Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Friday, January 11, 2008

Perawan Maria Menurut Martin Luther

Perawan Maria Menurut Martin Luther

Maria adalah tokoh penting di dalam Kitab Suci yang dalam sejarah menjadi figur yang kontroversial. Ia dipuji, dicerca, dihormati, dibenci, dicintai dan ditelaah disepanjang segala zaman. Begitu banyak puisi, lagu, karya seni Gereja yang didedikasikan kepadanya, tetapi lebih dari­ pada itu Maria adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana, seorang ibu yang melahirkan Allah. Gereja menempatkan Maria pada posisi yang khusus karena peranannya di dalam sejarah keselamatan. Walaupun ia dipilih Allah seba­gai bundaNya, penghormatan kepada Maria selalu berakar pada ketaatannya.

Dua ribu tahun yang lalu, dengan taat Maria mengatakan "Ya!" kepada rencana Allah. Ketaatan ini telah mereformasi dunia yang dijajah oleh dosa, keserakahan, serta nafsu kesombongan. Ketaatan ini bukanlah suatu panggilan yang ringan bahkan hampir mustahil dilakukan tanpa rahmat serta kerahiman ilahi. Maria telah memberikan kemanusiaannya kepada Allah untuk menebus dunia dari kutuk dosa; dengan demikian Sabda menjadi "Anak Manusia". Berikut ini petikan dari Martin Luther tentang Bunda Maria, petikan-petikan ini diambil dari tulisannya setelah memulai gerakan Reformasi Gereja.

“Apakah persamaan dari para dayang istana, bangsawan, raja, ratu, pangeran dan Kaisar dunia bila dibandingkan dengan Perawan Maria, Putri Daud. Ia adalah Bunda dari Allah kita, Pribadi yang amat agung di bumi ini. Setelah Kristus, dialah permata terindah dalam kekristenan. Sang Ratu yang ditinggikan di atas segala kebijaksanaan, kesucian dan ke­agungan ini tak akan pernah cukup dipuji”.

“Sungguh pantas apabila sebuah kereta kencana emas mengiringi dia, dengan ditarik oleh empat ribu kuda dengan abdi utusan yang meniup sangkakala serta dengan lantang ber­seru: "Lihatlah dia, Bunda Yang Agung, Putri Umat Manusia" tetapi yang ada hanyalah: seorang Perawan berjalan kaki dalam sebuah perjalanan jauh untuk mengunjungi Elisabet. Perjalanan ini ditempuhnya walaupun saat itu ia sudah menjadi Bunda Allah. Bukan merupakan sebuah keajaiban apabila kerendahan hatinya dapat membuat gunung-gunung melonjak menari sukacita”.

“Melalu perkataannya sendiri dalam Magnificat (Lukas 1:46-55), dan melalui pengala­mannya, Maria mengajar kita bagaimana caranya mengenal, mengasihi dan memuji Allah... Sejak awal, umat manusia telah menyimpulkan segala kemuliaan yang diberikan kepada Maria di dalam sebuah kalimat: "Bunda Allah". Sekalipun manusia mempunyai lidah sebanyak daun di Pohon, rumput di padang, bintang di langit atau pasir di lautan, tak seorangpun mampu mengatakan hal yang lebih agung kepada Maria atau mengenai Maria. Perlu direnungkan dalam hati apakah artinya menjadi seorang Bunda Allah”.

Dalam rumusan katekismus yang biasa disebut sebagai Formula atau Buku Concord, Martin Luther juga menulis sedikit mengenai Bunda Maria sebagai berikut : “OIeh sebab itu kami percaya, mengajar dan mengaku bahwa Maria secara se­jati adalah Bunda Allah...Maria Iayak menerima penghormatan yang paling tinggi”.

Sumber : Synaxis GOI Edisi November tahun 2007

No comments: