Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Monday, September 8, 2008

KITAB WAHYU - SIAPAKAH BINATANG KEDUA ITU ?

BINATANG YANG KEDUA

Binatang ini keluar dari muka bumi dan mempunyai tanduk seperti anak domba. Gambaran anak domba ini menggetarkan, saat di mana kita sekarang menghubungkannya dengan hal-hal yang suci. Saya percaya Yohanes menggunakannya dengan sengaja untuk mengingatkan keimaman yang korup pada abad pertama Yerusalem.

Bukti pertama adalah bahwa binatang ini muncul dari "bumi," yang dalam bahasa asli Yunani dapat juga berarti "daratan" atau "negara" yang adalah lawannya dari "lautan", yang melahirkan binatang-binatang kafir (lihat Dan 7). Lebih lanjut, Yohanes menjadi saksi atas persepakatan terbesar dari otoritas keimaman, yang terjadi hanya beberapa tahun sebelumnya.

Dalam saat bersejarah, secara dramatis, kekuasaan agama menyatakan kesetiaannya pada otoritas pemerintahan yang korup bukan kepada Allah. Yesus, Anak Domba Allah, Maha Raja dan Imam Agung, berdiri di hadapan Pontius Pilatus dan imam-­imam kepala bangsa Yahudi. Pilatus berkata kepada bangsa Yahudi, "Inilah rajamu !" Mereka berteriak, "Enyahkan Dia, enyahkan Dia, salibkan Dia!" Pilatus menjawab, "Haruskah aku menyalibkan rajamu ?" Imam-imam kepala menjawab: "Kami tidak mempunyai raja selain daripada Kaisar!" (lihat Yoh 19:15). Benarlah imam agung Kayafas sendiri yang berbicara tentang pengurbanan Yesus untuk kepentingan politis rakyat (lihat Yoh 11:47-52).

Maka mereka menolak Kristus dan meninggikan Kaisar. Mereka menolak Anak Domba Allah dan menyembah binatang, Tentu Kaisar yang adalah penguasa pemerintahan harus dihormati (lihat Luk 20:21-25). Tetapi Kaisar mengingini lebih dari kehormatan. Ia menuntut persembahan kurban, di mana imam-imam kepala mengabulkannya waktu mereka menyerah­kan Anak Domba Allah.

Binatang itu menyerupai seekor anak domba dalam rupa luarnya saja. Kita lihat bahwa yang ia lakukan adalah meniru dan menghina pekerjaan keselamatan Anak Domba Allah. Anak Domba berdiri seperti telah disembelih; binatang itu mendapatkan luka yang mematikan, tetapi sembuh. Allah mendudukan Anak Domba di atas takhta; naga mendudukkan binatang itu di atas takhta. Yang menyembah Anak Domba akan menerima tanda­Nya pada dahi mereka (Why 7:2-4); yang menyembah binatang itu akan mengenakan tanda dari binatang itu.

Yang menimbulkan suatu pertanyaan sulit bagi kita: Apakah tanda dari binatang itu ? Yohanes menceritakan kepada kita bahwa tanda itu adalah nama dari binatang itu, atau bilangan dari nama itu. Apakah itu ? Yohanes menjawab dalam teka-teki: "Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus ena, puluh enam" (Why 13:18).

Di satu segi, bilangan itu dapat menggambarkan kaisar Romawi, Nero, yang bila namanya diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani mempunyai nilai 666. Tetapi masih banyak yang lainnya, atau tambahan, kemungkinan-kemungkinan. Per­hatikanlah bahwa 666 adalah bilangan talenta emas yang wajib dibayar oleh bangsa-bangsa kepada raja Salomo (lihat 1 Raj 10). Pikirkan juga bahwa Salomo adalah imam-raja pertama setelah Melkisedek (lihat Mzm 110). Di samping itu, Yohanes berkata bahwa identitas dari binatang itu adalah "mencari hikmat", di mana beberapa ahli tafsir melihatnya sebagai petunjuk mengarah pada Salomo, yang terkenal karena kebijaksanaannya.

Akhirnya, 666 dapat diterjemahkan sebagai penurunan dari bilangan tujuh, yang di dalam tradisi Yahudi diartikan ke­sempurnaan, kekudusan, dan perjanjian. Hari ketujuh, misalnya, dinyatakan kudus oleh Allah dan diperuntukkan bagi istirahat dan ibadat. Pekerjaan selesai dalam waktu enam hari; dan dikuduskan, tetapi, di dalam ibadat kurban diwakili oleh hari ketujuh. Bilangan "666," kemudian, menggambarkan manusia yang ditempatkan pada hari keenam, melayani binatang itu yang memikirkan dirinya dengan membeli dan menjual (lihat Why 13: 17) tanpa istirahat untuk beribadat. Walaupun bekerja itu kudus, dapat menjadi buruk bila manusia menolak memper­sembahkannya kepada Allah.

Tetapi kita harus jelas tentang sesuatu. Tafsiran ini harus membuat umat Kristen tidak menyetujui anti-Semitisme. Kitab Wahyu banyak sekali memperlihatkan kebesaran Israel - Baitnya, nabi-nabinya, perjanjian-perjanjiannya. Kitab Wahyu harus menuntun kita untuk lebih menghargai warisan kita di Israel ­dan kepada pertimbangan-pertimbangan yang penuh kesadaran akan pertanggung-jawaban kita kepada Allah. Sebaik apakah kita hidup sesuai dengan perjanjian kita dengan Allah ? Apakah kita setia pada imamat kita ? Kitab itu menjadi peringatan bagi kita semua.

Pesan kasarnya begini: kita sedang berperang dengan kekuatan-kekuatan roh jahat: kekuatan-kekuatan yang sangat besar, sangat merusak moral, penuh kedengkian. Bila kita harus berperang seorang diri, kita akan digasak habis. Tetapi ada berita baik : ada sebuah jalan yang dapat kita harapkan untuk mengalahkannya. Pemecahannya harus cocok dengan masalah­nya, kekuatan roh dengan kekuatan roh, yang terindah dengan yang terburuk, kekudusan dengan moral rendah, kasih dengan kedengkian. pemecahannya adalah Misa Kudus, saat surga turun menjamah dunia yang sedang digempur.

Sumber : The Lamb’s Supper - The Mass as Heaven On Earth, Oleh Scott Walker Hahn, 1999, Terj. Indonesia : Perjamuan Anak Domba - Perayaan Ekaristi, Surga Di Atas Bumi, Penerbit Dioma, 2007.


No comments: