Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Monday, November 26, 2007

10 Argumen Melawan Harry Potter

Sumber : http://www.lifesite.net/ldn/2005/jul/05071301.html

Diterjemahkan oleh Leonard T. Panjaitan

10 [Sepuluh] Argumen Melawan Harry Potter – Ditulis oleh Seorang Wanita Yang Melakukan Korespondensi dengan Kardinal Ratzinger

Gabriele Kuby author of Harry Potter: Good or Evil

Gabriele Kuby Penulis Tentang Harry Potter : Baik atau Jahat

1. Harry Potter adalah proyek dengan terma global yang panjang untuk mengubah suatu budaya. Di generasi muda saat ini, sikap untuk menahan diri terhadap magis dan klenik [occult] sedang dihancurkan. Dengan demikian, ada semacam kekuatan yang masuk kembali ke dalam masyarakat yang mana Kekristenan telah mengatasinya.

2. Hogwarts, sebuah sekolah magis dan ilmu sihir, adalah sebuah dunia kekerasan dan horor yang tertutup, dunia kutukan dan pesona, dunia ideologi rasis dan korban darah, kejijikan dan obsesi. Terdapat suatu atmosfir ancaman yang berkesinambungan yang mana para pembaca tidak dapat melewatkannya.

3. Sementara Harry Potter muncul pada awalnya untuk melawan kejahatan, tapi nyatanya kemiripan antara Dia dengan Voldermort, musuh besarnya dalam cerita tersebut, lama-lama menjadi semakin jelas. Dalam Volume kelima, Harry sedang kerasukan Voldermort, yang mengakibatkan timbulnya gejala-gejala disintegrasi kepribadian.

4. Dunia manusia mengalami degradasi, dunia para tukang sihir menjadi dimuliakan.

5. Tidak ada dimensi transendental yang positif. Hal-hal supernatural seluruhnya bersifat demonic [iblis-jahat]. Simbol-simbol ilahi dinodai.

6. Harry Potter bukanlah kisah atau cerita dongeng modern. Dalam cerita-cerita dongeng, para tukang sihir adalah figur iblis yang ambigu. Pahlawan melepaskan kekuatan mereka melalui kebaikan. Dalam cerita ini dunianya Harry Potter, tidak ada karakter yang berusaha keras secara konsisten untuk mencapai kebaikan. Karena apa yang nampaknya menjadi tujuan yang baik maka cara-cara jahat akan digunakan.

7. Kuasa pembeda untuk membedakan hal yang baik dengan yang jahat dari para para pembaca dihalang-halangi melalui manipulasi emosional dan kebingungan intelektual.

8. Hal ini adalah suatu serangan terhadap generasi muda, merayu mereka secara penuh permainan ke dalam sebuah dunia sihir dan klenik, lalu mengisi imajinasi anak-anak muda dengan gambar dari sebuah dunia dimana iblis berkuasa yang daripadanya tidak ada jalan keluar malah sebaliknya, dunia iblis digambarkan begitu diinginkan.

9. Mereka yang menilai berbagai pendapat tentang Harry Potter boleh menentang kuasa yang hampir besar sekali yang menekan kelompok anak-anak tersebut, yang sedang dikerjakan melalui korporasi raksasa dan serangan multi media – salah satunya menayangkan elemen-elemen dari pencucian otak secara totaliter.

10. Karena melalui buku-buku Harry Potter ini maka iman kepada Allah yang penuh kasih secara sistematis dirusakkan, bahkan dihancurkan dalam diri orang-orang muda melalui “nilai-nilai” palsu dan penghujatan terhadap Kebenaran Judeo-Kristen. Pengenalan buku-buku ini di sekolah-sekolah tidak bisa ditolerir. Para orang tua seharusnya menolak ijin bagi anak-anak mereka untuk mengambil bagian dalam indoktrinasi Harry Potter demi alasan iman dan hati nurani.

2 comments:

Anonymous said...

Saya heran, mengapa novel fiksi seperti Harry Potter dibahas, bahkan oleh Kardinal Ratzinger?

Bukankah fiksi lain seperti Frankenstein, dsb juga mencerminkan proses penciptaan secara "ilmiah" (baca: versi fiksi), sehingga potongan tubuh manusia mati bisa menjadi satu makhluk hidup?

Leonard Panjaitan said...

Mengapa buku "fiksi" Harry Potter dibahas ? Karena dengan kepintarannya, J.K Rowling mau "membodohi" para pembacanya, yakni anak-anak kecil dari imajinasi tentang kekuatan "white magic". Ini berbahaya karena secara psikologis bedampak buruk buat anak-anak terutama mereka yang masih lemah secara keimanan. Sama halnya kalau ada sebuah buku fiksi laris manis yang didalamnya mengandung hal-hal pornografi, yang juga dibaca anak-anak. Akankah kita tidak bereaksi ?