Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Thursday, September 25, 2008

Vladimir Soloviev dalam "Gereja Rusia dan Kepausan Roma"

The Russian Church and the Papacy
(Gereja Rusia dan Kepausan Roma)

by Vladimir Soloviev
Edited by Fr. Ray Ryland
Publisher - Catholic Answers, 2001.

Diterjemahkan oleh Leonard T. Panjaitan dari :
http://credo.stormloader.com/Reviews/russchur.htm

Lembaga Catholic Answers telah menerbitkan kembali karya besar Vladimir Soloviev yang berjudul “Rusia dan Gereja Universal”. Ini sebuah masterpiece dari seorang filsuf besar Rusia, yang pernah hidup dari tahun 1853 -1900. Maha karya Soloviev ini ditulis dalam bahasa Perancis untuk menghindari sensor dari Tsar Rusia pada saat itu, dan kemudian volume bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Herbert Rees tahun 1948, dan telah diterbitkan kembali dengan judul di atas. Buku cetak ulang ini kemudian diedit oleh Fr.Ray Ryland. Beberapa bagian buku tersebut dipotong karena tidak berhubungan langsung dengan konsep Vladimir Soloviev tentang doktrin Katolik, yang mana Soloviev menekankan perlunya sosok Kepausan untuk persatuan visible [kasat mata] dari GerejaNya. Selanjutnya Soloviev menekankan perlunya independensi Gereja dari pengaruh penguasa negara. Maha karya “Gereja Rusia dan Kepausan Roma” memperjelas mengapa Soloviev, seorang pemikir dan filsuf yang jenius, dinobatkan sebagai “nabi persatuan Katolik-Orthodoks”.

Dalam pengantarnya, Dr.Scott Hahn menyatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II memperkenalkan Soloviev dalam Ensikliknya “Fides et Ratio” [Iman dan Akal] sebagai seorang pemikir Kristen yang termasyur dan menyatakan karyanya sebagai karya “profetik”. Di kata pendahuluannya, Fr.Ryland secara mengagumkan menangkap pesan sentral karya Soloviev yang mengguncangkan dasar kaum Orthodoksi Rusia yang anti Katolik.

Warisan luar biasa dari Vladimier Soloviev terdiri 3 [tiga] dalil sederhana yakni sbb :

1. Yesus Kristus mendirikan jurisdiksi universal disertai sebuah otoritas atau ajaran Paus yang tak bisa salah [infallible] sebagai sebuah karunia bagi GerejaNya.
2. Terpisah dari kepausan, maka Gereja-gereja Timur akan selalu tetap seperti apa adanya : bersifat etnis, merupakan gereja-gereja nasional, independen secara total dan terpecah-pecah.
3. Hanya dalam persatuan dengan Roma maka Gereja-gereja Timur yang terpisah ini menjadi benar-benar Katolik.

Jarang sekali, kalapun ada, doktrin Katolik tentang Gereja dinyatakan lebih komprehensif dan lebih persuasif dalam sebuah konteks apologetik kecuali oleh Vladimir Soloviev.

Dalam kata pengantarnya, Kardinal Austria Christophe Schonborn menekankan keyakinan mendalam dari Soloviev bahwa dalam mendirikan Gereja di atas Petrus si Batu Karang, maka Kristus mendirikan Primacy [hak keutamaan] agar menjadi sebuah ekspresi sebagai “institusi unik dari sifat kebapaan universal dalam Gereja”.

Perjalanan spiritual Soloviev dari seorang materialis tingkat bawah di usia 13, lalu menuju pembaharu iman dalam Allah dan Kristus, disertai dengan misi mistik untuk merestorasi persatuan antara Gereja Katolik dan Gereja Orthodoks Bizantin, merupakan sesuatu yang mempesonakan. Dalam otobiografi singkatnya tahun 1887, Soloviev mengakui bahwa tujuan hidupnya adalah untuk persatuan Gereja dan rekonsiliasi antara Judaisme dan Kekristenan. Dalam karya apologetik klasiknya, “Rusia dan Gereja Universal” ini, yang ditulis tahun 1889, Soloviev secara penuh mengembangkan tema yang akan membawanya menjadi seorang “the Russian Newman” [Newman dari Rusia – mengambil sosok Kardinal John Henry Newman, seorang convert dari Anglikan – red].

Soloviev mencela adanya “keadaan agama yang menyedihkan” di Rusia, dimana Gereja diperbudak oleh despotisme Tsar, selain itu negaranya berada dalam isolasi dari masyarakat Eropa Barat, dan kendornya Gereja Orthodoks Bizantin dalam skisma dari Tahta Petrus, yang merupakan pusat persatuan Gereja Universal.

Defisiensi [kurang gizi-red] dari kaum “Orthodoksi yang anti-Katolik”, mengakibatkan dalam “Gereja Timur saat ini menjadi cacat dan terpecah-pecah”, maka dia melihatnya seperti berada dalam “pelemahan umum organisasi Gereja yang kasat mata di bumi ini”. Soloviev tanpa ampun mengekspos kesalahan-kesalahan [errors] dari kaum anti Katolik kontroversialis, seperti Slavophile Alexei Khomiakov. Penyangkalan mereka terhadap beberapa doktrin Katolik menurutnya :

“tidak terdapat pada otoritas gerejawi apapun yang diterima oleh segenap Gereja Orthodox sebagaimana mengikat dan tidak bisa salah. Tidak ada konsili ekumenis yang telah mengutuk atau memberikan penghakiman atas doktrin-doktrin Katolik yang di-anatema-kan oleh kaum kontroversialis tersebut” [hal.60].

Terhadap tuntutan yang tiada akhirnya dari para penentangnya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Kepala Gereja, maka Soloviev menjawab :

“Apabila Yesus bagi mereka merupakan Kepala yang berkuasa, maka tentunya mereka akan mematuhi kata-kataNya. Namun yang terjadi, apakah ini sebuah kepatuhan kepada Sang Baginda [dhi Yesus] yang membuat mereka memberontak melawan penjaga yang kepadanya Yesus telah menunjuk ?” [hal.200].

Meditasi yang mendalam terhadap teks-teks Injil yang berkaitan dengan Petrus, bersama dengan evaluasi yang teliti dari berbagai fakta sejarah Gereja sampai kepada tinjauan hubungan antara St. Paus Leo Agung dengan Gereja Timur, membawa Soloviev pada kesimpulan :

“Sampai saat ini Kepausan Roma bukanlah sebuah perampasan kuasa yang sewenang-wenang namun sebuah perkembangan prinsip yang legal dan bersifat penuh sebelum adanya perpecahan Gereja, dan terhadap masalah ini Gereja tidak pernah protes….Dalam masa-masa itu, Gereja Orthodox Yunani menyadari bahwa dirinya adalah bagian hidup dari Gereja Universal, yang dengan jelas terikat kepada pusat persatuan, yakni Gereja apostolik Petrus” [hal.90].

2 comments:

boncuman said...

nice blog

MonkAre said...

It’s so nice site. We love to see more on this site. Keep on updating… MonkAreYou Bali *ijlkjkkkkk