Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Monday, April 9, 2007

Ensiklik Ecclesia De Eucharistia [JP II]

SURAT ENSIKLIK

ECCLESIA DE EUCHARISTIA

DARI BAPA SUCI

PAUS YOHANES PAULUS II

KEPADA PARA USKUP

IMAM DAN DIAKON

BIARAWAN DAN BIARAWATI

DAN SEMUA UMAT BERIMAN

PERIHAL EKARISTI

DAN HUBUNGANNYA DENGAN GEREJA

PENGANTAR

1. Gereja mendapatkan hidupNya dari Ekaristi. Kebenaran ini tidak hanya mengekspresikan pengalaman iman sehari-hari namun merangkum inti misteri Gereja. Dalam berbagai cara, Gereja dengan penuh sukacita mengalami pemenuhan janji : "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman". (Mat 28:20) namun dalam Ekaristi Kudus, melalui perubahan roti dan anggur ke dalam tubuh dan darah Kristus, Gereja bergembira dalam kehadiranNya dengan intensitas yang unik. Bahkan sejak Pentakosta, ketika Gereja, yang merupakan Orang-orang Perjanjian Baru, memulai perjalanan ziarahNya menuju tanah air surgawiNya, Sakramen ilahi ini telah terus-menerus berlangsung hari demi hari, mengisi hari-hariNya dengan harapan yang meneguhkan.

Konsili Vatican Kedua dengan tepat memproklamasikan bahwa kurban Ekaristik adalah "sumber dan puncak kehidupan Kristen" [1]. "Karena Ekaristi Maha kudus ini berisi kekayaan spiritual seluruh Gereja yakni : Kristus sendiri, paskah dan roti kehidupan kita. Melalui dagingNya sendiri, yang telah dibuat menjadi hidup dan diberi kehidupan oleh Roh Kudus, maka Dia meberikan hidupNya kepada manusia" [2]. Konsekuensinya pandangan Gereja secara konstant menoleh kepada TuhanNya, yang hadir dalam Sakramen Altar, yang mana Gereja menemukan manifestasi penuh dari CintaNya yang tak terbatas.

2. Selama Tahun Yubelium Agung 200, Saya memiliki kesempatan untuk merayakan Ekaristi dalam Senakel Yerusalem yang menurut tradisi, perayaan ini pertama kali dilakukan oleh Yesus sendiri di Ruangan Atas (Upper Room). Ruangan Atas adalah tempat Sakramen Maha Kudus ditemukan. Di sanalah Kristus mengambil roti, memecahnya dan memberikannya kepada para muridNya, sambil berkata : "Ambilah ini, kalian semua, dan makanlah : ini adalah tubuhKu yang akan diberikan kepadamu" (lih Mrk 26:26; Luk 22:19; 1 Kor 11:24). Lalu Dia mengambil cawan anggur dan berkata kepada mereka : Ambilah ini, kalian semua dan minumlah : ini adalah cawan darahKu, darah dari perjanjian baru dan kekal. DarahKu akan ditumpahkan bagi kamu dan kalian semua, sehingga dosa-dosa manusia bisa diampuni (lih Mat 14:24; Luk 22:20; 1 Kor 11:25). Saya berterima kasih pada Tuhan Yesus yang mengijinkan saya mengulangi hal ini di tempat yang sama, dengan ketataan kepada perintahNya : "Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku" (Luk 22:19), kata-kata yang Dia katakan dua ribu tahun lalu.

Apakah para Rasul yang mengambil bagian dalam Perjamuan Terakhir (Last Supper) memahami maksud dari kata-kata yang diucapkan Kristus ? Mungkin tidak. Kata-kata tersebut hanya akan secara penuh menjadi jelas pada akhir pekan/trihari suci (triduum sacrum) yakni saat malam Kamis hingga Minggu pagi. Hari-hari tersebut mencakup misteri paskah (mysterium paschale); hari-hari tersebut juga mencakup misteri ekaristi (mysterium eucharisticum).

3. Gereja lahir dari misteri paskah. Karena alasan inilah Ekaristi, yang dengan cara hebat, sakramen misteri paskah ini berdiri di tengah-tengah kehidupan Gereja. Hal ini telah menjadi jelas dari gambaran Gereja awal mula yang terdapat dalam Kisah Para Rasul : "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (2:42). Memecahkan roti mengacu pada Ekaristi. Dua ribu tahun kemudian, kita terus-menerus menghidupkan kembali gambaran primordial Gereja. Setiap perayaan Ekaristi, kita secara spiritual dibawa kembali kepada Triduum paskah : kepada kejadian malam Kamis Putih sampai Perjamuan Terakhir dan apa yang mengikutinya. Pembentukan Ekaristis secara sakramental mengantisipasi kejadoian-kejadian yang akan terjadi, yang dimulai dengan penderitaan di Getsemani. Sekali lagi kita melihat Yesus seperti Dia meninggalkan Ruangan Atas turun bersama para muridNya menuju lembah Kidrin dan pergi ke Taman Zaitun. Bahkan sekarang Taman tersebut menjadi naungan dari beberapa pohon zaitun kuno. Mungkin pohon-pohon itu telah menyaksikan apa yang terjadi di bawah bayangan mereka pada malam hari ketika Kristus yang dalam doanya penuh dengan kesedihan yang mendalam "dan peluhNya menjadi seperti tetesan darah yang jatuh ke tanah" (Luk 22:44). Darah yang sebelumnya Dia berikan kepada Gereja sebagai minuman keselamatan dalam sakramen Ekaristi, mulai ditumpahkan : pencurahan darahNya lalu akan diselesaikan di Golgotha untuk menjadi sarana penebusan kita: "Kristus sebagai imam besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang….dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal" (Ibr 9:11-12).

4. Saat keselamatan. Meskipun secara mendalam mengalami kesulitan, Yesus tidak lari dari "saat"-Nya. "Dan apakah yang akan Kukatakan ? 'Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini ?' Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini" (Yoh 12:27). Dia ingin murid-muridNya menemaniNya namun Dia mengalami kesendirian dan merasa ditinggal. "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku ? Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan" (Mat 26:40-41). Hanya Yohanes yang tinggal di kaki Salib, di sebelah Maria dan wanita beriman lainnya. Penderitaan di Getsemani adalah pendahuluan pada penderitaan Salib pada Jum'at Agung. Jam suci, yakni jam penebusan dunia. Kapan pun Ekaristi dirayakan di makam Yesus di Yerusalem, hampir pasti nyata ada saat kembali kepada "waktu"-Nya, yakni jam Salib dan Kemuliaan-Nya. Setiap imam yang merayakan Misa Kudus bersama dengan komunitas Kristen yang mengambil bagian di dalamnya dituntun kembali dalam roh kepada tempat dan saat itu.

"Dia disalib, Dia wafat dan dimakamkan; Dia bangkit dari antara orang mati; pada hari ketiga Dia bangkit lagi". Pesan profesi iman dikumandangkan dengan pesan-pesan kontemplasi dan proklamasi : "Ini adalah kayu Salib yang telah menyalibkan Penyelamat dunia. Datanglah, marilah kita sembah". Ini sebuah ajakan yang disampaikan oleh Gereja ke semua orang pada waktu siang hari di Jum'at Agung. Gereja lalu menyanyikan lagu-lagunya selama musim Paskah agar dapat memproklamasikan "Tuhan telah bangkit dari kubur; demi kita Dia telah digantung di kayu Salib, Alleluya".

5. "Mysterium fidei ! - Misteri Iman !". Ketika imam mengucapkan atau melagukan kata-kata ini, semua yang hadir menjawab : "Kami memaklumkan wafatmu, Oh Tuhan, dan kebangkitanMu kami muliakan sampai kedatanganMu yang mulia".

Dalam pesan-pesan ini atau kata-kata yang sama Gereja meski menunjuk kepada Kristus dalam misteri sengsara-Nya, Gereja juga mengungkapkan misterinya sendiri : Ecclesia de Eucharistia. Dengan karunia Roh Kudus saat Pentakosta, Gereja lahir dan mulai membuat jalannya di dunia, namun momen yang menentukan dengan pasti adalah pendirian Ekaristi di Ruangan Atas. Fondasi dan sumber Gereja merupakan keseluruhan tiga hari terakhir hingga paskah (Triduum paschale) namun ini seperti diangkat, ditandai dan "dikonsekrasikan" selamanya dalam karunia Ekaristi. Dalam karunia ini, Yesus Kristus mempercayakan kepada Gereja-Nya agar menghadirkan mister paskah yang kekal. Dengan adanya misteri ini, Yesus membawa "kesatuan dalam waktu" yang bersifat misterius antara Triduum dan perjalanan waktu berabad-abad.

Gagasan ini menuntun kita pada kekaguman dan rasa terima kasih yang dalam. Dalam peristiwa paskah dan Ekaristi yang berlangsung selama berabad-abad, ada suatu "kapasitas" yang benar-benar sangat besar yang mencakup seluruh sejarah sebagai penerima rahmat penebusan. Kekaguman ini seharusnya selalu mengisi Gereja yang berkumpul untuk merayakan Ekaristi. Namun dengan cara yang khusus, kekaguman ini seharusnya memenuhi jabatan pelayan (minister) Ekaristi. Karena dia, dengan kuasa yang diberikan kepadanya dalam sakramen imamat, mengadakan konsekrasi. Dia juga yang berkata dengan kekuatan yang ada padanya yang berasal dari Kristus di Ruangan Atas : "Inilah tubuhku yang akan diberikan kepadamu. Ini adalah cawan darahKu yang ditumpahkan bagimu…". Imam mengatakan kata-kata ini, atau dia cukup mengucapkan di tempat sama Dia mengucapkan kata-kata ini yakni di Ruangan Atas dan dia yang merindukan bahwa kata-kata ini seharusnya diulangi pada setiap generasi oleh mereka yang ada di dalam Gereja yang secara pelayanan berbagi dalam jabatan imamatnya.

6. Saya akan memperbaharui "kekaguman" Ekaristik ini dengan membuat Surat Ensiklik ini, dalam kesinambungan dengan warisan perayaan (Jubilee) yang saya sampaikan pada Gereja dalam Surat Apostolik Novo Millennio Inuente dan pentahtaan Maria, Rosarium Virginis Mariae. Mengkontemplasikan wajah Kristus dan berkontemplasi bersama Maria adalah suatu "program" yang saya buat sebelum Gereja tiba di permulaan milenium ketiga ini, memanggil Gereja untuk masuk ke dalam lautan sejarah dengan entusiasme akan evangelisasi baru. Merenungkan Kristus melibatkan kemampuan untuk mengenal Nya kapanpun Dia memanifestasikan DiriNya dalam banyak bentuk kehadiranNya, namun di atas semua itu terutama dalam sakramen tubuh dan darahNya yang hidup. Gereja mendapatkan hidupnya dari Kristus dalam Ekaristi, oleh Nya Gereja diberi makan dan oleh Nya Gereja dicerahi. Ekaristi merupkan misteri iman dan "misteri terang" [3]. Kapanpun Gereja merayakan Ekaristi, umat beriman dengan beberapa cara dapat menghidupkan kembali pengalaman dari dua murid dalam perjalanan ke Emmaus : "mata mereka terbuka dan mereka mengenali dia" (Luk 24:31).

7. Dari saat Saya memulai pelayananku sebagai Pengganti Petrus, Saya selalu telah menandai Kamis Putih, hari Ekaristi dan keimamatan, dengan mengirim surat ke semua imam di seluruh dunia. Tahun ini, tahun ke-25 masa Kepausan saya, Saya ingin melibatkan seluruh Gereja lebih penuh dalam refleksi Ekaristi ini, juga sebagai cara berterima kasih pada Tuhan atas karunia Ekaristi dan keimamatan: "Karunia dan Misteri" [4]. Dengan memproklamasikan Tahun Rosario, Saya ingin meletakkan ini, peringatan ke-25,masa kepausan saya, di bawah pengayoman kontemplasi Kristus di sekolah Maria. Konsekuensinya, Saya tidak bisa membiarkan Kamis Putih tahun 2003 ini berlalu tanpa melakukan perhentian di depan "wajah Ekaristik" Kristus dan menunjukkan dengan kekuatan baru kepada Gereja yakni sentralitas Ekaristi.

Dari Ekaristi Gereja mendapatkan hidupnya. Dari "roti kehidupan" Gereja diberi makan olehNya. Bagaimana mungkin saya tidak merasakan kebutuhan untuk mendesak setiap orang mengalaminya setiap saat ?

8. Ketika saya memikirkan Ekaristi, dan melihat hidup saya sebagai imam, uskup dan Pengganti Petrus, secara alamiah, Saya mengingat kembali waktu dan tempat yang mana Saya bisa merayakannya. Saya ingat Gereja paroki Niegowic ketika Saya melakukan tugas pastoral yang pertama, lalu Gereja kolegiat St.Florian di Krakow, Katedral Wawel, Basilika Santo Petrus, banyak basiliki dan gereja di Roma dan seluruh dunia. Saya telah merayakan Misa Kudus di kapel-kapel yang dibangun di gunung, danau, pantai dan laut; Saya telah merayakan Ekaristi pada altar-altar yang di bangun dalam stadion-stadion dan kota-kota… Berbagai skenario perayaan Ekaristi ini telah memberikan saya pengalaman yang kuat dan luas, dengan kata lain, karakter kosmik. Ya kosmik ! Sebab bila ketika Ekaristi dirayakan pada altar yang sederhana dari gereja di suatu negara maka Ekaristi ini selalu dengan beberapa cara dirayakan pada altar dunia. Ekaristi menyatukan surga dan bumi. Hal ini mencakup dan menyerap semua ciptaan. Putra Allah menjadi manusia agar dapat memulihkan semua ciptaan, dalam satu pujian yang tertinggi kepada Dia yang dibuat bukan dari apa-apa. Dia, Imam Besar Kekal yang dengan darah dari Salib-Nya memasuki tempat perlindungan abadi (eternal sanctuary), yang dengan demikian memberikan kembali kepada Pencipta dan Bapa semua ciptaan yang ditebus. Dia melakukannya melalui pelayanan imamat Gereja, kepada kemuliaan Tritunggal Maha Kudus. Hal ini benar-benar merupakan misteri iman yang dicapai dalam Ekaristi: dunia yang berasal dari tangan Allah Pencipta sekarang kembali kepadaNya yang ditebus oleh Kristus.

9. Ekaristi, sebagai kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam komunitas umat beriman dan dalam makanan rohaninya merupakan prosesi paling berharga yang mana Gereja bisa mendapatkanNya dalam perjalanannya melalui sejarah. Ini menjelaskan suatu bentuk perhatian yang baik yang selalu telah ditunjukkan Gereja terhadap misteri Ekaristi, suatu perhatian yang menemukan ekspresi otoritatif dalam karya Konsili-konsili dan Para Paus. Bagaimana kita tidak mengagumi penjelasan doktrinal dari Dekrit Ekaristi Maha Kudus dan Kurban Suci Misa yang diumumkan oleh Konsili Trent ? Selama berabad-abad Dekrit-dekrit tersebut menuntun teologi dan katekese dan dekrit-dekrit tersebut masih menjadi poin referensi dogmatis bagi pembaruaan yang berkelanjutan dan pertumbuhan umat Allah dalam iman dan dalam kasih bagi Ekaristi. Dalam hubungannya dengan Enksiklik ini, ada tiga Surat Ensiklik yang perlu disebutkan yakni : Ensiklik Mirae Caritatis dari Paus Leo XIII (28 Mei 1902) [5], Ensiklik Mediator Dei dari Pius XII (20 November 1947) [6], dan Ensiklik Mysterium Fidei dari Paulus VI (3 September 1965) [7].

Konsili Vatican II, meski tidak mengeluarkan dokumen spesifik tentang misteri Ekaristi, namun mempertimbangkan beragam aspek melalui dokumen-dokumen konsili terutama Konstitusi Dogmatis tentang Lumen Gentium dan Konstitusi tentang Sacred Liturgy Sacrosanctum Concilium.

Saya sendiri, dalam tahun-tahun pertama pelayanan apostolik ku menduduki Kursi Petrus, pernah menulis Surat Apostolik Dominicae Cenae (24 Februari 1980) [8], dalam surat ini saya membahas beberapa aspek misteri Ekaristi dan pentingnya bagi kehidupan para pelayan ekaristi. Saat ini saya mengembangkan suatu gagasan baru dari masalah ini bahkan dengan emosi yang lebih besar dan rasa syukur di dalam hati saya, yang bergema seakan-akan adalah firman Allah dalam Mazmur : “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku ? Aku akan mengangkat piala keselamatan dan akan menyerukan nama Tuhan” (Mz 116 : 12-13).

10. Komitmen magisterium untuk memproklamasikan misteri Ekaristi telah sesuai dengan pertumbuhan interior dalam komunitas Kristen. Sudah tentu reformasi liturgis yang diresmikan oleh Konsili telah memberikan kontribusi besar pada partisipasi yang lebih sadar, aktif dan berbuah dalam Kurban Kudus Altar dalam bagian umat beriman. Dalam banyak tempat, adorasi Sakramen Maha Kudus juga merupakan praktek sehari-hari yang penting dan menjadi sumber kesucian yang tidak ada habis-habisnya. Partisipasi yang tulus dari umat beriman dalam prosesi Ekaristi pada saat Perayaan Tubuh dan Darah Kristus merupakan anugerah dari Tuhan yang setiap tahun membawa kebahagian bagi mereka yang terlibat di dalamnya.

Tanda-tanda positif lainnya dari iman Ekaristi dan kasih sebaiknya disebutkan.

Sayangnya, bersamaan dengan cahaya-cahaya Ekaristi ini ada juga bayangan-bayangan. Di beberapa tempat, praktek dari adorasi Ekaristi ini sebagian besar telah ditinggalkan. Di beberapa tempat Gereja, telah terjadi penyimpangan yang mengakibatkan kebingungan dalam kaitannya dengan iman dan doktrin Katolik yang berhubungan dengan sakramen indah ini. Suatu waktu seseorang mungkin berjumpa dengan pemahaman yang reduktif mengenai misteri Ekaristi. Terkelupas dari pengertiannya yang bersifat pengorbanan, Ekaristi dirayakan seperti halnya sebuah perjamuan yang penuh persaudaraan. Selanjutnya, kebutuhan tugas pelayanan keimamatan yang berlandaskan pada suksesi apostolik, suatu waktu bisa menjadi tak jelas dan sifat sakramental Ekaristi berkurang hingga hanya pada efektivitasnya sebagai bentuk proklamasi. Di sana sini hal ini menimbulkan inisiatif ekumenis yang sekalipun bertujuan baik namun secara praktek Ekaristiknya berlawanan dengan kedisiplinan Gereja dalam mengekspresikan imannya. Bagaimana kita tidak dapat mengekspresikan duka yang dalam tentang hal ini ? Ekaristi adalah karunia yang terlalu besar untuk dimaklumi adanya ambiguitas dan depresiasi.

Ini adalah harapan saya bahwa Surat Ensiklik ini akan secara efektif membantu menghilangkan awan gelap akibat praktek dan doktrin yang tak bisa diterima sehingga Ekaristi akan terus bersinar dalam misterinya yang berkilauan.

BAB I

MISTERI IMAN

11. “Tuhan Yesus pada malam Dia dikhianati (1 Kor 11:23) mendirikan Kurban Ekarisitik dari Tubuh dan DarahNya. Kata-kata Rasul Paulus membawa kita kembali pada peristiwa dramatis ketika Ekaristi lahir. Ekarisiti secara tak terhapuskan ditandai dengan peristiwa penderitaan dan kematian Tuhan, yang mana bukan hanya pengingat namun juga merupakan representasi sakramental. Ini adalah pengorbanan Salib yang diabadikan sepanjang masa [9]. Kebenaran ini dijelaskan dengan baik oleh kata-kata yang dalam misa ritus Latin menanggapi seruan imam akan “Misteri Iman” : “Kami memaklumkan kematianMu, O Tuhan”.

Gereja telah menerima Ekaristi dari Kristus TuhanNya bukan sebagai satu karunia – betapapun berharganya- diantara berbagai macam karunia, namun sebagai karunia yang terbaik, karena Ekaristi adalah karunia diriNya sendiri, yakni diriNya dalam kemanusiaanNya yang kudus, seperti juga karunia dalam karya penyelamatanNya. Tidak pula Ekaristi tetap dibatasi pada masa lalu, sebab “Kristus adalah – semua yang Dia lakukan lalu menderita bagi umat manusia- berpartisipasi dalam keabadaian yang ilahi dan bertransenden sepanjang masa” [10].

Ketika Gereja merayakan Ekaristi, mengenang kematian dan kebangkitan TuhanNya, maka peristiwa sentral dari keselamatan menjadi benar-benar hadir dan “karya dari penebusan kita dilaksanakan” [11]. Kurban ini begitu menentukan bagi keselamatan seluruh manusia yang Yesus tawarkan dan kembalikan kepada Bapa sesaat setelah Dia meninggalkan kita suatu sarana berbagi dalam kurban yang seakan-akan kita telah hadir ketika itu. Dengan demikian, setiap anggota umat beriman dapat mengambil bagian di dalamnya dan secara terus-menerus memperoleh buah-buahnya. Ini adalah iman yang diimani dari generasi Kristen sejak awal hingga kini. Magisterium Gereja secara konstan menegaskan kembali iman ini dengan rasa syukur yang menggembirakan terhadap karunia yang tidak bisa diperkirakan ini [12]. Saya ingin sekali lagi mengingat kebenaran ini dan mengajak kalian, saudara-saudariku terkasih, dalam adorasi di depan misteri Ekaristi ini : yakni misteri yang hebat, sebuah misteri rahmat. Apa lagi yang telah Yesus lakukan buat kita ? Benar, dalam Ekaristi, Dia menunjukkan kasih “sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1), suatu kasih yang tidak mengenal batas.

12. Aspek kasih universal dari Kurban Ekaristi ini didasarkan pada Kata-kata Yesus sendiri. Dalam membentuk Ekaristi ini, Kristus tidak semata-mata berkata : “Inilah tubuhKu”, “inilah DarahKu”, tapi Dia menambahkan : “yang diberikan buat kalian”, “yang dilimpahkan buat kalian” (Luk 22 : 19-20). Yesus tidak semata-mata menyatakan bahwa apa yang Dia berikan kepada mereka untuk dimakan dan diminum adalah tubuh dan darahNya; namun Dia juga menyatakan arti pengorbanan Ekaristi dan membuat pengorbananNya hadir secara sakramental yang saat itu ditawarkan oleh Kristus di atas Salib demi keselamatan kita semua. “Misa pada saat yang bersamaan dan tak terpisahkan, merupakan kenangan akan kurban yang di dalamnya kurban Salib itu diabadikan, yakni perjamuan komuni yang kudus dengan tubuh dan darah Tuhan” [13].

Gereja secara konstan mendatangkan kehidupannya dari kurban penebusan; Gereja melakukan pendekatan bukan hanya melalui kenangan yang dipenuhi oleh iman namun juga melalui kontak langsung, sebab kurban ini dibuat terus-menerus baru, diabadikan secara sakramental dalam setiap komunitas yang menawarkan kurban ini di tangan para pelayan tertahbis. Jadi, Ekaristi berlaku bagi laki-laki dan wanita saat ini karena rekonsiliasi yang telah dimenangkan sekali dan selamanya oleh Kristus demi umat manusia dalam segala tingkatan. “Kurban Kristus dan kurban Ekaristi merupakan kurban tunggal” [14]. St. Yohanes Krisostomos mengatakan tentang hal ini : “Kita selalu menawarkan Domba yang sama, tidak hanya hari ini dan esok namun selalu dengan Domba yang sama. Karena alasan ini, kurban hanya selalu satu…bahkan sekarang kita berikan sang kurban itu yang pernah ditawarkan dan yang tidak akan pernah dimakan” [15].

Misa menghadirkan kurban Salib; Misa tidak menambahkan kurban itu dan tidak juga memperbanyak kurban itu [16]. Apa yang diulangi dalam misa adalah perayaan yang bersifat memorial (kenangan), yakni “representasi komemoratif” (memorialis demonstratio) 17, yang membuat kurban penebusan yang bersifat definitif dari Kristus itu selalu hadir tepat waktu. Oleh karena itu sifat berkurban dari misteri Ekaristi itu tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang terpisah, bebas dari Salib atau secara tidak langsung hanya mengacu pada pengorbanan di Kalvari.

13. Melalui nilai-nilai kebaikan dari hubungan dekatnya dengan pengorbanan di Golgotha, Ekaristi merupakan pengorbanan dalam pengertian yang ketat, dan bukan hanya pengertian secara umum, seakan-akan hanya merupakan masalah pemberian Kristus akan diriNya sendiri kepada umat beriman sebagai suatu makanan rohani. Rahmat kasihNya dan ketaatan hingga memberikan hidupNya sendiri (cf. Yoh 10:17-18) berada di tempat pertama sebagai pemberian atau hadiah kepada BapaNya. Sudah pasti, hal ini merupakan karunia yang diberikan demi kita, dan demi seluruh umat manusia (Cf. Mat 26:28; Mrk 14:24; Luk 22:20; Yoh 10:15), tetapi yang pertama dan terutama bahwa ini merupakan suatu hadiah kepada Sang Bapa. “suatu pengorbanan yang diterima oleh Bapa, suatu pengorbanan, sebagai imbalan bagi pemberian diri PutraNya secara total, yang ‘menjadi taat sampai mati’ (Fil 2:8), suatu anugerah kebapaan milikNya, yang berarti hadiah hidup kekal baru dalam kebangkitan”18.

Dalam pengorbananNya kepada Gereja, Kristus juga membuat kurban spiritual Gereja yang dipanggil untuk memberikan dirinya dalam kesatuan dengan kurban Kristus. Hal ini merupakan ajaran Konsili Vatican II tentang umat beriman : “mengambil bagian dalam Kurban Ekaristi, yang merupakan sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristen, umat beriman memberikan sang kurban ilahi kepada Allah dan memberikan diri mereka sendiri bersama-sama dengan kurban Kristus itu” 19.

Paskah Kristus terdiri bukan hanya sengsara dan kematianNya namun juga kebangkitanNya. Hal ini diingat kembali secara aklamasi oleh sidang konsili tentang konsekrasi : “Kami memaklumkan kebangkitanMu”. Kurban Ekaristik menghadirkan bukan hanya misteri dari sengsara dan kematian sang Penyelamat namun juga misteri kebangkitan yang memahkotai pengorbananNya. Ini sebagai satu Kristus yang hidup dan bangkit yang dapat menjadi “roti kehidupan” dalam Ekaristi (Yoh 6:35, 48), sang “roti kehidupan” (Yoh 6:51). St. Ambrosius mengingatkan lahir baru (newly-initiated) bahwa Ekaristi berlaku pada peristiwa kebangkitan umat beriman: “Saat ini Kristus milik kalian, namun setiap hari Dia bangkit kembali untuk kalian” 20. St Cyrilius dari Alexandria memperjelas bahwa berbagi dalam misteri kudus “adalah pengakuan sejati dan kenangan bahwa Tuhan mati dan kembali hidup untuk kita dan demi kepentingan kita.21

14. Gambaran sakramental dari Kurban Kristus, yang dimahkotai dengan kebangkitanNya dalam Misa melibatkan kehadiran yang paling khusus –dalam kata-kata Paulus VI- “disebut ‘nyata’ bukan hanya sebagai cara untuk meniadakan semua tipe kehadiran Kristus seakan-akan semua tipe ini ‘tidak nyata’, tetapi karena ini adalah kehadiran dalam pengertian yang paling penuh : suatu kehadiran substansial yang dengan mana Kristus, Manusia-Allah, penuh dan seutuhnya hadir” 22. Ini menyatakan sekali lagi ajaran yang kekal dan vali dari Konsili Trent : “konsekrasi roti dan anggur mempengaruhi perubahan keseluruhan substansi tubuh ke dalam substansi tubuh Kristus Tuhan kita, dan seluruh substansi anggur ke dalam substansi darahNya. Dan Gereja Katolik yang Kudus telah secara pas dan pantas menyebut perubahan ini sebagai transubstansiasi” 23. Ekaristi benar-benar suatu misteri iman (misterium fidei), suatu misteri yang melampaui pemahaman kita dan hanya dapat diterima dalam iman, seperti yang sering diungkapkan dalam katekismus Bapa-bapa Gereja tentang sakramen ilahi ini : “Jangan melihat – St Cyrilius dari Yerusalem menghimbau- dalam roti dan anggur hanya merupakan elemen-elemen natural, sebab Tuhan telah menyatakan bahwa roti dan anggur adalah tubuhNya dan darahNya: iman menjamin kalian akan hal ini, meski pikiranmu berkata lain” 24 .

Adoro te devote, latens Deitas, kami akan tetap bernyanyi bersama Doktor Malaikat. Di depan misteri kasih, pikiran manusia secara penuh mengalami pembatasan-pembatasannya. Orang mungkin memahami bagaimana, dari abad ke abad, kebenaran ini telah mendorong teologi untuk berjuang memahami hal ini secara lebih mendalam lagi.

Hal-hal ini adalah usaha-usaha yang patut dipuji, yang semuanya membantu dan berwawasan sampai pada tingkat usaha-usaha tersebut dapat menyumbangkan pemikiran yang kritis sampai pada “iman yang hidup” dari Gereja, seperti yang secara khusus dipegang oleh “karisma kebenaran yang pasti” dari Magisterium dan “perasaan yang mendalam dari realitas spiritual” 25 yang dicapai oleh para kudus di atas segala-galanya. Namun hal ini memiliki batasan seperti yang diindikasikan oleh Paulus VI : “Setiap penjelasan teologis yang mencari pemahaman terhadap misteri ini agar bisa sesuai dengan iman Katolik harus secara sungguh-sungguh mempertahankan bahwa dalam realitas yang objektif, terlepas dari pikiran kita, roti dan anggur tidak ada lagi setelah konsekrasi, sehingga tubuh dan darah Tuhan Yesus yang diadorasikan mulai saat itu benar-benar ada di depan kita di bawah rupa roti dan anggur yang bersifat sakramental” 26.

15. Manjurnya Kurban yang menyelamatkan ini secara penuh disadari ketika tubuh dan darah diterima dalam komuni. Kurban Ekaristik secara intrinsik diarahkan pada kesatuan hati antara umat beriman dengan Kristus melalui komuni; kita menerima Satu-satunya yang menawarkan DiriNya sendiri kepada kita, kita menerima tubuhNya yang Dia serahkan pada kita di atas Salib dan darahNya yang Dia “curahkan bagi banyak orang demi pengampunan dosa” (Mat 26:28). Kita diingatkan akan kata-kataNya : “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:57). Yesus sendiri menenangkan kita bahwa kesatuan ini yang Dia bandingkan pada kehidupan Trinitas itu, sesungguhnya perlu disadari. Ekaristi adalah perjamuan sejati, yang di dalamnya Kristus memberikan diriNya sendiri sebagai makanan. Saat pertama kali Yesus berbicara tentang makanan ini, para pendengarNya terkejut dan bingung, dan hal ini memaksa Dia menekankan kebenaran obyektif akan kata-kataNya : “Aku berkata kepadamu sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu” (Yoh 6:53). Di sini tidak ada makanan yang bersifat metaporis (kiasan) : “DagingKu adalah benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman”. (Yoh 6:55).

16. Melalui komuni (persekutuan) dalam tubuh dan darahNya, Kristus juga memberikan kepada kita Roh KudusNya. St. Ephrem menulis : “Dia menyebut roti itu sebagai tubuhNya yang hidup dan Dia memenuhinya dengan diriNya sendiri dan RohNya…

Dia yang makannya dengan iman, memakan Api dan Roh….Ambil dan makanlah ini, kalian semua, dan makanlah itu bersama Roh Kudus. Karena roti ini adalah benar-benar tubuhKu dan siapapun yang makan roti ini akan memiliki hidup kekal” 27. Gereja memohon Karunia ilahi ini, sumber segala karunia, dalam epiklesis Ekaristik. Sebagai contoh, dalam Liturgi Suci St. Yohanes Krisostomos, kita menemukan doa seperti ini : “Kami memohon dan meminta kepadamu Tuhan : utuslah roh KudusMu kepada kami semua dan atas karunia-karunia ini…mereka yang mengambil bagian dari karunia tersebut bisa dimurnikan dalam jiwa, menerima pengampunan atas dosa-dosa mereka dan berbagi dalam Roh Kudus” 28. Dan dalam Misa Romawi, selebran berdoa : “kabulkanlah bahwa kami yang makan dari tubuh dan darahNya bisa dipenuhi oleh Roh KudusMu dan menjadi satu tubuh, satu roh dalam Kristus” 29. Dengan demikian oleh karunia tubuh dan darah Kristus meningkatkan dalam diri kita karunia Roh KudusNya, yang telah dicurahkan dalam Baptisan dan dilimpahkan sebagai suatu “perisai” dalam sakramen krisma.

17. Aklamasi umat yang hadir pada saat konsekrasi selayaknya berakhir dengan mengekspresikan arah eskatologis yang menandai perayaan Ekaristi (cfm. 1 Cor 11:26) : “sampai kedatanganMu yang mulia”. Ekaristi bergerak menuju suatu tujuan, suatu pendahuluan kepenuhan suka cita yang dijanjikan oleh Kristus (cfm. Yoh 15:11); dalam beberapa cara Ekaristi adalah penantian terhadap surga, “janji untuk kemuliaan mendatang” 30. Dalam Ekaristi, segala sesuatunya berbicara tentang penantian pasti “dalam harapan yang menggembirakan demi kedatangan Penyelamat kita, Yesus Kristus” 31. Mereka yang makan Kristus dalam Ekaristi tidak perlu menunggu sampai di alam baka untuk menerima hidup kekal; mereka sudah mendapatkannya di dunia ini seperti buah-buah pertama dari kepenuhan masa depan yang akan mencakup manusia dalam totalitasnya. Sebab dalam Ekaristi kita juga menerima janji kebangkitan badan pada akhir jaman : “Dia yang makan dagingKu dan minum darahKu memiliki hidup kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir jaman” (Yoh 6:54). Janji kebangkitan masa depan ini berasal dari fakta bahwa Anak Manusia, yang berupa makanan, adalah tubuhNya dalam keadaan mulianya setelah kebangkitan. Dengan Ekaristi kita mencerna, seakan-akan ini adalah “rahasia” kebangkitan. Atas alasan ini. St Ignasius dari Anitiokia dengan benar mendefinisikan Roti Ekaristi sebagai “obat imortalitas, suatu penangkal racun terhadap kematian” 32.

18. Penekanan eskatologis yang dinyatakan dalam Ekaristi mengekspresikan dan menguatkan kembali persekutuan kita dengan Gereja yang ada di surga. Ini bukan suatu kebetulan bahwa Anaphora Timur dan Doa-doa Ekaristik mengagungkan Bunda Maria, Bunda Perawan Yesus Kristus Tuhan kita dan Allah, para malaikat, rasul-rasul kudus, para martir yang jaya serta semua orang kudus. Ini adalah suatu aspek Ekaristi yang menghasilkan perhatian yang lebih besar : dalam merayakan kurban Anak Domba, kita dipersatukan kepada “liturgi” surgawi dan menjadi bagian dari kumpulan orang banyak yang dengan suara nyaring berkata : “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba !” (Why 7:10). Ekaristi sejatinya merupakan gambaran sekilas surga yang nampak di bumi. Ekaristi merupakan sinar Yerusalem surgawi yang menembus awan sejarah kita dan menerangi perjalanan kita.

20. Konsekuensi signifikan dari penekanan eskatologis yang melekat dalam Ekaristi juga merupakan fakta yang memacu perjalanan sejarah kita dan menanamkan suatu benih harapan yang hidup dalam komitmen harian pada karya di depan kita. Pastinya visi Kristen mengacu pada ekspektasi “surga baru” dan “bumi baru” (Why 21:1), namun ini lebih meningkatkan, daripada mengurangi, suatu rasa tanggungjawab terhadap dunia saat ini 33. Saya ingin menegaskan kembali hal ini secara jelas di awal milenium ini sehingga umat Kristen akan merasa lebih bersyukur daripada menyia-nyiakan kewajiban mereka sebagai warga dunia ini. Tugas umat Kristen adalah memberikan kontribusi dalam cahaya Injil untuk membangun dunia yang lebih humanis, suatu dunia yang secara penuh berharmoni dengan rencana Allah.

Banyak masalah membuat gelap horison zaman ini. Kita bukan hanya butuh perdamaian namun juga harus berpikir mengenai kebutuhan yang mendesak untuk bekerja demi perdamaian, mendasarkan hubungan diantara orang-orang pada fondasi keadilan dan solidaritas dan mempertahankan kehidupan manusia dari tahap konsepsi sampai pada kematiannya yang alamiah. Dan apa yang seharusnya kita katakan tentang dunia “yang terglobalisasi” ini yang penuh dengan ketidakkonsistenan dimana orang yang lemah, miskin, tak berdaya memiliki harapan yang kecil ! Dalam dunia inilah harapan umat Kristen harus terus bersinar ! Karena alasan ini, Tuhan ingin tinggal bersama kita dalam Ekaristi, membuat kehadiranNya dalam makanan dan kurban suatu janji kemanusiaan yang diperbaharui oleh kasihNya. Secara signifikan, dalam peristiwa Perjamuan Terakhir, Ketiga Injil (Matius, Markus, Lukas) menceritakan kembali institusi Ekaristi, sementara Injil Yohanes juga berhubungan, sebagai suatu cara untuk menghasilkan arti yang paling dalam, yakni peristiwa “membasuh kaki” dimana Yesus muncul sebagai guru komuni (persekutuan) dan pelayan (cfm. Yoh 13:1-20). Rasul Paulus, dalam bagiannya, berkata bahwa “tidak layak” bagi suatu komunitas untuk mengambil bagian dari Perjamuan Tuhan di tengah-tengah perpecahan dan kejahatan terhadap yang miskin (cfm 1 Kor 11:17-22, 27-34) 34.

Memproklamasikan kematian Tuhan “sampai Dia datang kembali” (1 Kor 11:26) membawa pengaruh bahwa semua orang yang mengambil bagian dalam Ekaristi itu terikat untuk mengubah hidup mereka dan menjadikan mereka dalam cara tertentu lengkap secara “Ekaristik”. Ini adalah buah dari eksistensi yang ditransfigurasikan dan suatu komitmen bagi transformasi dunia yang sesuai dengan Injil yang dengan baik menggambarkan penekanan eskatologis yang melekat dalam perayaan Ekarsiti dan dalam kehidupan umat Kristen sebagai sebuah keseluruhan : “Datanglah, Tuhan Yesus !” (Why 22:20).

BAB II

EKARISTI MEMBANGUN GEREJA

21. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa perayaan Ekaristi adalah pusat dari proses pertumbuhan Gereja. Setelah menyatakan bahwa “Gereja, sebagai suatu Kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri, nampak bertumbuh dalam dunia ini melalui kuasa Allah” 35, kemudian seakan-akan merupakan jawaban dari pertanyaan : “Bagaimana Gereja bertumbuh ?”, Konsili menambahkan : “sesering kurban Salib yang dengan ‘Kristus sang domba Paskah disembelih’ (1 Kor 5:7) dirayakan pada altar, suatu karya penebusan yang dilaksanakan. Pada saat yang bersamaan dalam sakramen roti Ekaristik, persatuan umat beriman, yang membentuk satu tubuh dalam Kristus (cfm 1 Kor 10:17) telah diekspresikan dan dihasilkan” 36.

Pengaruh kausal Ekaristi itu berpangkal pada asal-usul Gereja. Para evangelis mengspesifikasikannya ketika Dua Belas Para Rasul yang berkumpul bersama Yesus di Perjamuan Terakhir (cfm. Mat 26:20; Mrk 14:17; Luk 22:14). Ini merupakan detail dari kepentingan secara khusus, karena Para Rasul adalah “benih dari Israel baru dan awal dari hirarki kudus” 37. Dengan memberikan mereka tubuh dan darahNya sebagai makanan, Kristus secara misterius melibatkan mereka dalam kurban yang akan diselesaikan kemudian di Kalvari. Sebagai analogi dengan Perjanjian di Gunung Sinai, yang ditandai oleh kurban dan percikan darah 38, tindakan dan kata-kata Yesus pada Perjamuan Terkahir membuat fondasi bagi komunitas mesianik baru, yakni Umat Perjanjian Baru.

Para Rasul dengan menerima undangan Yesus di Ruang Atas : “ambilah, makanlah”, “Minumlah ini, kalian semua” (Mat 26:26-27), pertama kali masuk ke dalam persekutuan dengan Dia. Dari sejak saat ini dan sampai akhir jaman Gereja dibangun melalui persekutuan sakramental dengan Anak Allah yang dikurbankan demi kita semua. “Lakukanlah ini demi kenangan akan Aku…Lakukanlah ini, seringlah kalian minum ini sebagai peringatan akan Aku” (1 Kor 11:24-25; cf. Luk 22:19).

22. Penyatuan ke dalam Kristus yang terjadi oleh Baptisan diperbaharui secara konstan dan dikonsolidasikan dengan berbagi Kurban Ekaristik terutama dengan berbagi penuh yang terjadi dalam persekutuan sakramental. Kita dapat berkata bukan hanya bahwa setiap orang menerima Kristus namun juga bahwa Kristus menerima setiap orang. Dia masuk ke dalam persahabatan dengan kita : “Kalian adalah sahabat-sahabatKu” (Yoh 15:14). Memang, karena Dialah kita mendapatkan kehidupan : “Dia yang makan Aku akan hidup karena Aku” (Yoh 6:57). Komuni Ekaristik menyebabkan dalam cara mulia, suatu “kediaman” bersama Kristus dan setiap pengikutNya : “Tingallah dalam Aku dan Aku dalam kamu” (Yoh 15:4).

Dengan persatuan dengan Kristus, Umat Perjanjian Baru, jauh dari menutup diri sendiri, lantas menjadi sebuah “sakramen” kemanusiaan 39, suatu tanda dan instrumen keselamatan yang dicapai oleh Kristus, cahaya dunia dan garam dunia (Mat 5:13-16), bagi penebusan semua orang. Misi Gereja berdiri dalam kontinuitas dengan misi Kristus : “Sebagaimana Bapa telah mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kalian” (Yoh 20:21). Dari keabadian kurban Salib dan persekutuan Gereja dengan tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi, Gereja menarik kuasa spritual yang dibutuhkan untuk menjalankan misinya. Ekaristi kemudian muncul baik sebagai sumber dan punckan semua bentuk evangelisasi karena tujuannya adalah persekutuan umat manusia dengan Kristus dan dalam Dia bersama Bapa dan Roh Kudus 41.

23. Komuni Ekaristik juga menegaskan Gereja dalam kesatuannya sebagai tubuh Kristus. Santo Paulus mengacu pada kuasa partisipasi yang menyatukan dalam perjamuan Ekaristi ketika dia menulis kepada umat Korintus : “Roti yang kita pecah, bukankah ini suatu persekutuan dalam tubuh Kristus ? Sebab hanya ada satu roti, kita yang banyak merupakan satu tubuh sebab kita mengambil bagian dari satu roti (1 Kor 10:16-17). Komentar Santo Yohanes Krisostomos tentang kata-kata ini sangat dalam dan cerdas : “Untuk apa roti itu” ? Ini adalah tubuh Kristus. Dan akan menjadi apa orang yang menerima roti itu ? Tubuh Kristus – bukan banyak tubuh tetapi satu tubuh. Karena tubuh itu jelas-jelas satu, meski terbuat dari banyak butiran gandum, dan butiran-butiran tersebut sekalipun tidak kelihatan, namun tetap hadir dengan cara demikian sehingga perbedaan itu tidak kelihatan karena butiran-butiran itu telah dibuat menjadi keseluruhan yang sempurna, yang dengan begitu kita satu sama lain bergabung dan bersama-sama dipersatukan oleh Kristus” 42. Argumen ini mendorong bahwa : pernyatuan kita dengan Kristus yang merupakan suatu karunia dan rahmat bagi setiap orang memungkiknkan kita semua di dalam Dia berbagi dalam persatuan dengan tubuh Nya yang adalah Gereja. Ekaristi menguatkan kembali penggabungan ke dalam Kristus yang terjadi dalam Baptisan melalui karunia Roh Kudus (cfm. 1 Kor 12:13,27).

Aktivitas bersatu dan tak terpisahkan dari Putra dan Roh Kudus yang dimulai pada Gereja, pada konsolidasi dan kehidupan Gereja yang berlanjut, ada pada karya dalam Ekaristi. Ini secara jelas merupakan bukti bagi penulis Liturgi Santo Yakobus : dalam epiklesis Anaphora, Allah Bapa diminta untuk mengutus Roh Kudus ke atas umat beriman dan atas persembahan ini, sehingga tubuh dan darah Kristus “menjadi suatu pertolongan bagi mereka yang mengambil bagian di dalamnya…demi pensucian jiwa dan tubuh mereka” 43. Gereja dibentengi oleh Praklesis (Roh Kudus) melalui pensucian umat beriman dalam Ekaristi.

24. Rahmat Kristus dan Roh KudusNya yang kita terima dalam komuni Ekaristik yang secara berlimpah memenuhi kerinduan akan persatuan dengan Bapa, berakar secara mendalam dalam hati manusia, yang pada saat bersamaan meninggikan pengalaman persaudaran yang sudah ada dalam hal berbagi, yang pada meja Ekaristi yang sama hingga tingkat yang jauh melampaui pengalaman manusia dalam hal berbagi makanan. Melalui persekutuan Gereja dengan tubuh Kristus, Gereja datang dengan sikap yang lebih mendalam “dalam Kristus dalam sifat sebuah sakramen, yakni, suatu tanda dan instrumen persatuan akrab dengan Allah dan instrumen persatuan dengan seluruh umat manusia” 44.

Benih-benih perpecahan dimana pengalaman sehari-hari menunjukkan begitu berakarnya dalam manusia sebagai akibat dosa, lantas dijawab dengan kuasa penyatuan dari tubuh Kristus. Ekaristi, yang dengan tepat membangun Gereja, menciptakan sebuah komunitas manusia.

25. Ibadat Ekaristi diluar Misa adalah suatu nilai yang tak terhitung bagi kehidupan Gereja. Ibadat ini dengan ketat dihubungkan pada perayaan Kurban Ekaristik. Kehadiran Kristus dibawah rupa roti dan anggur (species) kudus yang disediakan setelah Misa – suatu kehadiran yang bertahan lama sepanjang rupa dan roti tetap tinggal 45- berasal dari perayaan kurban dan ditujukan langsung pada persekutuan, baik itu bersifat sakramental maupun spiritual 46. Ini merupakan suatu tanggungjawab para Gembala untuk menganjurkan, dengan kesaksian pribadi mereka, suatu praktek adorasi Ekaristik dan khususnya pertunjukkan Sakramen Kudus, yang juga adalah doa adorasi di depan Kristus yang hadir dalam rupa Ekaristik 47.

Adalah menyenangkan untuk meluangkan waktu bersama dengan Dia, untuk bersandar pada dadaNya seperti Rasul Terkasih (cfm. Yoh 13:25) dan merasakan kasih tanpa batas dalam hatiNya. Bila dalam jaman kita ini Umat Kristen dibedakan di atas semuanya melalui “seni doa” 48, bagaiman kita tidak dapat merasakan suatu kebutuhan yang diperbaharui untuk meluangkan waktu dalam percakapan spiritual, dalam adorasi hening, dalam kasih yang dirasakan dalam hati dihadapan Kristus yang hadir dalam Sakramen Maha Kudus ? Betapa sering, saudara-saudarku terkasih, saya mengalami hal ini, dan mengambil kekuatan, penghiburan dan dukungan dari Sakramen Maha Kudus ini.

Praktek ini yang selalu dipuji dan direkomendasikan oleh Magisterium 49 dan didukung oleh contoh para kudus. Secara khusus hal ini dicontohkan oleh Santo Alphonsus Ligouri yang menulis : “Semua devosi, yang memuja Yesus dalam Sakramen Maha Kudus adalah devosi yang paling besar diantara semua sakramen, devosi itu paling menyenangkan di hadapan Tuhan dan paling membantu kita” 50. Ekaristi harta yang tak terhitung nilainya : bukan hanya merayakannya saja namun juga berdoa di depannya di luar Misa maka kita mampu untuk mengadakan hubungan dengan sumber rahmat. Komunitas Kristen yang ingin berkontemplasi wajah Kristus dalam roh seperti yang Saya usulkan dalam Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte and Rosarium Virginis Mariae juga tidak dapat gagal untuk mengembangkan aspek ibadat Ekaristik ini yang merindukan memperpanjang dan meningkatkan buah-buah komuni kita dalam tubuh dan darah Tuhan.

BAB III

APOSTOLISITAS (KERASULAN) EKARISTI DAN GEREJA

26. Jika, seperti yang Saya katakan, Ekaristi membangun Gereja dan Gereja menciptakan Ekaristi maka ini menandaskan bahwa ada hubungan yang dalam diantara dua institusi ini, yang begitu banyak sehingga kita bisa mempergunakan pesan-pesan misteri Ekaristi yang terdapat dalam Kredo Nicea Konstantinopel, yang mana kita mengakui bahwa Gereja adalah “satu, kudus, katolik dan apostolik”. Ekaristi juga satu dan katolik. Ekaristi juga suci dan memang Ekaristi adalah Sakramen Maha Kudus. Tetapi Ekaristi di atas semua sifat apostolisitasnya (kerasulannya) yang harus kita sadari sekarang.

27.Katekismus Gereja Katolik, dalam menjelaskan bagaimana Gereja itu adalah apostolik – yang ditemukan oleh para Rasul – melihat ada tiga makna dalam ekspresinya. Pertama, “Gereja tetap dibangun ‘di atas dasar para Rasul’ (Eph 2:20), suatu kesaksian yang dipilih dan diutus dalam suatu misi oleh Yesus sendiri” 51. Ekaristi juga memilki fondasi dalam para Rasul, bukan berarti hal ini tidak berasal dari Kristus sendiri, tetapi karena Ekaristi dipercayakan oleh Yesus kepada para Rasul dan telah diserahkan kepada kita oleh mereka dan para pengganti para rasul. Adalah karena dalam kesinambungan dengan praktek-praktek yang diajarkan para Rasul dan dalam ketaatannya dengan perintah Tuhan maka Gereja dapat merayakan Ekaristi hingga abad ini.

Pengertian kedua bahwa Gereja itu apostolik seperti yang ditunjukkan oleh Katekismus yakni bahwa “dengan bantuan Roh Kudus yang tinggal di dalamnya, Gereja menjaga dan menyerahkan ajaran itu sebagai suatu ‘deposit yang baik’, dan ini adalah kata-kata yang bermanfaat yang telah didengar Gereja dari para Rasul” 52. Di Katekismus ini pula, Ekaristi juga bersifat apostolik karena Ekaristi dirayakan sesuai dengan iman para Rasul. Dalam berbagai kesempatan selama dua ribu tahun sejarah Umat Perjanjian Baru, Magisterium Gereja telah mendefinisikan dengan lebih tepat ajaran tentang Ekaristi termasuk terminologi yang lebih pantas, agar dapat menjaga iman apostolik sehubungan dengan misteri luhur ini. Iman ini tetap tidak berubah dan ini adalah penting bagi Gereja sehingga ajaran Ekaristi ini tetap tidak berubah.

28. Terakhir, Gereja bersifat apostolik dalam pengertian bahwa Gereja “terus menerus diajarkan, disucikan dan dibimbing oleh para Rasul sampai kedatangan Yesus kembali, melalui para pengganti Rasul dalam hirariki pastoral: yakni kumpulan para Uskup yang dibantu oleh para imam dalam kesatuannya dengan Pengganti Petrus, sebagai Pastor Tertinggi Gereja” 53. Suksesi Para Rasul dalam misi pastoral perlu membawakan sakramen imamat, yang merupakan rangkaian suksesi yang tak terputus dari awalnya sehingga ini merupakan sebuah pentahbisan episkopal yang valid 54. Suksesi ini penting bagi Gereja untuk tetap hidup dalam pengertian yang penuh dan tepat.

Ekaristi juga menyatakan pengertian apostolisitas ini. Sebagaimana yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II “umat beriman bergabung dalam persembahan Ekaristi melalui moralitas keimamatan para imam terhadap Gereja” 55, tetapi dalam hal ini imam yang tertahbislah yang bisa “bertindak dalam pribadi Kristus, menghasilkan Kurban Ekaristik dan mempersembahkannya kepada Allah atas nama semua orang” 56 Atas alasan ini, Misa Romawi menentukan hanya imamlah yang bisa mengucapkan Doa Ekaristik, sementara umat berpartisipasi dalam iman dan keheningan 57.

29. Pernyataan yang berulang-ulang dikatakan oleh Konsili Vatikan II, sesuai dengan “imam pelayan, bertindak dalam pribadi Kristus menghasilkan Kurban Ekaristik” 58 sudah berakar mendalam dalam ajaran kepausan 59. Sebagaimana yang telah Saya tunjukkan dalam kesempatan yang lain, kata-kata dalam pribadi Kristus “berarti lebih dari persembahan ‘dalam nama atau ‘dalam tempat Kristus. Dalam pribadi ini berarti adanya identifikasi sakramental secara spesifik dengan Imam Besar kekal yang adalah pencipta dan subyek utama dari pengorbananNya, suatu pengorbanan yang benar-benar, tiada orang yang dapat menggantikan peranNya” 60. Pelayanan para imam yang menerima sakramen Imamat dalam aktivitas keselamatan yang dipilih oleh Kristus, memperjelas bahwa Ekaristi yang mereka rayakan adalah anugerah yang secara radikal melebihi kekuatan jemaat dan Ekaristi ini adalah suatu kegiatan yang penting untuk menghubungkan secara valid antara konsekrasi Ekaristik dengan kurban Salib dan dengan Perjamuan Terakhir. Jemaat yang berkumpul bersama untuk merayakan Ekaristi, bila memang itu jemaat yang boleh merayakan Ekaristi, secara mutlak perlu kehadiran imam tertahbis sebagai kepala sidangnya. Sebaliknya komunitas itu dengan sendirinya tidak mampu menyediakan pejabat tertahbis. Orang tertahbis yang berhak merayakan Ekaristi adalah karunia yang mana jemaat menerimanya melalui suksesi episkopal yang terjadi sejak jaman para Rasul. Adalah Uskup yang melalui Sakramen Imamat, melantik presbiter baru dengan cara memberinya kekuatan untuk mengkonsekrasikan Ekaristi.



[1] Second Vatican Ecumenical Council, Dogmatic Constitution on the Church Lumen Gentium, 11.

[2] Second Vatican Ecumenical Council, Decree on the Ministry and Life of Priests Presbyterorum Ordinis, 5

[3] Cf. John Paul II, Apostolic Letter Rosarium Virginis Mariae (16 October 2002), 21: AAS 95 (2003), 19

[4] This is the title which I gave to an autobiographical testimony issued for my fiftieth anniversary of priestly ordination

[5] Leonis XIII P.M. Acta, XXII (1903), 115-136.

[6] AAS 39 (1947), 521-595

[7] AAS 57 (1965), 753-774.

[8] AAS 72 (1980), 113-148.

[9] Cf. Second Vatican Ecumenical Council, Constitution Sacrosanctum Concilium, 47: “... our Saviour instituted the Eucharistic Sacrifice of his body and blood, in order to perpetuate the sacrifice of the Cross throughout time, until he should return”.

[10] Catechism of the Catholic Church, 1085.

[11] Second Vatican Ecumenical Council, Dogmatic Constitution on the Church Lumen Gentium, 3.

[12] Cf. Paul VI, Solemn Profession of Faith, 30 June 1968, 24: AAS 60 (1968), 442; John Paul II, Apostolic Letter Dominicae Cenae (24 February 1980), 12: AAS 72 (1980), 142.

[13] Catechism of the Catholic Church, 1382.

[14] Catechism of the Catholic Church, 1367.

[15] In Epistolam ad Hebraeos Homiliae, Hom. 17,3: PG 63, 131

[16] Cf. Ecumenical Council of Trent, Session XXII, Doctrina de ss. Missae Sacrificio, Chapter 2: DS 1743: “It is one and the same victim here offering himself by the ministry of his priests, who then offered himself on the Cross; it is only the manner of offering that is different”.

17 Pius XII, Encyclical Letter Mediator Dei (20 November 1947): AAS 39 (1947), 548.

18 John Paul II, Encyclical Letter Redemptor Hominis (15 March 1979), 20: AAS 71 (1979), 310.

19 Dogmatic Constitution on the Church Lumen Gentium, 11

20 De Sacramentis, V, 4, 26: CSEL 73, 70.

21 In Ioannis Evangelium, XII, 20: PG 74, 726.

22 Encyclical Letter Mysterium Fidei (3 September 1965): AAS 57 (1965), 764.

23 Session XIII, Decretum de ss. Eucharistia, Chapter 4: DS 1642.

24 Mystagogical Catecheses, IV, 6: SCh 126, 138.

25 Second Vatican Ecumenical Council, Dogmatic Constitution on Divine Revelation Dei Verbum, 8.

26 Solemn Profession of Faith, 30 June 1968, 25: AAS 60 (1968), 442-443.

27 Sermo IV in Hebdomadam Sanctam: CSCO 413/Syr. 182, 55.

28 Anaphora.

29 Eucharistic Prayer III.

30 Solemnity of the Body and Blood of Christ, Second Vespers, Antiphon to the Magnificat

31 Missale Romanum, Embolism following the Lord's Prayer.

32 Ad Ephesios, 20: PG 5, 661.

33 Cf. Second Vatican Ecumenical Council, Pastoral Constitution on the Church in the Modern World Gaudium et Spes, 39.

34 “Apakah Engkau ingin memuliakan tubuh Kristus ? Jangan abaikan Dia ketika Dia telanjang. Jangan beri penghormatan pada Dia dalam bait yang dipenuhi sutera, yang kemudian mengabaikan dia di luar ketika Dia dingin dan pakaiaNnya lusuh. Dia yang berkata : ‘Inilah tubuhKu’ adalah dia juga yang berkata : ‘Kalian yang melihatKu lapar dan kalian tidak memberikan Aku makan’ dan ‘siapapun yang berbuat baik kepada mereka yang paling rendah dari saudara-saudaraKu, kalian juga berbuat demikian padaKu’…Apa baiknya itu bila meja Ekaristi dipenuhi oleh piala emas namun saudaramu sedang kelaparan. Mulailah dengan memuaskan rasa laparnya dan dengan apa yang kamu miliki, kalian bisa mempersembahkan Ekaristi di altar juga” : Santo Yohanes Krisostomos, Dalam Evangelicum S. Matthaei, hom. 50:3-4: Hal 58, 508-509; cfm. Yohanes Paulus II, Surat Ensiklik Sollicitudo Redi Socialis (30 Desember 1987), 31 : AAS 80 (1988), 553-556.

35 Dogmatic Constitution Lumen Gentium, 3.

36 Ibid.

37 Second Vatican Ecumenical Council, Decree on the Missionary Activity of the Church Ad Gentes, 5.

38 “Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu dan berkata : ‘Inilah darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu berdasarkan segala firman ini’” (Kel 24:8).

39 Dogmatic Constitution on the Church Lumen Gentium, 11.

41 Cfm. Konsili Ekumenis Vatikan II, Dekrit tentang Kehidupan dan Pelayanan Imam, Presbyterorum Ordinis, 5. Dekrit yang sama, no 6 dikatakan : “Tidak ada komunitas Kristen yang bisa dibangun kalau komunitas itu tidak hidup dan bergantung dari perayaan Ekaristi Maha Kudus”.

42 In Epistolam I ad Corinthios Homiliae, 24, 2: PG 61, 200; Cf. Didache, IX, 4: F.X. Funk, I, 22; Saint Cyprian, Ep. LXIII, 13: PL 4, 384.

43 PO 26, 206.

44 Second Vatican Ecumenical Council, Dogmatic Constitution on the Church Lumen Gentium, 1.

45 Cf. Ecumenical Council of Trent, Session XIII, Decretum de ss. Eucharistia, Canon 4: DS 1654

46 Cf. Rituale Romanum: De sacra communione et de cultu mysterii eucharistici extra Missam, 36 (No. 80).

47 Cf. ibid., 38-39 (Nos. 86-90).

48 John Paul II, Apostolic Letter Novo Millennio Ineunte (6 January 2001), 32: AAS 93 (2001), 288.

49 “Umat beriman seharusnya tidak melewatkan untuk mengunjungi Sakramen Maha Kudus yang sesuai dengan hukum liturgis harus dipersiapkan di dalam Gereja dengan penghormatan pantas di tempat yang layak. Kunjungan seperti ini adalah tanda syukur, suatu ekspresi kasi dan pengakuan akan kehadiran Tuhan” : Paulus VI, Surat Ensiklik Misterium Fidei (3 September 1965) : AAS 57 (1965), 771.

50 Visite al SS. Sacramento e a Maria Santissima, Introduction: Opere Ascetiche, Avellino, 2000, 295.

51 No. 857.

52 Ibid.

53 Ibid

54 Cf. Congregation for the Doctrine of the Faith, Letter Sacerdotium Ministeriale (6 August 1983), III.2: AAS 75 (1983), 1005.

55 Second Vatican Ecumenical Council, Dogmatic Constitution on the Church Lumen Gentium, 10.

56 Ibid

57 Cf. Institutio Generalis: Editio typica tertia, No. 147.

58 Cf. Dogmatic Constitution on the Church Lumen Gentium, 10 and 28; Decree on the Ministry and Life of Priests Presbyterorum Ordinis, 2.

59 “Pelayan altar bertindak dalam pribadi Kristus karena dia adalah kepala, mempersembahkan kurban atas nama semua anggota gereja” : Pius XII, Encyclical Letter Mediator Dei (20 November 1947): AAS 39 (1947), 556; cf. Pius X, Apostolic Exhortation Haerent Animo (4 August 1908): Acta Pii X, IV, 16; Pius XI, Encyclical Letter Ad Catholici Sacerdotii (20 December 1935): AAS 28 (1936), 20.

60 Apostolic Letter Dominicae Cenae (24 February 1980), 8: AAS 72 (1980), 128-129.

No comments: