Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Monday, September 8, 2008

KITAB WAHYU ADALAH MINIATUR SURGA DAN BUMI

KITAB WAHYU ADALAH MINIATUR SURGA DAN BUMI

Banyak detail kecil dari penglihatan Yohanes menjadi jelas pada waktu kita mencoba untuk mengenal Kitab tersebut seperti para pembaca semula di mana tulisan itu ditujukan. Bila kita adalah orang Kristen Yahudi yang berbicara bahasa Yunani pada masa Yohanes, hidup di kota-kota di provinsi Asia Romawi, kita mungkin mengenal peta topografi Yerusalem dari peziarah­-peziarah. Yerusalem sangatlah penting bagi para pembaca tulisan Yohanes. Yerusalem adalah ibukota dan pusat perekonomian Israel kuno, seperti juga sebagai pusat hubungan kebudayaan dan pendidikan bangsa. Tapi di atas segalanya, Yerusalem adalah jantung rohani bangsa Israel. Cobalah bayangkan kota moderen gabungan antara Washington DC, Wall Street, Oxford dan Vatikan [1]. Itu adalah Yerusalem pada abad pertama bagi bangsa Yahudi.

Di tengah-tengah kota Yerusalem, berdiri Bait Allah tercinta, yang menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan bangsa Yahudi di seluruh dunia. Yerusalem bukanlah sebuah kota dengan Bait Allah, melainkan Bait Allah dengan kota yang dibangun di sekelilingnya. Lebih dari sekadar tempat beribadah, Bait Allah berdiri untuk bangsa Yahudi yang saleh, sebagai model skala dari seluruh penciptaan. Seperti halnya alam semesta diciptakan untuk menjadi tempat kediaman Allah, dengan Adam melayani sebagai imam, Bait Allah diharapkan memperbaiki urutan hirarki ini, dengan imam-imam Israel sebagai pelayan di hadapan Yang Terkudus dari para Kudus. Sebagai umat Kristen Yahudi, kita akan segera mengenali Bait Allah sebagai surga menurut gambaran Wahyu. Di dalam Bait Allah, seperti di surganya Yohanes, Menorah (tujuh kaki dian terbuat dari emas, Wahyu 1:12) dan mezbah kemenyan (8:3-5) berdiri di hadapan Yang Terkudus dari para Kudus. Di Bait Allah, terdapat empat ukiran kerubim menghias dinding, seperti empat makhluk hidup melayani di depan takhta di dalam surganya Yohanes. Di dalam Wahyu 4:4, dua puluh empat tua-tua (dalam bahasa Yunani, presbyteroi, dalam bahasa Indonesia "imam") merupakan replika dua puluh empat divisi imamat yang melayani di Bait Allah pada tahun-tahun yang ditentukan. “Lautan kaca bagaikan kristal” (Why 4:6) adalah kolam besar di Bait Allah yang terbuat dari tembaga yang digosok, yang memuat 11.500 galon air. Di tengah-tengah Bait dalam Kitab Wahyu, seperti dalam Bait Salomo, ada Tabut Perjanjian (Why 11:19).

Wahyu menyingkapkan Bait Allah - tetapi orang-orang Yahudi yang saleh dan orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen, juga menyingkapkan lebih banyak lagi. Karena Bait Allah dan kebesarannya menunjuk pada realitas yang lebih tinggi. Seperti Musa (lihat Kel 25:9), Raja Daud menerima rencana pendirian Bait Allah dari Allah sendiri: “semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh Tuhan, yang berisi petunjuk tentang segala pelaksa,naan rencana itu.” (1 Taw 28: 19). Bait Allah harus menjadi model menurut pelataran surga: “Engkau telah menyuruh untuk membangunkan Bait Allah di atas gunung­Mu yang Suci, dan mezbah di tempat kediaman-Mu, suatu tiruan Kemah Suci yang sejak awal mula sudah Kausiapkan” (Keb 9:8).

DARI MENIRU HINGGA PERAN SERTA

Menurut kepercayaan Yahudi kuno, ibadat di Bait Allah Yerusalem mencerminkan ibadat para malaikat di surga. Imamat Lewi, Liturgi perjanjian, kurban yang dipersembahkan merupakan cerminan dari model di surga.

Kitab Wahyu dimaksudkan untuk sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih. Di mana bangsa Israel berdoa “meniru para malaikat”, Gereja dalam Kitab Wahyu beribadat bersama para malaikat (lihat 19: 10). Di mana hanya imam-imam yang diperkenankan memasuki tempat kudus di Bait Allah Yerusalem, Wahyu memperlihatkan suatu bangsa yang terdiri dari imam-­imam (lihat 5:10; 20:6) yang tinggal selamanya di hadapan Allah.

Tidak ada lagi model asli surga dan tiruan dunia. Wahyu sekarang menyingkapkan satu ibadat, di mana manusia dan malaikat mengambil bagian!

KELUAR DARI KETERPURUKAN

Para sarjana berbeda pendapat tentang kapan Kitab Wahyu ditulis; perkiraan berkisar antara akhir tahun 60 hingga akhir tahun 90 sesudah Masehi. Tetapi hampir semuanya sepakat, bahwa ukuran Bait Allah yang ditulis Yohanes (Why 11:1) menunjuk pada masa sebelum tahun 70, karena setelah tahun 70 Bait Allah sudah tidak ada, sehingga tidak dapat diukur.

Bagaimanapun juga, ibadat kurban Perjanjian Lama berakhir pada saat Bait Allah dihancurkan dan Yerusalem diratakan pada tahun 70. Bagi bangsa Yahudi di seluruh dunia, ini merupakan kejadian yang membawa perubahan besar - merupakan bayang-­bayang dari penghakiman terakhir “bait semesta” pada akhir zaman. Setelah tahun 70, tidak ada lagi asap kurban domba bangsa Israel yang membumbung. Tentara Romawi membumi­hanguskan kota dan tempat ibadat yang telah memberi arti bagi kehidupan bangsa Yahudi di Palestina dan di luar negeri.

Apa yang Yohanes jelaskan dalam penglihatannya, tidak lain adalah: matinya dunia lama, Yerusalem lama, Perjanjian Lama, dan penciptaan dunia baru. Dengan kekuasaan dunia baru ini, ada tata cara baru dalam ibadat.

Sangat sulit untuk tidak mendengar gema dari Injil Yohanes: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yoh 2: 19). “Saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem... penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran" (Yoh 4: 21, 23). Dalam Wahyu, prediksi ini dipenuhi, di mana Bait Allah diungkapkan sebagai Tubuh mistik Kristus, Gereja, dan sebagai ibadat “dalam Roh” yang bertempat di Yerusalem baru dan Yerusalem surgawi.

Demikian juga, sangat mudah dimengerti mengapa umat Kristen kuno menganggap terbelahnya tabir Bait Suci secara teologis dan liturgis sangatlah penting. Tabir terbelah seperti tubuh Kristus yang harus tercabik. Seperti Yesus menyelesaikan persembahan duniawi Tubuh-Nya, Tuhan memastikan bahwa dunia akan mengetahui bahwa tabir telah disingkirkan dari “Bait Allah”. Sekarang setiap orang, yang dikumpulkan bersama di dalam Gereja - dapat memasuki hadirat-Nya pada Hari Tuhan.

Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri.... Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang...tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (Ibr 10: 19-20,24-25).

“Di dalam Roh pada Hari Tuhan,” Yohanes melihat sesuatu yang lebih besar daripada yang dapat dikemukakan oleh sebuah alasan ataupun argumentasi. la melihat bagian dari dunia yang sudah diangkat ke dalam surga yang baru dan dunia yang baru.

Beberapa abad kemudian, saya juga mulai berbalik dan melihatnya.



[1] Kota-kota yang disebut: Washington DC: adalah pusat pemerintahan Amerika Serikat; Wall Street adalah pusat keuangan dunia; Oxford adalah kota pendidikan di Inggris yang terkenal; Vatikan, kita tahu adalah pusat agama Katolik - editor.

Sumber : The Lamb’s Supper - The Mass as Heaven On Earth, Oleh Scott Walker Hahn, 1999, Terj. Indonesia : Perjamuan Anak Domba - Perayaan Ekaristi, Surga Di Atas Bumi, Penerbit Dioma, 2007.


No comments: