Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Thursday, August 2, 2007

Eksposisi Iman Orthodox dari St. Yohanes Damaskus


Eksposisi Iman Orthodox

Katakese dari St. Yohanes dari Damaskus

GEREJA ORTHODOX INDONESIA

PAROKI EPIPHANI SUCI JAKARTA

DIBAWAH KEUSKUPAN AGUNG HONGKONG DAN ASIA TENGGARA

JURIDIKSI KEPATRIARKHAN EKUMENIS KONSTANTINOPEL DI TURKI

Untuk Kalangan Sendiri

ALLAH

Bab 1

Tidak ada manusia yang pernah melihat Allah disepanjang segala waktu: Hanya Putera Tunggal Bapa Yang Ada di Pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan Dia (Yohanes 1:18). KeAllahan itu sendiri adalah Tak ter-utarakan serta Tak dapat dimengerti. Sebab tidak ada seorangpun yang mengenal Bapa selain Sang Putera: Juga tidak ada seorangpun yang mengenal Sang Putera selain Sang Bapa (Matius 11:27). Lebih jauh lagi, Sang Roh Kudus mengenal segala sesuatu tentang Allah, sebagaimana roh manusia mengenal apa yang ada dalam manusia. (bdk I Korintus 2: 11). Setelah Tatanan Kodrat yang Terberkati ini, tidak ada seorang pun yang pernah mengenal Allah kecuali jika Allah menyatakan diriNya kepadanya – hal ini berlaku bukan hanya bagi manusia tetapi juga bagi kuasa surgawi yang tertinggi, maksud saya para Kerubim dan Seraphim.

Tetapi Allah tidak hanya meninggalkan kita didalam ketidak-tahuan belaka, sebab melalui alam ini pengetahuan akan keberadaan Allah telah dinyatakan kepada manusia. Ciptaan-Ciptaan yang tercipta dalam keharmonisan serta keteraturan memproklamirkan keagungan dari Kodrat Ilahi ( Kebijaksanaan Salomo 13:5; Roma 1:20). Tentunya Ia telah memberikan kepada kita pengetahuan akan diriNya seturut akan kapasitas kemampuan kita, pertama-tama melalui Taurat dan kitab Para Nabi dan selanjutnya melalui Putera TunggalNya dan Tuhan dan Allah serta Juruselamat kita Yesus Kristus. Kita menerima segala sesuatu yang diturunkan kepada kita lewat Taurat dan Para Nabi dan Para Rasul serta Para penginjil, kita mengetahui ini semua serta menghormatinya, diatas dari segala yang telah diberikan kepada kita ini, kita tidak mencari hal-hal yang lain. Sebab Allah adalah baik, dan pencipta dari segala sesuatu yang baik dan tidak dapat ditundukan oleh suatu kejahatan ataupun juga rasa kasih yang berlebihan. Sebab dalam Kodrat Ilahi itu sama sekali tidak ada kejahatan, juga tidak dapat dipengaruhi oleh yang Jahat, hanya yang baik. Semenjak demikian Ia adalah mengetahui segala sesuatu dan menyediakan kita setiap apa yang kita butuhkan, Dia telah menyatakan kepada kita apa saja yang perlu dan dapat kita tanggung dan terima dan segala sesuatu yang tak dapat kita terima atau tanggung akan Ia tangguhkan. Oleh karenanya marilah kita menjadi cukup dan puas didalam segala sesuatu yang dinyatakanNya, marilah kita tinggal dan tidak melanggar batas-batas yang ditetapkanNya sejak masa lampau dan tidak melebihi dan melampaui dari Tradisi Ilahi.

Bab 2

Sekarang seseorang yang berbicara ataupun mendengar tentang Allah harus mengetahui diatas segala sesuatu yang diragukan dalam Theologia dan Inkarnasi bahwa tidak semua hal dapat diekspresikan dan tidak semua hal mampu berekspresi dan tidak semua hal tidak bisa diketahui dan tidak semua hal bisa diketahui. Segala hal yang dapat dimengerti adalah satu hal sedangkan hal yang dapat diutarakan adalah hal yang lain sebagaimana satu hal untuk diutarakan dan hal lain untuk dimengerti saja. Lebih jauh lagi banyak hal tentang Allah yang tak dapat dengan jelas diterima dan tidak dapat secara tepat dijelaskan sehingga kita wajib untuk mengekspresikannya dalam terminologi manusia hal-hal yang melampaui kemanusiaan. Sehingga ketika berbicara tentang Allah kita mengandaikannya secara manusiawi seperti Dia ‘tidur’, ‘marah’, ‘mempunyai tangan’, ‘kaki’ dst.

Sekarang kita mengaku bahwa Allah adalah tanpa awal dan akhir, kekal, abadi, tak diciptakan, tidak berubah, tidak dapat diganti, sederhana, dasar, tak bertubuh jasmani, tak dapat dilihat, takdapat disentuh, takterperi, tak terbatas, tak dapat dimengerti, tak tertempati, tak dapat terselami, maha baik, adil, pencipta dari segala sesuatu, mahakuasa, maha mengetahui, yang menyediakan, Raja yang berkuasa serta hakim dari segala, lebih itu kami mengaku bahwa Allah adalah Esa dan satu kodrat dan Dia dimengerti sebagai dan mempunyai tiga pribadi, maksud saya adalah Sang Bapa dan Sang Putera dan Sang Roh Kudus. Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah satu dalam semua hal, menyelamatkan dalam diri Dia Yang Tidak Diperanakkan, Dia Yang Diperanakkan dan dalam Dia Yang Diturunkan. Kami juga mengetahui dan mengaku bahwa bagi keselamatan kita Sang Sabda Allah melalui belas kasih yang melimpah, melalui keinginan Sang Bapa dan melalui karya Roh Kudus telah dikandung tanpa benih laki-laki dan secara suci diperankan, dilahirkan oleh Sang Perawan Suci, Bunda Allah, Maria melaui Roh Kudus, juga melalui dia (Maria) ia menjadi Manusia Sempurna; dan Dia adalah juga Allah yang Sempurna dalam waktu yang sama Manusia Sempurna, dalam mempunyai dua kodrat: Ilahi dan Manusiawi, dan didalam dua kodrat intelektual dilengkapi dengan kehendak, kebebasan dalam berbuat yang sempurna (sebagai Allah dan Manusia-red), sempurna sebagaimana sesuai dengan prinsip dan definisi baik dalam keIlahianNya dan kemanusiaanNya tetapi utuh bersatu dalam satu hypostasis. Dan kita mengetahui dan mengaku bahwa Ia telah mengalami rasa lapar dan haus serta rasa letih, dan Ia telah disalibkan dan selama tiga hari Ia telah mengalami kematian dan penguburan dan Dia kembali kepada surga dimana darinya Ia telah datang dari sana Ia akan datang kembali kepada kita di hari-hari

terakhir. Hal-hal ini telah disaksikan oleh Kitab Suci dan segenap Para Kudus. Tetapi semacam apakah kodrat / substansi dari Allah, atau bagaimanakah Ia memenuhi segala sesuatunya, atau bagaimanakah Putera Tunggal Allah Yang adalah Allah mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi seorang manusia dari darah seorang Perawan, atau bagaimanakah Ia dapat berjalan diatas air bak tanah kering?, kita tidak akan mengerti akan hal ini (Mazmur 13:1). Jadi adalah sesuatu hal yang mustahil untuk mengatakan atau secara utuh mengerti segala sesuatu tentang Allah diluar dari segala sesuatu yang secara ilahi telah dinyatakan kepada kita, baik itu adalah hal yang dikatakan ataupun diwahyukan oleh deklarasi suci dari Perjanjian Lama dan Baru.

Bab 3

Sekarang kenyataannya adalah Allah itu ada dan tidak diragukan oleh mereka yang menerima Kitab Suci, baik Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, juga tidak diragukan oleh sebagian besar orang Yunani (filsuf) sebagaimana yang telah kami katakan dimana pengetahuan akan keberadaan Allah diwahyukan kepada kita melalui alam. Tetapi karena kejahatan Si Jahat telah sangat menguasai kodrat manusia bahkan sampai menyeret beberapa diantara mereka kedalam jurang kehancuran yang tak berdasar yang tak terkatakan itu sehingga mereka berani berkata bahwa Allah itu tidak ada (seperti orang bebal yang dikatakan oleh Nabi Daud: Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah” (Mazmur 13:1 LXX), setelah itu para murid dan rasul dari Tuhan yang dibuat bijaksana oleh Roh Maha Kudus, telah bertindak melalui kuasa dan rahmat-kurniaNya dengan berbuat mujizat dan tanda guna menarik orang-orang itu kedalam jala mujizat, mereka telah ditarik dari ketidak perdulian mereka yang dalam akan Allah kepada terang dari pengetahuan akan Dia. Demikan juga sama halnya dengan para gembala dan guru yang melalui Rahmat Sang Roh Kudus dan melalui Kuasa bermujizat serta melalui perkataan-perkataan penuh terang rahmat, telah berhasil dalam mempertobatkan mereka yang ada dalam kesesatan dan kegelapan. Sekarang biarlah kita yang belum menerima karunia untuk bermujizat dan mengajar yang diakibatkan oleh penyerahan diri kita kepada kenikmatan duniawi yang telah membuat kita tidak layak, marilah kita memanggil dan memohon pertolongan dari Sang Bapa dan Sang Roh Kudus guna mampu untuk mendiskusikan dan mejelaskan beberapa hal yang oleh rahmat telah diturunkan kepada kita.

Segala sesuatu adalah diciptakan atau tidak diciptakan. Sekarang apabila mereka itu diciptakan tentunya mereka itu secara pasti dapat berubah, sebab segala sesuatu yang dihasilkan dengan sebuah perubahan tentunya dapat berubah (tembikar dari tanah liat, tanah liat dapat diubah, tentunya tembikar dapat berubah), berubah baik oleh karena lapuk atau karena perubahan yang dilakukan secara sengaja. Jikalau mereka itu tidak diciptakan maka secara logika mereka tentunya secara pasti tidak dapat berubah. Sebab segala sesuatu yang keberadaan karakternya berlawanan dengan atributnya adalah sesuatu yang berlawanan (malaikat diciptakan untuk yang baik tetapi menjadi jahat, menyalahi/melawan kodrat). Jadi siapa yang tidak setuju bahwa semua mahkluk termasuk didalam kategori ini yaitu dapat berubah, bahkan malaikat sekalipun dapat berubah dan diubah dan dapt dipindahkan dalam berbagai cara. Mahkluk-mahkluk yang berintelek-maksud saya; malaikat, jiwa (manusia) dan roh-roh jahat dapat berubah seturut kehendak bebas mereka, bertumbuh dalam kebaikan atau menyusut kualitas mereka, menjadi buruk; dimana juga mereka berubah oleh karena regenerasi atau degradasi, meningkat atau menurun, berubah dalam kualitas atau berubah dalam posisi. Pendek kata segala sesuatu yang dapat berubah pasti tentunya adalah: diciptakan. Mahkluk-mahkluk ciptaan tentunya secara pasti diciptakan oleh sesuatu.

Tetapi Sang Pencipta haruslah Tidak Diciptakan, sebab kalau Ia diciptakan maka tentunya ada yang lain yang menciptakan Dia- dan setrusnya, dan seterusnya sampai kita tiba pada sesuatu yang Tidak Pernah Diciptakan. (Origin dari segala sesuatu, ini adalah hal yang masuk diakal).

Jadi tentunya Sang Pencipta adalah sesuatu/seseorang pribadi yang Tidak Diciptakan dan secara sepenuhnya adalah Pribadi yang tak dapat berubah. Dan Siapa lagi kalau bukan Allah?

Lebih-lebih lagi, keharmonisan dari ciptaan, penjagaan serta pemeliharaan dan pengaturan semesta alam telah mengajar kita tentang adanya Allah yang telah membuat dan mengatur segala sesuatu dan menjaganya serta penyediaannya (Penyelenggaraan Ilahi), lebih lagi, bagaimana mungkin kodrat-kodrat ciptaan yang berbeda-beda seperti: Api, Air, Tanah dan Udara, berkombinasi satu sama lainnya untuk membentuk bumi ini dan tetap tidak tercampur satu sama lainnya, tentunya hal ini hanya bisa dijaga dan terjadi jika ada seuah kekuatan yang Maha Kuasa yang membuat mereka bersatu tetapi tidak berbaur dan tetap seperti ini. (St. Athanasius: Contra Gentes no: 35-36).

Jadi apakah yang telah menyusun segala sesuatu yang dibumi dan disurga, segala sesuatu yang bergerak di udara, di air, lebih lagi tentang hal-hal yang di atas disebutkan; seperti surga, bumi juga kodrat dari api dan air, siapa yang menyusun dan mengatur mereka sedemikian rupa? Siapa yang mengatur pengaturan mereka sehingga mereka dapat teratur bergerak dalam jalannya masing masing, tanpa terhambat dan terhenti? Ataukah benda-benda ini tidak mempunyai seorang arsitek yang memberi prinsip pengaturan didalam keberadaan mereka yang dimana seluruh kosmos alam semesta ini bergerak dan teratur, atau bahkan mungkin diatur? Tetapi siapakah arsitek dari segala sesuatu ini? Adakah Ia juga yang berkuasa membuat segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada? Tentunya kita tidak bisa dan tidak mungkin menganggap segala hal diatas serta kekuasaan yang mengatur alam semesta ini sebagai sebuah kebetulan dan mengaggapnya sekedar sebuah kespontanitasan saja. Jika diandaikan bahwa semuanya ini hanya sebuah spontanitas yang kebetulan saja maka bagaimana jadinya bahwa semesta kosmos ini menjadi sangat teratur sekali dalam pengaturannya atau bagaimana bisa terjadi bahwa kosmos menjadi seperti ini dalam pengaturannya? Juga siapa yang tetap memelihara pengaturan dasar yang mengatur kosmos ini? Tentunya pasti lebih dari hanya sekedar suatu kebetulan saja. Siapa lagi kalau bukan Allah! (St. Gregorius Naziansus, Homili 28:16).

Bab 4

Jadilah jelas bahwa Allah itu benar-benar ada tetapi apakah Dia didalam essensi dan kodratNya adalah tidak dapat diketahui, tidak dapat dimengerti dan sangat melampaui segala pemahaman. Bahwa dia tidak mempunyai tubuh adalah sudah jelas, sebab bagaimana tubuh mampu menampung sesuatu yang tak terbatas, tak berbentuk, tak dapat terjegal, tak berjasmani, tak terlihat, sederhana dan tak bermajemuk? Bagaimana sesuatu dapat menjadi sesuatu yang tak dapat berubah (Ilahi) jikalau sesuatu itu adalah sesuatu yang dapat berubah dan dapat di jelaskan (manusiawi)? Dapatkah sesuatu yang adalah terdiri atau terbuat dari elemen-elemen bumi (elemen ini dapat menjadi lapuk), dapatkah sesuatu ini menjadi sesuatu yang tak dapat berubah? Pengabungan (elemen kelapukan) adalah penyebab konflik, konflik adalah penyebab pemisahan, pemisahan adalah penyebab kehancuran, kehancuran adalah sesuatu yang asing bagi Allah (St. Gregorius Naziansus Homili 7).

Dan sekali lagi bagaimana prinsip berikut ini tetap dijaga yaitu: Allah menembus dan memenuhi segala sesuatu sebagaimana yang di tuliskan dalam Kitab Suci: Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? Demikianlah Firman TUHAN (Yeremia 23:24). Sebab adalah adalah mustahil bagi sebuah tubuh untuk menembus sesuatu tanpa memecah atau membelah tanpa mengalami pemecahan dan pemisahan, atau memecah dan memisah tanpa mengalami pencampuran, sebagaimana jika dua jenis cairan digabungkan (St. Gregorius Naziansus Homili 28:8).

Sekarang apakah perlunya dibahas tentang tubuh tak berjasmani ini yang sering disebut oleh para filsuf Yunani sebagai tubuh kelima, hal ini adalah sesuatu yang mustahil, sebab hal ini menjadi hal yang bergerak, seperti Surga, yang sering mereka sebut sebagai tubuh kelima, tetapi karena sesuatu yang bergerak pasti ada yang menggerakannya jadi siapakah yang menggerakan hal ini? Sebagaimana kita mencari asalnya kita akan bertemu dengan sesuatu yang tak dapat digerakan (St. Gregorius Naziansus Homili 28:8). Sebab penggerak pertama adalah Dia Yang Tak Tergerakan yaitu Dia yang adalah Yang Ilahi. Jadi hanya Yang Ilahi saja yang tak tergerakkan dan dengan KetaktergerakkanNya Ia mengerakan seluruh dan segala sesuatu. Dan pada akhirnya sesorang akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa KeIlahian itu tidaklah berjasmani.

Semua hal diatas tidaklah menunjukan karakteristik dari essensi kodrat dari Allah tetapi tidak lebih hanya sekedar menunjukan bahwa Dia tidaklah diperanakkan tanpa awal, tidak berubah, abadi atau segala sesuatu yang menegaskan tentang Allah. Hal-hal ini tidaklah menunjukkan apakah Allah itu tetapi lebih menerangkan apa-apa yang bukan Allah (St. Gregorius Naziansus Homili 28:8). Sesorang yang ingin menyatakan tentang kodrat dari sesuatu haruslah menerangkan apakah sesuatu tersebut bukan menerangkan apa-apa yang bukan dari sesuatu tersebut.

Tetapi jika sehubungan dengan Allah adalah hal yang mustahil untuk mengetahui seperti apakah Dia didalam kodratNya jadi adalah lebih baik (mudah) untuk menjelaskan tentang Allah dengan menerangkan segala sesuatu yang bukan Dia. Sebab Ia (Allah) tak dapat dihitung diantara segala ciptaan, bukan karena Dia tidak ada tetapi karena Dia melampaui segala mahkluk dan kemahklukan itu sendiri. Dan jikalau pengetahuan mengacu kepada kemahklukan maka sesuatu yang melampaui pengetahuan tentunya akan melampaui kodrat dan sebaliknya juga, sesuatu yang melampaui kodrat akan melampaui pengetahuan (St. Dionisius Aeropagitus, Theologia Mistika II)

Jadi KeIlahian itu tidak terbatas dan tidak termengerti dan KeTidakTerbatasanNya dan KeTidakTermengertianNya adalah satu-satunya yang dapat kita mengerti tentang Allah. Segala sesuatu yang telah kami nyatakan dengan tegas tentang Allah tidaklah menunjukan seperti apa Kodrat dari Allah itu tetapi hanya sekedar menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan Kodrat Allah. Jika kita akan berbicara tentang kebaikan, keadilan atau kebijaksanaan atau hal yang lain yang serupa itu maka kita tidak sedang berbicara tentang Kodrat dari Allah tetapi kita sedang berbicara apa-apa yang berhubungan dengan Kodrat Allah. Lebih jauh lagi ada hal-hal yang secara tegas dinyatakan tetapi yang lebih bersifat negatif yang ekstrim. Sebagai contoh ketika kita sedang berbicara tentang kegelapan didalam Tuhan kita bukan berbicara tentang sebuah kegelapan dalam arti gelap (St. Dionisius Aeropagitus, Theologia Mistika I ) yang dimaksud disini adalah Allah bukanlah terang tetapi Dia melampaui terang. Juga dalam hal yang sama ketika kita sedang berbicara mengenai terang yang kita maksud adalah bukan kegelapan.

Bab 5 (mengenai Allah dan para ilah)

Telah dengan cukup di demonstrasikan bahwa Allah itu ada dan KodratNya tidak dapat dimengerti. Lebih jauh lagi bagi mereka yang mempercayai Kitab Suci tidak akan mempunyai keraguan bahwa Allah itu Esa bukannya banyak. Sebab Tuhan telah bersabda sejak mulanya pada saat Ia memberikan hukum pada Musa: “Akulah TUHAN Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain dihadapanKu” (Keluaran 20:2&3) dan lagi kataNya: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita. TUHAN itu Esa! (Ulangan 6:4). Melalui perkataan Nabi Yesaya: “Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk dan sesudah Aku tidak akan ada. Aku Akulah TUHAN” (Yesaya 43:10). Didalam Kitab Injil Kudus, Tuhan berkata kepada Sang Bapa: “Inilah hidup kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar” (Yohanes 17:3). Bagi mereka yang tidak mempercayai Kitab Suci kita akan mendiskusikannya sebagai berikut ini.

KeIlahian itu sempurna dan tidak ada kekurangannya dalam kebaikan, kebijaksanaan atau kuasa. Dia tidaklah mempunyai awal, tidak mempunyai akhir, abadi, tidak terjelaskan, tidak terperi secara sederhana dapat dikatakan sebagai berikut ini, yaitu Ia adalah Sempurna dalam segala hal. Sekarang kalau kita mengatakan adanya banyak ilah (dewa) maka sudah tentunya ada banyak perbedaan satu sama lain dari dewa-dewa ini, sebab jika tidak ada perbedaan satu-sama lainnya maka tentunya tidak diperlukan banyak dewa tetapi satu Ilah saja.

Sekarang kalau adanya perbedaan-perbedaan ini maka dimana letak kesempurnaanNya? Sebab jikalau seorang Ilah kekurangan akan kebaikan, kebajikan atau kuasa, atau ruang, tempat dan waktu maka Ilah tersebut bukanlah Allah. Identitas dari Allah didalam segala sesuatunya menunjukan bahwa Ia adalah Esa bukannya banyak (St. Gregorius dari Nyssa, Uraian Katekesasi, bagian kata pengantar).

Dan lagi jikalau adanya banyak ilah, bagaimanakah seseorang dapat mendukung fakta bahwa Allah itu Tak Terperi? Sebab jikalau dimana ada yang Esa maka bagaimana mungkin ada yang lain?.

Dan jikalau dunia ini diperintah banyak ilah maka tentunya akan jelas terjadi konflik antar ilah-ilah tersebut, dan jikalau hal ini terjadi maka sejak semula bumi ini sudah hancur, rusak dan binasa. Bisa saja orang mengatakan bahwa setiap ilah mempunyai daerah kekuasaan, kalau demikian siapakah yang mengatur dan membagi wilayah kekuasaan ini? Kalaupun hal ini adalah benar maka Mahkluk terakhir yang membagi wilayah tersebut tak ada yang lain selain Allah. Allah adalah Dia yang Sempurna, tak terperi, pencipta semesta alam, pemelihara dari tata susunan dan pemerintah yang melebihi dan melampaui segala kesempurnaan.

Selain hal ini adalah hal yang alamiah dan perlu bahwa Pencipta asali dari hal hal yang mendua adalah dalam kesatuan (St. Dionisius Aeropagite, Nama-nama Ilahi 13:3).

Bab 6 (Mengenai Sang Sabda dan perkataan kita)

Sekarang Allah yang Esa itu tidaklah ada tanpa adanya Sabda, dan Jikalau Ia mempunyai Sabda maka Sabda ini tentunya mempunyai keberadaan sendiri dan tentunya Ia juga tidak mempunyai awal dan akhir sebagaimana mahkluk ciptaan. Sebab tidak ada sesaatpun dari waktu dimana Allah Sang Sabda itu tidak ada (Ia Maha Ada). Allah selalu mempunyai SabdaNya yang diperanakkan dari DiriNya sendiri -hal ini tidaklah seperti perkataan-perkataan yang keluar dari mulut kita yang tidak mempunyai keberadaan tersendiri dan hilang di udara begitu saja setelah keluar dari mulut kita, tetapi Sang Sabda mempunyai Keberadaan yang Tunggal (enupostaton-tersendiri), Ia Hidup, Sempurna dan tidak lepas daripada Allah tetapi selalu berada didalam diri Allah (St Gregorius dari Nyssa, Uraian Katekesasi bab 2). Sebab dimanakah Ia akan berada apabila Ia berada diluar Allah (Bapa)? Kodrat kita manusia adalah tidak kekal dan mudah lapuk oleh sebab itu perkataan-perkataan kita tidak mempunyai keberadaan tersendiri. Tetapi Allah selalu ada dan sempurna maka SabdaNya selalu ada, Hidup, Sempurna, Tunggal dalam keberadaanNya dan mempunyai Segala Sesuatu yang dipunyai oleh Dia (Bapa) yang memperanakkanNya!

Perkataan-perkataan yang keluar dari pikiran kita tidaklah terlepas dari pikiran kita, tetapi hal-hal yang keluar dari pikiran kita tentunya terlepas dari pikiran kita serta berbeda dari pikiran kita. Tetapi apabila keluar dalam bentuk perkataan dan perkataan tersebut itu menjelaskan apa yang ada dalam pikiran kita maka perkataan kita tak sepenuhnya tersendiri-tunggal-terlepas dari pikiran kita. Bahkan sebetulnya perkataan kita yang keluar dari pikiran kita adalah identik dengan pikiran kita itu sendiri dalam kodratnya. Hal ini mirip dengan Sang Sabda. Sang Sabda Allah sejauh sebagaimana Ia tinggal dalam DiriNya sendiri maka Ia akan terlepas daripada Dia (Bapa) yang olehNya (Bapa) Ia (Sabda) mempunyai kodratNya, Tetapi oleh karena Dia (Sang Sabda) menunjukan dalam DiriNya sendiri segala sesuatu yang dipikirkan didalam Allah (Bapa), maka didalam kodratNya Ia adalah Identik dengan Allah.

Sebagaimana segala kesempurnaan didalam segala sesuatu yang ditemukan didalam Sang Bapa, maka akan ditemukan juga didalam Diri Sang Sabda yang diperanakkan dari Sang Bapa.

Bab 7 (Mengenai Roh)

Adalah hal yang perlu dikatakan bahwa Sang Sabda mempunyai Roh. Lalu sebagaimana perkataan-perkataan kita yang keluar dari mulut kita selalu dibarengi oleh nafas walaupun dalam hal ini nafas tidakalah sekodrat dengan kita. Adalah menarik dan menghembuskan udara yang kita hirup adalah penting demi kelangsungan hidup. Tetapi dengan pengartikulasian dari nafas inilah menjadi ekspresi vokal dan membuat perkataan kita menjadi bermakna dan berkuasa (ST. Gregorius dari Nysaa, Uraian Katekesasi bab 2).

Sekarang didalam kesederhanaan dari Kodrat Ilahi keberadaan dari Sang Roh Allah diakui dengan iman, sebagaimana Sang Sabda diakui. Adalah bukan hal yang saleh untuk mengerti Sang Roh Kudus sebagai sesuatu yang asing dari Allah dan yang timbul belakangan. Sebaliknya sebagaimana ketika kita mendengar akan adanya Sang Sabda dan mengerti bahwa Ia (Sang Sabda) bukannya tidak Tunggal keberadaanNya (enupostaton-tersendiri) atau bahwa Ia bukan hanya sekedar ekspresi vokal yang keluar dari Sang Bapa serta merta hilang larut di udara. Tetapi kita mengerti akan Dia sebagai yang Tunggal KeberadaanNya penuh dengan Kehendak dan Perbuatan dan Maha Kuasa. Dengan cara yang sama kita belajar tentang keberadaan Sang Roh Kudus, kita mengerti akan Dia dan hubunganNya dengan Sang Sabda, Dialah yang membuat perbuatan dari Sang Sabda menjadi terlaksana. Kita tidak mengerti Sang Sabda sebagai sebuah tarikan nafas yang tak berpribadi, sebab dengan demikian kita telah merendahkan keagungan dari Kodrat Ilahi dengan menyekutukanNya dengan nafas manusia. Sebaliknya kita mengerti tentang Sang Roh Kudus sebagai kodrat kuasa yang berpribadi tersendiri, keluar dari Sang Bapa dan datang tinggal didalam Sang Sabda serta menyatakan Dia, tak terpisahkan dari Sang Bapa didalam KodratNya, ataupun juga tak terpisahkan dari Sang Sabda dimana denganNya Ia dihubungkan, mempunyai Kuasa, tidak terlarut kepada ketidak beradaan, melainkan secara Tunggal keberadaanNya seperti Sang Sabda- Ia Hidup, Mempunyai Kehendak, Bergerak Sendiri, Aktif, Sepanjang waktu Berkehendak Baik, Menggunakan KuasaNya untuk melaksanakan segala sesuatu yang sesuai dengan RencanaNya, tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir. Sebagaimana Sang Putera tidak kekurangan suatu apapun dari Sang Bapa maka Sang Roh Kudus tak kekurangan suatu apapun dari Sang Sabda.

Jadi di satu pihak, kesatuan dari Kodrat menunjukan kesalahan politeisme dari orang Yunani, dipihak lain pengajaran tentang Sang Sabda dan Sang Roh Kudus menghancurkan pengajaran dari orang Yahudi. Tetapi diwaktu yang bersamaan ada juga kebaikan yang ditimbulkan oleh dua heresi (kesesatan) ini: dari Agama Yahudi adalah pendapat mengenai keutuhan dan keEsaan dari Kodrat sedangkan dari Politeisme Yunani adalah pendapat mengenai keunikan serta perbedaan dari pribadi-pribadi (St. Gregorius dari Nyssa, Uraian Katekisasi, Bab 3).

Kalaupun Orang Yahudi mempertentangkan akan pengajaran mengenai Sang Sabda dan Sang Roh Kudus maka biarlah Kitab Suci sendiri yang melawan serta membungkam mereka.

Nabi Daud telah berkata mengenai Sang Sabda: “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, FirmanMu tetap teguh di sorga” (Mazmur 118:89 LXX), juga katanya lagi: “DisampaikanNya FirmanNya dan disembuhkanNya mereka” (Mazmur 106:20 LXX), perkataan/sabda yang hanya diucapkan tidaklah bisa berdiri selamanya ataupun dapat diutus. Mengenai Sang Roh Kudus Nabi Daud yang sama juga mengatakan: Oleh Firman Tuhan langit dijadikan, oleh Roh dari MulutNya segala tentaranya (Mazmur 32:6 LXX). Nabi Ayub juga mengatakan hal yang sama: “Roh Allah telah mebuatku dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup” (Ayub 33:4). Sekarang Sang Roh Kudus yang telah diutus dan berbuat sesuatu, menguatkan, memelihara bukanlah hanya sekedar sebagai nafas yang larut di udara sebagaimana mulut Allah menjadi sekedar anggota bagian tubuh. Roh Kudus disini haruslah sepatutnya dimengerti sebagai Allah (St. Basilius Agung, Tentang Roh Kudus, 18:46).

Bab 8 (Sang Bapa dan Sang Putera Pra-kekal serta Sang Roh Kudus)

Jadi kita percaya kepada Allah yang Esa, satu prinsip, tanpa awal, tak diciptakan, tidak dikandung, tidak dapat dimusnahkan, abadi, kekal, tak terbatasi, tak terperi, tak dapat dibelenggu/dibendung, Mahakuasa, sederhana, tidak majemuk, tak berjasad, tak berubah, tak dapat dipengaruhi, tak dapat ditambah-dikurangi-diganti, tak nampak oleh mata, sumber kebaikan dan keadilan, terang nurani tak dapat ditembus, tak dapat dimasuki, kuasa yang tak dapat diukur dengan nalar serta pemikiran apapun, tetapi terukur hanya oleh dengan KehendakNya, sebab Ia dapat dan mampu melakukan hal apa saja yang disukaiNya (Mazmur 134:6 LXX); khalik segala sesuatu baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, yang mengikat serta menyatukan segala sesuatu serta memelihara mereka dengan PenyediaanNya, memerintah serta menguasai segalanya didalam suatu kepemerintahan yang tak kunjung selesai, abadi serta kekal; tanpa adanya suatu pertentangan, memenuhi segala sesuatu, tak tertampung oleh apapun, tetapi DiriNya sendiri menampung segala sesuatu, sebagai pemilik dan pemelihara segala sesuatu, menembus segala sesuatu tanpa tercemar dan terkotori, memisahkan segala sesuatu melampau segala sesuatu dan segala kodrat, sebagai Adi Hakekat yang melampaui segala sesuatu, keagungan ilahi yang yang tiada taranya, penuh dengan kemahakebaikan, menunjukkan serta mengatur semua tata susunan kepemerintahan serta kuasa, diatas semua kuasa dan seluruh tata susunan kuasa, diatas segala hakekat, kehidupan, konsep serta kata-kata; Adalah Sang Terang itu sendiri dan Sang Baik dan tidak mempunyai tubuh atau sumber lain tetapi adalah Sang Sumber itu sendiri, serta Sumber dari segala sesuatu, Sumber hidup dari seluruh kehidupan, Sumber dari kata-kata dari segala kepandaian, penyebab dari segala hal yang baik bagi semua; Maha mengetahui sebelum segala sesuatunya terjadi; Esa Hakekat, Esa KeAllahan, Esa Kebajikan, Esa Kehendak, Esa Pengkaryaan, Esa Pemerintahan, Esa Kuasa, Esa Dominasi, Esa Kerajaan, dikenal dalam Tiga Pribadi Yang Sempurna di puja dalam satu penyembahan, dipercaya dan disembah oleh setiap mahkluk rasional, Utuh Bersatu Tanpa Tercampur, Tersendiri Tanpa Terpisahkan, yang adalah melampaui segala pemahaman serta pengertian.

Kami percaya didalam Sang Bapa dan Sang Putera serta Sang Roh Kudus dimana didalamNya kita telah dibaptiskan. Sebab inilah yang diperintahkan oleh Tuhan kepada para Rasul: Baptiskan mereka didalam nama Sang Bapa dan Sang Putera dan Sang Roh Kudus (Matius 28:19).

Kami percaya didalam Satu Sang Bapa, Penguasa (Prinsip) dan Penyebab dari segala sesuatu, yang tidak diperanakkan oleh segala sesuatu, yang satu-satunya yang tidak disebabkan dan tak terperanakkan, khalik dari segala sesuatu dan oleh KodratNya adalah Bapa dari Putera TunggalNya, Tuhan dan Allah serta Juruselamat kita, Yesus Kristus, Sang Bapa adalah juga yang mengeluarkan Sang Roh Yang Mahakudus.

Kami juga percaya didalam Putera Allah yang Esa dan yang Tunggal, Tuhan kita Yesus Kristus, yang diperanakkan oleh Sang Bapa sebelum segala abad, terang dari terang, Allah Sejati dari Allah Sejati, Diperanakkan bukan diciptakan, sehakekat dengan Sang Bapa yang melaluiNya segala sesuatu diciptakan. Tentang Dia yang dikatakan, bahwa Ia ada sebelum segala zaman, yang kami maksudkan disini adalah Dia Diperanakkan adalah diluar zaman dan waktu dan tanpa ada awalnya, sebab Putera Allah tidak dijadikan dari ketiadaan menjadi ada; dialah terang sinar yang bercahaya dari kemuliaan dan bentuk dari hakekat dari Sang Bapa, Dialah kuasa dan kebijaksanaan yang hidup, Sang Sabda yang berhakekat dan suatu gambar yang sempurna dan hidup dari Allah yang tak nampak oleh mata (Ibrani 1:3; I Korintus 1:24; Kolose 1:15). Sesungguhnya Ia selalu bersama dengan Sang Bapa, diperanakkan daripadanya secara abadi tanpa awal. Sebab Sang Bapa tidak ada saat dimana Sang Putera tidak ada tetapi Sang Bapa dan Sang Putera berkeksistensi bersama secara bersamaan, Sebab Sang Bapa tidak dapat disebut Sang Bapa tanpa adanya Sang Putera.

Adalah sebuah hujatan yang sangat amat besar dan tak terperi untuk mengatakan bahwa jika Dia bukanlah Bapa ketika Ia belum mempunyai Putera dan kemudian menjadi Sang Bapa setelah memiliki Sang Putera dan sekarang menjadi Bapa setelah sebelumnya tidak menjadi seorang Bapa dikarenakan tidak mempunyai Putera. (Ini sama saja mengatakan bahwa Allah dapat berubah!)

Sebab adalah suatu hal yang mustahil untuk membicarakan tentang Allah sebagaimana layaknya manusia yang tak mempunyai kuasa kodrati dalam memperanakkan, dan kuasa memperanakkan adalah kuasa untuk memperanakkan diriNya sendiri yaitu hakekatNya sendiri, Keturunan yang sama denganNya didalam kodrat!.

Juga adalah hal yang tidak saleh dan tidak bijaksana untuk mengatakan bahwa waktu turut ikut campur serta dalam memperanakkan Sang Putera dan mengatakan bahwa Sang Putera ada dalam keberadaaanNya (bereksistensi) setelah Sang Bapa (St. Gregorius dari Nazian, Homili 20:7).

Sebab kita mengatakan diperanakkannya Sang Putera adalah dari Sang Bapa yaitu dari KodratNya; Jikalau kita tidak mengatakan bahwa Sang Putera yang diperanakkan dari Sang Bapa ada dalam keberadaanNya bersama dengan Sang Bapa dari sejak permulaannya maka akibatnya kita mengatakan bahwa ada perubahan didalam hakekat Sang Bapa, dengan kata lain: Bapa dulunya bukan Sang Bapa, tetapi menjadi Bapa dikemudian hari (setelah hadirnya Sang Putera).

Sekarang halnya dengan penciptaan; walaupun terjadi di waktu yang lampau (selampau dengan terjadinya waktu) tidaklah diperanakkan dari hakekat Sang Bapa tetapi terjadi dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo) oleh karena kehendak dan kuasaNya sendiri serta tak mempengaruhi atau memberi perubahan dalam kodratnya Allah.

Diperanakkan berarti diproduksi dari kodrat-hakekat dari yang memperanakkan, sebuah keturunan yang mempunyai hakekat/kodrat yang sama dengan yang memperanakkanNya (non creatio ex nihilo). Sedangkan penciptaan dilakukan dengan membuat sesuatu menjadi ada, sesuatu yang dari luar Sang Pencipta bukan dari/keluar dari kodrat Sang Pencipta itu sendiri.

Jadi baik perbuatan Memperanakkan dan Menciptakan tidak memberi efek-samping atau perubahan serta pengaruh kepada Dia yang tak terpengaruhi, tak tervariasi, tak berubah, Dia Allah Yang Kekal Selalu Sama! Oleh karena kesederhanaanNya serta ketidak majemukanNya serta akibatnya oleh karena kodratNya yang tak terpengaruhi dan tak berubah maka Dia dalam kodratNya tidaklah tunduk kepada perubahan (Passio-penderitaan oleh perubahan) yang diakibatkan oleh perbuatan memperanakkan atau dari perbuatan menciptakan juga Dia tidaklah memerlukan bantuan dan kerja-sama dari apapun ataupun siapapun. Sebaliknya, perbuatan memperanakkan adalah perbuatan yang dimiliki oleh KodratNya dan keluar dari hakekatNya sendiri, perbuatan ini adalah tanpa awal dan akhir, bersifat kekal, sehingga Dia yang memperanakkan tidaklah mengalami perubahan sehingga Ia tidak menjadi: pertama-tamanya adalah Allah lalu menjadi Allah yang lain, Dia tidak lah menerima tambahan apapun. Tetapi Penciptaan adalah Karya dari kehendak Allah sehingga tidaklah menjadi kekal seperti Allah itu sendiri – Penciptaan bukanlah berasal atau keluar dari kodratNya Allah sehingga bisa membuat kodrat dari ciptaan tersebut menjadi rekan se-kekal, tanpa awal dan selalu ada, ciptaan adalah keluar dari ketiadaan menjadi ada melalui kehendak Allah. Tentunya Allah dan manusia tidaklah berproduksi atau membuat sesuatu dengan cara yang sama (St. Gregorius dari Nazian, Homili 20:7).

Jadi manusia tidaklah membuat sesuatu ada menjadi ada dari ketiadaan. Apa yang dibuat oleh manusia adalah selalu dari materi dan bahan-bahan yang sudah ada bukan hanya sekedar dengan berkehendak tetapi dengan berpikir sebelumnya dan mempunyai ide tentang benda apa yang akan dibuatnya, lalu mulai bekerja dengan tangannya, berpeluh dan berusaha yang kadang kala mengalami kegagalan sebab hal-hal yang dinginkan kadangkala tak tercapai. Allah dilain pihak menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan hanya dengan sekedar berkehendak. Oleh karenanya juga maka Allah dan Manusia tidaklah memperanakkan dengan cara yang sama.

Allah yang tak mempunyai/tak tertunduk oleh waktu, tanpa awal, tak terpengaruh, tak berubah, tak bertubuh, unik dan tanpa akhir ini, Dia memperanakkan dengan tanpa mempunyai/tak tertunduki oleh waktu, tanpa awal, tanpa terpengaruhi, tanpa mengalami perubahan serta tanpa persetubuhan. PemeranakanNya yang tak terperi dan tak terpikirkan ini juga tak mempunyai awal dan akhir serta kekal adanya sebab Ia tak terpengaruhi dan tak bertubuh, adalah tanpa persetubuhan oleh karena Ia tidak mempunyai tubuh dan oleh karena Dialah satu-satunya Allah yang tak memerlukan pertolongan dari siapapun atau apapun, tak berakhir, tak berkesudahan sebab Ia tak mempunyai atau tunduk oleh waktu, tanpa akhir dan kekal sama selamanya. (St. Kirilus dari Alexandria, Thesaurus, bagian kelima)

Seyogyanya, Allah Yang Kekal adanya memperanakkan Sang Sabda secara tanpa awal dan tanpa akhir sebagai Dia Yang Sempurna, kalau tidak maka Allah yang secara kodrat dan eksistensi adalah diluar waktu harus memperanakkanNya didalam ruang lingkup waktu. Sekarang manusia memperanakkan dengan cara yang berbeda sebab ia tunduk harus dilahirkan, mengalami kematian, berubah dan mengalami pertumbuhan sebab ia bertubuh dan kodratnya adalah wanita dan pria dikarenakan pria memerlukan pertolongan dari wanita. Kiranya Allah berbelas kasihan kepada kita, Dia yang melampaui segalanya serta melampaui segala pengertian dan pemahaman.

Jadi Gereja yang Kudus Katolik dan Apostolik mengajarkan bahwa Sang Bapa eksis secara bersama-sama dengan Putera TunggalNya yang diperanakkan olehNya diluar waktu dan tanpa mengalami perubahan dengan cara yang melampaui segala pengertian dan hanya Allah dari segalanya yang mengatahui hal ini.

Mereka berada (bereksistensi) secara bersama-sama sebagaimana api dan terang yang keluar dari api tersebut, bukan apinya dulu baru terangnya datang kemudian tetapi ada secara bersama-sama. Dan sebagaimana terang diperanakkan oleh api, terang selalu ada dalam api dan tidak ada cara apapun yang dapat memisahkan mereka, demikian juga Sang Putera diperanakkan dari Sang Bapa tanpa adanya cara atau saatnya Ia terpisah dari Sang Bapa, Sang Putera selalu ada (eksis) didalam Sang Bapa. Tetapi terang yang secara tak terpisahkan diperanakkan dari api, selalu ada didalam api, terang tidak mepunyai keberadaan individual yang terpisah dari api, oleh karena hal ini adalah sebuah kualitas alamiah dari api. Tetapi Sang Putera Tunggal Allah yang tak terpisahkan dan tak terbagi-bagi diperanakkan dari Sang Bapa serta tinggal didalam Sang Bapa, Sang Putera ini mempunyai eksistensi individual (pribadi) yang terlepas dari eksistensi individual (pribadi) Sang Bapa!

Sekarang Sang Sabda juga disebut sebagai Cahaya (Ibrani 1:3) sebab Ia diperanakkan dari Sang Bapa tanpa persetubuhan, tanpa penderitaan, diluar waktu, tanpa berubah dan tanpa terpisah. Dia juga disebut sebagai Sang Putera dari hakekat Sang Bapa (St. Gregorius dari Nazian, Homili 30:20), sebab Ia sempurna, Unik, mempunyai eksistensi individual yang tersendiri dalam segalanya adalah sama dengan Sang Bapa kecuali didalam hal Sang Bapa yang tidaklah diperanakkan. Dan Ia disebut Putera Tunggal sebab Ia diperanakkan sendirian (sebagai yang tunggal) dari Bapa yang Tunggal dan Satu. Sebab tidak akan ada pernah yang akan diperanakkan seperti Sang Putera Allah, ataupun juga tidak akan ada Putera Allah yang lain. Jadi walaupun Roh Kudus sungguhlah keluar dari Sang Bapa, hal ini tidaklah sama dengan diperanakkan, sebab hal ini (Roh Kudus) bukanlah Diperanakkan tetapi Dikeluarkan (Prosesi), hal ini adalah cara lain dalam eksistensi yang juga sama tak terjangkaukan oleh akal dan melampaui segala pengertian serta pemahaman juga mustahil untuk diketahui sebagaimana juga Diperanakkannya Sang Putera. Karena Sang Putera memiliki segala sesuatu yang dimiliki Sang Bapa kecuali dalam hal Sang Bapa tidak diperanakkan, hal perbedaan ini tidaklah membuat adanya perbedaan didalam hakekat/kodrat dan kualitas dari Sang Bapa dan Sang Putera, perbedaannya hanya didalam cara bereksistensi yaitu Sang Bapa tidak diperanakkan, sedangkan Sang Putera diperanakkan (St. Basilius Agung, Perlawanan terhadap Eunomius, bab IV). Sama halnya Adam tidaklah diperanakkan sebab ia dibentuk oleh Allah sendiri dari tanah, sedangkan Zeth diperanakkan oleh sebab ia adalah anak dari Adam, demikan juga dengan Hawa, ia tidaklah diperanakkan oleh sebab ia dibentuk dari rusuk Adam, walaupun demikian mereka tidaklah berbeda didalam kodrat sebab mereka semua adalah manusia, perbedaannya adalah cara bereksistensi mereka: Adam dari tanah, Zeth dari Adam, Hawa dari rusuk Adam (St. Gregorius dari Nazian, Homili 31:11)

Sekarang tidak ada yang mengetahui mengapa kata agenhton ditulis dengan satu n saja, yang berarti: sebagai sesuatu yang tak diciptakan atau dengan kata lain: sebagai sesuatu yang tak berasal-usul (tak mempunyai origin); sedangkan kata agennhton yang ditulis dengan dua n berarti: sebagai sesuatu yang tidak diperanakkan. Jadi arti yang pertama menunjukan perbedaan didalam hakikat, sebab hal ini berarti sebagai satu hakikat yang tak diciptakan, atau agenhtoV dengan satu n sedangkan yang lain adalah diciptakan atau berasal-usul. Dilain pihak arti yang kedua tidaklah menunjukan adanya perbedaan didalam hakekat, sebab hakekat dari individu yang pertama dari setiap mahkluk hidup tidaklah diperanakkan tetapi tak berasal usul (i.e. Adam). Sebab mereka semuanya diciptakan oleh Sang Khalik, diciptakan kepada eksistensi mereka dari ketiadaan oleh Sang Sabda dari Sang Bapa. Tetapi mereka bukanlah bereksistensi oleh karena diperanakkan sebab tidak ada mahkluk lain yang eksis / ada sebelum mereka yang dari padanya mereka diperanakkan. (Mahkluk-mahkluk yang pertama ini walaupun bereksistensi tidak melalui diperanakkan tetapi langsung diciptakan oleh Allah melalui Sang Sabda dari ketiadaan, dalam hakekat/kodratnya mereka satu sama lainnya tidak ada bedanya, baik yang pertama yaitu yang diciptakan atau yang berikutnya yang muncul oleh karena diperanakkan, tetapi mereka tidak mungkin bahkan mustahil mempunyai hakekat yang sama dengan Allah dikarenakan mereka adalah dari ketiadaan bukan dari Hakekat Allah itu sendiri).

Jadi arti yang pertama menujukkan kepada Ketiga Pribadi Yang Supra-Ilahi dari KeAllahan yang Kudus sebab mereka tidaklah diciptakan dan mempunyai Hakekat yang Sama (St. Kirilus dari Alexandria; Thesaurus bagian 7). Sedangkan di pihak lain arti yang kedua tidaklah dikenakan kepada ketiga-tigaNya dikarenakan hanya Sang Bapa saja yang tidak diperanakkan dimana Dia tidak mendapatkan keberadaanNya dari pribadi yang lain. Dan hanya Sang Putera saja yang diperanakkan sebab Ia diperanakkan dari hakekat/kodrat sang Bapa tanpa awal dan diluar waktu. Dan hanya Sang Roh Kudus saja yang keluar dari Sang Bapa; Ia tidaklah diperanakkan melainkan dikeluarkan atau diprosesikan dari kodrat/hakekat dari Sang Bapa. Inilah pengajaran dari Kitab Suci, tetapi perihal mengenai diperanakkan dan dikeluarkan adalah sesuatu yang tak terjangkaukan oleh akal dan melampaui segala pengertian serta pemahaman.

Perlu diketahui bahwa istilah-istilah seperti: ‘Paternitas’ (KeBapaan), ‘KePuteraan’ dan ‘Prosesi’ sebagaimana dikenakan kepada Keilahian yang Suci dan terberkati tidaklah berasal dari kita, sebaliknya diturunkan kepada kita dari Kitab Suci sebagaimana yang dituliskan oleh St. Paulus Rasul: Itulah sebabnya aku bersujud kepada Bapa yang daripadaNya semua turunan (paternitas) yang ada di dalam surga dan di atas bumi menerima namanya (Efesus 3:14&15).

Jadi kalau kita mengatakan bahwa Bapa adalah sumber dari Sang Putera dan Ia lebih besar dari Sang Putera kita tidaklah sedang memberi pengertian bahwa Sang Bapa datang sebelum Sang Putera baik didalam waktu ataupun didalam kodrat, sebab melalui Dia-lah, Allah menciptakan dunia ini (Ibrani 1:2). Yang kita maksudkan adalah Sang Putera diperanakkan dari Sang Bapa bukan Sang Bapa dari Sang Putera dan bahwa Sang Bapa adalah secara kodrat adalah penyebab Sang Putera. Sama halnya kita tidak mengatakan bahwa api keluar dari terang sebaliknya terang keluar dari api, jadi ketika kita mendengar bahwa Sang Bapa adalah sumber dari Sang Putera dan bahwa Sang Bapa lebih besar dari Sang Putera, marilah kita mengerti bahwa Sang Bapa adalah sebagai Sang Penyebab. Dan sebagaimana kita tidaklah mengatakan bahwa api adalah sebuah substansi dan terang adalah substansi yang lain, maka tidaklah patut kita mengatakan bahwa Bapa adalah satu hakekat dan Putera adalah satu hakekat yang lain, sebab mereka adalah Satu Dzat dan Hakekat. Sang Bapa melakukan segala sesuatunya melalui Sang Putera TunggalNya bukan sebagai sebuah organ pengganti, sebagai melalui kuasa yang alamiah (di dalam diri Allah) dan yang unik tersendiri keberadaanNya. Sang Putera tidak dapat mengerjakan sesuatu dari DiriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Sang Bapa mengerjakannya (Yohanes 5:19), Sang Putera adalah seorang Individu yang Sempurna Sehakekat dan tak terpisahkan dari Sang Bapa sebagaimana telah dijelaskan diatas tadi. Adalah suatu hal yang Mustahil untuk menemukan di alam ciptaan ini suatu gambaran apapun yang secara tepat dan jelas mengambarkan cara dan karakter serta alam dari Sang Tritunggal Mahakudus itu sendiri. Sebab apa yang diciptakan adalah majemuk, bervariasi, dapat berubah, terpahami, terjelaskan, mempunyai bentuk, dapat binasa; jadi bagaimana bisa menggambarkan dengan kejelasan yang tepat mengenai Kodrat Ilahi yang supra-hakekat dimana diatas serta melampaui segala sesuatu? Adalah hal yang terbukti bahwa seluruh ciptaan tunduk kepada kondisi-kondisi yang disebutkan diatas tadi dan bahkan kodrat kita sendiri tunduk kepada kebinasaan.

Juga kita percaya kepada Sang Roh Kudus, Tuhan dan Sang Pemberi Hidup yang keluar dari Sang Bapa dan tinggal didalam Sang Putera yang disembah dan dimuliakan bersama Bapa dan Sang Putera juga Satu Dzat dan Hakekat serta Se-Abadi dan Kekal sama dengan Sang Bapa dan Sang Putera. Yang Adalah Roh Allah yang berotoritas serta sumber dari segala kebijaksanaan, hidup serta pengudusan dan penyucian, yang adalah Allah bersama dengan Sang Bapa dan Sang Putera sebagaimana telah dinyatakan; Yang adalah Yang Tidak Diciptakan, Lengkap, Sempurna, Kreatif, Mahakuasa, Mahaberkarya, Mahakuasa, kekal didalam kuasa, menguasai segala ciptaan tetapi tidak dikuasai, yang mengilahikan tetapi tidak dilahikan oleh siapapun atau apapun juga; yang memenuhi segala sesuatu tetapi tidak dipenuhi oleh apapun juga; yang menguduskan tetapi tidak dikuduskan oleh siapapun atau apapun juga; yang menerima semua permohonan dari semua, adalah penSyafaat; yang adalah sama seperti Sang Bapa dan Sang Putera didalam segala sesuatu; Yang keluar dari Sang Bapa dan dikomunikasikan melalui Sang Putera dan berpartisipasi dalam segala dan seluruh ciptaan; Yang melaluiNya sendiri menciptakan serta memberikan hakekat dan kodrat kepada segala sesuatu serta menyucikan serta memelihara mereka semua; Yang secara unik, tersendiri keberadaanNya, berkesistensi secara individu didalam PribadiNya sendiri, tak terbagi-bagi, tak terpisahkan dari Sang Bapa dan Sang Putera yang memiliki segala sesuatu yang dimiliki oleh Sang Bapa dan Sang Putera kecuali didalam hal Sang Bapa sebagai Yang tidak diperanakkan dan Sang Putera sebagai Yang diperanakkan. Sebab Sang Bapa adalah tidak disebabkan dan tidak diperanakkan sebab Ia tidak berasal dari suatu apapun, tetapi memiliki KeberadaanNya dari DiriNya sendiri dan tidak memiliki sesuatu yang berasal dari suatu atau siapapun.

Sebaliknya Dialah adalah Sumber dan Penyebab dari segala sesuatu yang secara alamiah dan kodrati ber-eksis sebagaimana adanya mereka. Dan Sang Putera diperanakkan dari Sang Bapa sementara Sang Roh Kudus juga berasal dari Sang Bapa walaupun tidak secara diperanakkan tetapi dikeluarkan. Sekarang kita telah melihat perbedaan antara diperanakan dan dikeluarkan, tetapi apa dan bagaimana dari perbedaan ini belumlah kita pelajari. Tetapi Diperanakannya Sang Putera dan DikeluarkanNya Sang Roh Kudus adalah secara bersama-sama.

Sebagaimana tentunya apapun yang dipunyai oleh Sang Putera yang dimilikiNya dari Sang Bapa, juga dimiliki oleh Sang Roh Kudus termasuk juga keberadaanNya. Dan apabila Sang Bapa tidaklah ada (eksis) maka Sang Putera dan Sang Roh tidaklah ada juga. Jikalau Sang Bapa tidak memiliki suatu apapun maka Sang Putera dan Sang Roh tidak memiliki apapun juga. Lebih jauh lagi oleh karena Sang Bapa ada maka Sang Putera ada demikian juga Sang Roh Kudus ada, dan Mereka memiliki segala sesuatunya yang dimiliki oleh ketiganya kecuali dalam hal tidak diperanakkan, diperanakkan dan dikeluarkan. Sebab adalah hanya dalam karakteristik-karakteristik pribadi inilah maka Ketiga Pribadi Ilahi ini berbeda satu sama lainnya, dengan tak terpisahkan menjadi unik tersendiri dalam setiap PribadiNya secara individual.

Kita mengatakan bahwa setiap dari Ketiganya mempunyai keberadaan Individu yang unik tersendiri dan sempurna, bukan dalam arti pemahaman sebagai satu kodrat sempurna yang majemuk dari tiga kodrat yang tak sempurna; sebaliknya adalah Dzat Hakekat yang Esa, Agung dan Kekal Sempurna didalam Tiga Pribadi (St. Basilius Agung; Dalam Melawan Bidat Sabelian, Arian dan Eunomian; Bab IV).

Sebab apapun juga merupakan kesatuan dari hal-hal yang tak sempurna pastilah menjadi majemuk dan mustahil menjadi kodrat individu yang sempurna. Maka akibatnya kita tidak mengatakan sifat-sifat kategori dari masing-masing Pribadi melainkan dialam Pribadi-Pribadi itu sendiri. Unsur unsur yang sifat kategori alamiahnya tak terjaga disebut sebagai hal-hal yang tak sempurna, jadi batu, kayu dan besi adalah sempurna didalam diri mereka masing-masing seturut dengan kodrat alamiah mereka masing-masing tetapi didalam membuat sebuah rumah yang dibangun dari unsur-unsur ini mereka adalah tidak sempurna dikarenakan tidak ada diantara unsur-unsur diatas adalah sebuah rumah dalam kodratnya (kalau digabung semuanya barulah membentuk sebuah rumah).

Dan kita kita berbicara mengenai Kodrat Individu yang Sempurna adalah untuk menghindari pemahaman tentang komposisi dari kodrat Ilahi. Sebab komposisi unsur-unsur adalah penyebab dari disintergrasi (perpecahan). Dan lagi kita mengatakan bahwa Ketiga Pribadi ada didalam satu sama lainnya agar supaya bukannya untuk memperkenalkan macam-macam dewa-dewi yang beraneka ragam (St. Gregorius dari Nazian; Homili 38:8).

Dengan Tiga Pribadi kita memahami bahwa Allah tidaklah majemuk, tidaklah tercampur-baur dan dengan ke se-Dzat dan ke-Sehakekatan dari ketiga pribadi dan eksistensi keberadaan mereka didalam satu sama lainnya dan oleh ketidak terpisahan dan ketidak terbagian dari identitas kehendak, aktifitas, kebijaksanaan, kuasa. Mereka kita mengerti bahwa Allah itu Esa. Sebab Allah dan SabdaNya dan RohNya adalah benar-benar Satu Allah.

Seseorang haruslah tahu bahwa adalah satu hal untuk mengobservasi dan satu hal yang lain untuk melihat melalui nalar dan akal. Jadi didalam segala ciptaan adalah perbedaan yang terlihat diantara hakekat pribadi. Petrus adalah terlihat sebenarnya berbeda dari Paulus. Tetapi apa yang dilihat secara umum yaitu hubungan dan keutuhannya terlihat oleh nalar dan akal. Jadi didalam pikiran, kita melihat Petrus dan Paulus mempunyai secara umum kodrat yang sama sebab keduanya adalah mahkluk rasional dan tubuh mereka dibuat hidup oleh rasio serta pemahaman jiwani. Oleh sebab itu secara umum kodrat mereka dilihat oleh akal dan nalar, (sebagai mahkluk nalar dan akal ). Sekarang setiap pribadi individu terpisah satu sama lainnya, tidak hidup berada didalam satu sama lainnya, terpisah serta dianggap sebagai satu pribadi, dikarenakan banyaknya hal yang membedakan mereka satu sama lainnya. Mereka terpisah didalam ruang, waktu, pemahaman, kekuatan, bentuk, kebiasaan, temperamen, martabat, gaya hidup dan hal-hal lainnya tetapi yang sangat membedakan adalah kenyataannya mereka tidak eksis berada didalam satu sama lainnya melainkan terpisah. Oleh sebab itu kita menyebutnya: satu, dua, tiga atau banyak orang.

Yang dikatakan diatas adalah benar dan berlaku untuk setiap ciptaan, tetapi adalah hal yang berbeda didalam hal Tritunggal yang Kudus, Tak terbagi-bagi, seDzat dan hakekat, serta melampaui segala sesuatunya serta melampaui Akal. Sebab disini yang secara umum adalah dianggap Esa didalam kenyataannya oleh nalar dari identitas serta rekan se-kekal-an dari hakekat, pengoperasian dan kehendak dan oleh nalar dari persetujuan didalam pemahaman dan identitas dari kuasa, kebajikan serta kebaikan (bukan persamaan tetapi identitas) dan oleh nalar dari aliran serta pergerakan yang Esa. Sebab hanya ada Satu hakekat, Satu kebaikan, Satu kebajikan, Satu tujuan, Satu Pengoperasian, Satu kuasa – Satu dan Sama bukan tiga yang mirip satu sama lainnya tetapi Satu dan pergerakan yang Sama dari Tiga Pribadi. Dan kesatuan dari setiapnya adalah tidak kurang dengan yang lain ataupun didalam diriNya sendiri, dengan kata lain Sang Bapa dan Sang Putera serta Sang Roh Kudus adalah satu didalam segala sesuatunya kecuali didalam: Ketidak diperanakkan, Diperanakkan serta Dikeluarkan. Adalah oleh pemikiran, perbedaan ini dapat dimengerti. Sebab kita tahu Allah yang Esa didalam Dia terdapat KeBapaan, Keputeraan, serta Prosesi. Perbedaanya kita dapat mengerti adalah bagaimana cara keberadaan dari Dia (St. Gregorius dari Nyssa, dalam Uraian: Ketigaan bukan Ketigaan allah-allah).

Sebab dengan KeAllahan yang tak terperi kita tidak dapat berbicara tentang perbedaan didalam hal tempat sebagaimana yang kita lakukan dengan diri kita karena ketiga Pribadi ini hidup keberadaanNya didalam satu sama lainnya, kita bukan dan tidak boleh jadi dibingungkan dengan hal ini tetapi hal ini dapat dimengerti secara mendalam dan lebih dekat dan telah diekspresikan didalam kata-kata Tuhan sendiri: Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku (Yohanes 14:20). Kita juga tidak dapat berbicara tentang perbedaan didalam kehendak, atau pemahaman atau pengoperasian, kebajikan, atau hal apapun juga yang akan menyebabkan kita berfikir tentang perbedaan yang nyata (namun maya).

Oleh sebab itu kita tidak menyebut Sang Bapa dan Sang Putera serta Sang Roh Kudus sebagai Tiga Allah, tetapi sebagai Satu Allah, Sang Tritunggal Mahakudus, dimana Sang Putera dan Sang Roh Kudus adalah berhubungan kepada Satu Sebab dan Sumber tanpa adanya pengkombinasian ataupun percampuran sebagaimana yang diutarakan oleh Sabelius. Sebab mereka adalah bersatu sebagaimana yang telah dijelaskan dan mereka mempunyai keberadaan mereka satu didalam yang lain tanpa adanya percampuran dan peradukan dan tanpa adanya perubahan atau perpisahan didalam hakekat sebagaimana yang diutarakan oleh Arius (St. Gregorius dari Naziansus, Homili 20:6).

Jadi secara tepat sesorang harus mengerti bahwa KeAllahan itu tidak terbagi bagi seperti tiga matahari yang bergabung bersama tanpa adanya interval yang ada hanyalah satu kesatuan cahaya (St. Gregorius dari Naziansus; Homili 31:14). Jadi kalau kita mengkontemplasikan KeAllahan dan Sang Sumber, Penyebab utama dan Sang Raja dan kesatuan serta identitas dari pergerakan dan juga kehendak dari KeAllahan dan identitas dari hakekat, kebajikan, pengoperasian serta kekuasaan maka yang akan nampak kepada kita adalah Esa. Tetapi ketika kita mengkontemplasikan hal-hal dimana didalam keberadaan Allah atau lebih tepat lagi bagi hal-hal yang adalah KeAllahan dan yang datang/keluar dari Sang Sumber Pertama secara diluar waktu dengan kemuliaan yang sejajar/sama, tak terpisahkan yaitu Pribadi Sang Putera dan Pribadi Sang Roh Kudus maka kita menyembah Yang Tiga. Satu Bapa, Sang Bapa yang tak berawal atau yang tak tersebabkan sebab Dia tidak berasal dari seorangpun. Satu Putera, Sang Putera yang tanpa awal, tetapi tanpa tak tersebabkan sebab Ia berasal dari Sang Bapa, kalau kita menganggap ‘awal’ dalam arti waktu maka Dia adalah tanpa awal sebab Sang Puteralah Pencipta Zaman dan tak tunduk oleh waktu. Satu Roh, Sang Roh Kudus yang datang dari Sang Bapa bukan melalui per-anak-an tetapi melalui prosesi (keluar). Dan sebagaimana tidak pernah berhenti dari Tidak Diperanakkan sebab Dia memperanakkan, juga Sang Putera tidak pernah berhenti dari Diperanakkan sebab Dia Diperanakkan dari Yang Tidak Diperanakkan, juga Sang Roh Kudus tidak akan pernah berubah menjadi Sang Bapa ataupun Sang Putera sebab Ia keluar dari Sang Bapa dan Dia adalah Allah. Atribut dari keberadaan ini tidaklah pernah dan akan berubah, bagaimana bisa tetap menjadi bagian atribut keberadaan Allah apabila hal-hal ini dapat berubah dan bertransformasi?

Jadi apabila Sang Putera adalah Sang Bapa maka Dia bukanlah Bapa yang benar sebab hanya ada satu Bapa yang adalah Bapa yang benar. Jikalau Sang Bapa adalah Sang Putera maka Ia bukanlah Sang Putera yang benar, sebab hanya ada satu Sang Putera saja yang benar dan juga hanya ada satu saja Sang Roh Kudus yang benar

Kita harus tahu bahwa kita tidak boleh mengatakan bahwa Sang Bapa adalah siapa saja, melainkan kita harus mengatakan bahwa Dia adalah Sang Bapa dari Sang Putera. Kita juga tidak boleh mengatakan bahwa Sang Putera adalah Sang Sumber atau Sang Penyebab tetapi kita mengatakan bahwa Sang Putera adalah berasal dari Sang Bapa dan Dialah Putera Sang Bapa. Dan kita juga mengatakan bahwa Sang Roh Kudus berasal dari Sang Bapa dan kita memanggilNya sebagai Roh dari Sang Bapa.

Juga kita mengatakan bahwa Sang Roh tidak berasal dari Sang Putera tetapi kita memanggilNya sebagai Roh Sang Putera sebagaimana yang diberitakan oleh St. Paulus: Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus (Roma 8:9) kita juga mengaku bahwa Dia di manifestasikan dan di komunikasikan kepada kita melalui Sang Putera sebab Ia mengembusi mereka, para Rasul dan berkata: "Terimalah Roh Kudus” (Yohanes 20:22). Sebagaimana terang dan sinar yang datang dari matahari sebab matahari adalah sumber dari terang dan sinar, terang dikomunikasikan kepada kita melalui cahaya dan itulah yang menerangi kita sehingga terang bisa kita nikmati.

Tidaklah bisa kita katakan bahwa Sang Putera adalah berasal dari Sang Roh dan juga Sang Roh berasal dari sang Putera.

Bab 9

Ke Allahan adalah sederhana dan tidak majemuk. Hal yang majemuk adalah terdiri dari banyak hal. Apakah dapat kita katakan bahwa (atribut): Tak Terciptakan, Tak Berawal, Tak Bertubuh, Tidak Dapat Binasa, Kekal, Baik, Kreatif, dan sebagainya adalah perbedaan-perbedaan yang hakiki di dalam Allah? Jika demikian maka Allah tidaklah sederhana melainkan majemuk. Pernyataan ini adalah penyataan yang paling rendah dan sesat. Jadi seseorang tidak boleh beranggapan bahwa hal-hal di atas, yang diakui sebagai atribut Allah, adalah jati diri Allah di dalam kodratNya. Sebaliknya atribut-atribut di atas menunjukkan hal-hal yang bukan Allah atau menunjukkan hubungan dari hal-hal yang diperbandingkan dengan Allah, atau hal-hal yang diakibatkan oleh kodrat dan perbuatan karya Allah.

Dari semua nama yang diberikan kepada Allah, nama yang tepat dari semuanya adalah: Dia Yang Ada (Own), sebagaimana dinyatakan ketika di dalam percakapan dengan Musa di gunung, Tuhan berkata, “Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (Keluaran 3:14). Sebab sebagai Samudra Hakekat/ Kodrat yang Tak Terbatas dan Tak Terbendung, Ia Memenuhi segala sesuatu di dalam dirinya. Tetapi sebagaimana yang dikatakan oleh St. Dionysius: “Dia adalah Yang Baik sebab di dalam Allah, seseorang tidak boleh mengatakan bahwa kodrat datang pertama dan yang Baik datang kemudian.

Allah adalahQeoV” yang diambil dari ”Qeein” yang berarti berlari/ bergerak, dikarenakan Ia bergerak menembus melalui segala sesuatu dan memelihara segala sesuatu. Atau juga diambil dari kataaionyang berarti membakar; dikarenakan Allah adalah api yang menghanguskan segala kejahatan. Atau diambil dariqeasqaiyang berarti melihat segala sesuatu, sebab tidak ada suatu apapun yang lolos dari Dia, Dia yang mengawasi segala sesuatu dan oleh karena Dia telah melihat segala sesuatu sebelum terjadi.

Oleh karena Ia menciptakan semuanya secara tersendiri dan setiap yang terjadi selesai pada waktu yang sudah ditentukan sesuai dengan tujuan yang sudah ditentukan dan gambar serta jumlah yang ada di dalam kehendak dan desain dari kekekalanNya. Nama yang pertama adalah ekspresi dari ekisistensiNya dan HakekatNya, sementara nama yang berikutnya adalah ekspresi dari perbuatan/ karyaNya. Sedangkan nama seperti: Tanpa Awal, Tak Dapat Binasa, Tak Berasal-usul atau Tak Terciptakan, Tanpa Tubuh, Tak Terlihat, yang sebenarnya menunjukkan bahwa Ia tidak mempunyai awal sebagaimana adanya makhluk, bahwa Ia tidak bisa binasa, tidak diciptakan, bukan bertubuh dan tidak dapat dilihat. Nama-nama seperti: Maha Baik, Maha Adil, Maha Kudus dan semua nama yang seperti ini adalah akibat dari KodratNya, bukan semata-mata adalah jati diri dari Hakekat. Sedangkan “Tuhan”, “Raja”, dan segala nama yang seperti ini berhubungan dengan hal-hal yang diperbandingkan dengan Allah.

Jadi bagi mereka yang di bawah penguasaanNya, Ia disebut Tuhan; bagi mereka yang diciptakan oleh Tuhan, Ia disebut Pencipta; bagi mereka yang digembalakanNya, Ia disebut Gembala.

Bab 10

Nama-nama yang telah disebutkan di atas harus dianggap dan dikenakan secara umum, dengan cara yang sama, sederhana, tak terpisah-pisah dan bersatu, kepada seluruh ke-Allahan.

Tetapi nama “Bapa”, “Putra” dan “Roh Kudus”, “Sang Sumber”, “Yang Tersebabkan”, “Tak Diperanakkan” dan “Diperanakkan” serta “Yang Keluar” harus dimengerti secara berbeda sebab nama-nama ini tidak menyatakan Hakekat tetapi menunjukkan hubungan bersama dan cara ber-eksistensi dari setiap Pribadi. Walupun ketika kita mengerti akan nama-nama di atas dan olehnya kita telah dipimpin untuk mengenal Hakekat Ilahi, tetaplah kita tidak akan mengerti akan Hakekat Ilahi itu sendiri. Satu-satunya yang kita mengerti adalah hal-hal yang berhubungan dengan Hakekat Ilahi.

Sebagaimana walaupun kita mengetahui bahwa jiwa itu tidak mempunyai tubuh, tidak mempunyai kuantitas atau volume dan tidak mempunyai bentuk, kita tetap tidak mengetahui hakekat dari jiwa kita itu sendiri. Dan pada hal yang sama, jika kita mengetahui tubuh kita berkulit hitam atau putih, kita tidak akan mengerti hakekat dari tubuh; kita hanya mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan tubuh. Nalar sejati akan mengajarkan kita bahwa ke-Ilahian itu sederhana dan memiliki satu karya sederhana yang adalah baik serta mempengaruhi segala sesuatu –seperti sinar matahari yang menghangatkan segala sesuatu- serta di pihak lain, segala sesuatu yang berhubungan dengan Inkarnasi Sang Sabda Allah yang Ilahi dan Penuh Kemurahan adalah mempunyai peng-aplikasi-an yang istimewa serta berbeda.

Sebab baik Sang Bapa atau Sang Roh Kudus tidak dikomunikasikan sebagaimana Sang Sabda. Sebab ketika sebagai Allah Ia tidaklah berubah, dan Sang Putra Allah, Ia menjadi manusia seperti kita.

Bab 11

Karena didalam Kitab Suci kita menemukan begitu banyak hal yang menyatakan Allah seakan-akan Ia memiliki tubuh, kita harus mengerti bahwa karena kita manusia yang diselimuti oleh daging, kita mendapat kesulitan untuk memikirkan ataupun berkata-kata mengenai hal yang Ilahi, agung dan karya keAllahan yang tidak menggunakan tubuh jasmani, oleh sebab itu kita menggunakan: gambaran, tipe/lambang, simbol yang berhubungan dengan kodrat manusiawi kita (St. Gregorius Naziansus, Homili 34:10).

Akibatnya, segala sesuatu yang menerangkan Allah seakan-akan Ia memiliki tubuh diterangkan secara simbolis dengan arti yang lebih dalam. Jadi melalui mata dan kelopak mata serta penglihatan dari Allah kita mengerti KuasaNya yang melampaui serta menembus segala sesuatunya serta Hikmat PengetahuanNya yang tak tertandingi, melalui penglihatan, kita menjadi mengerti akan pengetahuan yang lebih lengkap. Melalui pendengaran serta telingaNya kita mengerti bahwa dengan kemurahanNya Ia telah menerima permohonan kita sebab melalui indra ini, kita juga menyesuaikan diri kita terhadap petisi permohonan kita dan lebih dengar-dengaran lagi. Melalui mulut dan BicaraNya kita menjadi mengerti akan ekspresi dari kehendakNya, sebab dengan dengan menggunakan mulut serta bicara kita sendiri, kita menjadi mengenal ekspresi dari hati nurani kita yang terdalam. Melalui makanan serta minumanNya kita mengerti akan persetujuan kita dengan kehendakNya, sebab melalui indera perasa, kita ini dapat memuaskan kodrat kita. Melalui penciumanNya marilah kita mengerti tentang penerimaanNya akan maksud baik dari hati kita kepadaNya sebab dengan indera ini kita mengenal presepsi pengertian. Melalui wajahNya marilah kita mengerti bahwa Ia sedang dinyatakan dan diproklamirkan melalui karyaNya sedemikian juga kita dikenal melalui wajah kita. Melalui tanganNya marilah kita mengerti eksekusi dari karyaNya sebab juga melalui tangan kita, kita secara sukses berhasil melakukan pekerjaan yang layak dan perlu dilakukan. Melalui tangan kananNya marilah kita mengerti akan pertolonganNya disaat kita memerlukannya, dengan tangan kanan kita, kita melakukan hal-hal yang sopan dan agung serta layak dan yang membutuhkan daya upaya dan perhatian. Melalui sentuhanNya marilah kita mengerti akan pengetahuanNya yang Maha tepat dalam membedakan sesuatu dan pengetahuanNya yang Maha tepat pada segala sesuatu yang maha tersembunyi sekalipun, sebab kepada mereka yang kita rasakan dihati kita tentunya tak dapat kita rahasiakan hal yang sekecil apapun. Melalui kaki dan perjalanNya marilah kita mengerti akan kedatanganNya untuk menolong mereka yang lemah dan memerlukan, atau untuk membalas musuh kita atau untuk hal-hal yang lain, dengan analogi: apapun yang dapat kita lakukan dengan kaki kita. Melalui janjiNya kita dapat mengerti akan Ketidak-berubahan dari kehendakNya, sebab melalui janji juga kita melakukan persetujuan dengan satu sama lainnya. Melalui kemurkaanNya dan kemarahanNya kita mengerti akan hal-hal yang mendukakanNya, akan kebencianNya terhadap kejahatan, sebab kita juga benci terhadap hal hal yang membuat kita marah (St.Gregorius Naziansus, Homili 31:22)

Melalui pelupaanNya serta tidurNya dan kantukNya kita mengerti bahwa Ia tidak membalaskan apa yang seharusnya diterima oleh manusia dan musuhNya dan penundaan akan pertolongan bagi milikNya sendiri.

Jadi secara sederhana, segala hal diatas yang seakan menegaskan bahwa Allah memiliki tubuh ternyata mempunyai arti yang tersembunyi, yang melalui hal-hal yang berhubungan dengan kodrat kita, telah mengajarkan kepada kita hal-hal yang diluar kodrat kita -kecuali terhadap hal-hal yang berhubungan dengan hadirat dari Sang Sabda Allah didalam daging.

Sebab bagi keselamatan kita, Dia telah mengambil rupa manusia secara utuh dan lengkap baik intelektualitas jiwa dan tubuh serta segala aspek khusus dan alamiah dari kodrat manusia kecuali segala hawa nafsu yang salah.

Bab 12

Didalam hal-hal ini kita telah di ajar oleh percakapan-percakapan suci, sebagaimana yang telah dikatakan oleh St. Dionisius Aeropagitus (St. Dionisius; Nama-Nama Ilahi 1:1), yaitu Allah adalah Sang Sumber dan yang utama dari segala sesuatu, essensi dari segala yang ada, Sang Hidup dari semua yang hidup, Sang Nalar dari segala sesuatu yang ber-rasio, Sang Faham dari segala sesuatu yang dapat berpikir, Sang Penghidup dan Dia yang membangkitkan mereka yang telah jatuh daripadaNya, Sang Pembentuk dan Sang Pembaharu dari mereka yang secara kodrat menjadi binasa, Sang Penopang Kudus dari mereka yang terhempas dan terhanyut didalam lautan kenajisan, Sang Sokoguru Penopang dari mereka yang berdiri teguh, Sang Jalan dan Sang Lengan kuat yang teracung serta membimbing mereka yang terpanggil kepadaNya, lebih lagi saya akan menambahkan bahwa Dialah Sang Bapa dari mereka yang diciptakan olehNya.

Sebab Allah kita yang telah menciptakan kita dari ketiadaan menjadi ada, secara tepat disebut sebagai Sang Bapa, lebih dari mereka yang telah memperanakkan kita, sebab daripadaNya, mereka (orang tua kita) telah menerima keberadaan mereka serta kuasa untuk memperanakkan. Dialah Gembala dari mereka yang mengikuti Dia dan dipimpin olehNya. Dialah Sang Terang dari mereka yang diterangi. Dialah Sang Saleh dari mereka semua yang saleh, Dialah Pendamai dari mereka yang berseteru. Dialah Kesederhanaan dari mereka yang memilih untuk hidup sederhana. Ialah Sang Pemersatu dari mereka yang mencari persatuan. Dialah Sang Utama dari segala sesuatu yang utama, Dialah Sang Prinsip Utama yang melampaui setiap prinsip utama. Dialah Sang Penyampai yang baik dari segala hal yang tersembunyi yaitu Himat PengetahuanNya, yang sejauh dizinkan dan mampu ditampung seturut kapasitas dari masing-masing individu.

Lebih tepat lagi tentang Nama-Nama Allah (Tambahan kecil dari bab 12 ini adalah bab tambahan yang hanya diketemukan dalam kodex-kodex terakhir dari Opera St. Ioannis Damascini, tetapi Tradisi Gereja Byzantin mengakui keabsahannya sebagai karya dari St. Yohanes Damaskus)

Oleh karena KeIlahian intu tak terselami maka Dia haruslah tetap tak bernama. Oleh karena kita tidak mengetahui Dzat-HakekatNya, maka marilah kita tidak mencari-cari sebuah nama bagi Dzat-HakekatNya, sebab nama adalah menunjukan benda/orang macam apakah itu. Tetapi walaupun Allah adalah baik dan telah menciptakan kita dari ketiadaan menjadi ada untuk menikmati kebaikanNya dan juga telah mengaruniakan kita hikmat pengetahuan, tetapi

juga sebagaimana Ia tidak mengkomunikasikan kepada kita akan Dzat-HakekatNya maka Ia tidak juga mengkomunikasikan kepada kita tentang hikmat pengetahuan akan Dzat-HakekatNya!

Adalah sesuatu yang mustahil bagi sebuah kodrat untuk mengetahui secara sempurna sebuah Kodrat yang sangat amat jauh dan Mahatinggi dari kodratnya sendiri. Tetapi kalau kita mempunyai hikmat untuk mengetahui hal-hal yang ada maka bagaimana kita dapat mengetahui hal yang Adi-Hakekat. Jadi oleh karena ke-MahabaikanNya yang melampaui segala sesuatu Ia memperbolehkan kita untuk menamai Dia dari segala sesuatu yang setaraf dengan kapasitas pengetahuan kodrat kita, sehingga kita tidak sama sekali kehilangan pengetahuan akan Dia, tetapi setidak-tidaknya kita mempunyai pengertian yang samar. Jadi sejauh akan ketakterselamiNya, Dia tetaplah Tak Ternamai.

Tetapi oleh karena Ia adalah sumber penyebab dari segala sesuatunya dan memiliki sebelumnya didalam diriNya segala alasan dan sebab dari segala sesuatu maka Ia dapat diberi nama dari segala sesuatunya bahkan nama-nama yang bertentangan seperti terang dan gelap, air dan api, sehingga kita mengetahui bahwa Ia TIDAK seperti ini dalam Dzat-HakekatNya, sebab Ia adalah Supra-Adi Hakekat dan Tak Ternamai. Jadi oleh karena Dia adalah penyebab dari segala sesuatu, maka Ia mendapatkan atau dinamakan dari segala sesuatu yang tersebabkan (mempunyai penyebab terjadinya).

Jadi beberapa nama-nama Ilahi disebutkan dalam benutk negasi untuk menunjukan supra-adi dzat-hakekatNya, nama-nama seperti: ‘Tak Berjasad’, ‘Diluar Zaman’, ‘Tanpa Awal’, ‘Tak Terlihat’- sama sekali bukan menunjukan infeoritas dari Allah, bahwa Ia kekurangan sesuatu, sebab segala sesuatunya adalah milikNya dan datang dari padaNya dan segala sesuatunya diciptakan olehNya, dan semuanya ada didalam Dia (Kolose 1:17), tetapi hal ini menunjukan KeagunganNya yang terpisahkan dari segala sesuatunya.

Nama-nama yang bersifat negasi ini dikenakan kepadaNya sebagai Yang menyebabkan segala sesuatunya. Sebab sejauh Ia adalah penyebab segala mahkluk dan setiap hakekat, Ia disebut sebagai ‘Dzat’ dan ‘Hakekat’. Sebagai Sang penyebab segala sesuatu dan Sang Hikmat dan pemberi hikmat kepada para bijaksana, Ia dipanggil Sang Hikmat dan Sang Bijaksana.

Dengan cara yang sama Ia disebut sebagai Sang Nalar dan Sang Pengertian, Sang Hidup dan Sang Kehidupan, Sang Kuat dan Sang Kuasa dan seterusnya. Tetapi secara khusus kiranya Ia menerima nama menurut hal-hal yang agung yang lebih mendekati Dia. Hal-hal yang tak nampak oleh mata adalah lebih agung dari hal yang nampak oleh mata, hal yang murni lebih baik daripada yang kotor, hal-hal yang suci adalah lebih baik daripada hal yang duniawi, hal hal ini lebih mendekat kepada Allah sebab mereka lebih berpartisipasi didalam Allah. Akibatnya Ia lebih sering disebut sebagai Terang dan Matahari dibandingkan dengan Kegelapan, Siang dari pada Malam, Kehidupan dari pada kematian, Api, Udara dan Air (karena unsur-unsur ini memberi kehidupan) dibandingkan dengan tanah, debu atau bumi.

Diatas segalanya Ia disebut dengan Sang Kebaikan dari pada Kejahatan, disebut sebagai Dzat dari pada Ketiadaan sebab kebaikan adalah keberadaan dan penyebab dari keberadaan. Kesemuanya adalah negasi dan affirmasi tetapi yang lebih memuaskan adalah kombinasi dari keduanya sebagai contoh: Supra Adi Hakekat, Supra Ilahi KeAllahan, Prinsip Utama dari segala yang utama dan seterusnya. Tetapi juga ada hal-hal yang menegaskan Allah secara postif tetapi memiliki kekuatan negasi yang amat kuat sebagai contoh: Kegelapan-bukan berarti Allah adalah kegelapan tetapi sebenarnya ingin menegaskan Allah adalah terang tetapi melebihi serta sangat melampaui terang.

Juga Allah disebut sebagai Nalar, Pikiran dan Roh serta Hikmat karena Dia adalah penyebab dari hal-hal ini tetapi juga karena Ia adalah tidak bertubuh dan oleh karena Ia Mahaberkarya dan Mahakuasa (St. Dionisius Aeropagitus; Nama-Nama Ilahi Bab 7).

Nama-nama ini yang menunjukan baik negasi maupun afirmasi adalah diaplikasikan secara bersama-sama kepada KeAllahan secara keseluruhan. Dan nama-nama ini diaplikasikan secara identik tanpa kecuali kepada setiap Pribadi dari Sang Tritunggal Mahakudus. Jadi ketika saya berkontemplasi akan Ketiga Pribadi tersebut saya sadar dan mengetahui bahwa Dia adalah Allah yang sempurna, Hakekat yang sempurna tetapi ketika saya menggabungkanNya semua, saya mengetahui Esanya Allah yang Sempurna. Sebab KeAllahan tidaklah majemuk tetapi Esa Sempurna, Tak Terbagi, dan Tak Termajemukkan didalam tiga mahkluk yang sempurna.

Tetapi ketika saya berpikir tentang negasi dari satu Pribadi kepada Pribadi lainnya, saya mengetahui bahwa Sang Bapa adalah Sang Matahari Adi Hakekat, Sumur mata air kebaikan, sebuah Jurang yang tak berdasar dari Hakekat, Nalar, Hikmat, Kuasa, Terang, Keilahian, Memperanakkan dan Mengeluarkan, Mata Air kebaikan yang tersembunyi didalam DiriNya. Jadi Dialah Sang Nalar, Jurang yang tak berdasar dari Hakekat, Yang Memperanakkan Sang Sabda dan Yang Mengeluarkan Sang Roh yang menyatakan.

Dan tanpa panjang lebar, Sang Bapa tidak mempunyai nalar, hikmat, kebijaksanaan selain Sang Putera yang adalah kekuatan Sang Bapa dan adalah kekuatan hakiki dari Penciptaan segala sesuatu. Sang Sabda adalah Hipostasis yang Sempurna yang diperanakkan dari Hipostasis yang Sempurna, didalam cara yang hanya diketahui olehNya saja, Dialah Sang Putera sebagaimana Ia disebut.

Lalu Sang Roh Kudus, Kuasa dari Sang Bapa yang menyatakan hal-hal yang tersembunyi didalam keAllahan, Dia yang keluar dari Sang Bapa melalui Sang Putera bukan dengan diperanakkan melainkan dengan cara yang hanya Dia yang mengetahuinya saja. Jadi Sang Roh Kudus adalah Sang Penyempurna dari Penciptaan segala sesuatunya.

Akibatnya segala sesuatu yang berhubungan dengan Sang Bapa sebagai Sang Sumber dan Sang Penyebab haruslah diatributkan hanya kepada Sang Bapa saja. Sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan Sang Putera sebagai: Yang Disebabkan, Putera Yang Diperanakkan, Sang Sabda, Kuasa yang Hakiki, Sang Kehendak dan Sang Hikmat (Sophia) haruslah diatributkan hanya kepada Sang Putera saja. Dan hal apapun yang berhubungan dengan: Yang Disebabkan, Yang Keluar, Yang Menyatakan, dan Kuasa Yang Menyempurnakan haruslah diatributkan kepada Sang Roh Kudus.

Sang Bapa adalah Sang Mata Air, Penyebab dari Sang Putera dan Sang Roh Kudus- Dialah Bapa dari Sang Putera Tunggal dan yang satu-satunya Yang Mengeluarkan Sang Roh Kudus.

Sang Putera adalah Sang Anak, Sang Sabda, Sang Kuasa, Sang Gambar, Sang Terang dan Gambaran dari Sang Bapa dan Dia memang berasal dari Sang Bapa.

Dan Sang Roh Kudus bukanlah putera Sang Bapa tetapi Dialah Roh dari Sang Bapa sebagaimana Ia keluar dari Sang Bapa. Dan Roh Kudus adalah Roh Sang Putera, bukan berarti bahwa berasal dari Sang Putera tetapi Ia keluar melalui Sang Putera DARI Sang Bapa sebab Sang Bapa adalah Sang Penyebab, dan Sang Sumber.

Bab 13

Tempat adalah sesuatu yang jasmaniah, berada didalam sebuah keterbatasan bagi hal yang ada didalamnya. Tetapi ada juga tempat yang bersifat intelektual (non jasmani) dimana hanya mahkluk yang tak berjasmani dan bernalar diperkirakan berada. Mereka memang benar-benar ada dan bergerak dan bertindak dan tak terbatasi secara fisik tetapi secara rohani sebab mereka tidak mempunyai bentuk yang mengijinkan mereka untuk dibatasi secara fisik.

Sekarang Allah adalah tidak berjasad jasmani dan tak terpikirkan bukanlah sebuah tempat. Sebab Ia memenuhi segala sesuatu dan melampaui segala sesuatu dan pada diriNya sendiri segala sesuatu berpusat, Ia adalah tempat bagi diriNya sendiri (St. Gregoarius Naziansus, Homili 28:8-10). Tetapi Allah juga dikatakan ada disebuah tempat; dan disanalah karyaNya nyata secara jelas. Sekarang Ia menembus dan memenuhi segala sesuatunya tanpa menjadi tercampur dengan segala sesuatunya, dan kepada segala sesuatunya Ia mengkomunikasikan karyaNya seturut kemampuan setiap ciptaan menerimanya, seturut juga kemurnian dari kodrat dan kehendak mereka. Sebab mereka yang tak berjasad adalah lebih murni dari mereka yang mempunyai tubuh dan mereka yang lebih bajik tentunya lebih murni daripada mereka yang jahat. Jadi tempat dimana Allah dikatakan berada adalah tempat dimana mereka yang murni mengalami karya-karya RahmatNya yang lebih besar. Oleh sebab inilah surga adalah TahktaNya (Yesaya 66:1) sebab adalah di surga para malaikat yang melakukan kehendakNya dan memuliakan serta memuji Dia tanpa henti. Sebab surga adalah tempat perhentianNya dan bumi adalah tempat pijakanNya sebab di bumi Ia bersekutu didalam daging dengan manusia (Barukh 3:38). Dan tubuh jasmani dari Allah yang suci disebut sebagai pijakanNya. Gereja juga disebut sebagai tempatnya Allah karena kita telah memisahkannya bagi pemuliaanNya, sebagai tempat yang disucikan dimana kita memanjatkan segala permohonan kita. Dengan jalan yang sama juga, ditempat-tempat dimana KaryaNya nyata dan jelas, baik tempat tersebut jasmani atau bukan, tempat-tempat ini adalah milik Allah.

Lebih lagi kita harus mengetahui bahwa keIlahian adalah tidak sebagian-sebagian ataupun terbagan-bagan tetapi secara utuh dan lengkap serta penuh hadir dimana-mana didalam segala kepenuhanNya, tidak secara jasmani terbagikan tetapi secara utuh dan penuh ada memenuhi seluruh alam semesta (kosmos).

Tempat dari Malaikat dan masalah terperi dan tak terperi (tambahan dari manuskrip)

Walaupun malaikat tidak mempunyai tempat secara fisik dan tak terbatasi oleh tempat sebagaimana mereka tidak mepunyai tubuh dan bentuk, malaikat juga dikatakan mempunyai tempat sebab dikatakan secara rohani mereka hadir dan berkarya seturut dengan kodratnya. Dan keberadaannya tidak ada dimana-mana tetapi secara rohani mereka tetap sebagai mahkluk yang terperi dan hanya dapat hadir dan berkarya dimana mereka berada. Malaikat tidak dapat hadir dan berkarya di beberapa tempat yang berbeda pada waktu yang sama, sebab hanya Allah saja yang dapat berkarya dimana-mana pada waktu yang sama.

Sebab malaikat berkarya dibeberapa tempat oleh karena kodratnya yang mampu untuk melakukan ini, dimana mereka dapat menembus waktu tanpa terhalang, dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepat; tetapi hanya yang Ilahi saja yang ada dimana saja dan melampaui segala tempat dan berkarya disegala tempat pada waktu yang sama dengan sebuah karya tunggal.

Menjadi terperi berarti menjadi ditentukan oleh tempat, waktu dan terjelaskan oleh akal, tetapi jikalau sesuatu tidak berada dibawa pengaturan hal-hal diatas maka akan disebut sebagai tak terperi. Jadi keIlahian sendiri adalah tak terperi, sebab Yang Ilahi adalah tanpa awal dan tanpa akhir, yang memeluk segala sesuatunya dan dikenal sebagai yang tak terjelaskan oleh segala sesuatunya. Sebab Dialah satu-satuNya yang tak terperi, tak terjelaskan dan takterketahui oleh siapapun; dan hanya Dialah yang satu-satunya mengerti dan mengenal diriNya sendiri.

Para malaikat terperi oleh waktu sebab para malaikat mempunyai awal dari keberadaannya; terperi oleh tempat walaupun secar rohani, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya dan terperi secara akali sebab kodrat mereka sampai pada batas-batas tertentu diketahui dan juga oleh sebab mereka diterangkan odan dijadikan oleh Sang Pencipta itu sendiri. Manusia juga adalah mahkluk terperi oleh sebab mempunyai awal, akhir, tempat jasmani dan dapat dijelaskan secara akali.

Tentang Allah, Sang Bapa dan Sang Putera dan Sang Roh Kudus dan tentang Sang Sabda dan Sang Roh Kudus (tambahan dari manuskrip)

KeIlahian jadi secara nyata dan absolut tdiak dapat berubah dan diubah. Sebab segala sesuatu yang tidak ada didalam jangkauan kekuasaan kita telah ditentukan sebelumnya oleh Hikmat KekalNya, pada masa dan tempat yang sudah ditentukan bagi setiap ciptaanNya. Oleh karena ini ada tertulis: “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak” (Yohanes 5:22). Sebab tentunya Sang Bapa mempunyai kuasa untuk menghakimi sebagaimana Sang Putera dan juga Sang Roh Suci. Tetapi sebagai manusia, Sang Putera sendiri akan turun didalam kemanusiaanNya dan akan duduk bertahkta diatas tahkta kemuliaan, didalam tubuhNya yang terperi dan Ia akan menghakimi seluruh isi dunia didalam keadilan (Kisah Para Rasul 17:31).

Segala sesuatunya adalah jauh dari Allah: bukan secara tempat tetapi secara kodrat. Dengan kita manusia: kasih kita serta hikmat dan budi pekerti sering kali timbul tenggelam, tetapi tidak demikian dengan Allah. Dengan Allah tidak ada sesuatu apapun yang menjadi ada atau menjadi tidak ada tanpa ada campur tangan Allah, sebab Ia tidak berubah maupun dapat diubah. Segala yang baik adalah selalu disertai dengan keAllahan. Kita harus selalu melihat Allah dan merindukan Allah sebab segala sesuatunya bergantung pada Dia, dimana tanpa Dia tidak ada sesuatu apapun yang mampu berada, jikalau tidak dengan Dia. Tentunya Dialah yang menopang segala kodrat yang ada. Allah Sang Sabda secara hipostasis bersatu kepada tubuh jasmaninya yang suci dan disatukan dengan kemanusiaan kita tanpa harus menjadi tercampur baur.

Tak ada seseorangpun yang dapat melihat Sang Bapa kecuali Sang Putra sendiri (Yohanes 6:46), Sang Putera adalah sang Penasihat Ajaib, Sang Hikmat dan Kuasa dari Sang Bapa. Kita tidak boleh berbicara tentang kualitas dari Allah sehingga kita tidak mendapatkan diri kita sedang membicarakan tentang Dzat dan Hakekat dari Allah.

Sang Putera adalah dari Sang Bapa dan apapun yang Ia punyai Ia mendapatkanNya dari Sang Bapa. Oleh sebab inilah Ia tak dapat melakukan apapun daripada diriNya sendiri (Yohanes 5:30), oleh sebab itu Ia tak mempunyai karya apapun terlepas dari Sang Bapa.

Sang Bapa walaupun tak nampak oleh mata akan menjadi nampak melalui karya-karyaNya serta kepemerintahanNya. Sang Putera adalah gambaran dari Sang Bapa, dan Gambaran dari Sang Putera adalah Sang Roh Kudus yang darimanaNya Kristus sekarang tinggal didalam manusia dan memberikan manusia sebuah gambaran rupa Allah bagi manusia itu sendiri.

Sang Roh Kudus adalah Allah. Ia dalah pengantara dari Yang Diperanakkan dan Yang Memperanakkan, Dia disatukan dengan Sang Bapa melalui Sang Putera. Ia dipanggil sebagai Roh Allah, Roh Kristus, Pikiran Kristus, Roh Tuhan, Tuhan Sejati, Roh Pengadopsian, Kemerdekaan serta Hikmat. Sebab Dialah penyebab dari segala hal ini. Ia memenuhi segala sesuatunya dengan hakekatNya dang menopang segala sesuatunya. Didalam kodratNya ia memenuhi dunia tetapi didalam kodratNya dunia tidak memenuhi Dia.

Allah adalah abadi, tak berubah, kreatif dan harus dipuji dan disembah dengan penuh kearifan. Sang Bapa adalah Allah. Adalah Dia yang tak pernah diperanakkan tetapi Ia telah memperanakkan Sang Putera. Sang Putera Adalah Allah, adalah Dia yang secara kekal selalu bersama dengan Sang Bapa, Dia yang diperanakkan diluar sepanjang segala zaman, tanpa berubah tanpa hawa nafsu dan tanpa kunjung henti. Sang Roh Kudus adalah Allah, Ia yang menyucikan segala sesuatuNya yang hanya keluar dari Sang Bapa dan tinggal didalam Sang Putera dan mempunyai Dzat dan Hakekat yang sama dengan Sang Bapa dan Sang Putera.

Sebutan ‘roh’ haruslah dimengerti dalam beberapa cara. Roh Kudus adalah Sang Roh, kuasa dari Sang Roh Kudus kadang juga dipanggil sebagai ‘roh-roh’. Malaikat yang baik juga adalah roh-roh demikian juga dengan roh-jahat dan juga jiwa kita sendiri. Ada beberapa saat dimana pikiran kita juga disebut roh, juga angin serta udara.

Bab 14

Yang tak terciptakan, Yang Tak Berasal, Yang Abad Yang Kekal, Yang Tak Terbatas, Yang Abadi, Yang Tak Berjasad, Yang Baik, Yang Mencipta, Yang Adil, Yang Menerangi, Yang Tak dapat Berubah, Yang Tak Tergerak, Yang Tak Terwadahi, Yang Tak Terkekangi, Yang Tak Dapat Dijelaskan, Yang Tak dapat Dilihat, Yang Tak Dapat Dimengerti, Yang Mempunyai Kuasa Yang Absolut, serta Yang Berotoritas, Yang Memberikan Kehidupan, Yang Mahakuasa, Yang Kekuasaannya Tak Terbatas, Yang Menguduskan, Yang Berfirman, Yang Mewadahi dan Menopang segala sesuatu, Yang Memelihara segala- Hal semua inilah yang dimiliki oleh kodratNya.

Hal-hal tersebut diatas tidak diterimanya dari sumber lain, sebaliknya adalah kodratNya bahwa Ia memancarkan segala yang baik kepada ciptaanNya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Tinggalnya dari setiap masing-masing Pribadi (dalam Tritunggal Mahakudus) tidaklah dalam sebuah cara yang mengakibatkan Mereka menjadi bercampur aduk tak karuan tetapi dalam sebuah cara yang membuat Mereka bersatu didalam kasih dalam Satu sama lainnya tanpa ada perpisahaan dan saat diantara mereka dan membuat mereka tidak terpisah, dan beksistensi mereka yang bersama sama tidaklah bercampur baur. Sebab Sang Putera ada didalam Sang Bapa dan Sang Roh, Sang Roh ada didalam Sang Bapa dan Sang Putera dan juga Sang Bapa ada didalam Sang Putera dan Sang Roh, tidak ada yang bercampur baur ataupun bergabung. Hanyalah ada satu gelora dan satu gerakan dari Satu Pribadi. Hal ini sangatlah mustahil untuk ditemukan didalam mahkluk ciptaan apapun.

Adalah satu fakta bahwa Pewahyuan dan Karya Ilahi adalah Esa, sederhana dan tak terbagi-bagi, dan walaupun terlihat dan termanifestasikan dalam hal-hal yang bersifat dapat terbagi-bagi, Ia memberikan kepada segenap mahkluk ciptaan bagian bagian dari kompononen kodratnya, dan Ia tetaplah sederhana. Sebab kepada Dialah segenap ciptaan berlindung dan didalam Dialah segenap mahkluk mempunyai keberadaanya masing-masing, kepada segenap mahkluk Ia memberikan keberadaan mereka masing-masing seturut dengan kodrat masing-masing dari mereka, hidup dari segenap mahkluk hidup, akal budi dari setiap mahkluk yang berakal budi, pikiran dari setiap mahkluk yang dapat berpikir. Ia melampaui segala Akal Budi, Pikiran, Kehidupan dan Hakikat.

Ia menembus segala sesuatu tanpa dirinya menjadi cemar dan tanpa membuat diriNya dapat ditembusi oleh sesuatu apapun. Ia Mahatahu dengan cara yang sangat sederhana Ia mengetahui segalanya. Dengan seketika, dengan Mata IlahiNya yang tak berjasad Ia melihat segala sesuatunya baik yang dahulu kala, yang sekarang dan yang akan datang sebelum segala sesuatunya terjadi (Daniel 13:42). Ia juga tidak berdosa tetapi mengampuni serta menyelamatkan pendosa. Walaupun Ia mampu melakukan segala sesuatunya, ada yang tidak Ia mau lakukan sebab Ia mampu menghancurkan dunia tetapi Ia tidak berkehendak melakukannya.

No comments: