Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Monday, September 1, 2008

Merekayasa Yesus [Part I]

Trinitarian Vs Unitarian


Tema kali kita mengangkat masalah keragu-raguan orang-orang terhadap kebenaran Injil. Bahkan ada diantara mereka yang menolak ke-ilahi-an Yesus, akibat sekedar memperlakukan teks injil secara sembrono. Alih-alih sebuah kajian biblis yang ilmiah namun akhirnya mereka justru terperangkap dalam rasionalisme yang sempit hingga akhirnya jatuh dalam pelukan agnotik/gnostik. Terpesona oleh sumber-sumber yang meragukan maka sekte Unitarian, saksi Yehowa dan sejenisnya merupakan metamorfosis dari “homoseksualitas” teologi yang menitikberatkan pada paham “ketunggalan”. Mereka menjalankan evangelisasi ala “teletabbies”. Mereka menafikan sama sekali dimensi Misteri Tritunggal dan menjungkirbalikkan fakta alkitabiah sesuai logika sempit mereka. Biarkanlah Misteri tetap menjadi misteri. Apabila misteri berubah menjadi mastery [penguasaan] maka Allah bukan lagi Allah. Oleh sebab itu, mereka mencoba menguras “samudera raya” kekayaan misteri Allah. Alangkah bodohnya !

Begitu naifnya mereka, apabila diumpamakan seorang WNI yang tidak mau mengakui bahwa ideologi Indonesia bukanlah Pancasila seperti yang telah digariskan oleh founding fathers kita seperti Soekarno, Muhamad Hatta, Syahrir, Agus Salim dan Bapak-bapak sidang PPKI. Maka mereka setali tiga uang, hidup terpaut waktu 2.000 tahun lebih dari kehidupan jasmani Sang Logos namun ingin meluruskan apa yang telah dinyatakan oleh para Rasul dan Konsili-konsili Kudus ? Oh Tuhan, kasihanilah mereka sama seperti Engkau telah mengasihani kami.

Tulisan dikutip dari Sarjana Biblis Craig Evans sbb :

Merekayasa Yesus – Membongkar Pemutarbalikan Injil oleh Ilmuwan

Bab.1 Iman Yang Salah Tempat dan Kecurigaan Yang Salah Sasaran

[Hal 1 s.d hal.5 *]

Tahun-tahun terakhir ini, beberapa buku telah muncul, ditulis oleh para ahli yang pada satu waktu hidup mereka memandang diri mereka sebagai orang-orang Kristen tradisional bahkan konservatif, tetapi dikemudian waktu menggambarkan diri mereka sendiri sangat menentang kekristenan atau bahkan agnostik, terutama berkaitan dengan gambaran tradisional Yesus dan Injil-injil yang dapat dipercaya secara historis. Satu atau dua dari mereka tidak lagi yakin Yesus sebenarnya pernah hidup atau tidak.

Kesan saya, mayoritas sarjana Alkitab, ahli arkeologi dan ahli sejarah yang memulai sebagai orang percaya Kristen terus bertahan dalam iman Kristennya dan terlibat aktif di gereja. Pandangan mereka tentang isu ini atau itu mungkin berubah pada saat mereka melakukan penyelidikan; kebanyakan dari kami yang memasuki dunia riset Alkitab sudah tidak terlalu kaku lagi dan lebih terbuka terhadap sudut pandang baru. Namun, mengapa beberapa ahli meninggalkan iman mereka dan menjadi begitu bermusuhan terhadap orang percaya ? Tentu saja, media populer senang mengeksploitasi dan melakukan sensasi kisah-kisah yang “diperkenalkan kepada masyarakat” ini.

Sebagian besar problem dimulai dengan kekristenan Protestan konservatif sendiri, terutama keberagaman kekristenan di Barat. Karena kontroversi tersebut, seperti pertikaian modernis-fundamentalis pada akhir abad XIX dan awal abad XX, terbentuk batas yang jelas dan tersusun pernyataan (atau pengakuan) iman yang terperinci. Pernyataan ini kadang-kadang berfungsi sebagai indiktor siapa saja yang ada di dalam dan siapa saja saja yang ada di luar kelompok mereka. Pelajari dan setujui pernyataan itu, semua akan beres. Jika anda menolak, berarti anda berada di luar kelompok mereka. Sesungguhnya, beberapa pernyataan itu ditempatkan lebih tinggi dari Alkitab itu sendiri.

Tidak mengherankan jika reaksi negatif muncul terhadap kekakuan semacam ini. Riset Alkitab yang teliti yang membahas pertanyaan-pertanyaan serius seperti siapa yang menulis kitab-kitab dalam Alkitab, dalam kondisi bagaimana, dengan tujuan apa, berkaitan dengan isu historis apa, seberapa akurat informasi tersebut – tentu saja bekerja bertentangan dengan fundamentalisme yang kaku. Tujuan saya di sini bukan untuk membahas pertanyaan yang lebih besar ini, tetapi hal ini perlu saya singgung karena saya berpikir hal itu memainkan peranan penting mengapa beberapa sarjana dan pendeta mengalami krisis iman dan melakukan perubahan radikal.

Ketika berbicara tentang siapa Yesus, apologet Kristen populer sering mengacu pada tiga pilihan yang diusulkan C.S Lewis setengah abad lalu: Yesus adalah seorang pembohong, orang gila atau Tuhan (liar, lunatic atau Lord). Rujukan tersebut bagus untuk menghasilkan persamaan bunyi dan mungkin bagus untuk menghasilkan retorika, tetapi itu merupakan logika yang salah. Tanpa kualifikasi lebih lanjut, orang yang berpaut pada baris argumen ini melakukan kesalahan meniadakan pilihan tengah, yaitu mereka mengabaikan alternatif lain yang mencolok. Paling tidak ada dua alternatif lain yang mungkin; keduanya berkaitan dengan bagaimana Alkitab dipahami, dan kedua-duanya muncul dalam buku-buku yang dikritik Merekayasa Yesus.

Alternatif keempat adalah bahwa Yesus bukan pembohong, orang gila atau Tuhan (dalam pengertian ortodoks, tradisional); Ia adalah sesuatu yang lain. Ia mungkin adalah mesias Israel, hamba Tuhan dan mungkin nabi terbesar yang pernah hidup. Ia bahkan bisa disebut sebagai anak Allah, tetapi bukan dalam pengertian Trinitarian, di mana Yesus dipandang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Sejauh yang kita ketahui, kurang lebih dengan pandangan kekristenan Ebionit, satu bentuk kekristenan Yahudi yang muncul pada abad kedua dan akhirnya menghilang pada abad kelima. Penganut Ebionit memiliki satu versi Injil Matius atau lebih yang sudah diedit, yang cenderung meninggikan status hukum Taurat dan meminimalkan sifat ilahi Yesus. Mereka percaya bahwa dalam pengertian itu, Raja Daud bisa disebut ”anak” Allah (seperti dalam Mzm 2:7), Yesus juga dapat disebut sebagai anak Allah. Namun penganut Ebionit tidak percaya pada apa yang disebut para teolog ”Kristologi tinggi” – pandangan bahwa Yesus sangat dekat dengan pandangan dua sarjana yang akan dibahas dalam bab ini.

Alternatif kelima adalah bahwa kita sungguh-sungguh tidak tahu siapakah Yesus, apa yang sesungguhnya Ia katakan dan lakukan, apa yang Ia pikirkan tentang diri-Nya sendiri, atau apa yang dipikirkan pengikutNya tentang Dia, karena Injil Perjanjian Baru dan sumber lain yang kita miliki tidak dapat dipercaya. Injil Perjanjian Baru mungkin menggambarkan Yesus sebagai Mesias Israel dan sebagai Anak Allah, tetapi seperti yang kita semua ketahui, itu hanyalah teologi orang Kristen yang hidup pada paruh kedua abad pertama, orang-orang Kristen yang tidak pernah bertemu Yesus dan tidak pernah mendengar Dia mengajar. Bentuk keraguan itu kadang-kadang melangkah lebih dalam, dan berpendapat bahwa Injil asli bukan hanya tidak dapat dipercaya dan bukan sejarah, kita tidak yakin apakah naskah yang kita miliki saat ini mencerminkan Injil dalam bentuk asli mereka secara akurat atau tidak. Ini adalah pandangan sekelompok sarjana lainnya yang akan kita bahas dalam bab ini.

Ketika membaca beberapa buku radikal lain tentang Yesus, saya menemukan bahwa hilangnya keyakinan terhadap keandalan historis Injil-injil Perjanjian Baru terjadi karena iman yang salah tempat dan kecurigaan yang salah sasaran. Yang saya maksud dengan iman yang salah tempat adalah iman pada hal yang salah, seperti mempercayai bahwa Alkitab pasti tidak bisa salah menurut standar idiosinkratik yang ketat dan bahwa kita harus mampu mengharmoniskan keempat injil. Jika iman kita bergantung pada ide ini, terutama dalam pengertian yang kaku, riset ilmiah bisa menuntun pada keruntuhan iman.

Yang saya maksud dengan kecurigaan yang salah sasaran adalah asumsi yang tidak masuk akal bahwa orang sezaman Yesus (maksud-nya, generasi pertama gerakan-Nya) tidak mampu mengingat atau tidak tertarik untuk mengingat dengan akurat apa yang dikatakan dan diperbuat Yesus, dan untuk mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Maksudnya adalah kritisisme yang tinggi yang terlalu umum di kalangan para ahli dan tampaknya muncul karena kita mengacaukan kritisisme dengan skeptisisme- maksudnya, berpikir bahwa makin besar keraguan seseorang, ia akan makin kritis. Skeptisisme radikal tidak lebih kritis daripada sikap terlalu mudah percaya.

Kita bisa melihat bagaimana cara pandang ini melihat secara singkat pada karya empat sarjana yang pandangan kristennya dulu cukup konservatif dan kurang lebih Injili. Kedua sarjana pertama saya sebut ”skeptis golongan lama” dan dua sarjana saya sebut ”skeptis golongan baru”. Dua sarjana pertama memilih sesuatu yang mendekati alternatif keempat yang sudah saya sebutkan secara garis besar di atas; dua yang lain memilih alternatif kelima.

Saya memilih keempat sarjana ini karena mereka membahas pandangan dan perjalanan iman, terutama berkaitan dengan pemahaman mereka tentang Yesus dan Injil. Saya bisa saja membahas sejumlah sarjana lain, tetapi tidak melakukannya karena mereka tidak mempublikasikan pandangan mereka.

Saya juga ingin memperjelas bahwa saya tidak mengkritik sarjana ini karena posisi yang mereka pilih. Perjalanan pribadi mereka merupakan urusan mereka sendiri. Saya mengutip dan membahas komentar mereka karena saya kira menggambarkan isu yang sedang kita bahas dalam bab ini, satu isu yang mendasari banyak problem dan kontroversi yang akan dibahas pada bab berikutnya. Meskipun demikian, saya bersikap kritis terhadap beberapa kesimpulan yang mereka hasilkan.

Sumber : Merekayasa Yesus – Membongkar Pemutarbalikan Injil oleh Ilmuwan Modern, Terjemahan Indonesia oleh Penerbit Andi tahun 2007, Judul asli : Fabricating Jesus 2005 By Craig Evans


No comments: