Kamis, 25 September 2008

Vladimir Soloviev dalam "Gereja Rusia dan Kepausan Roma"

The Russian Church and the Papacy
(Gereja Rusia dan Kepausan Roma)

by Vladimir Soloviev
Edited by Fr. Ray Ryland
Publisher - Catholic Answers, 2001.

Diterjemahkan oleh Leonard T. Panjaitan dari :
http://credo.stormloader.com/Reviews/russchur.htm

Lembaga Catholic Answers telah menerbitkan kembali karya besar Vladimir Soloviev yang berjudul “Rusia dan Gereja Universal”. Ini sebuah masterpiece dari seorang filsuf besar Rusia, yang pernah hidup dari tahun 1853 -1900. Maha karya Soloviev ini ditulis dalam bahasa Perancis untuk menghindari sensor dari Tsar Rusia pada saat itu, dan kemudian volume bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Herbert Rees tahun 1948, dan telah diterbitkan kembali dengan judul di atas. Buku cetak ulang ini kemudian diedit oleh Fr.Ray Ryland. Beberapa bagian buku tersebut dipotong karena tidak berhubungan langsung dengan konsep Vladimir Soloviev tentang doktrin Katolik, yang mana Soloviev menekankan perlunya sosok Kepausan untuk persatuan visible [kasat mata] dari GerejaNya. Selanjutnya Soloviev menekankan perlunya independensi Gereja dari pengaruh penguasa negara. Maha karya “Gereja Rusia dan Kepausan Roma” memperjelas mengapa Soloviev, seorang pemikir dan filsuf yang jenius, dinobatkan sebagai “nabi persatuan Katolik-Orthodoks”.

Dalam pengantarnya, Dr.Scott Hahn menyatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II memperkenalkan Soloviev dalam Ensikliknya “Fides et Ratio” [Iman dan Akal] sebagai seorang pemikir Kristen yang termasyur dan menyatakan karyanya sebagai karya “profetik”. Di kata pendahuluannya, Fr.Ryland secara mengagumkan menangkap pesan sentral karya Soloviev yang mengguncangkan dasar kaum Orthodoksi Rusia yang anti Katolik.

Warisan luar biasa dari Vladimier Soloviev terdiri 3 [tiga] dalil sederhana yakni sbb :

1. Yesus Kristus mendirikan jurisdiksi universal disertai sebuah otoritas atau ajaran Paus yang tak bisa salah [infallible] sebagai sebuah karunia bagi GerejaNya.
2. Terpisah dari kepausan, maka Gereja-gereja Timur akan selalu tetap seperti apa adanya : bersifat etnis, merupakan gereja-gereja nasional, independen secara total dan terpecah-pecah.
3. Hanya dalam persatuan dengan Roma maka Gereja-gereja Timur yang terpisah ini menjadi benar-benar Katolik.

Jarang sekali, kalapun ada, doktrin Katolik tentang Gereja dinyatakan lebih komprehensif dan lebih persuasif dalam sebuah konteks apologetik kecuali oleh Vladimir Soloviev.

Dalam kata pengantarnya, Kardinal Austria Christophe Schonborn menekankan keyakinan mendalam dari Soloviev bahwa dalam mendirikan Gereja di atas Petrus si Batu Karang, maka Kristus mendirikan Primacy [hak keutamaan] agar menjadi sebuah ekspresi sebagai “institusi unik dari sifat kebapaan universal dalam Gereja”.

Perjalanan spiritual Soloviev dari seorang materialis tingkat bawah di usia 13, lalu menuju pembaharu iman dalam Allah dan Kristus, disertai dengan misi mistik untuk merestorasi persatuan antara Gereja Katolik dan Gereja Orthodoks Bizantin, merupakan sesuatu yang mempesonakan. Dalam otobiografi singkatnya tahun 1887, Soloviev mengakui bahwa tujuan hidupnya adalah untuk persatuan Gereja dan rekonsiliasi antara Judaisme dan Kekristenan. Dalam karya apologetik klasiknya, “Rusia dan Gereja Universal” ini, yang ditulis tahun 1889, Soloviev secara penuh mengembangkan tema yang akan membawanya menjadi seorang “the Russian Newman” [Newman dari Rusia – mengambil sosok Kardinal John Henry Newman, seorang convert dari Anglikan – red].

Soloviev mencela adanya “keadaan agama yang menyedihkan” di Rusia, dimana Gereja diperbudak oleh despotisme Tsar, selain itu negaranya berada dalam isolasi dari masyarakat Eropa Barat, dan kendornya Gereja Orthodoks Bizantin dalam skisma dari Tahta Petrus, yang merupakan pusat persatuan Gereja Universal.

Defisiensi [kurang gizi-red] dari kaum “Orthodoksi yang anti-Katolik”, mengakibatkan dalam “Gereja Timur saat ini menjadi cacat dan terpecah-pecah”, maka dia melihatnya seperti berada dalam “pelemahan umum organisasi Gereja yang kasat mata di bumi ini”. Soloviev tanpa ampun mengekspos kesalahan-kesalahan [errors] dari kaum anti Katolik kontroversialis, seperti Slavophile Alexei Khomiakov. Penyangkalan mereka terhadap beberapa doktrin Katolik menurutnya :

“tidak terdapat pada otoritas gerejawi apapun yang diterima oleh segenap Gereja Orthodox sebagaimana mengikat dan tidak bisa salah. Tidak ada konsili ekumenis yang telah mengutuk atau memberikan penghakiman atas doktrin-doktrin Katolik yang di-anatema-kan oleh kaum kontroversialis tersebut” [hal.60].

Terhadap tuntutan yang tiada akhirnya dari para penentangnya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Kepala Gereja, maka Soloviev menjawab :

“Apabila Yesus bagi mereka merupakan Kepala yang berkuasa, maka tentunya mereka akan mematuhi kata-kataNya. Namun yang terjadi, apakah ini sebuah kepatuhan kepada Sang Baginda [dhi Yesus] yang membuat mereka memberontak melawan penjaga yang kepadanya Yesus telah menunjuk ?” [hal.200].

Meditasi yang mendalam terhadap teks-teks Injil yang berkaitan dengan Petrus, bersama dengan evaluasi yang teliti dari berbagai fakta sejarah Gereja sampai kepada tinjauan hubungan antara St. Paus Leo Agung dengan Gereja Timur, membawa Soloviev pada kesimpulan :

“Sampai saat ini Kepausan Roma bukanlah sebuah perampasan kuasa yang sewenang-wenang namun sebuah perkembangan prinsip yang legal dan bersifat penuh sebelum adanya perpecahan Gereja, dan terhadap masalah ini Gereja tidak pernah protes….Dalam masa-masa itu, Gereja Orthodox Yunani menyadari bahwa dirinya adalah bagian hidup dari Gereja Universal, yang dengan jelas terikat kepada pusat persatuan, yakni Gereja apostolik Petrus” [hal.90].

Vatican Larang Penggunaan Nama "Yahweh"

Petunjuk Vatikan : “Yahweh” Tidak Tepat Digunakan Dalam Liturgi

Diterjemahkan oleh Leonard T. Panjaitan dari : http://www.catholicculture.org/news/features/index.cfm?recnum=60153

13 Agustus 2008 (CWNews.com) - Vatikan telah memutuskan bahwa Nama Allah, yang umumnya dimaksud sebagai “Yahweh”, tidak boleh diucapkan dalam liturgi Katolik.
Petunjuk Vatikan tidak mewajibkan adanya perubahan apa pun dalam bahasa liturgi, karena Nama Allah tidak dicantumkan dalam terjemahan resmi Misa Romawi. Tetapi sebagian lagu mungkin dianggap tidak tepat dalam penggunanannya dalam liturgi.

Konggregasi Ibadat Suci, dalam mengeluarkan petunjuk baru ini, mengingatkan para uskup bahwa dalam tradisi Yahudi, dimana umat Kristen perdana mengadopsinya, bahwa ketika itu umat beriman menghindari pengucapan Nama Allah. Petunjuk Vatikan juga menjelaskan bahwa “sebagai sebuah ungkapan kebesaran dan keagungan Allah yang tak terbatas, maka nama tersebut tetap dipertahankan untuk tidak boleh diucapkan”.

Dalam hal Nama Allah, orang-orang Yahudi yang saleh menggunakan empat tetragammaton YHWH, atau menggantikannya dengan istilah “Adonai” atau “Tuhan”. Umat Kristen pertama melanjutkan praktek ini, kutip Vatikan.

Konggregasi Ibadat Suci mengamati bahwa penyebutan “Tuhan” dalam teks Kitab Suci mengikuti praktek tersebut. Jadi ketika St. Paulus berdoa agar “setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan,” maka surat Vatikan mengatakan bahwa pernyataan St. Paulus itu “berkaitan dengan tepat kepada pernyataan ke-ilahian [Kristus]”.

Kitab Suci merefleksikan tradisi Yahudi dan Nama Allah tidak dicantumkan dalam terjemahan resmi Katolik. Instruksi Vatikan ini menyatakan bahwa bahasa liturgis harus dengan teliti mengikuti teks-teks Kitab Suci, sehingga Firman Allah “diperbincangkan dan disebarluaskan dalam sikap yang taat dan utuh”.

Tetapi, instruksi ini mencatat, bahwa “dalam tahun-tahun terakhir praktek ini telah masuk secara sembunyi-sembunyi”, dalam hal penggunaan Nama Allah dan pencantuman tetragammaton. Dengan demikian, menurut Vatikan, praktek tersebut harus dihindari dalam liturgi Katolik.

Efek dari petunjuk Vatikan ini harus menjadi jelas dalam pemilihan lagu-lagu, karena beberapa musik liturgi kontemporer menyalahgunakan kebijakan Vatikan dengan menyebutkan Nama Allah. Kebijakan Vatikan ini juga mencakup perhatian dalam rangka persiapan elemen-elemen variabel liturgi, seperti Doa Umat Beriman.

Surat dari Konggregasi Ibadat Suci, bertanggal 29 Juni 2008, ditandatangani oleh Kardinal Francis Arinze dan Uskup Agung Malcom Ranjith, masing-masing sebagai prefek dan sekretaris konggregasi tersebut.

Dalam surat bertanggal 8 Agustus 2008 kepada uskup-uskup dalam hirarki AS, yang disiarkan dalam petunjuk Vatikan ini, Uskup Arthur Serratelli – Ketua Komite Liturgi Konferensi Uskup AS – menyambut baik instruksi Vatikan ini, dengan mengatakan bawah “petunjuk tersebut membantu menekankan pada akurasi teologis dari sisi bahasa dan merupakan suatu penghormatan yang tepat bagi Nama Allah”.

Senin, 22 September 2008

Contra Haereses Kristen Tauhid

Contra Haereses Kristen Tauhid
[Melawan Kesesatan Kristen Tauhid]
Ket : dhi = dalam hal ini

By Leonard T. Panjaitan

Jawaban buat Jestia – Pengikut Ajaran Frans Donald

Pertama-tama terima kasih anda telah memberikan komentar yang menarik tentang keragu-keraguan anda dalam menilai keilahian Yesus. Kebingungan anda dalam menilai apakah Yesus adalah Allah atau Mesias disebabkan anda menggunakan teknik idiosinkratik yang ketat dalam menafsirkan kitab suci. Ketidakteraturan atau kejanggalan beberapa ayat dalam Perjanjian baru tidak menafikan pesan sentral Injil bahwa Yesus sesungguhnya adalah Allah. Hal ini menunjukkan kejujuran setiap penulis atas setiap peristiwa dalam Perjanjian Baru secara alamiah. Penggambaran para penulis terhadap peristiwa yang dilakukan oleh Yesus sebenarnya tidak merupakan suatu rekayasa atau skenario para murid-muridNya seakan-akan Yesus adalah Allah sebagaimana yang dituduhkan oleh para penghujat Yesus. Dengan demikian apabila terdapat beberapa ayat yang kelihatannya “berisiko” atau “mudah” untuk diputarbalikkan maka sesungguhnya hal ini tidak serta-merta meruntuhkan tembok iman. Pada akhirnya yang harus diuji adalah karya keselamatan Yesus termasuk semua mujizat-mujizatNya. Pada akhirnya pula objektivitas ribuan orang yang bertobat memeluk iman Kristen karena mereka mendambakan keselamatan yang diwujudkan oleh Sang Mesias sendiri.

Maka dari itu, orang-orang semacam Frans Donald pada akhirnya akan terjebak sendiri dalam mengukur Misi dan Karya Yesus dalam menyebarkan kerajaanNya atas dasar cinta tanpa batas di muka bumi ini. Frans Donald cs atau pun mereka yang “murtad” dari ajaran Trinitas Maha Kudus sangat menitikberatkan pada tafsiran individu yang kaku, egoistik dan rasional. Padahal orang-orang semacam ini bukanlah saksi peristiwa dari kehidupan Yesus 2.000 tahun lalu. Mereka adalah segerombolan orang yang terpikat oleh inspirasi Injil-injil palsu sehingga berniat menguras samudera kekayaan Injil. Mereka rupanya bosan mempertimbangkan sumber-sumber utama saksi sejarah Yesus yang valid dan solid. Mustahil !

Teologi Frans Donald cs hanya mendasarkan pada hal-hal kecil yang dibesar-besarkan. Sementara hal-hal besar dikecil-kecilkan. Makanya Frans Donald tak mau mengutip ayat-ayat yang justru memainkan porsi yang sangat besar dalam misi dan karya Yesus di bumi. Bahwa Yesus ditangkap, difitnah dan dianiaya secara tak terperikan oleh imam-imam Yahudi [melalui kolaborasi dengan Romawi] oleh karena Dia menjelaskan diriNya sendiri sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Dalam tradisi Yahudi, Yesus dianggap sebagai penghujat karena menyetarakan DiriNya dengan Yahweh, sebagaimana diakui Yesus sebagai BapaNya sendiri. Dan memang itulah yang sebenarnya terjadi. Hal ini tergambar dalam Injil Yohanes, sbb :

26:59 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati,
26:60 tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang,
26:61 yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari."
26:62 Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"
26:63 Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak."
26:64 Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit."
26:65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.
26:66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!

Kalau Yesus hanya sebagai malaikat khusus/eksklusif dibandingkan dengan mahluk malaikat yang lain, atau Yesus sebagai ciptaan khusus Allah yang pertama, atau Yesus sebagai nabi khusus tanpa melihat jati diri ke-ilahian-Nya maka Yesus tentunya tidak akan dihukum mati. Selain itu, dalam praktek pengajaranNya, Yesus memberikan moralitas baru terhadap hukum-hukum Yahudi yang kemudian menjadi batu sandungan bagi kaum Farisi dan Saduki, sebagai contoh masalah hari Sabath, makan dengan orang-orang najis dsb. Selain itu sungguh aneh bahwa Frans Donald di bukunya itu banyak mempertautkan tafsir Injil dengan ayat-ayat Al-Quran. Hal ini sungguh membingungkan ! Ibaratkan saya yang dengan mata berminus tiga, disuruh memakai kacamata orang lain yang berminus enam. Jadi pola inter-linearis tafsiran Frans Donald sungguh melenceng dari standard tafsiran yang baku. Selain itu, dia mengklaim tafsirannya pada sandaran sola scriptura, yang mana sola scriptura sendiri sebenarnya sama sekali tidak alkitabiah. Di bagian mana Alkitab mengajarkan bahwa HANYA dengan Alkitab kita dapat diselamatkan ? Baca baik-baik bung ! Sungguh memalukan ! Anda mabuk dalam semangat yang berlebihan.


Anda tidak mau melihat catatan-catatan atau kesaksian langsung para Rasul dan murid-muridnya sebagai sumber pertama dalam menilai Yesus secara objektif. Dengan demikian sejarah atau historitas Yesus sebagai pembawa keselamatan atau pembawa air hidup tidak dapat anda lihat dalam bingkai yang utuh. Anda menilai Yesus dalam bingkai pemahaman sejarah kontemporer yang menitikberatkan pada kebebasan berpikir tanpa dasar iman yang kokoh. Hal ini dapat dimaklumi karena anda dan mereka itu adalah buah-buah dari perpecahan Gereja yang sangat fatal. Mereka yang hidup dalam kerajaan tanpa akar juga pada akhirnya akan goyah apabila mendapatkan serangan-serangan seperti ini. Ya, mereka hidup dalam kerajaan mengapung akibat disunitas Gereja. Oleh sebab itu maka tafsiran anda tentang Yesus sebagai seorang humanis belaka atau nabi terhormat tanpa embel Mesianik membawa anda dalam sebuah ideologi iman yang korup. Hal ini dapat dianalogikan sbb :

1. Anda tidak menyetujui bahwa presiden pertama RI adalah Soekarno. Anda menafsirkan sendiri konstitusi [UUD 45] atau catatan sejarah resmi RI [Arsip Nasional] sebagai sesuatu yang tidak berdasar [non historis]. Anda menuduh Soekarno hanya sebagai salah satu pemimpin rakyat yang menggelorakan kemerdekaan. Anda tidak percaya pada pelaku sejarah lainnya seperti M.Hatta, Syahrir, Agus Salim atau tokoh-tokoh pergerakan nasional ketika itu bahkan Sidang BPUPKI/PPKI. Mereka inilah yang mengesahkan Soekarno sebagai Presiden Pertama RI. Soekarno tidak harus mengklaim dirinya sendiri sebagai presiden pertama RI karena jabatan tersebut memang sudah diamanatkan kepadanya secara sah melalui proses yang demokratis pada saat itu.

2. Di-ibaratkan UUD atau konsitusi Negara sinonim dengan Alkitab maka alih-alih kebebasan berpikir maka setiap warga Negara berhak menafsirkan pasal-pasal dalam UUD tersebut. Padahal ada lembaga resmi yang memiliki otoritas konstitusional yang berhak menafsirkan UUD yakni : MPR/DPR selaku lembaga legislatif yang membuat UU. Hal ini sama saja dengan Alkitab. Pertanyaannya apakah setiap warga Negara berhak menafsirkan UUD sekalipun dia memiliki kebebasan berpikir ? Jawabannya adalah TIDAK. Karena setiap pemikiran yang berbeda-beda akan menghasilkan kekacauan yang massif dan menganggu stabilitas Negara. Kalau ini terjadi tentu tentara akan terlibat untuk menangkap dan menghukum ybs.

3. Sebaliknya, tafsiran-tafsiran Alkitab yang beranekaragam itu telah menimbulkan perpecahan Gereja yang dasyat. Ribuan denominasi gereja mengklaim diri sebagai yang paling benar, termasuk Anda dan mereka itu. Jadi siapa yang memiliki otoritas menafsirkan isi Kitab Suci ? Sama seperti MPR/DPR maka lembaga resmi yang berotoritas menafsirkan Ajaran-ajaran Tuhan Yesus adalah Gereja. Lalu Gereja yang mana ? Jawab : Gereja yang didirikan Yesus di atas batu karang [dhi. St.Petrus] dan rasul-rasul lainnya. Jadi spesifiknya Gereja yang mana ? Gereja Roma Katolik dan gereja-gereja Orthodox dalam kesatuan dengan Gereja Roma. Maka bayangkanlah kalau Gereja yang diberi mandat oleh Yesus itu memiliki sebuah kekuatan militer untuk menangkapi dan menghukum mereka yang mengujat ke-ilahian Yesus. Dapatkah anda lari dari kejaran aparat hukumnya ? Tetapi bersyukurlah atas tebusan kurban Yesus yang berbelas kasih, karena demikianlah engkau masih bisa menghirup udara segar secara gratis hingga saat ini.

4. Sekarang apabila saya balik pertanyaan Frans Donald cs, atas OTORITAS apakah kalian menyatakan bahwa Yesus bukanlah Allah atau Mesias sesembahan kaum Kristen [yang taat dalam Roh dan Kebenaran] ?? Apakah pantas Kitab Suci Kristen [dhi. PL dan PB] ditafsirkan melalui otoritas lain selain Gereja ?? Hal ini sama saja dengan menafsirkan Konstitusi RI UUD 1945 melalui otoritas kongres Amerika. Sangat tidak masuk akal bukan ! Dengan kata lain, Alkitab harus ditafsirkan melalui terang imanNya atau terang iman Gereja, dan BUKAN oleh terang iman orang lain apalagi orang sesat. Dengan demikian Alkitab memiliki wibawanya sendiri dari sumber-sumber original yang bersifat kanonik seperti yang telah ditetapkan oleh Bapa-bapa Gereja perdana dan Sidang-sidang Konsili kudus ketika memproses kanonisasi Kitab Suci.

5. Baiklah, saya mencoba menjawab pemutarbalikkan anda berkaitan dengan Matius 28:18. Frase “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” ini menyatakan bahwa Yesus sebagai Mesias yang memiliki kuasa penuh baik di surga maupun di bumi. Penggambaran figure Mesias harus bersifat menerima kuasa dari Allah Yang Maha Tinggi. Dia harus diurapi oleh Allah sendiri. Tetapi istilah “Kepadaku….dst” bukan berarti Yesus pasif dan merupakan objek penerima kuasa dari Allah sehingga Dia bukanlah Allah yang harus disembah. Hal ini hanya menegaskan pola hubungan mesianik karena Yesus berbicara dalam bahasa manusia. Syarat hubungan mesianik adalah pola hubungan subjek-objek; si pemberi-penerima; pengutus-utusan; bapa-anak. Namun hal ini bersifat dualitas yang tunggal yang BUKAN menggambarkan adanya hubungan atasan-bawahan; majikan-hamba atau pencipta-ciptaan. Dengan kata lain si pemberi dan si penerima kuasa berada dalam SATU KUALITAS yang sama atau sederajat. Tentu kualitas yang sama ini tidak dapat dicapai oleh seorang nabi tanpa status yang unik dan derajat yang tinggi. Oleh sebab itu maka dalam pengurapan Mesias tadi, Yesus harus memiliki satu kesatuan hubungan secara Roh atau satu esensi dengan BapaNya. Maka dari itu, Yesus tidak berbicara dirinya seperti ini : “Kepada-Ku telah diberikan kuasa oleh diriKu sendiri”. Ini akan menjadi rancu karena Logos masih tinggal dalam daging. Atas dasar hal-hal tersebut maka justru Matius 28:18 bersifat jujur dan manusiawi. Karena kalau tidak, maka tidak ada istilah “Mesias” atau Mesias bukanlah “Mesias”. Oleh sebab itu maka sebaiknya anda tidak mencomot ayat sana-sini tanpa mempertimbangkan konteks ayat-ayat lainnya khususnya dalam perjanjian lama. Penggambaran “Kepada-Ku….dst” dapat diperbandingkan dengan Yesaya 42 : 1 – 4, sebagaimana berbunyi : “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa dst…” Begitu juga dengan Maleakhi 3:1-5, berbunyi : “Lihat, Aku menyuruh Utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku ! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya ! Malakait Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman Tuhan semesta Alam…dst”. Dari perikop-perikop tersebut di atas maka menyembah Yesus adalah setara dengan menyembah Bapa yang mengutusNya. Karena Firman Allah telah melekat pada pribadi [hypostasis] Yesus sebagai Sang Firman itu sendiri. Di samping itu, Yesus adalah manusia yang sangat rendah hati. Dia tidak perlu meminta hormat dari manusia untuk menyembahNya. Dia mencukupkan diriNya sendiri. Dia bahkan rela mengosongkan diriNya sendiri agar kita mau menerima rencana keselamatanNya. Keputusan untuk menyembah Yesus adalah karena kita memang patut menyembahNya karena Dia adalah Sang Logos atau kepenuhan dari Sang Firman itu sendiri. Dia adalah Kalimahtullah, alias Sabda Allah. Dan begitulah seharusnya !

6. Menjawab Wahyu 13, bahwa Yesus berkali-kali berbicara mengenai “Allah”-nya ketika Dia berada di Surga. Maka jawabannya : Wahyu 13 dan secara umum keseluruhan Kitab Wahyu sebenarnya telah digenapi dalam Liturgi Ekaristi kudus. Segala lambang-lambang, angka-angka, bilangan-bilangan, termasuk binatang-binatang adalah penggambaran hikmat dari Liturgi itu sendiri atau Misa Kudus. Oleh sebab itu, saya tidak mau mengulasnya panjang lebar di sini. Silahkan baca artikel di http://ourunity.blogspot.com/search/label/Biblika tentang penafsiran Kitab Wahyu secara komprehensif. Artikel tersebut diambil dari tulisan Scott Hahn yang mereaktualisasikan pemikiran Bapa-bapa Gereja perdana dan ajaran Gereja Katolik/Orthodox. Ringkasnya, Kitab Wahyu sebenarnya berbicara hal yang sangat sederhana yakni Yerusalem Surgawi yang adalah Gereja itu sendiri beserta perangkat-perangkat liturgisnya. Dengan kata lain, Gereja adalah kerajaan Allah di bumi ini dengan sentral kerajaan adalah perjamuan Anak Domba Allah dalam Liturgi Ekaristi Kudus [Komuni Pertama].

7. Perlu diketahui bahwa St. Yohanes penulis kitab ini harus banyak menggunakan bahasa symbol dan kode karena situasi pada jamannya saat itu harus memaksanya demikian. Hal ini kemungkinan karena masa penganiyaan kaisar Nero sehingga surat-surat St.Yohanes Rasul kepada tujuh Gereja/Jemaat harus disamarkan pesan-pesannya sehingga dapat sampai kepada tujuan. Dalam kitab wahyu Yerusalem lama telah mati dan ia hanyalah bait Allah di jaman dulu dan sekarang menjelma sebagai sinagoga Yahudi di kota Yerusalem – Palestina saat ini. Yerusalem baru adalah Gereja yang diwariskan oleh para Rasul kepada generasi pertama dan seterusnya [dhi. secara tradisi-apostolik] hingga saat ini dan saat yang akan datang sampai Dia datang kembali yang kedua kalinya.

8. Di lain pihak, kalau anda konsisten dengan kitab Wahyu dan tidak hanya mencongkel ayat per ayat maka anda sendiri akan kerepotan. Lanjutan dari perikop Wahyu 13 adalah Wahyu 14 dimana Anak Domba Allah dan pengikutNya akan mendapatkan kehormatan dan kemuliaan surgawi. Sebagai perumpaan : apakah anak domba Allah itu bukan Allah ? Apakah seekor anak domba itu bukan seekor domba ?? Apakah embrio manusia [dhi. bayi] itu bukan manusia ?? Jadi apakah Anak Allah bukan Allah ? Jadi intinya, Kitab Wahyu juga menegaskan sosok Yesus sebagai Anak Domba Allah yang kurbanNya menjadi santapan rohani untuk syarat mendapatkan keselamatan. Hal ini telah dipraktekkan secara konsisten oleh umat Roma Katolik/Orthodox selama lebih dari 2.000 tahun. Dan aku melihat : sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya [Kitab Wahyu 14 : 1]. Pertanyaannya adalah : apakah anda menyadari bahwa di dahi anda namamu telah tertulis nama-Nya sementara anda menyangkal Dia sebagai Tuhan atas segala-galanya ?

9. Dari pertanyaan-pertanyaan Sdr. Jestia dan pemikiran Sdr.Frans Donald saya semakin heran. Apakah inti persoalannya selama ini adalah pada “penyembahan Yesus” - yang mana kalian menganggapnya keliru ??? Lalu mengapa persoalan “Siapa yang harus disembah Yesus atau Allah [dhi. Bapa]”menjadi pokok persoalan teologis ?? Jawabannya adalah : teologi kalian sangat dangkal dan bodoh. Jawaban kami adalah Dua-duanya harus disembah bahkan Tiga-tiganya harus disembah yakni : Sang Bapa, Sang Anak, Sang Roh Kudus dalam Satu Kesatuan Allah Yang Maha Esa atau lebih lengkapnya Allah Tritunggal Maha Kudus. Selain itu, kalau kata “menyembah” saya turunkan level-nya sedikit menjadi kata “menghormati secara mendalam” maka kini pertanyaannya adalah : siapa yang harus kita hormati di keluarga, Ayah atau Ibu ?? Tentu jawabannya adalah dua-duanya. Karena merekalah adalah orang tua kita yang membesarkan dan merawat kita, apalagi sang ibu yang telah melahirkan dan menyusui kita.

10. Selanjutnya, kalau persoalan siapa yang lebih besar : Bapa atau Anak; atau siapa yang harus disembah : Bapa atau Anak; maka hal tersebut akan membawa anda kepada lorong tanpa ujung. Ibaratnya anda menanyakan kepada saya : manakah yang diciptakan lebih dulu : Tubuh, Jiwa atau Roh dalam satu kesatuan mahluk yang namanya manusia. Dari perumpamaan ini maka dapat saya katakan bahwa manusia diciptakan sekaligus dalam trinitasnya. Prosesnya adalah pada saat pembuahan maka jiwa langsung tercipta dan langsung mendapatkan roh. Hal ini dapat dibuktikan bahwa zigot, atau embrio adalah mahluk manusia yang bergerak. Pergerakannya dalam rahim seorang ibu itu pasti digerakkan oleh Roh Allah. Makanya dia tetap hidup dan bernapas. Zigot tersebut juga memiliki entitas tubuh karena terdiri dari sel-sel muda. Tetapi karena kita berbicara mengenai Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Misteri maka ketiga pribadi dalam Kesatuan Trinitas tersebut dapat menjadi salah satu elemen ciptaanNya, yakni : mahluk mulia, namanya manusia. Proses pemanusiaanNya datang dari Sang Firman Allah yang dibuahi oleh Roh Kudus dalam rahim St. Perawan Maria, yakni : menjadi [bukan istilah “menjelma”] Manusia-Allah yang dinamakan Yesus.

11. Masalah Doa Bapa Kami [Our Father], mengapa anda mempersoalkan seakan-akan Yesus tidak sederajat dengan BapaNya ? Justru Yesus mau menegaskan bahwa Bapa Kami adalah benar-benar Allah Yang Esa, yang mana sehakekat dengan PutraNya sendiri. Dengan kata lain, apabila Yesus mengajarkan Bapa Ku [My Father] akan menjadi tidak masuk akal dan terkesan egoistik. Yesus yang bersifat sangat rendah hati mau mengangkat seluruh manusia ke level tinggi dengan menjadikan ciptaanNya menjadi anak-anak dalam sistem Trinitas Maha Kudus, yakni pemutraan [sonship] secara ilahi. Dengan demikian kini manusia memiliki Bapa yang sehakekat dengan PutraNya sendiri, yakni Bapa Kami dan bukan Bapa Ku. Jadi doa Bapa Kami bukan alasan yang tepat dan logis untuk mendeskripsikan bahwa Yesus lebih rendah daripada BapaNya.

12. Sebagai penutup, maka saya ingin menyampaikan sebuah gagasan segar bahwa Trinitas itu sesuatu yang realistis, mudah dipahami asalkan kita menerimanya sebagaimana Dia adanya. Prinsip trinitaris dapat dilihat dari elemen-elemen ciptaan Allah. Mengapa manusia diciptakan dengan dua kaki, dua tangan, dua mata, dan dua telinga dalam satu tubuh ? Mengapa manusia tidak diciptakan dalam satu kaki, satu tangan, satu mata dan satu telinga ? Tentunya Allah Tritunggal Maha Kudus menghendakinya demikian sama seperti Dia menghendaki DiriNya sendiri sebagai Trinitas Maha Kudus. Begitu pun dengan dunia fisika, cahaya mengandung tiga unsur : partikel, gelombang dan sinar [terang]. Mahluk binatang pun tidak terlepas dari prinsip trinitaris, seperti amuba [binatang bersel satu] yang berkembang biak dengan membelah diri. Ini hampir serupa dengan mekanisme Ke-Allah-an, dimana Allah diperanakkan menjadi Putra Allah. Bahkan prinsip keluarga pun tidak lepas dari paham trinitaris, yakni : Ayah, Ibu dan Anak. Mereka ini diikat melalui darah [melahirkan anak-anaknya] dan janji pernikahan seumur hidup [sakramen perkawinan suami-istri]. Menurut Paus Yohanes Paulus II, Trinitas Maha Kudus dalam MisteriNya yang terdalam adalah SEBUAH KELUARGA. Inilah prinsip pembentukan keluarga kristen sejati yang dipancarkan dari cahaya Trinitas Maha Kudus. Dalam ranah sistem politik, kita juga mengenal sistem Trias Politica, yakni : Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. Ketiga lembaga ini saling menjaga kekuasan secara berimbang dan bersifat setara dalam struktur tata negara. Lalu apakah semua contoh di atas pasti berpaham trinitaris ?? Realitasnya demikian meskipun tidak mencakup semua aspek kehidupan.

13. Namun demikian prinsip-prinsip trinitaris tadi tidak memiliki aspek ke-Misteri-an seperti halnya Allah. Allah Yang Maha Misteri dan Maha Kuasa memiliki Otoritas dan Otonomi dalam memperkenalkan diriNya sendiri sebagai Tiga dalam Satu atau Satu dalam Tiga. Karena Allah sendiri ikut turut serta dalam sejarah keselamatan sebagai pelaku FirmanNya sendiri, dengan menjadi Immanuel secara nyata, riil dan bukan sekedar pada level perasaan manusia. Oleh sebab itu konsep atau paham Ketunggalan Allah seperti yang diusulkan oleh kaum Frans Donald dan sejenisnya terlalu memaksakan diri tanpa mau melihat rencana keselamatan serta realitas kehidupan di alam semesta ini. Uniformitas konsep ketuhanan sebagai Satu-satunya Yang Esa atau Yang Tunggal sangat bersifat sepihak dan terbelunggu oleh paham judaisme. Ke-Tunggal-an Allah atau Ke-Esa-an Allah bukanlah doktrin yang salah, malahan suatu doktrin yang kami imani sejak dibaptis. Namun dalam nubuat-nubuat para nabi serta pesan-pesan Injil justru konsep Trinitas Maha Kudus menjadi doktrin yang relevan bagi konsep beragama di dunia ini. Dimana dalam Trinitas Maha Kudus, pribadi Sang Bapa, pribadi Sang Putra dan pribadi Sang Roh Kudus bertindak dalam SATU ACTUS PURUS [latin- tindakan murni] yang tidak terjangkau akal manusia.


Demikian disampaikan. Semoga anda dan teman-teman anda kembali ke jalan yang lurus dan benar. God bless you.

Jumat, 19 September 2008

Menyingkapkan Tabir Kitab Wahyu

Menyingkapkan Tabir Kitab Wahyu

BAGAIMANA MELIHAT YANG TIDAK KELIHATAN


Orang Kristen Ukraina senang menceritakan bagaimana nenek moyang mereka "menemukan" liturgi. Pada tahun 988, Pangeran Vladimir dari Kiev, saat bertobat dan percaya : mengirimkan utusan ke Konstantinopel, ibukota Kekristenan Timur. Di sana mereka menyaksikan liturgi Bizantin di katedral Kebijaksanaan Kudus, gereja terbesar di timur. Setelah mengalami nyanyian, dupa, ikon-ikon - tapi, di atas semua itu, hadirat Allah - para utusan itu mengirimkan kabar kepada pangeran :"Kita tidak tahu apakah kita sedang berada di surga atau di bumi. Belum pernah kami melihat keindahan yang demikian. Kita tak dapat menggambarkannya, tapi hanya ini yang dapat kita katakan: di sanalah Tuhan berada di tengah-tengah umat manusia."

Hadirat-Nya. Dalam bahasa Yunaninya: Parousia, salah satu : tema kunci di dalam Kitab Wahyu. Pada abad ini, penafsir-penafsir menggunakan perkataan yang khusus untuk menandai "Kedatangan Yesus yang kedua kalinya pada akhir zaman". Itulah satu-satunya definisi yang dapat Anda temukan di dalam kebanyakan kamus bahasa Inggris. Padahal itu bukan arti yang utama. Arti utama Parousia adalah nyata, pribadi, hidup, abadi, dan kehadiran aktif. Dalam kalimat terakhir dari Injil Matius, Yesus berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa”.

Tanpa dipengaruhi oleh definisi-definisi kita, Kitab Wahyu menangkap kesadaran yang kuat tentang Parousia Yesus yang terus-menerus - kedatangan-Nya yang adalah saat ini. Kitab Wahyu memperlihatkan kepada kita bahwa Ia ada di sini dalam kepenuhan-Nya - dalam kerajaan, dalam penghakiman, dalam peperangan, dalam kurban imami, dalam Tubuh dan Darah, Jiwa dan Keilahian - pada saat umat Kristen merayakan Ekaristi.
"Liturgi adalah keikutsertaan Parousia, yang 'telah' memasuki keberadaan kita yang 'belum’, "tulis Kardinal Joseph Ratzinger. Bila Yesus datang kembali pada akhir zaman, kemuliaan-Nya tidak melebihi kemuliaan yang Ia punyai saat ini di atas altar-altar dan di dalam tabernakel gereja-gereja kita. Allah ada di antara umat manusia, saat ini, karena Misa Kudus adalah surga di atas bumi.

SEBAGAI CATATAN

Saya ingin menjelaskan bahwa ide ini - ide di belakang penulisan buku ini - tidak baril, dan yangjelas bukanlah berasal dari diri saya. Tetapi uSionya setua Gereja perdana, dan Gereja tidak pernah melepaskannya, meskipun idenya banyak yang hilang berbaur oleh kontroversi-kontroversi doktrinal sepanjang beberapa abad.
Pembicaraan yang demikian bukanlah semata-mata keinginan yang saleh dari orang-orang kudus dan para sarjana. Karena ide tentang Misa Kudus sebagai “surga di atas bumi” sekarang adalah ajaran iman Katolik yang jelas dan pasti. Anda akan menemukannya di banyak sumber, misalnya, dalam pernyataan yang paling mendasar dari kepercayaan Katolik, yakni : Katekismus Gereja Katolik :

Memang sungguh, dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna dan manusia dikuduskan, Kristus selalu menggabungkan Gereja, mempelai-Nya yang amat terkasih, dengan diri-Nya, Gereja yang berseru kepada Tuhannya dan melalui Dia berbakti kepada Bapa yang kekal... yang mengambil bagian dalam Liturgi Surgawi (no. 1089).

Liturgi kita berperan serta di dalam liturgi surgawi ! Itu ada di dalam Katekismus ! Dan masih banyak lagi:

Liturgi adalah suatu "kegiatan” dari "Kristus paripurna". Liturgi surgawi dirayakan mereka, yang sudah berada di seberang dunia tanda-tanda . . . (no.1136).

Di dalam Misa Kudus, kita telah berada di surga ! Yang mengatakan demikian bukanlah saya, atau banyak teolog yang sudah meninggal. Katekismuslah yang mengatakannya. Katekismus juga mengutip kalimat yang sama dari Vatikan II yang mempengaruhi saya begitu kuat dalam bulan-bulan sebelum saya bertobat masuk Geraja Katolik :

Dalam liturgi di dunia ini kita ikut mencicipi liturgi surgawi, yang dirayakan di kota sufi Yerusalem, tujuan penziarahan kita. Di sana Kristus duduk di sisi kanan Allah, sebagai Pelayan tempat sufi dan kemah yang sejati. Bersama dengan segenap bald tentara surgawi kita melambungkan kidung kemuliaan kepada Thhan... (no. 1090).

"Tentara-tentara pejuang, madah-madah, dan kota-kota suci. Bukankah sekarang kedengarannya mulai menyerupai Kitab Wahyu ? Nah, biarkan Katekismus yang memperkenalkannya:

Pewahyuan tentang "peristiwa-peristiwa yang akan terjadi," buku Wahyu, diwarnai oleh lagu-lagu liturgi surgawi... Gereja di bumi juga menyanyikan lagu pujian dalam iman dan dalam pencobaan... (no.2642).

Katekismus menyatakan semua ini sebagai kenyataan, yang menjadi bukti bagi dirinya sendiri. Untuk saya, kesadaran itu mengubah hidup saya. Kepada teman-teman saya dan rekan-rekan, juga - dan semua saja yang mau mendengarkan penjelasan saya - ide ini, bahwa Misa Kudus adalah "surga di atas bumi," benar-benar merupakan berita, berita yang sangat baik.

TUHAN YESUS, DATANGLAH DALAM KEMULIAAN

Bila kita ingin melihat liturgi seperti apa yang dialami oleh utusan Pangeran Vladimir, kita harus belajar melihat Kitab Wahyu seperti Gereja melihatnya. Bila kita ingin menjadikan Kitab Wahyu masuk di akal, kita harus belajar membacanya dengan imajinasi sakramental. Kita akan melihat kemuliaan yang tersembunyi dalam misa kudus hari Minggu mendatang.

Lihat sekali lagi dan temukan bahwa benang emas liturgi adalah yang menyatukan mutiara-mutiara wahyu dari penglihatan Yohanes:

 Ibadat Minggu : 1:10
 Imam agung : 1:13
 sebuah altar/mezbah : 8:3-4; 11:1; 14:18
 imam-imam (presbyteroi) : 4:4; 11:15; 14:3; 19:4
 jubah-jubah : 1:13; 4:4; 6:11;
7:9;15:6;19:13-14
 selibat yang dikuduskan : 14:4
 kaki dian, atau Menorah : 1:12; 2:5
 melakukan pertobatan : bab 2 dan 3
 dupa : 5:8; 8:3-5
 kitab, atau gulungan kitab : 5:1
 Hosti Ekaristi : 2:17
 piala-piala : 15:7; bab 16; 21:9
 Tanda Salib (tau) : 7:3; 14:1; 22:4
 Kemuliaan : 15:3-4
 Alleluya : 19: 1, 3, 4, 6
 Arahkan hatimu : 11:12
 "Kudus, Kudus, Kudus" : 4:8
 Amin : 19:4;22:21
 “Anak Domba Allah" : 5:6 dan di seluruh bagian
 pentingnya Perawan Maria : 12:1-6; 13-17
 doa permohonan para malaikat dan
orang-orang kudus : 5:8; 6:9-10; 8:3-4
 devosi kepada St. Mikhael Malaikat : 12:7
Agung nyanyian antifon : 4:8-11; 5:9-14; 7:10-12;
18: 1-8
 pernbacaan dari Kitab Suci : bab 2-3; 5; 8:2-11
 keimamatan orang-orang percaya : 1:6; 20:6
 kekatolikan, atau keuniversalan : 7:9
 kontemplasi hening : 8:1
 perjamuan perkawinan Anak Domba : 19:9,17

Gabungkanlah semuanya: unsur-unsur ini menjadi hampir seperti Wahyu - dan sangat mirip dengan Misa Kudus. Unsur-unsur liturgis lainnya dalam Kitab Wahyu, bagi pembaca masa kini lebih mudah dimengerti. Misalnya, banyak orang sekarang tahu bahwa trompet dan harpa adalah alat musik yang umum dipakai untuk musik liturgi pada masa Yohanes, seperti pemakaian organ sekarang. Dan melalui penglihatan Yohanes, para malaikat dan Yesus menyatakan berkat-berkat dengan menggunakan standar formula liturgis: “Diberkatilah ia yang...” Bila Anda membaca kembali Kitab Wahyu dari awal sampai akhir, Anda juga akan melihat bahwa semua campur tangan Allah secara historis - malapetaka, peperangan, dan sebagainya diikuti langsung oleh tindakan liturgis: madah-madah, doksologi, persembahan anggur, pedupaan.

Akan tetapi, Misa Kudus bukanlah hanya merupakan bagian-bagian kecil. Melainkan juga ada dalam skenario besar. Kita dapat lihat, misalnya, bahwa Wahyu, seperti halnya Misa Kudus, terbagi rapi dalam dua bagian. Sebelas bab pertama berhubungan satu sama lain dengan pernyataan surat-surat kepada tujuh jemaat dan dibukanya gulungan kitab. Ini menekankan pada "bacaan" membuat bagian pertama sangat cocok dengan Liturgi Sabda. Sangat penting, tiga bab pertama dalam Wahyu menandakan semacam Ritus Pertobatan; di dalam ketujuh surat untuk jemaat, Yesus menggunakan kata "bertobatlah" delapan kali. Untuk saya, ini mengingatkan kata-kata kuno Didache, buku panduan liturgi dari abad pertama: “pertama-tama akuilah dosa-dosamu, sehingga persembahanmu tidak bercela”. Bahkan di pembukaan, Yohanes mengandaikan bahwa kitab ini akan dibaca dengan suara lantang oleh seorang lektor di dalam pertemuan liturgi: “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini” (Why 1:3).

Kitab Wahyu bagian kedua dimulai pada bab 11 dengan pembukaan bait Allah di surga, dan puncaknya pada penuangan ketujuh cawan dan perjamuan nikah Anak Domba. Dengan pembukaan surga, cawan-cawan, dan perjamuan, Bagian Kedua memberikan gambaran yang sangat jelas akan Liturgi Ekaristi.

TEMPAT PEDUPAAN DI LUAR INDRA?

Di dalam Kitab Wahyu, Yohanes menggambarkan pemandangan surgawi secara jelas, dalam istilah duniawi, dan kita mempunyai hak untuk bertanya mengapa. Mengapa menggambarkan ibadat rohaniah - yang pasti tidak melibatkan harpa-harpa atau dupa-dupa - dengan kesan indrawi yang begitu jelas ? Mengapa tidak menggunakan angka-angka matematik, seperti mistik-mistik kuno, sehingga pembaca dapat mengerti dengan benar ibadat yang hanya dipahami oleh sekelompok orang saja, transenden, dan ibadat surgawi alam imaterial ? Saya mengira bahwa Allah menyingkapkan ibadat surgawi dalam istilah pengertian duniawi sehingga manusia - yang, untuk pertama kali, diundang untuk ikut serta dalam ibadat surgawi - dapat mengetahui bagaimana menjalankannya. Saya tidak berkata bahwa Gereja hanya duduk diam menantikan Wahyu turun dari surga, sehingga umat Kristen tahu bagaimana beribadat. Tidak, para Rasul dan pengikut-pengikutnya telah merayakan liturgi, setidaknya sejak Pentakosta. Wahyu bukanlah hanya semata-mata gema dari liturgi yang sudah ditetapkan, bukan hanya sebuah pantulan ke surga dari apa yang terjadi di dunia.

Wahyu adalah penyingkapa; itulah arti harfiah dari kata Yunani apokalypsis. Kitab itu adalah refleksi penglihatan yang menyingkapkan sebuah norma. Dengan kehancuran Yerusalem, jemaat-meninggalkan untuk selamanya sebuah bait yang indah, sebuah kota suci, dan imamat yang terhormat. Ya, umat Kristen memeluk sebuah perjanjian baru, yang bagaimanapun juga mengakhiri yang lama, tetapi juga menyertakan yang lama. Apa yang seharusnya dibawa mereka, dari ibadat lama ke ibadat baru ? Apa yang harus mereka tinggalkan? Wahyu memberikan petunjuk kepada mereka.

Beberapa hal dengan jelas telah diganti dalam kekecualian yang baru. Israel menandakan perjanjiannya dengan menyunat anak laki pada hari kedelapan; Gereja memeteraikan Perjanjian Baru dengan baptisan. Israel merayakan sabat sebagai hari beristirahat dan hari ibadat; Gereja merayakan hari Tuhan, hari Minggu, hari kebangkitan. Israel memperingati Paskah lama setahun sekali; Gereja mengulangi Paskah yang sejati yaitu Yesus Kristus di dalam perayaan Ekaristi.

Walaupun demikian, Yesus tidak bermaksud menghilangkan segalanya yang ada dalam Perjanjian Lama; maka dari itu Ia mendirikan sebuah Gereja/Jemaat. Ia datang untuk mengintensifkan, menginternasionalkan, dan menginternalisasikan ibadat bangsa Israel. Dengan demikian inkarnasi memberi isi baru lambang-lambang Perjanjian Lama dengan makna yang lebih luas, Misalnya, tidak akan ada lagi tempat ibadat sentral satu-satunya di bumi. Wahyu memperlihatkan bahwa Kristus Raja bertakhta di surga, di mana Ia bertindak sebagai imam agung dari para Kudus, Tetapi apakah hal itu berarti Gereja tidak boleh mempunyai bangunan-bangunan; pejabat-pejabat, lilin-lilin, cawan, atau jubah ? Tidak. Jawaban Wahyu sangatlah jelas, bahwa kita boleh mempunyai semua ini - semua ini, dan juga surga.

AURA SION

Semua tahu di mana Yerusalem itu. Tetapi di manakah mereka dapat menemukan surga? Rupanya, tidak terlalu jauh dari Yerusalem lama, Surat Ibrani mengatakan: "Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di surga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel" (Ibr 12:22-24),
Kutipan tadi menyimpulkan dengan rapi seluruh isi Kitab Wahyu: kumpulan orang-orang kudus dan para malaikat, perayaan, penghakiman, dan darah Kristus. Tetapi di manakah, kita ditinggalkan ? Di tempat seperti dikatakan Kitab Wahyu: "Dan aku melihat : sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama BapaNya" (Why 14: 1).

Semua jalan dalam Kitab Suci sepertinya menuju ke kota Raja Daud, Bukit Sion. Allah memberkati Sion dengan kelimpahan dalam Perjanjian Lama. "Sebab Tuhan telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya: 'Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam' "(Mzm 132: 13-14). 'Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!" (Mzm 2:6). Di Sion, Allah mau mendirikan istana Daud, kerajaan yang berdiri sepanjang masa. Di sanalah, Allah sendiri hadir selamanya di antara umat-Nya.

Ingatlah bahwa Sion adalah juga tempat di mana Yesus mengadakan Ekaristi, dan di mana Roh Kudus turun pada hari Pentakosta. Dengan demikian, "bukit suci" lebih lagi disukai dalam dispensasi kedua. Perjamuan Terakhir dan Pentakosta adalah dua peristiwa yang memeteraikan Perjanjian Baru.

Perhatikan pula, bahwa sisa Israel, 144.000 dalam Kitab Wahyu 14, muncul di bukit Sion- meskipun dalam Wahyu 7 mereka muncul di Yerusalem surgawi. Apakah ada ketidakcocokan ? Lihat lagi di Ibrani 12 untuk jawabannya: "Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion. . . Yerusalem surgawi." Bukit Sion adalah Yerusalem surgawi, karena peristiwa yang terjadi adalah apa yang membawa persatuan yang definitif antara surga dan bumi.

Gereja yang berada di tempat peristiwa ini terjadi, selamat dari kehancuran yang terjadi atas Yerusalem, tetapi hanya sebagai tanda. Karena umat Kristen di Yudea, ruang atas tempat perjamuan terakhir adalah "gereja kecil Tuhan" sebagai penghormatan kepada Raja Daud dan St. Yakobus, uskup pertama Yerusalem. Tempat itu menjadi "gereja rumah (house church)”, di mana umat bertemu untuk memecahkan roti dan berdoa. Bagaimanapun juga, Sion menjadi lambang yang hidup dari Perjanjian Baru. Sion adalah lambang dari titik kontak duniawi kita dengan surga.
Saat ini, walaupun kita berada ribuan mil dari bukit kecil di Israel, kita ada di sana bersama Yesus di ruang atas, dan kita berada di sana dengan Yesus di surga, bila kita menghadiri Misa Kudus.

MULA-MULA ADALAH CINTA, KEMUDIAN PERKAWINAN

Inilah yang disingkapkan dalam Kitab Wahyu: persatuan antara surga dan bumi, yang disempurnakan di dalam Ekaristi Kudus. Kalimat pertama dari Kitab Wahyu memberi pengertian yang demikian juga. Istilah apokalypsis, biasanya diterjemahkan sebagai "wahyu," arti harfiahnya "penyingkapan". Di masa Yohanes, bangsa Israel biasa menggunakan apokalypsis untuk menggambarkan bagian dari pesta perkawinan yang biasanya berlangsung selama seminggu. Apokalypsis adalah menyingkapkan radar pengantin wanita, yang dilakukan tepat sebelum perkawinan yang disempurnakan dalam hubungan seksual.

Itulah yang dimaksudkan oleh Yohanes. Begitu dekat persatuan antara surga dan bumi sehingga menyerupai persatuan mesra dan subur dari suami istri dalam cinta. St.Paulus menggambarkan Gereja sebagai pengantin wanita Kristus (lihat Efesus 5) - dan Kitab Wahyu menyingkapkan pengantin wanita itu. Puncak dari Kitab Wahyu, kemudian, adalah persatuan Gereja dengan Kristus: perjamuan nikah Anak Domba (Why 19:9). Sejak saat itu, manusia diangkat dari bumi untuk beribadat di surga. "Maka tersungkurlah aku di depan kakinya '(malaikat) untuk menyembah dia," Yohanes menulis "tetapi ia berkata kepadaku: Janganlah berbuat demikian ! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus' "(Why 19:10). Ingatlah bahwa dalam tradisi Israel, orang-orang selalu beribadat meniru para malaikat. Sekarang, seperti yang diperlihatkan Wahyu, surga dan bumi keduanya berperan serta dalam sebuah tindakan ibadat cinta.

Pewahyuan ini, atau penyingkapan, menunjuk balik kepada salib. Matius melaporkan hal itu, ketika Yesus wafat, "tabir (atau cadar) Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah" (27:51). Dengan demikian, tempat terkudus Allah adalah "penyingkapan," yang disingkapkan; kediaman-Nya tidak hanya untuk imam agung saja. Penebusan Yesus menyingkapkan Yang Kudus dari para Kudus, membuka kehadiran Allah bagi semua orang. Surga dan bumi kini dapat berpelukan dalam kasih mesra.

SEKOLAH LAMA

Liturgi-liturgi kuno lebur dalambahasa surga dan bumi. Liturgi St.Yakobus menyatakan: "kita dianggap layak untuk masuk ke dalam tempat tabernakel kemuliaan-Mu, dan boleh berada di dalam tahir, dan memandang Yang Kudus dari para Kudus". Liturgi St. Addai dan Mari menambahkan : "Betapa mmgagumkan tempat ini sekarang ! Karena ini tidak lain dari pada rumah Allah dan pintu surga; karena dapat bertatap muka dengan-Mu, O Tuhan."

St. Cyrilus dari Yerusalem (abad V) meminta kita sungguh-sungguh merenungkan kalimat: 'Arahkanlah hatimu! "Sesungguhnya, ia berkata, dalam saat-saat yang mengagumkan itu, kita sepatutnya mengangkat hati kita ke hadapan Allah, dan bukan ke bawah, yaitu memikirkan dunia dan hal-hal duniawi. Imam mengajak pada saat-saat tersebut untuk melepaskan kekhawatiran-kekhawatiran dalam hidup ini, atau kecemasan-kecemasan dalam rumah tangga, dan untuk mengarahkan hati ke surga bersama Allah yang berbelas kasih”.

Benar, kita harus seperti St.Yohanes di Patmos, ketika ia mendengar suara dari surga yang mengatakan, "Naiklah ke mari !" (lih. Why 11: 12). Itulah arti dari “Aahkanlah hatimu!”. Artinya adalah agar kita membuka hati kita kepada surga yang ada di hadapan kita, seperti yang dilakukan St.Yohanes. Arahkanlah hatimu, kemudian menjadi penyembahan di dalam Roh. Karena di dalam liturgi, kata Liber Graduum dari abad keempat, “tubuh adalah bait yang tersembunyi, dan hati adalah altar yang tersembunyi bagi pelayanan dalam Roh”.

Bagaimanapun juga, pertama-tama, kita harus merenungkan secara aktif. St.Cyrilus melanjutkan: "Tetapi janganlah seseorang yang datang kemari berkata dengan mulutnya, 'Kita mengarahkan hati kita kepada Tuhan,' tetapi pikirannya penuh dengan kekhawatiran akan hidupnya. Setiap saat, kita harus menyadari bahwa Tuhan ada di dalam pikiran kita. Tetapi bila itu tidak memungkinkan karena alasan kelemahan manusia, setidaknya kita harus mencobanya pada saat-saat tersebut”.
Secara sederhana, kita harus memusatkan diri pada kalimat singkat dari liturgi Bizantin: "Bijaksanalah ! Perhatikanlah !”.

TOK, TOK, TOK

Ya, perhatikanlah! Karena Wahyu menyingkapkan lebih dari sekadar informasi. Wahyu adalah undangan pribadi, yang ditujukan kepada Anda dan saya dari segala keabadian. Pewahyuan Yesus Kristus berdampak langsung dan berkuasa atas hidup kita. Kita adalah pengantin Kristus yang belum tersingkap: kita adalah Gereja-Nya. Dan Yesus menghendaki setiap dari kita untuk masuk ke dalam relasi yang paling intim dengan DiriNya. Ia menggunakan gambaran perkawinan untuk menunjukkan betapa Ia mengasihi kita, Ia menginginkan kita dekat denganNya - dan betapa la menginginkan persatuan yang abadi dengan kita.

Lihatlah, Tuhan menjadikan segalanya baru. Kitab Wahyu tidaklah asing seperti yang kita bayangkan, demikian juga Misa Kudus lebih kaya daripada apa yang kita bayangkan. Kitab Wahyu adalah sangat biasa, seperti kehidupan yang kita jalani ini; dan bahkan Misa Kudus yang paling membosankan pun, tiba-tiba diaspal dengan emas dan perhiasan yang berkilauan.

Anda dan saya perlu membuka mata kita untuk menemukan kembali rahasia Gereja yang lama lenyap, kunci umat Kristen perdana untuk mengerti misteri-misteri Misa Kudus, satu-satunya kunci yang benar untuk mengerti misteri-misteri Pewahyuan. "Roh dan Gereja memampukan kita mengambil bagian dalam liturgi abadi ini, apabila kita merayakan misteri keselamatan dalam Sakramen-sakramen". (Katekismus, no. 1139).
Kita pergi ke surga- tidak saja saat kita meninggal, atau ketika kita pergi ke Roma, atau ketika kita melakukan ziarah ke Tanah Suci. Kita pergi ke surga saat kita menghadiri Misa Kudus. Ini bukanlah sekadar lambang , bukan sebuah metafora, bukan sebuah perumpamaan, bukan pula sebuah bentuk ucapan. Tetapi ini adalah kenyataan.

Pada abad keempat, St.Athanasius menulis, "Saudara-saudaraku terkasih, yang kita hadiri bukanlah perayaan yang sifatnya sementara, tetapi yang abadi, pesta surgawi. Kita tidak melihatnya dalam bayangan; tetapi kita menghampirinya dalam kenyataan" .
Surga di atas bumi - itulah kenyataannya ! Itulah tempat di mana Anda hadir dan bersantap pada hari Minggu yang baru lalu! Saat itu apa yang Anda pikirkan?
Pertimbangkanlah apa yang Tuhan inginkan untuk Anda pikirkan. Pertimbangkan undangan-Nya dari Kitab Wahyu : "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi" (Why 2: 17). Apakah manna yang tersembunyi itu ? Ingatlah janji yang Yesus buat ketika Ia bicara tentang "manna" dalam Injil Yohanes: "Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga : Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga" (6:49-51).

Manna adalah makanan sehari-hari umat Allah dalam perjalanan ziarah di padang gurun. Sekarang, Yesus menawarkan sesuatu yang lebih besar, dan Sungguh-sungguh dengan undangan-Nya: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku" (Why 3:20).
Jadi artinya, Yesus sungguh bermaksud untuk mengadakan suatu perjamuan; Ia ingin membagikan manna yang tersembunyi dengan kita, dan Ia adalah manna yang tersembunyi itu. Dalam Kitab Wahyu 4:1, kita juga melihat bahwa ini lebih daripada santapan mesra berdua. Yesus berdiri di muka pintu dan mengetuk, dan sekarang pintu sudah terbuka. Yohanes masuk dalam "Roh" untuk melihat imam-imam, para martir dan malaikat yang berkumpul di sekeliling tahta surgawi. Bersama Yohanes, kita menemukan pesta surgawi adalah perjamuan keluarga.

Sekarang dengan mata iman – dan “dalam Roh” – biarlah ktia mulai melihat bahwa Kitab Wahyu mengundang kita untuk menghadiri perjamuan surgawi, dalam pelukan kasih, ke Sion, ke penghakiman, ke peperangan. Ke Misa Kudus. Amen.

Sumber : The Lamb’s Supper - The Mass as Heaven On Earth, Oleh Scott Walker Hahn, 1999, Terj. Indonesia : Perjamuan Anak Domba - Perayaan Ekaristi, Surga Di Atas Bumi, Penerbit Dioma, 2007.

Selasa, 16 September 2008

Tentang Tujuan Yesus, KematianNya, Gereja Mula-mula, Injil, Semuanya adalah Valid

TUJUAN YESUS


Erat berkaitan dengan pertanyaan tentang klaim Yesus adalah pertanyaan tentang tujuan Yesus. "Penyelidikan Kuno tentang Yesus sejarah" (yang kadang-kadang disebut "Penyelidikan Abad XIX") diluncurkan ketika para ahli mulai mempertanyakan maksud Yesus. Tulisan anumerta Hermann Samuel Reimaru (1774-1778) berpendapat bahwa Yesus berusaha menjadikan diri-Nya sendiri sebagai raja politis Israel di bumi. Tesis provokatif ini menuntun pada pembacaan Injil secara baru dan kritis. Seluk beluk Penyelidikan Kuno ini dibahas dengan fasih dan dinilai oleh Albert Schweitzer dalam karya klasiknya, Penyelidikan tentang Yesus Sejarah. Dengan munculnya kritisisme bentuk pada tahun 1920-an, di mana para pelaksana awal berpikir bahwa sebagian besar bahan Injil berasal dari gereja dan bukan dari Yesus, banyak orang meninggalkan Penyelidikan itu. Menurut beberapa teolog, hal itu dipandang mustahil secara historis dan tidak sah secara teologis. Namun penyelidikan baru yang berusaha untuk menemukan kaitan antara Yesus sejarah dan "Kristus iman," dimulai pada tahun 1950-an dan kemudian muncul fase lainnya, yang sekarang disebut "Penyelidikan Ketiga," yang muncul pada tahun 1980-an.
Apakah tujuan aktual Yesus ? Hal itu berkaitan erat dengan pertanyaan tentang makna pemberitaan-Nya tentang kerajaan (atau pemerintahan) Allah. Secara universal, hampir disetujui bahwa Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan bahwa Ia merekomendasikan perubahan pemikiran dan tingkah laku berkaitan dengan kemunculan kerajaan itu.
Meskipun ditentang beberapa orang, ada kemungkinan Yesus melanjutkan himbauan Yohanes Pembaptis agar orang-orang bertobat dan bahwa panggilan pertobatan ini merupakan persiapan untuk munculnya kerajaan itu (lihat Mrk. 1: 15; 6: 12). Yesus percaya bahwa mukjizat-Nya merupakan bukti kemunculan kerajaan itu: "Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu." (Luk. 11:20). Yesus mendesak para pengikut-Nya untuk memiliki iman kepada Allah dan saling mengampuni (Mrk. 11:22-25; Mat. 6: 14-15). Desakan ini pada dirinya sendiri, tentu saja, tidak menandai bahwa Yesus melepaskan diri dari Yudaisme. Namun hal itu mengambil nuansa yang sedikit berbeda dari sudut pemberitaan Yesus tentang kerajaan itu. Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk saling melayani dan tidak bertindak seperti para penguasa dan pemerintah pada zaman mereka, yang memerintah atas orang lain dan senang dilayani (Mrk. 10:35-45).
Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa mereka akan duduk di atas takhta dan menghakimi kedua belas suku Israel (Mat. 19:28; Luk. 22:28-30). Perkataan ini memberikan pandangan yang jelas kepada kita tentang tujuan Yesus. Ia dan murid-murid-Nya ingin mendirikan administrasi baru, tentu saja sesuai waktu Allah. Harapan ini berkaitan dengan perumpamaan tentang penyewa kebun anggur yang jahat (Mrk. 12:1-11), yang mengancam para penguasa Yahudi di Yerusalem untuk kehilangan posisi mereka. "Kebun anggur", yaitu , Israel, akan "diberikan kepada orang lain," yaitu, murid-murid Yesus. Berbeda dengan penafsiran beberapa orang Kristen dan Yahudi, penafsiran tersebut tidak berarti bahwa orang-orang dari bangsa lain atau orang Kristen dimaksudkan untuk menggantikan orang Yahudi. Penafsiran semacam itu bertentangan dengan zamannya dan tidak akurat. Yesus tampak jelas mengharapkan murid-murid-Nya sendiri, pada waktu yang hanya diketahui Allah, untuk mendirikan pemerintahan baru, untuk duduk di takhta dan menghakimi (dalam pengertian memerintah, bukan dalam pengertian menghukum). Referensi untuk "kedua belas suku" juga menyiratkan bahwa Yesus sepenuhnya mengharapkan pemulihan Israel, semua suku Israel. Hal ini berkaitan dengan panggilan untuk bertobat. Jika semua suku Israel mati bertobat, mereka semua akan dipulihkan.
Salah satu dari pelayanan Yesus yang mengejutkan dan ofensif adalah hubungan-Nya dengan "orang-orang berdosa," yaitu, dengan orang-orang yang bukan atau paling tidak, tidak tampak sebagai orang yang taat melakukan Torah (Mat. 9:10-13; Mrk. 2:15-17; Luk. 15:12). Tampaknya Yesus percaya bahwa pengampunan bisa dengan cepat dan siap sedia diberikan kepada orang yang melanggar atau mengabaikan hukum Musa. Namun pengampunan yang diberikan ini membutuhkan pertobatan dan iman (Mat. 11:20-24; 12:39-42; Luk.7:47-50; 11:29-32; 13:1-5; 15:7).
Penolakan terhadap Yesus menuntun pada unsur baru dalam khotbah dan pengajaran-Nya. Ia tidak disapa oleh imam besar ketika masuk Yerusalem (Mrk. 11:1-11). Ia mengkritik beberapa aspek kebijakan dan praktik di bait Allah (Mrk. 11:15-19). Imam-imam kepala menantang Dia dan ingin tahu dengan otoritas siapa Ia melakukan semua ini (Mrk. 12: 13-34). Yesus sekali lagi bersikap ofensif. Ia memberi peringatan kepada murid-murid-Nya untuk berhati-hati terhadap ahli Taurat yang menelan rumah janda-janda (Mrk. 12:38-40). Kemudian, sebagai ilustrasi yang hidup tentang peringatan ini, Ia meratap atas janda yang memberikan uang terakhirnya untuk pendirian bait Allah yang kaya dan, menurut pendapat beberapa orang sezaman-Nya, tamak (Mrk. 12:41-44).
Ketika mereka meninggalkan halaman bait Allah, Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa bangunan bait Allah di atas gunung itu akan diratakan dengan tanah, dan tidak ada satu batu pun yang akan dibiarkan ada di atas batu lainnya (Mrk. 13: 1-2). Tujuan-Nya atas pertobatan (dan pemulihan) nasional tertahan. Yesus mulai berbicara tentang penghukuman yang akan datang ke atas kota Yerusalem dan bait Allah di dalamnya yang terkenal di dunia (Luk. 19:41-44; 21:20-24). Dalam konteks inilah, Yesus mungkin mengucapkan kata-kata yang belakangan digunakan untuk menentang Dia selama pemeriksaan di depan Kayafas dan sidang yang berkuasa: "Kami sudah mendengar orang ini berkata: ‘Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia'.”(Mrk. 14:58).


KEMATIAN YESUS


Yesus kemungkinan besar dihukum mati karena membuat pernyataan yang dipahami musuh-musuh-Nya, pada satu segi, bersifat mesianik. Plakat yang ditaruh prajurit Romawi di atas salibnya, yang berbunyi "Raja orang Yahudi" (Mrk. 15:26) merupakan bukti utama atas pandangan ini. Ada bukti lain bahwa Yesus berpaut pada ide mesianik bahkan sekalipun Ia tidak menyatakan kemesiasan-Nya secara eksplisit (yang akan tidak sesuai, menurut harapan orang Yahudi). Bukti ini, seperti memasuki Yerusalem dengan naik seekor keledai dan diurapi, telah kita bahas.
Penyaliban Yesus oleh prajurit Romawi memberikan dukungan penting bahwa Yesus meneguhkan kemesiasan-Nya sebagai jawaban terhadap pertanyaan imam besar (Mrk. 14:61-64). Peneguhan kemesiasan-Nya itu sendiri mungkin bukan merupakan penghujatan, melainkan pernyataan duduk di atas takhta Allah, di sebelah Allah sendiri, sudah tentu dipandang sebagai penghujatan. Hal ini memperbesar keinginan untuk menyerahkan Yesus kepada prajurit Romawi.
Alasan lain mereka menghendaki kematian Yesus adalah karena ancaman-Nya terhadap kemapanan bait Allah. Ia bukan hanya menyiratkan dalam perumpamaan tentang penyewa kebun anggur yang jahat bahwa imam-imam kepala akan kehilangan posisinya, melainkan juga meramalkan bahwa karena mereka, bait Allah itu akan dihancurkan. Bahwa imam-imam kepala bisa tersinggung berat oleh retorik semacam itu digambarkan dengan jelas melalui pengalaman Yesus yang lain, anak Ananias, yang sekitar 30 tahun setelah kematian Yesus dari Nazaret berkeliling kota Yerusalem, kadang-kadang dekat dengan bait Allah, dan mengucapkan kutuk berdasarkan Yeremia 7. (Ingat bahwa kritikan Yesus terhadap kebijakan bait Allah juga didasarkan pada Yeremia 7.) Menurut Yosephus (Jewish Wars 6.300-309), orang ini ditangkap oleh imam-imam kepala. Ia kemudian diinterogasi, dipukuli dan kemudian diserahkan kepada gubernur Romawi dengan tuntutan agar ia dihukum mati. Gubernur menginterogasi dia lebih lanjut dan memutuskan untuk melepaskan dia karena dianggap sebagai orang gila yang tidak berbahaya.
Yesus dari Nazaret tidak mati karena Ia bertengkar dengan orang Farisi atas masalah penafsiran yang sah. Ia tidak mati karena mengajarkan tentang kasih, kemurahan, dan pengampunan. Yesus tidak mati karena berhubungan dengan "orang-orang berdosa". Ia tidak mati karena Ia seorang yang baik. Namun, Yesus mati karena mengancam kemapanan politis dengan prospek perubahan yang tidak diingini. Orang-orang sezaman-Nya melihat kemungkinan terjadinya kerusuhan besar atau bahkan mungkin pemberontakan besar. Para pemimpin Yahudi (yang terutama adalah imam besar dan imam-imam kepala) bertanggung jawab kepada gubernur Romawi untuk menjaga hukum dan ketertiban, dan gubernur pada gilirannya bertanggung jawab kepada Romawi. Yesus dipandang sebagai pembuat kekacauan oleh kedua kelompok penguasa ini, sebab itu Ia harus disingkirkan. Karena Yesus tidak disertai pasukan bersenjata, mereka tidak perlu menangkap salah satu pengikut-Nya. Sebab itu tidak ada pertempuran dan tidak ada darah tercurah selain penyaliban Yesus sendiri.



GEREJA MULA-MULA


Mengapa gereja mula-mula muncul ? Pertanyaan ini tidak memerlukan jawaban rumit atau panjang lebar. Gereja mula-mula muncul karena keyakinannya yang teguh bahwa Yesus telah dibangkitkan dan telah menampakkan diri kepada lusinan, bahkan ratusan, pengikut-Nya, Sejak kelahirannya, gereja mula-mula memberitakan kebangkitan Yesus. Terlepas dari kebangkitan, tidak ada alasan untuk mengembangkan dan memelihara identitas diri yang berbeda. Ajaran Yesus tidak mencela Yudaisme. Jadi, kecil kemungkinan bagi para pengikutNya yang semuanya Yahudi untuk meninggalkan atau memperbarui aspek-aspek Yudaisme, terutama sesuatu yang kontroversial seperti penginjilan kepada bangsa-bangsa non-Yahudi, tanpa mengikuti norma yang melibatkan masuknya proselit.
Keyakinan yang tidak tergoncangkan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus, yang pada gilirannya memberi perintah kepada para pengikut-Nya untuk meneruskan khotbah tentang visi kerajaanNya, inilah yang akhirnya menuntun munculnya gereja. Gereja memiliki "karakteristik yang diperlukan untuk mengatasi berbagai tantangan baru yang ia hadapi bertahun-tahun atau berpuluh-puluh rahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Gereja percaya bahwa Tuhan dan Juruselamatnya akan kembali. Namun apa yang harus ia lakukan sebelum Ia kembali ? Bagaimana ia bisa bertahan hidup, terutama dalam kaitannya dengan pertumbuhannya, terlepas dari Yudaisme, induk imannya, dan berkaitan dengan meningkatnya penganiayaan di tangan negara kafir? Tulisan Perjanjian Baru dihasilkan, sebagian, untuk menjawab pertanyaan ini.


INJIL


Menurut saya, meskipun Injil ditulis dari sudut pandang iman kepada Yesus, hal itu dapat dipercaya. Iman dan sejarah yang bisa dipercaya tidak harus bertentangan. Kriteria autentisitas, yang tampak jelas ditekankan dalam penerapannya pada Injil, meneguhkan inti penting ajaran Yesus. Kita tidak perlu menyatakan bahwa Injil bebas dari kesalahan, meskipun demi alasan teologis, banyak orang Kristen menerima Injil sedemikian, dan bahwa setiap perkataan dan perbuatan yang dianggap dilakukan Yesus sesuai dengan sejarah. Namun pernyataan bahwa Injil tidak dapat dipercaya, penuh mitos dan legenda dan dengan demikian penuh bias, sehingga pengetahuan tentang apa yang sesungguhnya dikatakan dan diperbuat Yesus tidak bisa dipulihkan, terlalu berlebihan dan tidak beralasan. Bahkan Jesus Seminar, yang kesimpulannya ekstrem dan yang asumsi dan metodenya salah dan menyimpang, mengesahkan beberapa bagian esensial dari intinya. Jesus Seminar telah menyajikan pandangan tentang Yesus yang miring kepada masyarakat, secara pasti, tetapi anggota-anggotanya bagaimanapun juga menyimpulkan bahwa Yesus memberitakan tentang kerajaan Allah dan berhubungan dengan orang berdosa.
Memang benar bahwa Injil mungkin memberi tahu kita banyak hal tentang pergumulan masing-masing penulisnya (yang merupakan tugas kritisisme redaksi) dan bahkan mungkin memberi tahu kita sesuatu tentang orang-orang Kristen mula-mula mewariskan tradisi (yang merupakan tugas kritisisme bentuk), tetapi pergumulan utama para penulis adalah mengisahkan ajaran dan perbuatan Yesus. Kata-kata dan teladan-Nya dipandang normatif. Sejak awal, ada bukti bahwa perkataan Yesus dipandang setara dengan Alkitab, yang dalam konteks Yahudi merupakan hal yang luar biasa.
Melihat penghargaan yang begitu tinggi terhadap perkataan Yesus, kecil kemungkinannya orang-orang Kristen mula-mula dengan semau-maunya mengarang perkataan dan kemudian menganggapnya diucapkan Yesus. Sesungguhnya, pernyataan yang sering didengar bahwa banyak perkataan yang lahir sebagai jawaban atas pertanyaan atau isu yang dihadapi gereja mula-mula diragukan melalui pengamatan isu ini (seperti terlihat dalam surat-surat Perjanjian Baru) tidak dibahas di mana pun juga dalam perkataan Yesus. Ada ketidaksepakatan atas pertanyaan tentang sunat, makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, karunia rohani, hubungan antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain, dan kualifikasi untuk pejabat gereja, tetapi tidak ada perkataan Yesus yang membahas pertanyaan-pertanyaan ini. Hal ini menunjukkan bahwa para penulis Injil tidak punya kebiasaan untuk membuat-buat berita. Jadi kita punya alasan untuk menyimpulkan (sekali lagi, tanpa melibatkan dogma teologis) bahwa Injil melaporkan unsur-unsur utama ajaran, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dengan akurat dan jujur.

IMAN KRISTEN DAN KISAH YAHUDI

Pengikut Yesus paling awal adalah orang-orang Yahudi. Awalnya, gereja terdiri dari orang Yahudi sampai setelah perang utama melawan Romawi (66-70 M), dan sebelum perang Bar Kokhba yang menimbulkan bencana besar (132-135 M) gereja Yahudi di Yerusalem sampai pada kesudahannya dan uskup dari bangsa lain menggantikan uskup Yahudi di sana. Diperlukan berabad-abad sebelum pengikut Ebionit (orang Kristen Yahudi) akhirnya berhenti menjadi denominasi yang berbeda dalam kekristenan dan tetap hidup. Dengan demikian, bagi ahli Yahudi dan Kristen saat ini, asal mula Yudaisme dan kekristenan membentuk kisah rumit yang menarik, di mana benang-benang kusutnya tidak perlu diurai.
Kisah Kristen berasal dari kisah Yahudi. Sesungguhnya, banyak orang Yahudi Mesianik saat ini percaya bahwa kekristenan masih tetap kisah Yahudi. Pemberitaan Injil mula-mula -"Yesus sudah bangkit" - merupakan bagian dari kisah Yahudi. Kekristenan adalah gerakan Yahudi yang berakar pada keyakinan bahwa Allah pada akhirnya menggenapi janji-Nya kepada Abraham dan Daud, bahwa Ia pada akhirnya telah menggenapi nubuat yang tidak terhitung jumlahnya, dan bahwa Ia akhirnya telah mendirikan Kerajaan Allah. Gerakan Yahudi yang baru dan enerjik ini menjangkau bangsa-bangsa lain dan membawa mereka untuk menundukkan diri pada ajaran Yesus, orang Yahudi, Mesias Israel. Israel sekarang sungguh-sungguh menjadi "terang bagi bangsa-bangsa" (Yes. 49:6) dan terlibat dalam tugas yang akan memunculkan kemuliaannya (Luk. 2:32).
Ironisnya, Kekaisaran Romawi yang menghancurkan negara Israel dalam serangkaian perang untuk menghukum Israel (dari 66-135 M) pada dirinya sendiri diserbu oleh iman mesianik yang berakar pada Alkitab suci Israel dan keyakinan kunonya pada Allah Abraham. Orang-orang dari bangsa-bangsa lain yang diundang untuk memainkan peranan dalam kisah yang menarik ini tidak boleh melupakan penulis kisah dan pemain Yahudinya.
Kisah sejati tentang Yesus sejarah sangat menarik dan memberi ilham. Kisah ini mungkin merupakan cerita lama, tetapi jauh lebih memukau daripada versi cerita Yesus yang lebih baru, radikal, minimalis, revisionis, sekaligus kabur dan pudar yang telah dikemukakan akhir-akhir ini. Arkeologi yang terus-menerus dilakukan, penemuan yang terus-menerus berlangsung dan riset tentang dokumen kuno akan terus memancarkan terangnya pada kisah tua ini. Penemuan tersebut mungkin memerlukan penyesuaian di sana sini. Namun sejauh ini, penemuan tersebut cenderung meneguhkan bahwa Injil dapat dipercaya dan menyangkal teori-teori baru. Saya curiga bahwa riset terus menerus yang jujur dan kompeten akan menghasilkan hal yang sama.


* Sumber : Merekayasa Yesus – Membongkar Pemutarbalikan Injil oleh Ilmuwan Modern, Terjemahan Indonesia oleh Penerbit Andi tahun 2007, Judul asli : Fabricating Jesus, 2005 By Craig Evans

♥ HATIMU MUNGKIN HANCUR, NAMUN BEGITU JUGA HATIKU

 ♥ *HATIMU MUNGKIN HANCUR, NAMUN BEGITU JUGA HATIKU* sumber: https://ww3.tlig.org/en/messages/1202/ *Amanat Yesus 12 April 2020* Tuhan! Ini ...