bukanlah suatu hal yang impossible atau menyesakkan dada. Dan ini pula bukan suatu bentuk pemaksaan untuk mengakui supremasi Paus namun cara “kembali” seperti ini merupakan perjuangan final yang didasari kasih bagi persatuan Gereja secara menyeluruh. Sebuah perjuangan yang menuntut kebesaran hati semua pihak yang menyadari bahwa perpecahan Gereja merupakan dosa atau malapetaka dan persatuan Gereja adalah jawaban bagi perwujudan karya spiritual yang paling mulia di mata Tuhan bagi terciptanya kerajaan Allah di bumi ini. Oleh sebab itu kita harus membutuhkan Rahmat Pengertian dari Allah untuk dapat menyadari bahwa perpecahan Gereja adalah suatu skandal besar umat Kristiani yang disebabkan ulah si jahat sehingga kita pun turut berdosa. Tak henti-hentinya pula kita meminta lagi Rahmat Kebijaksanaan agar melalui Rahmat ini kita memiliki semangat rekonsiliasi antar saudara sehingga kita semua dapat mewujudkan persatuan Gereja secara ikhlas. Dengan demikian domba-domba yang tercerai berai akan kembali berkumpul menjadi satu kawanan sehingga cita-cita seperti yang selalu diucapkan dalam pengakuan iman rasuli una sancta catholica apostolica ecclesia (Gereja Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik) akan menjadi kenyataan serta doa Yesus kepada Bapa akan tergenapi (Yoh 17 : 20 – 23). Tuhan memberkati !

No comments: