Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Wednesday, September 19, 2007

St. Hieronimus Dalam Contra Helvedius



Diterjemahkan oleh Pater Gabriel Rehatta [Gereja Orthodox Indonesia - Paroki Ephipania Agia Sophia - Kalimalang Jakarta Timur]

Disunting oleh Leonard T. Panjaitan


St. Hieronimus

Dalam Contra Helvedius


I. Kehidupan St. Hieronimus


Tradisi mencatat bahwa Hieronimus adalah seseorang yang terpelajar di zamannya. Dasar dari pendidikannya sangatlah tak tertandingi dan tinggi terutama dalam ilmu retorika serta sastra klasik, hal ini membuatnya menjadi seorang penulis yang istimewa dalam kesusasteraan latin. Hieronimus lahir di kola Stricto di Dalmatia sekitar tahun 342. Pada saat ia berumur sebelas tahun dia melanjutkan studinya ke kota Roma, dimana di sana ia dibaptiskan ketika ia mencapai umur sembilan belas tahun. Sebagai seorang pemuda ia mempunyai banyak kegiatan, tetapi sering ia mengunjungi biara dan merasakan hidup membiara untuk beberapa waktu lamanya, dalam pengalamannya di biara-biara inilah ia berkesempatan untuk mengenal tulisan-tulisan dari para Bapa Gereja, terntama yang hidup sezamannya, seperti St. Agustinus dari Hippo dan St. Ambrosius dari Milan.

Pada umur 30 tahun Hieronimus pindah ke daerah Suriah dan tinggal sebagai seorang rahib selama tiga tahun. Setelah ditahbiskan menjadi seorang imam, Hieronimus pergi ke kota Konstantinopel untuk lebih mendalami tulisan-tulisan dari para Bapa Gereja dari Timur, seperti St. Gregorius dari Nyssa dan St. Basilius dari Kapadokia dan St. Gregorius Nazianzus. Hieronimus muda sangatlah fasih dengan bahasa Yunani dan Ibrani, ia juga belajar ilmu menafsir Kitab Suci dan menjadi seorang penafsir yang handal di zamannya. Pada tahun 382 ia di minta oleh Paus St. Damasus untuk menjadi sekretaris pribadinya, selain itu Hieronimus juga mendirikan banyak biara-biara. St. Damasus juga meminta Hieronimus untuk memperbaiki terjemahan Latin dari Kitab Perjanjian Baru. Setelah Paus St. Damasus wafat, Hieronimus memutuskan untuk kembali ke daerah Timur Tengah dan menetap di Bethlehem, ia tinggal di sebuah gua tepat berdampingan dengan gua dimana Kristus dilahirkan.

Di Timur tengah inilah ia banyak menghabiskan waktunya untuk berdoa, belajar dan menulis. Setelah menetap di Bethlehem selama lebih dari tiga puluh empat tahun, ia berhasil merampungkan Magnum Opus-nya (Karya Agung) yaitu seluruh Kitab Suci yang diterjemahkannya dari bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam bahasa Latin, sekarang biasa disebut dengan Vulgata. Karya agung ini diselesaikannya selama 20 Tahun. Selain karya Kitab Suci, ia juga banyak menulis surat-surat dan karya apologetika, salah satunya adalah Apologetika pembelaan tentang Keperawanan Bunda Maria, yang diterjemahkan di bawah ini. Hieronimus wafat pada tahun 419 atau 420 Masehi, ia dikuburkan di gua Bethlehem tempat ia belajar, berdoa dan menulis, dikemudian hari relikwi tubuh dari Pujangga Gereja ini dipindahkan di Gereja Basilika St. Maria Major di kota Roma.

II. Pribadi Hieronimus

Dari buah penanya, kita dapat melihat bahwa Hieronimus adalah orang yang cukup tajam serta keras. Tak jarang kata-katanya tajam dan sedikit menyakitkan, walaupun surat dan tulisannya ditulis dengan gaya bahasa yang tinggi dan indah dan tak jarang puitis, tetap saja temperamennya yang lekas 'naik darah' serta tak ragu menegur orang lain yang dia anggap salah, sangatlah terlihat dengan jelas.

Dan beberapa catatan sejarah, sewaktu muda ia dikenal sering membuat argumentasi­argumentasi yang dalam, yang diciptakannya dari pembicaraan sehari-hari dan sepele. Ia gemar bermati-raga serta berpuasa, sebagai rahib ia hanya tidur beralaskan lantai serta hidup hanya dari roti dan air sebuah tradisi Monastik Gereja Timur (tradisi xerophagia) yang ia pegang dengan keras. Seringkali biara serta tempat pertapaan Hieronimus di hancurkan oleh kaum kafir dan bidat sesat, tetapi Hieronimus tidak pernah lelah dalam menghasilkan karya-karya sastra Gereja.

III. Kontroversi Helvedius dan apologetika Hieronimus

Di zaman Hieronimus terdapat dua bidat yaitu Helvedius dan Jovinian, keduanya menyerang keperawanan Maria. Helvedius sebenamya hanya seorang awam biasa, ia seorang warganegara Romawi serta sahabat dari Uskup Auxentius dari Milan, Uskup Auxentius adalah penganut bidat Arianisme (bidat yang menolak keilahian dari Yesus Kristus). Helvedius menyatakan Maria hanya sekedar model teladan dalam hidup. Keperawanan Maria baik sebelum ataulah setelah kelahiran Kristus tidak diakuinya, walaupun ia menganggap Maria sebagai model istri dan ibu teladan. Ia banyak mengambil teologi dari Tertulian, seorang gerejawan yang terpengaruh dengan bidat Montanisme.

Menurut Helvedius, saudara-saudara Yesus yang ditulis dalam injil adalah anak-anak hasil hubungan suami-istri antara St. Yosef dan Bunda Maria, setelah kelahiran Yesus Kristus. Dalam thesisnya Hieronimus juga menolak sebuah tradisi apokrifa yang menyatakan bahwa Yusuf adalah seorang duda yang tua dan telah mempunyai anak, tradisi ini masih diimani oleh Gereja-Gereja Timur, khusunya dalam tradisi Gereja Orthodox. Menurut Hieronimus saudara-saudara Yesus disini hanyalah berarti sepupu sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Ibrani secara sederhana.

Hieronimus menjawab tantangan Helvedius akan teori ini dengan membuat sebuah uraian thesis teologis yang berjudul : "Tentang Keperawanan Kekal dari Maria, Melawan Helvedius" atau yang biasa disebut dengan judul: "Contra Helvedius". Thesis dari Hieronimus juga mengangkat keutamaan hidup dalam kesucian (keperawanan) disamping juga mengulas detail Kitab Suci yang berkenaan dengan Keperawanan Maria. Hieronimus dalam tulisan ini walaupun tepat mengenai sasaran tetapi juga menggunakan gaya bahasa sarkasme dan ironi yang cukup tajam. St. Hieronimus juga membuat sebuah pembelaan lain dalam tema yang sama (Keperawanan Kekal dari Bunda Allah), tetapi kali ini lawan yang dihadapinya adalah bidat Jovinian.

Bagi St. Hieronimus, membela keperawanan Maria berarti juga menggarisbawahi keutamaan hidup suci dan terkonsekrasi bagi Allah. Patut diketahui bahwa pada zaman St. Hieronimus terdapat sebuah hubungan erat antara berkembang pesatnya hidup membiara dan devosi yang tinggi kepada Sang Perawan Maria.

IV. Tentang Keperawanan Kekal dari Maria " Contra Helvedius"

Berikut ini adalah tulisan St. Hieronimus terhadap bidat Helvedius :

1. Tidak berapa lama waktu yang lain, saya telah diminta oleh seorang saudara untuk menjawab sebuah pamflet yang ditulis oleh Helvedius. Memang saya telah menunda untuk melakukan hal ini, bukan karena adalah hal yang sulit untuk membela kebenaran dan menentang orang bodoh itu (Helvedius) yang pengetahuannya terbatas akan gemilangnya ilmu pembelajaran, sebenarnya saya menundanya, karena saya takut bahwa jawaban saya (atas masalah) ini akan membuat dia seakan layak untuk dikalahkan. Juga ada pertimbangan lain bahwa teman kita yang terganggu jiwanya ini yang adalah satu-­satunya orang di dunia ini yang merasa dirinya adalah orang awam dan imam, sesorang yang menganggap bahwa kefasihan lidah itu sama dengan kecerewetan, seseorang yang menganggap bahwa berbicara yang jahat tentang sesorang sebagai sebuah kesaksian dari nurani yang baik, maka pertimbangan saya adalah; jika saya akan melawannya maka hujatan yang dilakukannya akan menjadi lebih buruk daripada sebelumnya. Dia akan berdiri bagaikan di atas altar dan akan menerbitkan pemikirannya secara jauh dan luas. Juga ada pertimbangan bahwa jika kebenaran mengalahkannya maka ia (Helvedius) akan memburu lawannya dengan senjata pencideraan (secara fisik).

Tetapi semua alasan yang membuat saya berdiam diri ini pada akhimya malah membuat saya berhenti berdiam oleh karena skandal yang dibuatnya telah membuat beberapa saudara menjadi jijik oleh karena keliarannya (pengajaran). Kapak dan Injil telah diletakkan (dan akan segera diayunkan untuk menebas) di akar dari pohon yang mandul, agar akar dan dahan-dahannya yang kering dapat dicampakkan ke dalam api, sehingga Helvedius yang tak pernah belajar untuk berbicara untuk selamanya mengekang lidahnya.

2. Saya harus memohon kepada Roh Kudus agar Dia boleh menyatakan PengertianNya melalui mulutku dan membela Keperawanan abadi dari Sang Perawan Maria Yang Terberkati. Saya harus memohon kepada Tuhan Yesus agar Dia menjaga tempat tinggal suci yaitu rahim di mana Ia telah tinggal selama sembilan bulan, agar Dia membelanya dari segala keraguan dan kecurigaan akan adanya hubungan suami-istri (yang dikatakan telah terjadi). Dan saya juga harus memohon kepada Allah Sang Bapa agar Ia menunjukkan Sang Bunda dari PuteraNya yang adalah sudah menjadi seorang Bunda sebelum ia menjadi seorang mempelai dan tetap sebagai seorang Perawan setelah ia melahirkan Putranya.

Saya tidak mempunyai gairah untuk menunjukan kefasihan lidah ataupun memakai jebakan-jebakan logika ataupun memakai pemikiran (filsafat) Aristoteles. Yang saya akan pakai hanyalah kata-kata dari Kitab Suci. Biarlah ia ditentang oleh bukti-bukti (dari Kitab Suci) yang sama yang ia pakai untuk melawan kita, sehingga ia boleh melihat bahwa adalah sesuatu yang mungkin baginya untuk membaca apa yang ditulis (dalam Kitab Suci) tetapi tetap tidak mengerti apa yang disebut sebagai iman yang benar.

3. Pernyataan (Helvedius) yang pertama adalah ia mengutip St. Matius yang berkata : Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus : perhatikan di sini Helvedius mengatakan bahwa ia (Matius) menggunakan istilah bertunangan bukan dipercayakan sebagaimana yang dikatakannya, dan satu-satunya alasan bahwa ia dipertunangkan agar suatu hari ia akan dinikahkan.

Matius (menurut Helvedius) tidak akan berkata bahwa mereka (Yusuf dan Maria) telah berhubungan sebagai suami dan istri kalau kenyataannya mereka belum pernah berhubungan sebagaimana kita tidak dapat mengatakan bahwa seseorang A akan makan kalau kenyataannya si A itu tidak akan makan. Lalu lagi ia menyebutkan bahwa Malaikat menyebut Maria sebagai istri dan berbicara tentang dia sebagai sesorang yang telah dipersatukan dengan Yusuf. Lalu kita diundang lebih jauh dalam pernyataan Helvedius tentang Kitab Suci : Lalu Yusuf bangun dari tidurnya dan sebagaimana yang diperintahkan oleh Malaikat Tuhan dan mengambil Maria sebagi istrinya tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki.

  1. Helvedius mempertentangkan pendapatnya sendiri

Marilah kita memperhatikan hal di atas satu-persatu dan mempelajari jejak ketidaksalehan yang telah membuat ia (Helvedius) berkontradiksi terhadap dirinya sendiri. Ia (Helvedius) menyatakan bahwa Bunda Maria telah ditunangkan tetapi segera ia menyatakan lagi bahwa Maria sebenarnya telah menjadi istri dari pria yang menjadi tunangannya. Ia menyebut Maria sebagai istri dengan alasan bahwa ia (Maria) ditunangkan agar supaya satu hari ia kelak menjadi istri. Helvedius mengatakan bahwa kalau yang digunakan adalah "dipertunangkan" bukan "dipercayakan" maksudnya ini sama dengan mengatakan bahwa Maria belum menjadi istri dan belum dipersatukan dengan ikatan pemikahan. Dan ketika ia (Helvedius) melanjutkan ia mengatakan: "Penulis Injil tidak akan menggunakan kata-kata bahwa mereka (Yusuf dan Maria) telah berhubungan sebagai suami dan istri kalau kenyataannya mereka belnm pernah berhubungan (sebagaimana suami istri) dalam hal yang sama kita dapat mengatakan bahwa seseorang akan makan kalau kenyataannya ia tidak akan makan.

Saya tidak tahu apakah saya harus tertawa atau sedih terhadap pernyataan ini. Haruskah saya mengatai dia sebagai orang bodoh ataukah saya harus menuduh dia sebagai orang yang sembrono. Hal ini sama seperti apabila seseorang mengatakan: "Sebelum saya makan di pelabuhan saya sudah berlayar dulu ke Afrika", kata-kata orang ini tidak ada gunanya kalau benar-benar ia satu hari merasa harus makan di pelabuhan. Jika saya memilih untuk berkata, "Sebelum Paulus pergi menuju Spanyol, Paulus dipenjara dan dibelenggu di Roma", hal ini sama saja seperti mengatakan “Helvedius sudah dijemput oleh kematian sebelum dia bertobat", haruskah Paulus dibebaskan terlebih dahulu baru berangkat ke Spanyol atau haruskah Helvedius bertobat sebelum ia mati, walaupun Kitab Suci mengatakan: siapakah yang akan memujiMu di dunia orang mati ? Bukankah kita harus mengerti kata preposisi "sebelum", walaupun kata ini sering menunjukan berdasarkan urutan waktu tetapi kadang juga menunjukan berdasarkan pengertian.

Ketika Sang Penginjil mengatakan: "sebelum mereka hidup sebagai suami isteri" (Mat 1:18)... yang dimaksud oleh Matius adalah waktu sebelum mereka (Maria dan Yusuf) menikah, dan menunjukan bahwa Bunda Maria yang telah ditunangkan ada pada jenjang terakhir menuju sebelum menjadi istri. Seakan Matius mengatakan sebelum mereka bertemu dan berhubungan suami istri, Maria telah diketemukan dalam keadaan mengandung. Dan dalam keadaan demikianlah, Maria diketemukan oleh Yusuf, yang seakan melihat dengan khawatir pada rahim yang membesar dari tunangannya, pada saat ini tidak dikatakan sesuai dengan pernyataan (Helvedius) bahwa Yusuf melakukan hubungan suami istri dengan Maria. Keinginan Yusuf untuk memiliki Maria hilang ketika ia mengetahui bahwa istrinya telah mengandung.

Walaupun juga kita menemukan dalam Kitab Suci bahwa Malaikat telah menyatakan didalam mimpi: "Jangan takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu" dan lagi "Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya" kita tak perlu merasa terganggu oleh hal ini sebab adalah hal yang biasa didalam tradisi Kitab Suci untuk menyebut wanita yang dipertunangkan sebagai Istri ! Bukti berikut ini ditegaskan oleh Kitab Keluaran : Tetapi jikalau dipandang laki-laki itu bertemu dengan gadis yang telah bertunangan itu, memaksa gadis itu untuk dengan dia maka hanyalah laki­-laki yang tidur dengan gadis itu karena ia telah merendahkan isteri sesamanya (Ulangan 22:25-27).

Dan di tempat lain dikatakan: Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan - jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa keluar kota dan kamu lempari dengan batu sehingga mati….dan laki-laki itu karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia (Ulangan 22:23-24) di tempat lain juga dijelaskan: Dan siapakah yang telah ditunangkan dengan istrinya dan belum mengawininya...(Ulangan 20:7). Tetapi kalau seserang merasakan adanya keraguan tentang mengapa Sang Perawan mengandung setelah bertunangan bukan sebelum ia bertunangan dengan siapapun atau dengan meminjam bahasa Kitab Suci: "belum bersuami", maka biarlah saya menjelaskan dengan tiga alasan;

a. Pertama yaitu dengan silsilah dari Yusuf dimana terdapat keturunan leluhur Maria, sehingga asal-usul Maria juga turut dinyatakan.

b. Kedua supaya ia tidak dirajam sebagai seorang pezinah sesuai dengan hukum Taurat Musa.

c. Ketiga sehingga dalam pelariannya ke Mesir dia mendapatkan kenyamanan, dimana Yusuf bertindak lebih sebagai pelindungnya daripada sebagai seorang suami.

Sebab siapakah pada saat itu yang dapat percaya penjelasan dari Sang Perawan bahwa bayi yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus dan bahwa Malaikat Gabriel telah datang dan memberitahukan rencana Allah ? Dan bukankah semua orang pasti akan menuduh Bunda Maria sebagai seorang pezinah, seperti yang dialami oleh Susana (Kisah Susana dalam Kitab Tambahan Daniel). Untuk masa kini dimana sebagian besar dunia telah memeluk iman Kristiani, orang-orang Yahudi masih berdebat ketika Nabi Yesaya berkata: Seorang perawan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-Iaki... (Yesaya 7:14), kata dalam bahasa Ibrani disini menggunakan kata yang berarti seorang perempuan muda, bukan seorang perawan, kata yang digunakan adalah almah (wanita muda) bukan bethulah (perawan), hal ini akan kita diskusikan lagi dengan detail nantinya.

Terakhir, dengan mengecualikan Yusuf, Elisabeth dan Maria serta beberapa orang lainnya yang mungkin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya mengenai kehamilan Maria, maka kemungkinan besar semua orang lain tentunya menganggap Yesus adalah anak dari Yusuf. Bahkan lebih jauh lagi tentang hal ini para penulis injil menekankan sebuah pendapat yang tak terkalahkan sehingga menjadi pedoman bagi banyak ahli sejarah yang memanggil Yusuf sebagai ayah dari Sang Juru Selamat sebagai contohnya: Dan Ia (Simeon) datang ke bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus Anak itu dibawa masuk oleh orang tuaNya (Lukas 2:27) dan di tempat lainnya: Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. (Lukas 2:41).

Juga setelah itu: tinggalah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui oleh orang tuaNya (Lukas 2:43). Mengenai Yusuf perhatikanlah jawaban Maria kepada Malaikat Gabriel: Bagaimanakah ini mungkin terjadi, melihat saya tidak mengenal laki-Iaki (Lukas 1:34 terjemahan secara literal dari bahasa Yunani). Juga mengenai Yusuf dituliskan: Nak mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami ? BapaMu dan aku dengan cemas mencari Engkau (Lukas 2:48). Di sini kita tidak menemukan apa yang menjadi pendapat orang Yahudi atau para pencemooh lainnya. Para penulis Injil menyebut Yusuf sebagai "bapa" Maria juga mengakuinya sebagai bapa. Tetapi tidak sebagai ayah kandung dari Sang Juruselamat, tetapi ia menjadi bapak untuk menjaga reputasi dari Bunda Maria, sehingga ia dianggap oleh semua orang sebagai bapak dari Yesus, walaupun sebelum ia mendengar nasehat dari malaikat Tuhan, ketika ia ingin meninggalkan Maria secara diam-diam, malaikat yang berkata: Yusuf anak Daud janganlah takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu sebab bayi yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus (Matius 1:20), hal ini menunjukan bahwa ia benar-benar tahu dengan pasti bahwa anak yang dikandungya adalah bukan miliknya. Tetapi kita telah cukup mendiskusikan dengan tujuan untuk mengajar lawan kita (Helvedius) daripada menjawabnya, untuk menunjukan mengapa Yusuf disebut sebagai ayah/bapak dari Tuhan kita dan mengapa Maria disebut isteri Yusuf, (hubungan penikahan mereka yang dijelaskan oleh penginjil adalah untuk melindungi Maria bukan untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam pernikahan mereka). Hal ini juga sekaligus menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan saudara-saudara Yesus.

  1. "Sampai"

Hal ini adalah sebuah hal yang nantinya akan menemukan tempat yang tepat untuk dijelaskan nantinya. Sekarang kita harus menjelaskan tentang hal-hal yang lain. Hal yang harus dijelaskan sekarang adalah: "Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-Iaki dan Yusuf menamakan Dia Yesus (Matius. 1:24-25). Menurut Helvedius kata "sampai" disini menunjukkan kepada suatu tenggang waktu yang telah ditentukan dengan pasti dan setelah tenggang waktu ini tergenapi (selesai) maka hal-hal yang tertunda akan segera dilakukan atau terjadi, dalam kasus ini adalah masalah: "tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki" adalah sudah jelas menurut Helvedius bahwa setelah Maria melahirkan maka persetubuhan itu terjadi, dan hanya terhenti sementara oleh karena kehamilan dari Bunda Maria, untuk membela pendapatnya ini, Helvedius menumpuk teks demi teks dan mengancung-ancungkan pedangnya seperti layaknya seorang gladiator buta, ia sungguh sangat ribut dengan lidahnya yang berisik dan akhirnya ia hanya melukai dirinya sendiri.

6. Jawaban kami tentang hal ini adalah singkat saja, di dalam bahasa dari Kitab Suci kata-kata "mengenal" dan "sampai" sering mempunyai arti ganda. Kata "mengenal" bisa saja berarti sebuah hubungan seksual dan juga berarti : mempunyai pengertian ("mengetahui"). Seperti contohnya: Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya (Lukas 2:43). Sedangkan untuk kata "sampai", Helvedius ditentang oleh otoritas yang sama yaitu oleh Kitab Suci, Kitab Suci yang sering memakai kata "sampai" untuk menunjukan penggunaannya bagi waktu yang tidak terbatas (kekal), hal ini dinyatakan oleh Nabi Yesaya: "Bahkan sampai pada masa tuanya aku tetaplah Dia" (Yesaya 46:4). Apakah Ia akan berhenti menjadi Allah mereka ketika mereka mencapai usia yang lanjut? Bahkan Juruselamat kita dalam kitab Injil berkata, "Lihatlah bahwa Aku akan selalu menyertai engkau sekalian bahkan sampai pada kesudahan zaman" (Matius 28:20b). Apakah Tuhan akan meninggalkan para RasulNya jika kesudahan zaman akan tiba? Dan Tuhan mengatakan bahwa mereka pada akhir zaman akan duduk di atas 12 tahta dan menghakimi 12 suku Israel, apakah ketika ini terjadi Tuhan tidak akan bersama-sama dengan mereka lagi? Lagi Rasul Paulus menulis bagi umat di Korintus katanya " Karena Ia (Kristus) harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakan semua musuhNya dibawah telapak kakiNya (I Korintus 15:25).

Walaupun pasal tadi yang berhubungan dengan kodrat kemanusiaan Kristus, kita tidak menyangkal bahwa ayat ini menerangkan tentang Dia yang telah mengalami salib dan duduk diatas tahkta di sebelah kanan Allah Bapa. Apakah yang dimaksud dengan : Ia (Kristus) harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakan semua musuhNya di bawah telapak kakiNya ? Apakah Tuhan hanya akan memerintah hanya sampai musuh-musuhNya diletakkan di bawah kakiNya, dan apakah ketika ini telah terjadi la tidak memerintah lagi? Tidak tentunya, KepemerintahanNya akan mencapai pada puncaknya ketika musuh-musuhNya diletakkan dibawah kakiNya (Lukas 1:33, Wahyu 11:15).

Daud pun dalam nyanyian ziarahnya yang keempat (Mazmur 123) berkata: lihat seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita sampai Ia mengasihani kita (Mazmur 123:2). Apakah mata Daud akan berhenti melihat TUHAN ketika ia mendapat belas kasihanNya ? Dan lagi: Mataku sangat merindukan keselamatan daripadaMu dan merindukan janjiMu yang adil (Mazmur 119:123). Saya dapat saja mengumpulkan ribuan contoh penggunaan dari kata "sampai" ini dan menutup musuh kita yang banyak omong itu dengan ribuan bukti-bukti yang bagaikan awan mendung di langit, tetapi saya hanya akan tambahkan beberapa yang lain agar supaya para pembaca sekalian dapat menemukan sendiri contoh­-contoh yang semacam ini dalam Kitab Suci.

6. Firman Tuhan dalam Kitab Kejadian: Dan mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikehm dan benda tersebut telah hilang sampai pada hari ini (Kejadian 35:4), Juga seperti yang ada dalam Kitab Ulangan : 5 Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di bentangan Bet­Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini (Ulangan 34:5-6). Kita harus mengerti bahwa kata "sampai hari ini" adalah sebuah kata yang mempunyai makna historis, baik dalam pandangan Musa penulis Pentatukh (lima kitab Musa) atau menurut Nabi Ezra yang adalah editor dari kitab-kitab tersebut. Keduanya tidak akan saya pertanyakan. Pertanyaannya adalah apakah kata-kata : "sampai hari ini" adalah menunjukan kepada waktu sampai buku-buku ini diterbitkan atau menunjukan kepada waktu penulisan dari buku-buku ini, kalau memang begitu maka adalah bagi dia untuk menunjukan bahwa sekarang setelah bertahun-tahun lewat, bahwa berhala-berhala tersebut di bawah pahon itu telah diketemukan atau kuburan Nabi Musa telah diketemukan sebab ia (penulis kitab Musa) bersikeras bahwa apapun yang belum terjadi (penemuan berhala serta kuburan Musa) yang diindikasi dengan kata "sampai" diatas belumlah tercapai.

Helvedius haruslah mengerti tentang masalah idiomatik dari Kitab Suci di sinilah ia seakan ia terjebak dalam lumpur, bahwa ada beberapa hal yang kelihatannya mempunyai arti ganda (ambigu), jikalau tidak maka akan diterangkan dengan jelas, sedangkan untuk hal yang lain kita harus melatih intelektualitas kita. Sebab jikalau kejadian-kejadian Kitab Suci masih segar dan kita hidup di zaman itu tentunya kuburan Musa memang belum diketemukan, lebih lagi sekarang setelah berabad-abad lewat, kuburannya masih belum diketemukan. Hal ini jugalah sama dalam kita mengintepretasikan apa yang dituliskan mengenai Yusuf, (suami Maria).

Penulis Injil menunjukan keadaan yang mungkin akan menimbulkan skandal yaitu Maria tidaklah pernah berhubungan suami-istri sampai ia melahirkan Puteranya, dan ia (Penulis Injil) menunjukkan hal ini agar kita yakin bahwa dia (Maria) yang darinya Yusuf tidak pemah berhubungan ketika adanya tempat bagi kita untuk meragukan hal ini, sekali lagi bertujuan untuk mempertegas bahwa tidak adanya hubungan suami istri sampai setelah melahirkan.

8. Singkat kata yang saya ingin ketahui adalah mengapa Yusuf tidak berhubungan dengan Maria sampai pada hari ia melahirkan. Helividius pastilah menjawab: "Karena malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata; Yusuf, anak Daud, jangan engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang didalam kandungannya adalah dari Roh Kudus (Matius 1:20). Alasan mengapa Ia dilarang untuk meninggalkan Maria adalah agar ia tidak menganggap dirinya sebagai pezinah. Lalu apakah benar bahwa ia diperintahkan untuk tidak berhubungan dengan Maria ? Apakah tidak jelas peringatan yang diberikan kepadanya untuk tidak berpisah dari istrinya? Dan beranikah seorang manusia biasa berpikir untuk mendekati istrinya ketika ia mengetahui bahwa Putera Allah ada dalam rahimnya?

Tepat sekali! Kita harus percaya kepada pria ini yang begitu mempercayai mimpi yang dialaminya sehingga ia tidak berani menyentuh istrinya, ketika ia belajar dari para gembala bahwa seorang malaikat Tuhan turun dari surga dan berkata: Jangan takut sebab: sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk segala bangsa, hari ini telah lahir bagimu Juruselamat yaitu Kristus Tuhan di kota Daud (Lukas 2:10-11). Dan ketika itu para bala tentara malaikat surgawi bernanyi: "kemuliaan bagi Allah di tempat tinggi dan damai bagi manusia yang berkenan kepadaNya (Lukas 2:14) dan pria ini juga mendengar ketika Simeon yang sedang menggendong Tuhan seraya berseru : Ya Tuhan biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari padaMu. (Lukas 2:29) dan Yusuf juga mendengar nubuatan dari nabiah Anna, tentang anak Maria, serta kedatangan para Majus, Bintang yang mengikuti Kristus, kemarahan Herodes oleh karena kelahiran Kristus serta kidungan para malaikat, hal-hal inilah yang dialami oleh Yusuf, lalu Helvedius berani­ beraninya mencoba membuat kita percaya bahwa Yusuf setelah mengalami kejadian­-kejadian yang ajaib dan agung ini beraninya menyentuh 'bait Allah' tempat tinggal dari Roh Kudus serta Bunda dari Tuhannya?

Maria menyimpan semuanya ini didalam hatinya (Lukas 2:51). Kita tidak dapat tidak berkata bahwa Yusuf juga mengalami hal-hal yang sama yang dialami oleh Maria, sebab St. Lukas menuliskan: Dan bapa serta ibunya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia (Lukas 2:33). Tetapi Helvedius dengan usaha kerasnya menyatakan bahwa teks Kitab Suci yang berbahasa Yunani ini sudah rusak dan korup, padahal teks Kitab Suci yang berbahasa Latin pun mengatakan hal yang serupa. Juga kita tahu bahwa apapun variasi penulisannya Kitab Suci Perjanjian Baru dan Kitab Suci Perjanjian Lama walaupun diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, bahasa asalnya (Yunani) adalah tentunya lebih murni, adakah air di sungai lebih murni daripada air yang mengalir dimata air ?

9. Helvedius akan menjawab: "Apa yang engkau katakan, apakah opiniku tidak ada gunanya, argumentasimu adalah hanya membuang-buang waktu dan diskusi yang kita lakukan hanyalah menjauh dari kebenaran dan mengapa Kitab Suci tidak dapat memberikan kesaksian sebagaimana seperti kejadian Tamar dan Yehuda? : Dan dia tidak bersetubuh lagi dengan perempuan itu (Kejadian 38:26) Apakah St. Matius Penginjil tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan maksudnya? Dia (Yusuf) tidak bersetubuh dengan dia (Maria) sampai ia melahirkan putera tentunya setelah itu ia pasti akan bersetubuh dengan dia setelah ia melahirkan, berhubungan dia yang telah ia tunda untuk berhubungan sampai ia melahirkan", demikian mungkin yang diucapkan Helvedius.

10. Kalau engkau sangat bersikeras akan pendapatmu, maka pemikiranmu kini sudah terbukti sebagai tuan yang menguasaimu. Engkau harus tidak mengijinkan waktu untuk ikut campur antara "Berhubungan" dan "melahirkan". Engkau tidak boleh berkata: "kalau seorang wanita mengandung dan melahirkan bagi suaminya seorang bayi maka ia akan menjadi najis selama tujuh hari lamanya, selama ini ia menjadi tidak bersih dan pada hari kedelapan maka bayi laki-laki itu akan disunat dan dia akan tetap dalam proses penyucian selama tiga dan tigapuluh hari lamanya, dan ia tidak boleh menyentuh apapun yang suci dst" (Imamat 12 : 2-3).

Dalam pengertian Helvedius Yusuf seakan harus segera saat itu juga harus berhubungan dengan Maria, kalau demikian maka Helvedius harus mendengarkan teguran Nabi Yeremia yang berkata: Dalam menghormati wanita mereka adalah seperti kuda-kuda jantan yang gemuk dan gasang masing-masing meringkik menginginkan isteri sesamanya (Yeremia 5:8), kalau tidak demikian maka bagaimana kata-kata ini "tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki" (Matius 1:25), jikalau ia harus menunggu sampai masa pemurnian Maria selesai, ia harus menunggu empat puluh hari lagi. Sang ibu harus memurnikan dirinya setelah bersalin dan anaknya harus dijaga oleh para bidan, dan ayahnya baru bisa datang ke ibunya, sehingga dengan demikian para penulis injil tidak dituduh berbohong.

Tetapi demi Allah kita tidak boleh berpikir tentang hal-hal semacam ini yang berkenaan dengan Sang Bunda dari Sang Jurnselamat dan Yusuf yang benar. Tidak ada bid an yang menolong mereka, Maria dengan tangannya sendiri membungkus Kristus dengan kain lampin, ia adalah ibu dan bidan bagi persalinannya sendiri. Dan ia juga yang menaruh bayinya di dalam palungan karena tidak ada ruangan dalam penginapan. Di satu pihak pernyataan kitab suci ini membantah kejadian yang dicatat dalam kitab-kitab Apokrifa, dan di pihak lain membantah tuduhan Helvedius karena tidak adanya tempat yang tersedia di penginapan bagi suatu hubungan suami istri yang boleh terjadi saat itu.

11. Anak Sulung

Jawaban yang cukup telah diberikan mengenai kata-kata "sebelum mereka berhubungan bersama" dan "ia tidak menghampirinya sampai ia melahirkan seorang anak laki-laki." Aku sekarang harus meneruskan jawabanku kalau aku harus menjawab argumen Helvedius dengan terurut, yaitu pada permasalahan ketiga. Helvedius yakin bahwa Maria melahirkan anak-anak yang lain, dan ia mengutip bagian ini, "Demikian juga Yusuf pergi ke kota Daud untuk mendaftarkan dirinya dengan Maria, yang ditunangkan kepadanya dan yang sedang mengandung. Dan waktunya telah tiba ketika mereka di sana, harinya telah genap sehingga ia harus bersalin, dan ia melahirkan anaknya yang sulung" (Lukas 2:4 Vulgata). Dari bagian inilah Helvedius berusaha keras untuk menunjukkan bahwa kata "sulung" tidak dapat diaplikasikan kecuali kepada seseorang yang memiliki saudara ­saudara, seperti halnya Helvedius berpendapat bahwa Ia disebut sebagai anak tunggal jika ia anak satu-satunya dari orang tuanya.

12. Sikap kita adalah demikian: Setiap anak tunggal adalah anak sulung, tetapi tidak setiap anak sulung adalah anak tunggal. Dengan menyebut anak sulung kita mengerti seseorang tidak hanya sebagai anak pertama dari yang lain, tetapi juga sebagai seseorang yang tidak mempunyai kakak. "Segala sesuatu" demikian sabda Tuhan kepada Harun, "yang terdahulu lahir dari kandungan segala yang hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan, baik dari manusia atau binatang, adalah bagianmu; hanya haruslah kamu menebus anak sulung manusia, juga anak sulung binatang yang najis haruslah kamu tebus" (Bilangan 1:15). Firman Allah mendefinisikan sulung sebagai segala sesuatu yang terdahulu lahir dari kandungan atau sebagai yang membuka kandungan/rahim, hal ini juga tidak selalu berarti bahwa ia harus mempunyai adik.

Jika tidak demikian, maka sebutan itu (anak sulung) hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki adik-adik atau saudara-saudara yang lebih muda. Para imam tidak dapat mengklaim semua yang dilahirkan pertama sebagai anak sulung hanya jika ada lahirnya anak yang berikutnya, jika sekiranya tidak ada yang berikutnya dilahirkan maka tidak dapat diberikan gelar sulung, hal ini telah membuktikan bahwa anak sulung bisa saja merupakan anak tunggal semata. Lagi kata Kitab Suci : "Mengenai uang tebusannya, dari sejak berumur satu bulan haruslah kautebus menurut nilainya, yakni lima syikal perak ditimbang menurut syikal kudus; syikal ini dua puluh gram beratnya. Tetapi anak sulung lembu, domba atau kambing janganlah kau tebus; semuanya itu kudus" (Bilangan 18: 16-17). Firman Allah tersebut mendorong saya untuk berpikir bahwa segala sesuatu yang pertama lahir dari kandungan binatang halal harus dipersembahkan kepada Allah; apabila dari binatang najis maka harus ditebus dan diberikan nilainya (dibayar) kepada imam.

Mengapa kita berbicara mengenai kesulungan, ketika tidak dapat diketahui apakah nanti akan ada saudara lain yang akan lahir mengikuti ? Tunggulah hingga yang ke dua lahir. Kalau memang diterapkan demikian; apabila kita mempunyai yang tunggal maka kita tidak berhutang apapun kepada imam, baru berhutang jika ada kelahiran yang ke dua yang otomatis membuat yang sudah lahir pertama menjadi yang sulung. Apakah isi dari ayat-ayat tersebut akan berseru melawanku dan menghukumku sebagai yang bodoh, padahal jelas dinyatakan bahwa sulung adalah sebutan bagi yang lahir terdahulu dari kandungan, dan tidak terbatas kepada yang memiliki saudara-saudara saja. Dan, ambilah contoh kasus dalam Yohanes, kita setuju bahwa ia adalah anak tunggal. Sara ingin tahu jika ia bukan anak sulung, dan jika ia tidak sepenuhnya menerima hukum Tuhan ini. Tidak akan ada keraguan mengenai hal ini.

Pada setiap kesempatan, Kitab Suci dengan demikian berbicara mengenai Juruselamat. "Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan : 'semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah' dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati." (Lukas 2:22 dst). Jika hukum ini hanya berlaku hanya bagi anak sulung, dan seorang anak disebut sulung hanya apabila ada anak yang lahir selanjutnya, maka tidak ada orang yang harus terikat dengan hukum mengenai anak sulung ini, bagi mereka yang tidak dapat menunjukkan apakah akan ada anak selanjutnya atau tidak. Tetapi Ia (Yesus) karena tidak memiliki saudara yang lebih muda maka Ia terikat oleh hukum anak sulung, kita sepakat bahwa yang disebut sulung adalah anak yang membuka kandungan/rahim ibunya dan yang tidak didahului oleh yang lain, bukan yang kelahiranNya diikuti oleh saudara-saudara yang lebih muda.

Musa menulis di dalam Keluaran,"Maka pada tengah malam Tuhan membunuh tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai kepada anak sulung orang tawanan, yang ada dalam liang tutupan, beserta segala anak sulung hewan." (Keluaran 12:29) Katakan kepada saya, apakah mereka yang kemudian dibinasakan oleh sang pembinasa hanya anak sulung ataukah mereka yang binasa itu termasuk juga anak tunggal ? Jika hanya mereka yang memiliki saudara yang bisa disebut sulung, maka anak tunggal akan selamat dari hukuman kematian ini. Dan jika terbukti bahwa anak tunggal ikut terbantai, adalah hal yang bertentangan dengan ayat yang dinyatakan di atas, tetapi yang terjadi adalah anak tunggal juga mati sebagaimana halnya anak sulung. Jika tidak demikian maka seharusnya anak tunggal dibebaskan dari hukuman, dan kalau hal ini demikian maka pengertiannya menjadi amat menggelikan. Tetapi anak tunggal juga turut dibantai, maka kita mendapatkan titik temu dengan demikian anak-anak tunggal juga disebut sulung.

13. Saudara-SaudaraNya

Dalil terakhir dari Helvedius adalah berikut ini dan dalil inilah yang ingin ia nyatakan ketika ia membicarakan mengenai anak sulunng, bahwa saudara-saudara Tuhan disebut dalam Injil. Sebagai contoh, "Lihatlah, ibumu dan saudara-saudaramu berdiri di luar dan berusaha menemui engkau" (Matius 12:46). Dan di bagian lain, "Setelah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibuNya dan saudara-saudaraNya dan murid­-muridNya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja." Dan juga "Maka kata saudara-saudara Yesus kepadaNya: 'Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-muridMu juga. melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diriMu kepada dunia'" (Yohanes 7:3-4).

Dan Yohanes menambahkan, "Bahkan saudara-saudaraNya pun tidak percaya kepadaNya" (Yohanes 7:5). Dalam Injil Markus dan juga Matius, "Setibanya di tempat asalNya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: 'Dari mana diperolehNya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankan Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria dan saudara-saudaraNya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas ? Dan bukankah saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita ?'" (Matius 13:54­55, Markus 6:1-3). dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus dan dengan saudara-saudara Yesus. (Kisah Para Rasul:14).

Paulus Sang Rasul juga sama dengan mereka serta bersaksi atas ketepatan historis dari hal ini, "Aku pergi berdasarkan suatu penyataan, tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus saudara Tuhan" (Galatia 2:2, 1:19). Dan disebut lagi di bagian lain, "Tidakkah kami mempunyai hak untuk makan dan minum? Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas ?" (1 Korintus 9:4-5). Dan karena khawatir setiap orang tidak membiarkan adanya petunjuk dari orang-orang Yahudi, karena dari mulut merekalah kita mendengar nama-nama saudara Yesus, tetapi harus diingat bahwa orang sebangsaNya terperdaya oleh kesalahan yang sama dalam hal saudara-saudara dari Kristus sebagaimana kesalahan pandangan mereka (orang Yahudi) terhadap Yusuf (ayahNya).

Helvedius menuliskan catatan tajam tentang hal ini. "Nama-nama yang sama diulang oleh para penulis Injil di tempat lain, dan orang-orang yang sama adalah saudara­-saudara Tuhan dan anak-anak Maria”. Matius mengatakan, "Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf dan ibu anak-anak Zebedeus" (Matius 27:55-56). Markus juga mengatakan, "Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, diantaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome." (Markus 15:40); dan di tempat yang sama dekat setelah itu, "Dan ada juga di situ banyak perempuan lain yang telah datang ke Yerusalem bersama-sama dengan Yesus (Markus 15:41). Demikian juga Lukas, "Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala dan Yohana dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukan berita kepada rasul-rasul." (Lukas 24:10).

14. Alasan saya dalam mengulang hal yang sama dan melakukannya berkali-kali adalah untuk mencegah dia (Helvedius) dalam menimbulkan berita palsu dan meneriakkan bahwa saya telah menyembunyikan pasal-pasal Kitab Suci untuk memperburuk dia dan bahwa pandangan Helvedius telah tersobek hingga cabik-cabik bukan oleh fakta Kitab Suci, tetapi oleh argumentasi-argumentasi saya untuk mengelak. Amatilah, ia (Helvedius) berkata, Yakobus dan Yoses adalah anak-anak Maria, dan orang-orang yang sama yang disebut sebagai saudara Yesus oleh orang Yahudi. Perhatikanlah, Maria adalah ibu Yakobus Muda dan Yoses. Dan Yakobus disebut Muda untuk membedakannya dari Yakobus yang lebih tua, yang adalah anak-anak Zebedeus, sebagaimana Markus di kesempatan lain menyatakan, "Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat dimana Yesus dibaringkan. Setelah lewat hari Sabat, mereka membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus." (Markus 15:47-16:1). Dan seperti yang diperkirakan Helvedius berkata: "Betapa malang dan tidak salehlah pandangan kita terhadap Maria, apabila kita melihat bahwa ketika wanita-wanita lain memperhatikan penguburan Yesus, ia ­yang adalah ibuNya tidak hadir; atau apabila kita menciptakan seseorang yang dianggap Maria ke dua; dan semuanya yang lebih dari itu Injil St. Yohanes bersaksi bahwa ia ada hadir di sana, ketika Tuhan di atas salib memerintahkan dia, sebagai ibuNya dan sekarang seorang janda, untuk memelihara Yohanes. Atau haruskah kita berharap bahwa para penulis Injil begitu jauh dibuat salah dan begitu jauh telah salah menunjukkan kepada kita untuk menyebut Maria sebagai ibu dari mereka yang dikenal oleh orang-orang Yahudi sebagai saudara Yesus ?"

15. Betapa gelap, betapa gusarnya kegilaan melanda penghancuran diri Helvedius sendiri! Sang Bunda Tuhan hadir pada penyaliban, bahwa ia dipercayakan kepada para murid yang bernama Yohanes mengingat bahwa ia adalah janda dan dalam keadaan sendiri (tidak mempunyai anak yang lain), padahal Helvedius dalam uraiannya menunjukan Maria mempunyai empat anak laki-Iaki dan beberapa anak perempuan, kalau memang demikian seharusnya kepada merekalah Maria dapat menghiburkan hatinya. Helvedius juga sering menyebut Maria dengan sebutan "janda" yang mana hal ini tidak ditemukan dalam Kitab Suci. Dan meskipun Helvedius mengutip semua contoh dalam Injil, hanya kata-kata Yohaneslah yang tidak menyenangkan Helvedius. Helvedius juga berkata dalam sekelebatan bahwa pada saat wafatnya Yesus bahwa Maria hadir di penyaliban, sehingga dengan demikian Helvedius mengabaikan hal ini demi maksud tujuannya sendiri, tetapi juga Helvedius tidak mengatakan apa-apa tentang para wanita yang bersama dengan Maria.

Aku dapat memaafkan Helvedius jika ia memang teledor, tetapi aku melihat alasannya untuk bungkam (dalam hal ini). Biarlah aku tunjukkan apa yang dikatakan Yohanes, "Dan dekat Salib Yesus berdiri ibuNya dan saudara ibuNya, Maria, isteri Kleopas dan Maria Magdalena” (Yohanes 19:25). Tidak ada yang meragukan bahwa ada dua rasul yang disebut dengan nama Yakobus, Yakobus anak Zebedeus dan Yakobus anak Alfeus. Apakah Helvedius bermaksud membandingkannya dengan Yakobus Muda yang tak diketahui itu, yang di dalam Kitab Suci disebut sebagai anak Maria - kalaupun demikian adalah ia bukan anak Maria ibu Tuhan kita- apakah Yakobus anak Alfeus ini adalah sebagai rasul atau bukan? Jika ia seorang rasul, ia pastilah anak Alfeus dan seorang murid yang percaya kepada Yesus, kalau ia saudara Tuhan Yesus maka ia tidak percaya kepadaNya sebagaimana yang ditulis: "Karena tidak ada saudaraNya yang percaya padaNya." (Yohanes 7:5).

Yakobus ke tiga, yang lain, yang bukan anak Zebedeus maupun Alfeus, bagaimana ia dapat dihormati sebagai saudara Tuhan, dan bagaimana dia disebut sebagai Yakobus ke tiga, siapa dia adanya aku tidak dapat mengatakannya Yakobus-Yakobus yang lain dapat disebut sebagai "Muda" untuk membedakan dia dari yang lebih tua, ketika "yang tua" dan "muda" digunakan untuk menunjukkan hubungan yang ada, dapatkah itu untuk menunjukkan perbedaan antara tiga orang, dan bukannya dua orang ? Perhatikanlah hal ini : bahwa saudara Tuhan adalah seorang rasul, karena Paulus berkata, "Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan". (Galatia 1:18-19) Dan di dalam surat Epistel yang sama, "Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat" (Galatia 2:9), dsb. Dan bahwa Helvedius tentunya tidak bisa mengatakan bahwa Yakobus ini sebagai anak Zebedeus, Helvedius hanya perlu membaca Kisah Para Rasul, sebab saat itu Yakobus yang dimaksud telah dibunuh oleh Herodes. Satu-satunya kesimpulan adalah Maria yang digambarkan sebagai ibu Yakobus yang Muda adalah isteri Alfeus dan saudara dari Maria ibu Tuhan.

Maria ini juga disebut oleh Yohanes Penginjil sebagai "Maria Kleopas" disebut demikian mungkin karena ayahnya, atau keluarganya, atau karena alasan lain. Tetapi jika Helvedius berpikir bahwa mereka adalah dua orang berbeda karena di bagian lain kita membaca, "Maria" ibu Yakobus Muda," dan di sini "Maria Kleopas," maka Helvedius harus tetap mengerti bahwa hal semacam ini adalah biasa di dalam Kitab Suci karena orang yang sama menyandang nama-nama berbeda. Rehuel, mertua Musa, juga disebut Yitro. Gideon, tanpa alasan perubahan yang jelas, langsung namanya menjadi Yerubaal. Uzia, Raja Yehuda, memiliki nama altermitif Azarya. Gunung Tabor disebut juga Itabyrium. Dan juga Hermon disebut oleh orang-orang Fonesia sebagai Sanior, dan oleh orang-orang Amorit disebut Sanir. Satu daerah yang sama dikenal dengan tiga nama, Negeb, Teman dan Darom dalam Yehezkiel. Petrus juga disebut Simon dan Kefas. Yudas orang Zelot di Injil lainnya disebut Tadeus. Dan ada banyak contoh lain yang dapat dikumpulkan oleh pembaca sendiri dari setiap bagian Kitab Suci.

16. Sekarang di sini kita memiliki penjelasan dari apa yang sangat ingin aku perlihatkan, yaitu bagaimana tentang anak-anak Maria, saudara perempuan ibu Tuhan kita (Bunda Maria), yang pada mulanya bukan orang yang percaya, kemudian percaya, dan dapat disebut sebagai saudara-saudara Tuhan. Mungkin saja pada kasus tersebut salah satu saudara menjadi percaya sedangkan yang lain tetap tidak percaya hingga lama sesudahnya, dan bahwa Maria adalah ibu Yakobus dan Yoses, yaitu "Maria Kleopas", yang juga adalah isteri Alfeus, disebut juga sebagai Maria yang lain, disebut pula sebagai ibu Yakobus yang Muda. Dalam kasus apapun, jika ia (Maria) adalah ibu Tuhan, St. Yohanes akan menggunakan gelar itu kepadanya (Ibu Tuhan), seperti di bagian lain, dan tidak akan menyebut dia ibu dari anak-anak yang lain supaya tidak memberi kesan yang salah. Tetapi pada bagian ini aku tidak menghendaki untuk mendebat atau melawan anggapan bahwa Maria isteri Kleopas dan Maria ibu Yakobus dan Yoses adalah perempuan yang berbeda, asalkan saja semua dapat mengerti dengan jelas bahwa Maria ibu Yakobus dan Yoses bukanlah orang yang sama dengan Maria ibu Tuhan. Helvedius mengatakan: "Lalu bagaimana, apakah engkau menerima bahwa mereka itu disebut saudara Tuhan tetapi bukan saudaranya ?" Aku akan memperlihatkan bagaimana ini terjadi: Dalam Kitab Suci ada empat macam sebutan saudara sekandung, sebangsa, dalam hubungan kekerabatan dan dalam kasih.

16.A SAUDARA KANDUNG

Contoh saudara sekandung adalah Esau dan Yakub, dari antara dua belas bapa, Andreas dan Petrus, Yakobus dan Yohanes.

16.B SAUDARA SEBANGSA

Sebagai sebuah bangsa, semua orang Yahudi memanggil saudara satu sama lain, sebagaimana dalam Ulangan, "Apabila seorang saudaramu menjual dirinya kepadamu, baik seorang laki-laki Ibrani ataupun seorang perempuan Ibrani, maka ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ke tujuh engkau harus melepaskan dia sebagai orang merdeka." (Ulangan 15: 12). Dan di dalam kitab yang sama, "Maka hanyalah raja yang dipilih Tuhan, Allahmu, yang harus kauangkat atasmu. Dari tengah-tengah saudara­


saudaramu haruslah engkau mengangkat seorang raja atasmu; seorang agung yang bukan saudaramu tidaklah boleh kau angkat atasmu." (Ulangan 17:15). Dan lagi, "Apabila engkau melihat bahwa lembu atan domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya kepada saudaramu itu." (Ulangan 22:1). Dan Rasul Paulus berkata, "Bahkan aku mati terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Sehab mereka adalah orang Israel". (Roma 9:3-4).

16.C SAUDARA SEBAGAI HUBUNGAN KEKERABATAN

Lebih dari itu mereka disebut saudara oleh karena hubungan keluarga, Karena mereka adalah satu keluarga, yaitu satu patriarkh, yang berasal dati bahasa Latin paternitas, karena dari satu akar muncul anak cucu yang amat banyak. Dalam Kejadian kita membaca, "Maka berkatalah Abram kepada Lot: 'Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sehab kita ini kerabat." (Kejadian 13:8). Dan juga, "Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah satu sama lain dengan saudaranya." (LXX) Tentu saja Lot bukanlah saudara kandung Abraham, tetapi anak dari saudara Abraham yang bernama Aram.

Karena Terah memperanakkan Abraham, Nahor dan Aram, dan Aram memperanakkan Lot. Lagi kita membaca, "Dan Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya." (Kejadian 12;2). Tetapi jika engkau Helvedius ragu apakah seorang keponakan dapat dipanggil sebagai saudara, biarlah saya beri contoh. "Dan ketika Abram mendengar bahwa saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya." (LXX) (Kejadian 14:14). Dan setelah menggambarkan serangan malam dan pembantaian itu, ia menambahkan "Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, saudaranya itu." (LXX) (ayat 16).

Kiranya semua ini cukup untuk membuktikan pemyataan saya. Tetapi karena takut Helvedius telah membuat keberatan yang dipertengkarkan, dan menggeliat dalam kesulitannya seperti seekor ular, aku harus mengikatnya dengan kuat dengan tali-tali bukti untuk menghentikan cemoohan dan keluhannya, karena aku mengerti Helvedius akan berkata bahwa ia tidak menguasai begitu banyak kebenaran Kitab Suci sebagaimana juga dengan argumen yang berbelit-belit. Yakub, anak Ishak dan Ribkah, ketika dalam ketakutan akan pengkhianatan saudaranya telah pergi ke Mesopotamia, mendekat dan menggulingkan baik dari mulut sumur, dan memberi minum piaraan Laban, saudara ibunya. "Kemudian Yakub mencium Rahel serta menangis dengan suara keras, lalu Yakub menceritakan kepada Rahel, bahwa ia sanak saudara ayah Rabel, dan anak Ribka." (Kejadian 29:11).

Inilah contoh aturan yang sudah menunjukkan akan hal ini, dimana seorang keponakan juga disebut saudara. Dan lagi, "Kemudian berkatalah Laban kepada Yakub: "Masakan karena engkau adalah saudaraku, engkau bekerja padaku dengan Cuma-­cuma ? Katakanlah kepadaku apa yang patut menjadi upahmu." (Kejadian 29:15). Dan lagi, ketika setelah berakhir masa dua puluh tahun, tanpa sepengetahuan ayah mertuanya, dan disertai oleh isteri-isteri dan anak-anak laki-lakinya ia kembali ke tanahnya, dan Laban menyusulnya di pegunungan Gilead dan gagal menemukan berhala-berhala yang disembunyikan Rahel diantara barang bawaan, Yakub menjawab dan berkata kepada Laban, "Apakah kesalahanku, apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu ? Engkau telah menggeledah segala barangku, sekarang apakah yang kautemui dari segala barang rumahmu? Letakkanlah di sini di depan saudara-saudaraku dan saudara-saudaramu, supaya mereka mengadili antara kita berdua" (Kejadian 31:36-37). Katakan kepadaku siapakah mereka yang disebut sebagai saudara-saudara Yakub dan Laban yang hadir di sana? Esau, saudara laki-laki Yakub, tentu saja tidak di sana, dan Laban, anak Betuel, tidak memiliki saudara (kandung) meskipun ia memiliki seorang saudari yaitu Ribka.

17. A. PERSAUDARAAN OLEH KASIH

Tak terhitung contoh tentang hal yang sama ditemukan dalam Kitab Suci. Tetapi, secara singkat, aku akan kembali kepada jenis terakhir dari empat jenis persaudaraan, mereka itu adalah persaudaraan oleh karena kasih, dan ini terbagi lagi dalam dua kelompok, yaitu hubungan rohani dan hubungan secara umum. Saya mengatakan rohani karena kita semua orang Kristen disebut bersaudara, sebagaimana dalam ayat "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dalam persatuan" (LXX) (Mazmur 133:1). Dan di dalam Mazmur yang lain Sang Juru Selamat berkata, "Aku akan memashurkan namaMu kepada saudara-saudaraku" (Mazmur 22:22 LXX) dan di bagian lain, "Pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka" (Yohanes 20: 17). Saya juga berkata secara umum, karena kita semua adalah anak-anak dari satu Bapa, ada ikatan persaudaraan antara kita semua. ""Katakan ini semua kepada yang membencimu," demikian kata sang Nabi, "engkau adalah saudara-saudaraku" (Yesaya 66:5. LXX) dan sang Rasul menulis kepada orang-orang Korintus: "yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama." (1 Korintus 5:11).

17. B. SAUDARA-SAUDARA TUHAN

Sekarang aku bertanya, pada golongan persaudaraan manakah menurut anggapan Helvedius, saudara-saudara Tuhan dalam Injil harus ditempatkan? Helvedius mengatakan bahwa mereka adalah saudara-saudara kandung. Tetapi Kitab Suci tidak mengatakan demikian; Kitab Suci mengatakan mereka bukan sebagai anak-anak Maria ataupun anak-anak Yusuf. Haruskah kita mengatakan mereka adalah saudara-saudara sebangsa? Tetapi ini meggelikan untuk mengharuskan beberapa gelintir orang Yahudi untuk disebut saudaranya ketika semua orang Yahudi pada saat itu memiliki sebutan ini. Apakah mereka saudara karena nilai kedekatan hubungan dan kesatuan hati serta pikiran? Jika memang demikian, siapakah yang lebih paling disebut saudara daripada para rasul yang menerima perintah dari Dia sendiri dan disebut olehNya sebagai ibuNya dan saudaraNya?

Sekali lagi, jika semua orang yang seperti itu adalah saudaraNya, akan menjadi bodohlah untuk membawakan kepada Yesus, pesan khusus, "lihatlah, saudara-saudaramu sedang mencarimu", karena semua orang yang seperti itu menyandang sebutan saudara. Satu­-satunya alternatif adalah mengadopsi penjelasan sebelumnya dan mengerti mereka disebut sebagai saudara oleh karena ikatan kekerabatan, bukan bersaudara di dalam kasih dan simpati, ataupun bersaudara oleh karena ras sebagai bangsa, dan jelas bukan bersaudara sekandung. Sebagaimana halnya Lot disebut sebagai saudara Abraham, dan Yakub sebagai saudara Laban, seperti halnya anak-anak Zelophehad menerima banyak diantara saudara­saudara mereka, seperti halnya Abraham sendiri menyebut isterinya sendiri Sarah sebagai saudarinya, karena ia berkata, "Ia benar-benar saudariku, dari pihak bapa, bukan dari ibu" (Kejadian 22:11. LXX), ini dapat dikatakan, ia adalah anak perempuan dari saudaranya, bukan dari saudarinya. Jika demikian, mengapa kita menyebut Abraham sebagai orang benar, tetapi ia mengambil isteri yang adalah anak bapak kandungnya sendiri ?

Kitab Suci dalam menghubungkan sejarah orang-orang zaman dahulu, tidak menyakitkan telinga kita dengan berbicara mengenai sifat jahat dalam istilah-istilah ungkapan, tetapi lebih menyukainya untuk disimpulkan oleh pembaca, dan Allah kemudian memberikan larangan sanksi-sanksi hukum dan ancaman, "Barang siapa yang mengambil saudara perempuannya, dari ayahnya, atau ibunya, dan melihat auratnya, telah melakukan kejahatan, ia harus dibinasakan sama sekali. Barang siapa telah menyingkap aurat saudara perempuannya, ia harus menanggung dosanya". (Imamat 18:9 LXX).

18. Ada beberapa hal dimana Helvedius sangat tidak peduli. Helvedius belumlah pernah membaca sehingga dia menjadi sembrono terhadap kebanyakan ayat-ayat Kitab Suci dan dia rnenggunakan kegilaannya dengan membuat marah Sang Perawan, seperti cerita tentang orang sesorang yang tak dikenal telah membakar kuil Dewi Diana supaya menjadi tenar, tetapi bukan ketenaran akan hal yang baik melainkan hal yang buruk, para pembesar kota rnenanyakan kenapa orang ini membakar kuil tersebut, ia menjawab; "kalau saya tidak bisa tenar tentang hal yang baik mengapa saya tidak menjadi tenar saja karena hal yang buruk".

Para ahli sejarah Yunani telah banyak bercerita tentang orang ini. Tetapi yang dilakukan oleh Helvedius adalah lebih buruk dari hal ini, dia telah menaruh api guna untuk rnembakar Bait dari Tubuh Tuhan, Helvedius telah mengotori Ruang Maha Kudus dari Sang Roh Kudus.sehingga bersama-sama orang-orang Yahudi Helvedius telah berseru kepada Kristus: Bukankah ini adalah anak tukang kayu, bukankah ibunya yang kita kenal sebagai Maria dan saudaranya Yakobus, Yusuf, Simon dan Yehuda dan juga saudara-­saudara perernpuannya yang lain yang bersama-sama dengan kita ? (Matius 13:55; Markus 6:3). Berdoalah dan beritahukanlah kepadaku, dihadapan siapakah Helvedius ini berdiri dan rnengatakan hujatan-hujatan ini ? Siapa yang mengajar kepadamu (Helvedius) bahwa teori yang murahan semacam ini? Helvedius telah mendapat kepuasan dari teori-teorinya dan ia menjadi terkenal karena kejahatannya.

Dan aku (Hieronimus) adalah lawannya yang walaupun tinggal di kota yang sama (Roma), saya sungguh tidak mengenal Helvedius, apakah dia itu orang berkulit hitam atau putih. Saya tidak pernah berbuat kesalahan dalam bidang diksi dan pengejaan sebanyak yang dia lakukan di dalam buku-buku yang ditulisnya. Saya tidak pernah menegurnya tentang kata pengantar yang tidak masuk diakal didalam buku ini. Demi surga! Saya tidak berharap darinya sebuah kefasihan lidah sebab memang hal itu yang tidak saya punyai, dan saya tahu Helvedius menggunakan kepandaian dari saudaranya Craterius. Saya tidak menginginkan keindahan sastra; yang saya harapkan adalah kemurnian jiwa; sebab bagi orang Kristen adalah kesalahan yang terbesar untuk memperkenalkan sesuatu hanya berdasarkan omongan belaka dan hanya berdasarkan perbuatan belaka. Saya telah mencapai kesimpulan dari argumentasi saya. Saya akan berurusan dengan Helvedius sebagai seorang yang tak mencapai suatu apapun, dan tentunya Helvedius tahu bahwa dia ada diatas ujung tanduk dilema ini.

Adalah sangat jelas bahwa saudara-saudara dari Tuhan memakai sebuah sebutan yang sama (saudara) sebagaimana Yusuf juga disebut sebagai bapaNya (padahal ia bukan bapak kandung dari Kristus): "Bapa-Mu dan aku cemas mencari Engkau" (Lukas 2:48). Dan adalah ibuNya yang berkata hal ini bukan para orang Yahudi. Penulis Injil sendiri rnenghubungkan bahwa bapa dan ibu­Nya sendiri terheran-heran mendengar ucapan-ucapanNya. Banyak perikop lain yang menunjukan bahwa Maria dan Yusuf disebut sebagai orang tuaNya. Adalah sangat bodoh bagi Helvedius untuk berpendapat bahwa manuskrip-manuskrip Kitab Suci yang berbahasa Yunani adalah korup, atau mungkin ia (Helvedius) bisa juga berpendapat bahwa banyaknya variasi dari bacaan manuskrip-manuskrip tersebut.

Oleh karenanya saya memakai Injil Yohanes yang mengatakan: Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya : "Kami telah rnenemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret" (Yoh 1:45). Sekarang katakanlah kepadaku bagaimana Yesus dikatakan sebagai anak Yusuf sedangkan telah jelas bahwa Ia diperanakkan melalui Roh Kudus? Apakah Yusuf adalah ayah kandungNya? Sebagaimana membosankannya si Helvedius ini, ia tak akan berani rnengatakan hal ini. Jikalau memang demikian biarlah peraturan yang sama diberlakukan pada hal yang sama ketika mereka dipanggil sebagai saudara, sebagaimana Yusuf dipanggil sebagai ayah.

19. A. Sekutu dari Helvedius

Sekarang saya telah membersihkan kerikil-kerikil pasir yang menggangu, maka sekarang aku dapat mengembangkan layar dan menuliskan dengan segera kesimpulan dari tulisan ini. Karena merasa lebih pintar, maka Helvedius menunjukan Tertulian sebagai saksi juga mengutip kata-kata dari Victorious Uskup dari Petavium. Tentang Tertulian saya tidak akan berkata banyak selain mengatakan bahwa dia bukan lagi anggota Gereja dan tentang Uskup Victorious saya telah menambahkan tentang apa yang telah ditulis salam Kitab Suci bahwa saudara-saudara dari Tuhan Yesus bukanlah anak-anak dari Maria tetapi sesuai dengan apa yang telah saya jelaskan bahwa saudara-saudara ini adalah melalui hubungan kekerabatan bukan secara kandung. Ini sebenarnya bukanlah sebuah masalah yang besar, jikalau kita sibuk mengurusi hal-hal ini maka kita adalah bagaikan orang yang rnenguras tenaga untuk mengurus hal yang sepele dan meninggalkan mala air kebenaran dan hanya mengikuti anaksungai-anak sungai opini kosong.

19. B. Lawan dari Helvedius

Haruskah saya mendaftarkan bagimu semua pujangga Gereja seperti St. Ignatius, St. Polikarpus, St. Irenaeus, St. Yustinus Martir dan semua para bapa Apostolik yang melawan bidat-bidat seperti Ebionisme, pengajaran dari Theodotus dari Byzantium serta pengajaran Valentinus, mereka para Bapa Apostolik mempunyai pandangan yang sarna dan melawan bidat-bidat ini dengan kebijaksanaan. Kalau engkau membaca apa yang mereka tulis maka engkau akan menjadi sesorang yang bijaksana.

20. Sekarang saya akan melawan tulisan Helvedius dimana ia mencoba untuk memperlihatkan kepandaiannya dengan memperbandingkan antara keperawanan dan pernikahan. Saya tidak bisa tidak tersenyum dan ingat akan sebuah peribahasa: Pernahkah engkau melihat unta menari ? Helvedius menulis: "Apakah para perawan lebih baik?" dia juga bertanya, "lebih baik dari Abraham, Ishak dan Yakub yang adalah mereka yang menikah ? Bukankah setiap harinya ada seorang anak yang dibentuk dalam rahim ibunya : Jika demikian haruskah kita menjadi tersipu-sipu jika berpikir bahwa Maria mempunyai seorang suami setelah menikah ? Kalau kita melihat hal ini sebagai sesuatu yang memalukan maka kita juga tak perlu percaya bahwa Allah telah dilahirkan oleh Sang Perawan secara alamiah. Sebab bagi beberapa orang adalah sesuatu yang tidak hormat bahwa Sang Perawan melahirkan Allah melalui organ-organ reproduksinya daripada Sang Perawan dipersatukan kepada suaminya setelah memberi kelahiran".

Dan seperti Helvedius, hal yang alami lainnya adalah rahim selama 9 bulan berkembang menjadi besar, sakit mual setiap paginya, pendarahan, kain lampin. Bayangkan Sang Bayi dalam selaput ketuban, palungan yang keras, tangisan bayi, penyunatan pada hari kedelapan, masa penyucian sehingga ia tidak lagi menjadi najis menurut hukum Musa. Kita tidak perlu tersipu-sipu sebab kita telah dibuatnya menjadi bisu.

Sungguh sebuah perendahan yang agung yang telah Dia alami bagi saya, sungguhlah aku berhutang budi padaNya. Dan ketika kita diperlihatkan keseluruhannya secara lebih detail lagi maka tidak ada yang lebih memalukan lagi daripada salib, dimana kita mengaku bahwa didalam saliblah kita percaya dan oleh saliblah kita telah menang dari semua musuh kita.

21. Tetapi sebagaimana kita tidak menyangkal apa yang ditulis maka kita juga menolak apa yang tidak ditulis. Kita percaya bahwa Allah telah lahir dari Sang Perawan sebab kita membacanya. Tetapi kita tidak percaya bahwa Maria menikah secara daging setelah ia melahirkan, sebab kita tidak membacanya dalam Kitab Suci. Kita mengatakan hal ini bukan karena kita mengutuk pernikahan sebab keperawanan itu sendiri adalah buah dari pernikahan; hanya karena kita sedang membahas para kudus kita tidak boleh mengambil kesimpulan secara asal. Kalau kita mengambil 'teori kemungkinan' sebagai standard untuk membahas hal ini maka kita tentunya bisa saja berpendapat bahwa Yusuf mempunyai beberapa isteri sebagaimana Abraham dan juga Yakub dan dalam hal ini maka bisa saja saudara-saudara dari Yesus adalah anak-anak dari isteri-isteri tersebut, ini adalah sebuah rekaan yang kasar yang timbul oleh karena keberanian beropini bukan timbul oleh karena kesalehan.

Kalau mereka mengklaim bahwa Maria tidak tetap tinggal sebagai perawan, maka saya mengklaim lebih jauh lagi bahwa Yusuf dikarenakan oleh Maria, ia pun tetap tinggal sebagai seorang perawan juga, sehingga oleh karena sebuah pernikahan yang perawan seorang putera yang suci nan perawan telah dilahirkan. Sebab sebagai seorang yang suci Yusuf tidakIah mempunyai noda zinah dalam hidupnya, tidak ada ditulis dalam kitab apapun bahwa ia mempunyai isteri yang lain tetapi ia lah yang menjaga Maria. Kesimpulannya adalah Yusuf yang secara layak dipanggil sebagai Ayah dari Tuhan tetaplah tinggal juga sebagai seorang Perawan.

22. Keperawanan dan Pernikahan

Dan Sekarang sayang ingin memperbandingkan tentang keperawanan dan pernikahan, saya menghimbau para pembaca sekalian bahwa bukan berarti dengan menyanjung keperawanan saya merendahkan institusi pemikahan dan juga telah memisahkan para kudus masa Perjanjian Lama dengan para kudus masa Perjanjian Baru yaitu mereka yang memiliki isteri dan mereka yang menolak pelukan perempuan. Saya berpikir bahwa dalam keharmonisannya sesuai dengan perbedaan zaman dimana peraturannya berkenaan dengan zaman tersebut dan juga bagi kita yang hidup di akhir zaman ini. Hukum Taurat mengatakan: "Beranak-cuculah dan penuhilah bumi (Kejadian 1:28) dan "Terkutuklah wanita mandul yang tak membawa benih di Israel (Keluaran 23:26 LXX), mereka menikah dan dibeli pada pernikahan, meninggalkan ayah ibunya dan menjadi satu daging. Tetapi guntur dari Sabda menyatakan; Waktunya telah singkat...orang yang beristeri haruslah berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri (I Korintus 7:29), bersatu kepada Tuhan dan menjadi satu roh denganNya, mengapa? Karena Orang yang tak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan bagaimana ia boleh menyukakan hati Tuhan, Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya kepada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya dan dengan demikian perhatiannya terbagi­-bagi, perempuan yang tak bersuami memusatkan perhatiannya kepada perkara Tuhan supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya kepada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya (I Korintus 7:32-34).

Mengapa Helvedius tidak setuju, selalu menolak, Kitab Suci telah mengatakan adanya perbedaan tentang seorang Perawan dan seorang Isteri. Perhatikanlah kebahagiaan yang didapati jika perbedaan yang bersifat jasmani ini tidak ada lagi. Seorang Perawan tidak lagi dipanggil sebagai perempuan. Perempuan yang tak bersuami memusatkan perhatiannya kepada perkara Tuhan supaya tubuh dan jiwa mereka kudus (I Korintus 7:34). Seorang Perawan didefinisikan bukan sebagai seorang wanita tetapi sebagai mereka yang kudus dalam tubuh dan jiwa, sebab adalah tidak ada gunanya menjadi perawan secara jasrnani tetapi tidak perawan (bersuami) dalam hati.

Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya kepada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya. Apakah saudara pikir tidak ada bedanya antara wanita yang menghabiskan waktunya dalam doa dan puasa dengan wanita yang ketika didekati suaminya mengenakan kosmetika dan berjalan berlenggak-lenggok dengan manjanya ? Seorang perawan akan kelihatan sederhana dan tidak akan menampilkan kecantikan alamiahnya. Perempuan yang menikah biasanya mempunyai semua perangkat dandan didepan cerminnya, dan mengabaikan Sang Penciptanya serta mengejar sesuatu yang lebih dari kecantikan alamiahnya. Lalu datanglah bayi yang rewel, bisingnya rumah tangga dan anak-anak yang menantikan kata-kata ibunya serta sentuhan kasih dari orangtuanya, serta pengeluaran finansial yang berlebihan, persiapan yang mencukupi hasil akhirnya.

Lalu dalam rumah tangga kita melihat juga koki-koki yang siap untuk membantai binatang guna diambil dagingnya, lalu si suami datang bersama teman-temannya dan tentunya sang istri akan menjadi sibuk, melihat apakah ruangan tamu rapi ? Apakah pekarangan sudah disapu, apakah bunga sudah ditaruh dalam vas, apakah makanan sudah siap ? Sekarang cobalah jawab pertanyaan saya apakah ada ruang dan waktu untuk berdoa dan mengingat Allah ditengah kesibukan ini? Apakah rumah tangga ini adalah rumah tangga yang bahagia? Jikalau ada musik yang bising di rumah, dan suara bising dari obrolan serta celoteh akan adakah takut akan Tuhan dirumah itu? Lalu mungkin datanglah masalah, yang biasanya timbul oleh hawa nafsu, istri yang tak bahagia biasanya akan langsung mempermasalahkan ini serta membuat suami menjadi marah, sehingga timbullah ketidak harmonisan dalam rumah tangga, sehingga timbullah lagi benih perceraian, atau mungkin ada lagi situasi rumah tangga yang mungkin saya belum tahu. Walaupun rumah tangga itu teratur, anak-anak mendapat pendidikan yang baik, kehendak suami terpenuhi, para pembantu siap membantu, apakah pikiran-pikiran penghuni rumah tetap berfokus kepada Tuhan?

Kitab Suci mencatat: Sara telah mati haid (Kejadian 18:11) dan setelah itu Abraham mendapat perintah : dalam segala hal yang dikatakan Sara haruslah engkau mendengarnya (Kejadian 21:12). Dia yang tidak mengalami kekhawatiran dan kesakitan dalam melahirkan seorang anak dan bagi mereka telah melewati masa haid telah lepas dari kutuk yang diberikan kepada Hawa, dan suaminya menjadi penurut kepada dia sebagaimana yang dperintahkan Allah kepadanya: dalam segala hal yang dikatakan Sara haruslah engkau mendengarnya (Kejadian 21:12) jadi dalam waktu inilah mereka dapat mulai berdoa, tetapi selama hutang kehidupan pernikahan belum terbayar maka doa yang bersungguh-sungguh selalu terlewati.

22. Saya tidak menyangkal bahwa para wanita suci banyak diketemukan diantara mereka yang sudah menjanda dan mereka yang masih bersuami; tetapi terutama diantara mereka yang walaupun menikah tetap mencontoh kemurnian hati dari para perawan yang mengkonsekrasi hidupnya kepada Tuhan. Sebagai mana yang ditekankan oleh Rasul Paulus: perempuan yang tak bersuami memusatkan perhatiannya kepada perkara Tuhan supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya kepada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya? (I Korintus 7:32-34). Ia memberikan kita kebebasan untuk melatih akal sehat kita mengenai hal ini. Dia (St. Paulus) tidak memberikan jebakan bagi kita tetapi ia menghimbau agar semua orang memilih cara hidup yang tepat ketika ia menghimbau orang-orang untuk meneladani dirinya (dengan tidak menikah).

Adalah benar hahwa Allah memberikan perintah kepada tentang karunia hidup sebagai perawan yang murni, sebab rahmat daripada hidup seperti ini melampaui kuasa dan kekuatan dari manusia. Tetapi juga tidak baik dan tidak sopan untuk memaksa orang untuk 'terbang' diatas kodrat alamiah, dengan kata lain "aku ingin menjadi seperti malaikat. Adalah kemurnian seperti malaikatlah yang menjaga keperawanan kepada rahmat tertinggi. Rasul Paulus menambahkan: Aku berpendapat bahwa mengingat waktu darurat sekarang adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya (I Korintus 7:25).

Apakah yang dimaksud dengan keadaan darurat ini? Kitab Suci mencatat: Celakalah mereka yang pada hari-hari itu masih menyusui bayinya (Matius 24:19; Markus 13:17). Alasan mengapa pohon tumbuh besar adalah supaya dapat ditebang nantinya. Ladang telah disemai dan akan dituai nantinya. Bumi ini sudah padat dan populasi manusia menjadi lebih banyak daripada tanah di Bumi. Setiap hari kita dikurangi jumlahnya oleh perang, penyakit dan kecelakaan, walaupun mengetahui ini kita masih saja saling bertengkar dengan satu sama lainnya tentang masalah batas pekarangan rumah kita. Ada satu peraturan tambahan yang dibuat oleh mereka yang mengikuti Sang Anak Domba, yaitu mereka yang tak menodai jubah putih mereka, sehab mereka tetap menjadi seorang perawan.

Perhatikanlah arti kata "menodai", saya tidak akan panjang menjelaskannya karena sara takut Helvedius bertambah murka karenanya. Saya setuju dengan saudara ketika dikatakan bahwa beberapa perawan tak ubahnya seperti wanita-wanita di kelab-kelab pelesir; saya tak akan heran kalau bahkan seorang pelacur ada ditengah-tengah mereka, dan tentunya tanpa dari kita pasti akan lebih terkejut ketika mendengar bahwa ada juga rohaniwan yang tidak suci serta rahib yang tak menjaga kekudusannya.

Pertanyaannya adalah: siapa yang tidak mengerti bahwa wanita kelab pelesir tidak akan menjadi perawan yang suci begitu juga dengan imam dan rahib yang tidak kudus. Apakah kita akan menyalahkan hidup keperawanan yang suci apabila banyak yang hidup suci secara palsu? Mengapa marah dengan yang asli hanya karena yang palsu gagal? Saya hanya mau katakan bahwa mereka yang berlaku seperti ini mereka mungkin saja perawan dalam tubuhnya tetapi tidak dalam rohnya.

24. Akhir Kata

Saya telah menjadi sangat retoris dan tanpa sadar sudah menobatkan diri saya seperti seorang orator fasih. Engkau sudah mendorongku wahai Helvedius. Sebagaimana Injil bersinar terang pada zaman ini maka engkau akan menemukan kemulian yang sejajar bagi mereka yang hidup membiara guna menjaga keperawanan mereka dan juga mereka yang kudus dalam hidup pemikahannya. Dan karena saya berpikir bahwa dalam menggali kebenaran saya sudah menjadi sangat keras terhadapmu dan membuat engkau menjadi dendam dan ingin merusak hidupku dan membunuh reputasiku dengan gosip (inilah yang banyak dilakukan oleh para perempuan lemah yang cerewet dan berkasak-kusuk di sudut jalan secara membeberkan keburukan suami atau tuan mereka) saya harus mengatakan bahwa saya tetap menghormatimu dan menilai kasak-kusukmu dengan tinggi sebab dengan bibir yang sama engkau telah menodai Maria, dengan bibir yang sama pula engkau akan merusak aku, aku ini hamba Tuhan, yang dirahmati untuk digongong dengan kefasihan lidahmu sebagaimana engkau mengongong Ibu dari Tuhanku.

1 comment:

Tioria said...

Pray for us Theotokos