Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Wednesday, April 4, 2007

The Passion of the Christ

The Passion of the Christ : Evangelisasi Baru dan Persatuan Umat Kristen

By Leonard T. Panjaitan

Selama lebih dari bulan terakhir semenjak pemutaran perdananya pada Rabu Abu di AS, film The Passion melahirkan kesuksesan ganda baik dalam segi pendapatan dengan meraih box office maupun kontroversi mengenai kisah penderitaan Kristus. Film yang berdurasi +/- 2 setengah jam ini menjadi polemik diantara para petinggi Gereja maupun kaum awam selama beberapa pekan terakhir. Inilah pertama kalinya dalam sejarah, sebuah film bertema kerohanian begitu menyedot perhatian penonton dengan menimbulkan deraian air mata dan rasa pilu yang menyayat. Adakah sesuatu dalam film ini yang begitu mempengaruhi para penonton sehingga mereka rela berjam-jam antri untuk menonton di bioskop-bioskop terutama di AS dan Eropa ?

Inilah film yang menggambarkan tragedi yang memilukan hati melalui adegan-adegan kekerasan dan banjir darah yang diambil dari kisah Injil dan buku Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ yang di dalamnya berisi penglihatan St Anne Emerich (1774-1824), seorang mistikus, stigmatis dari Jerman yang selama 16 tahun terakhir hidupnya tidak pernah makan dan hanya minum air yang diberkati. Buku inilah yang menjadi inspirasi Mel Gibson, seorang Katolik yang taat walaupun skismatik sebab dia menolak konsili Vatikan II dan lebih senang disebut seorang Katolik Tradisional pra konsili Vatikan I pada masa Paus Pius IX, yang juga terkenal dengan misa tridentinenya.

Sekiranya kita semua dapat merasakan dan memahami apa yang menjadi pesan dari film ini di tengah-tengah masa pra Paskah sekarang ini ? Apalagi film dengan nuasana kental religius seperti ini sangat jarang muncul ke layar lebar dan ikut bersaing dengan film-film sekuler yang berbau porno, brutal dan konsumeristis. Untuk itu saya ingin mengajak para pembaca melihat sisi lain atau pesan yang mungkin bisa kita tarik dari The Passion ini ke arah tema evangelisasi baru dan persatuan umat Kristen.

Evangelisasi Baru

Di tengah-tengah dominasi budaya permisif dalam peradaban medioker ini, film ini ternyata bisa menata kembali mind set umat Kristen untuk merefleksikan kekristenannya secara holistik. Pertama, Kristus mengajarkan kita untuk melakukan penyerahan diri secara total kepada Bapa sama seperti yang Dia lakukan di Getsemani. Menurut Sister Josefa Menendez (1890 - 1923) dalam bukunya The Holy Passion of Our Lord and Savior Jesus Christ, yang juga seorang mistikus dan stigmatis, mengatakan bahwa kita hanya bisa mendapatkan kekuatan dari doa dan pencarian akan Allah selayaknya berlangsung dalam suasana hening, jauh dari kebisingan dan kebingungan. Selanjutnya agar bisa menemukan Dia, suatu jiwa harus menciptakan suasana sunyi yang jauh dari berbagai macam gangguan yang sifatnya melawan rahmat dan mendorong jiwa itu dipengaruhi oleh cinta pada diri sendiri atau sensualitas belaka. Kedua, Kristus yang menderita dengan rela, sabar, tanpa melawan dan tanpa mencoba membela diri ternyata disiksa, dianiaya secara keji untuk menaklukan dosa dan kesombongan manusia. Lambang salib memiliki arti signifikan bagi kita untuk lebih dimaknai secara mendalam bahwa penderitaan yang dialami oleh umat manusia bukan sesuatu yang harus dihindari dan perlu mendapat celaan namun harus dipahami untuk meneguhkan harapan yang merupakan bagian dari penderitaan dan harapan Kristus. Tom Jacobs, SJ mengatakan bahwa pengalaman akan kasih adalah Allah dan ini sangat berhasil direkonstruksikan dalam hasrat Kristus yang mau berkorban secara menyakitkan demi keselamatan kita semua. Inilah Allah yang mentransformasikan diriNya secara utuh menjadi korban kasih kekal tanpa cacat untuk mengajak kita agar mau mengikuti jejakNya yang berdarah menuju bukit Golgota. Penderitaan Kristus melahirkan Luka-luka yang menurut penglihatan St.Brigitta dari Swedia berjumlah 6600 yang olehnya malah kita disembuhkan. Dari Luka-lukaNya kita disatukan kembali oleh Kristus akibat dosa-dosa manusia sehingga kita bisa berdamai dengan Bapa Sang Pencipta. Inilah suatu relasi darah daging antara Bapa dengan anak-anakNya yang diikat dengan Tubuh dan Darah Sang Putera.

Dari sisi inilah evangelisasi baru menjadi bermakna bahwa kemenangan dan kemuliaan Kristus diawali dari pengorbanan. Sama seperti Yesus berkorban dengan menderita serta mengalami luka-luka di sepanjang via dolorosa, begitu pula kita sepatutnya berkorban di jalan salib kehidupan ini. Inilah sebuah penyadaran spiritual yang akan membawa kita kepada penyatuan penderitaan kita kepada Kristus. Menurut Uskup Agung F.X Nguyen Van Thuan dalam bukunya The Road of Hope, Allah sering mengirim salib-salib kepada mereka yang Ia kasihi, tetapi orang-orang semacam itu yang dikasihi Allah secara istimewa sedikit jumlahnya, karena tidak banyak orang akan menerima pengorbanan (No 163). Di samping itu, penderitaan yang dijalani akan berujung pada kebangkitan. Seperti yang dikatakan oleh Uskup Agung Vietnam yang juga mantan Presiden Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian dan pernah dipenjara selama 13 tahun oleh rezim komunis ketika itu, bahwa engkau gemetar ketakutan, engkau tersandung dan jatuh, engkau menemui kesukaran-kesukaran, kesalahpahaman-kesalahpahaman, kritikan-kritikan, cemoohan-cemoohan, bahkan hukuman mati. Mengapa Engkau melupakan Injil ? Tuhan kita Yesus Kristus menderita segala-galanya. Tetapi jika engkau terus mengikuti Dia, engkau akan memiliki Paskahmu juga (47). Salah satu buah dari kesadaran ini adalah seorang pemuda asal Texas bernama, Dan Leach mengakui kejahatannya di depan polisi. Ia mengatakan kalau dirinya telah melakukan pembunuhan terhadap seorang remaja wanita yang tengah hamil bernama Ashley Nicole Wilson. Keinginannya untuk mengakui dosanya itu, setelah Leach menonton film Yesus tersebut. Rupanya film ini menggugah perasaan bersalahnya. Ia pun berharap untuk diberikan pengampunan. Fakta ini didapat dari www.astaga.com.

Melalui film ini pula nama Yesus setidak-tidaknya kembali menemukan arti dimana selama bertahun-tahun di Eropa, AS dan negara-negara sekuler lainnya, nama ini semaking asing dan cenderung disingkirkan. Oleh sebab itu evangelisasi baru yang merujuk pada kisah film ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa penderitaan Kristus tidak sia-sia. Bahwa kematiannya membawa berkah bagi umat manusia. Namun yang perlu diperhatikan bahwa penderitaan Kristus itu bukan hanya pada saat 2000 tahun yang lalu namun secara mistik Dia masih menderita sampai saat ini. Apa sebab ? Karena Dia menyatu dengan umat manusia, Dia berbagi penderitaan dengan mereka yang miskin, sakit, terpenjara, teraniaya dan mereka yang merasa kehilangan harapan. Dia bukan Allah yang lupa akan mereka yang menderita dan tertindas meski sudah mulia di Surga namun Dia adalah Allah yang tinggal di hati umat manusia, Dia ikut memanggul salib bersama kita bahkan bila perlu Kristus sanggup menjalani keduakalinya sengsara di Kalvari.

Oleh sebab itu marilah kita saatnya berkontemplasi, merenungkan sengsara Kristus bahwa tanpa penderitaan, kita tidak bisa menjadi dewasa dalam iman dan juga kita tidak bisa merasakan luka-luka Kristus yang adalah luka-luka keselamatan. Dilain pihak adalah sangat lucu dan aneh bagi beberapa sekte Kristen kontemporer yang dalam beberapa liturginya berusaha untuk menghindari tema penderitaan Kristus dengan alasan kebangkitanNya-lah yang penting. Hal ini dibuktikan dengan tidak dirayakannya jum'at agung dalam ibadah mereka. Melihat Kristus dari satu aspek adalah hal yang naif. Seluruh perjalananan hidup Kristus adalah kesatuan rangkaian yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Menghilangkan satu bagian dari perjalanan hidup Kristus adalah menghilangkan sebagian iman kepercayaan kita sehingga kita akan kehilangan keseluruhan konteks penyelamatan.

Persatuan Umat Kristen

Animo umat Kristen yang sangat besar untuk menonton film ini ternyata membawa dampak besar bagi terciptanya iklim baru untuk persatuan umat beriman walaupun belum pada tahap persatuan Gereja secara penuh. Mengapa ? Karena film ini secara signifikan membawa gambaran baru yang bukan hanya bersumber pada Kitab Suci melainkan juga pada Tradisi Luhur Gereja. Hal-hal ini tentunya menjadi sesuatu yang baru bagi saudara-saudara kita dari kalangan Protestan. Singkatnya dapat kita katakan bahwa film ini sangat bersifat Roma Katolik.

Oleh sebab itu kalau film ini sangat Katolik sentris, lalu dimana letak persatuannya ? Jawabannya ialah pada figur Bunda Maria. Semua orang Kristen pasti sepakat bahwa Yesus dilahirkan oleh satu wanita yang bernama Maria binti Yoakhim. Allah telah memilih wanita suci dan perawan abadi ini bukan secara acak namun terpilih jauh sebelum dunia ini diciptakan. Maria bukanlah wanita yang tiba-tiba muncul menjadi ibu historis Sang Juru Selamat. Oleh sebab itu Maria adalah wanita sangat istimewa dimana Allah yang luasnya tak terbatas dan tak terjangkau ruang dan waktu mau bersemayam dalam rahim seorang wanita yang merupakan ciptaanNya selama 9 bulan. Bukankah ini suatu Rahmat Allah yang luar biasa bagi wanita keturunan Daud ini ? Untuk memperdalam relasi Yesus-Maria hendaknya kita sejenak merenungkan pada masa-masa Bunda menyusui Yesus ketika Sang Logos masih balita, mengajariNya berjalan, menyuapiNya makan, memandikanNya bahkan menegurNya manakala bandel.

Bunda Maria selayaknya menjadi perekat dan bukan pemecah umat Kristen. Bersama Bunda kita belajar memahami serta menyerap Yesus karena hanya seorang ibulah yang benar-benar mengetahui karakter dan seluk-beluk anaknya. Walaupun tidak bisa berdekatan langsung karena status hukuman dan terpisah jarak akibat kerumunan massa, antara Yesus dan Bunda Maria terjalin komunikasi bathin yang memungkinkan keduanya saling berinteraksi. Dari dialog hati ini keduanya saling berbagi penderitaan. Yesus memang menanggung secara fisik gelombang deraan, di sisi lain Bunda Maria ikut menderita secara bathiniah karena perasaan yang tak terperikan melihat PutraNya dianiaya secara biadab. Karena Yesus adalah manusia dan sekaligus Allah yang lahir dari peranakan Maria tanpa melalui persetubuhan dengan pria manapun, yang dibuahi hanya oleh Roh Kudus sehingga secara genetis memiliki darah daging semata-mata bersumber dari Maria maka adalah sangat tepat dan perlu bahwa seluruh umat Kristen harus belajar menghormati dan memuliakan Maria sebagai Theotokos alias Mother of God alias Bunda Allah .

Selain itu, dengan adanya film ini cakrawala saudara-saudara kita yang anti Tradisi Suci akan terbuka sehingga mereka akan semakin jernih melihat segenap peristiwa kesengsaraan Kristus. Sebagai contoh, sebanyak 7 kali Yesus jatuh ke tanah ketika memanggul salib. Hal ini bisa menjadi bentuk persatuan bila kita memaknainya dari perspektif kemanusiaan Yesus yang sangat lemah, dengan badan yang sudah remuk yang tak mungkin kuat memanggul Salib sendirian ke puncak Kalvari. Peristiwa seperti ini membawa kita pada perenungan akan beratnya beban hidup kita sewaktu-waktu yang memungkinkan kita sekali-kali jatuh dan tak lupa segera bangkit karena gairah Sang Mesias. Begitu pula Veronica, sosok wanita yang berani menawarkan secarik kain untuk membasuh wajah Kristus dan memberiNya minum dengan taruhan nyawa. Gambaran-gambaran tradisional ala Roma Katolik seperti ini cukup membuat umat Kristen lainnya menyadari pentingnya Tradisi -yang ironisnya selama ini menjadi atrophy- untuk menguatkan iman umat sehingga tidak berkembang secara statis pada penafiran harafiah teks injili namun meluas mengikuti jejak-jejak kehidupan Putera Manusia yang tidak tertulis pada Alkitab.

Dengan berbagai tanggapan positif dan antusiasme seluruh denominasi Gereja, film ini sepertinya memiliki Roh yang mengilhami umat Kristen untuk mencoba memahami ajaran-ajaran dan Tradisi dalam Gereja Roma Katolik. Ini sungguh luar biasa bahwa Allah dapat memakai segala cara untuk membangkitkan kembali kelesuan iman dan mengubah kesombongan sebagian besar umatNya melalui cara sinematik. Kita juga sepatutnya berterima kasih atas peranan besar Mel Gibson sebab tafsir kameranya membuat jutaan orang merasakan siraman rohani di tengah-tengah kekeringan jiwa generasi ini. Suatu oase di gurun pasir yang membuat mereka yang haus minum dari kisah The Passion of the Christ.

No comments: