Refleksi Satu Dekade Ensiklik Paus Fransiskus “Laudato Si’”
Ekologi Integral dan Urgensi Moral Pembangunan:
Sebuah Analisis Komprehensif Laudato Si’ dalam Konteks Indonesia
dan Global
Oleh
Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, CGPS, CPS – 13 January 2026
Konsultan
ESG-Keberlanjutan & Produktivitas
Bab 1: Pendahuluan: Krisis Peradaban dan Seruan Profetik Laudato Si’
1.1
Latar Belakang: Jeritan Bumi dan Jeritan Kaum Miskin
Peradaban manusia modern berada di persimpangan
jalan yang menentukan. Di satu sisi, kemajuan teknologi dan industri telah
memacu pertumbuhan ekonomi global, mengangkat jutaan orang dari kemiskinan, dan
menciptakan konektivitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, di sisi
lain, model pembangunan yang diadopsi selama dua abad terakhir telah menuntut
biaya yang sangat tinggi: degradasi biosfer yang masif, ketimpangan sosial yang
melebar, dan krisis iklim yang kini mengancam eksistensi kehidupan itu sendiri.
Dalam konteks Indonesia, paradoks ini terlihat nyata. Sebagai negara kepulauan
yang kaya akan biodiversitas, Indonesia menghadapi tekanan ganda untuk
mengeksploitasi sumber daya alam demi pertumbuhan ekonomi - melalui ekspansi
perkebunan kelapa sawit dan pertambangan - sekaligus kewajiban moral dan
ekologis untuk melestarikan ekosistem tropis yang krusial bagi stabilitas iklim
global.
Di tengah kegamangan ini, Ensiklik
Paus Fransiskus, Laudato Si’: On Care for Our Common Home (Terpujilah
Engkau: Tentang Pemeliharaan Rumah Kita Bersama), yang diterbitkan pada tahun
2015, hadir sebagai intervensi intelektual dan spiritual yang monumental.
Dokumen ini bukan sekadar teks teologis bagi umat Katolik, melainkan sebuah
kritik sosial-ekonomi yang tajam yang ditujukan kepada “setiap orang yang
menghuni planet ini”.1
Paus Fransiskus mengidentifikasi bahwa kerusakan lingkungan dan degradasi
sosial bukanlah dua krisis yang terpisah, melainkan satu krisis yang kompleks
dan saling terkait. Ia menyebut fenomena ini sebagai “jeritan bumi dan jeritan
kaum miskin” (the cry of the earth and the cry of the poor).2
Kajian ini disusun untuk menggali
secara mendalam relevansi Laudato Si’ terhadap tantangan-tantangan
kontemporer yang dihadapi Indonesia dan dunia. Analisis ini tidak hanya
berhenti pada tataran teoretis, tetapi menukik pada implikasi praktis dalam
tata kelola perusahaan, manajemen risiko iklim, penerapan standar Environmental,
Social, and Governance (ESG), serta metodologi produktivitas hijau (Green
Productivity). Lebih jauh, kajian ini akan mensintesiskan arah pembangunan
masa depan yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan Ajaran Sosial Gereja,
menawarkan visi alternatif terhadap paradigma teknokratis yang mendominasi saat
ini.
1.2
Kerangka Analisis: Melampaui Paradigma Teknokratis
Inti dari kritik Paus Fransiskus
dalam Laudato Si’ adalah dekonstruksi terhadap apa yang disebutnya
sebagai “paradigma teknokratis” (technocratic paradigm). Paradigma ini
adalah pola pikir yang mendasari kehidupan ekonomi dan politik modern, di mana
realitas dilihat semata-mata sebagai objek yang dapat dimanipulasi tanpa batas
untuk tujuan kegunaan, efisiensi, dan profit.1 Dalam pandangan
ini, alam direduksi menjadi sekadar “sumber daya” (natural resources)
yang menunggu untuk diekstraksi, dan manusia dinilai berdasarkan kapasitas
produksinya. Paus Fransiskus menulis bahwa paradigma ini didasarkan pada “kebohongan
tentang ketersediaan barang-barang bumi yang tak terbatas,” yang mengarah pada
pemerasan planet ini melampaui batas fisiknya.4
Sebagai antitesis, Gereja menawarkan
konsep “Ekologi Integral”. Konsep ini menegaskan bahwa segala sesuatu terhubung
(everything is connected).5
Krisis lingkungan di Kalimantan atau Papua tidak bisa diselesaikan hanya dengan
solusi teknis seperti penanaman kembali pohon atau teknologi penangkap karbon,
jika struktur sosial-ekonomi yang menyebabkan deforestasi - seperti
ketidakadilan agraria, korupsi perizinan, dan pemiskinan masyarakat adat - tidak
diselesaikan. Ekologi integral menuntut pendekatan interdisipliner yang
menggabungkan sains, etika, ekonomi, dan spiritualitas untuk memulihkan relasi
yang rusak antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam ciptaan.
2.1
Mitos Pertumbuhan dan Realitas Kerusakan
Pembangunan berkelanjutan di
Indonesia sering kali diterjemahkan dalam kebijakan yang berupaya
menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi (Pro-Growth), pengentasan kemiskinan
(Pro-Poor), penciptaan lapangan kerja (Pro-Job), dan pelestarian lingkungan
(Pro-Environment). Namun, dalam praktiknya, aspek pertumbuhan ekonomi sering
kali mendominasi, dengan lingkungan hidup menjadi korban eksternalitas negatif.
Laudato Si’ mengkritik model “pertumbuhan tanpa batas” ini sebagai
sebuah ilusi berbahaya. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa pasar saja tidak
dapat menjamin pembangunan manusia yang integral dan inklusi sosial.1
Dalam konteks Indonesia, kritik ini
sangat relevan ketika melihat bagaimana hutan hujan tropis dan lahan gambut
dikonversi secara masif menjadi monokultur sawit dan lubang tambang. Meskipun
sektor-sektor ini menyumbang devisa yang signifikan, biaya tersembunyi (hidden
costs) berupa bencana hidrometeorologi, konflik sosial, dan hilangnya
keanekaragaman hayati sering kali tidak dihitung dalam PDB nasional. Gereja
Katolik menekankan bahwa “pembangunan otentik harus memiliki karakter moral,”
yang menghormati pribadi manusia dan dunia di sekitarnya.6 Oleh karena itu,
pembangunan yang mengorbankan hak-hak masyarakat lokal dan integritas ekosistem
tidak dapat disebut sebagai kemajuan sejati.
2.2
Pengelolaan Alam vs. Perambahan Agresif: Studi Kasus Sawit dan Tambang
Sektor kelapa sawit dan pertambangan
merupakan dua pilar ekonomi Indonesia yang sekaligus menjadi sumber utama
konflik ekologis dan sosial. Laudato Si’ memberikan kerangka etis untuk
mengevaluasi fenomena ini, bukan dengan menolak pemanfaatan alam, melainkan
menolak cara-cara eksploitatif yang “merampas” masa depan.
Ekspansi perkebunan kelapa sawit di
Kalimantan dan Sumatera telah menyebabkan fragmentasi habitat satwa liar dan
penurunan kualitas ekosistem secara drastis. Laudato Si’ secara spesifik
menyebutkan bahwa “hilangnya hutan dan hutan rimba berarti hilangnya spesies
yang mungkin menjadi sumber daya masa depan yang sangat penting, tidak hanya
untuk makanan tetapi juga untuk penyembuhan penyakit dan berbagai kegunaan
lainnya”.6 Di Kalimantan
Tengah, data menunjukkan bahwa transformasi lahan menjadi perkebunan sering
kali mengabaikan fungsi ekologis kawasan, memicu banjir tahunan yang semakin
parah.7
2.2.2
Konflik Agraria dan Hak Masyarakat Adat
Lebih dari sekadar isu lingkungan,
ekspansi sawit dan tambang di Indonesia adalah isu keadilan sosial. Laporan
dari berbagai lembaga swadaya masyarakat dan institusi Gereja menunjukkan pola
konflik agraria yang persisten. Di Kalimantan, konflik lahan antara perusahaan
dan komunitas adat sering terjadi karena tumpang tindih perizinan dan
pengabaian hak ulayat.7
Mekanisme perizinan yang sering kali
tidak transparan dan minim partisipasi masyarakat lokal mencerminkan apa yang
disebut Paus Fransiskus sebagai “kekuasaan yang tidak terkendali” dari
kepentingan ekonomi atas politik. Masyarakat adat, yang menurut Laudato Si’
harus menjadi mitra dialog utama karena kedekatan mereka dengan tanah, justru
sering kali menjadi korban kriminalisasi. “Bagi mereka, tanah bukanlah
komoditas, tetapi karunia Tuhan dan leluhur... Namun, di berbagai belahan
dunia, mereka ditekan untuk meninggalkan tanah mereka demi memberi jalan bagi
pertambangan atau proyek pertanian yang tidak memperhatikan degradasi alam dan
budaya” (Laudato Si', 146).
2.3
Respon Profetik Gereja Katolik Indonesia
Menghadapi tantangan ini, Gereja
Katolik di Indonesia tidak tinggal diam. Respons Gereja terartikulasi dalam dua
level: level kebijakan institusional oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
dan level pastoral di keuskupan-keuskupan terdampak.
2.3.1
Penolakan KWI terhadap Izin Tambang
Pada tahun 2024, ketika Pemerintah
Indonesia mengeluarkan kebijakan yang memberikan prioritas Izin Usaha
Pertambangan (IUP) kepada organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan, KWI
mengambil sikap tegas dan profetik. Kardinal Ignatius Suharyo dan presidium KWI
menyatakan bahwa Gereja Katolik tidak akan mengajukan atau menerima izin
tambang tersebut.10
Alasan di balik
penolakan ini sangat mendasar dan berakar pada Laudato Si’:
1.
Mandat Pastoral: Tugas Gereja adalah mewartakan Injil dan melayani umat, bukan
berbisnis, apalagi di sektor yang berisiko tinggi merusak lingkungan.11
2.
Solidaritas dengan Korban: Banyak umat Katolik di akar
rumput adalah korban dari dampak negatif pertambangan. Menerima izin tambang
akan menempatkan Gereja dalam konflik kepentingan moral dan mencederai
kredibilitasnya dalam membela kaum marginal.
3.
Integritas Moral: Penolakan ini adalah bentuk kesaksian bahwa tidak semua hal
dapat diukur dengan keuntungan materi, sebuah kritik langsung terhadap
materialisme pasar.12
2.3.2
Seruan Pastoral dari Kalimantan dan Papua
Di tingkat lokal, para uskup dan
komisi Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) bergerak aktif,
antara lain:
1.
Keuskupan Sintang (Kalimantan Barat): Uskup Samuel Oton
Sidin, OFM Cap, penerima penghargaan Kalpataru, telah lama menjadikan
pelestarian hutan sebagai bagian integral dari pastoral keuskupan. Ia secara
konsisten menolak ekspansi sawit yang merusak hutan adat dan menggalakkan
penanaman pohon serta pengelolaan hutan lestari berbasis komunitas.13
2.
Keuskupan Agats (Papua): Di wilayah Asmat yang rentan, Uskup Aloysius Murwito dan para
imamnya mengeluarkan seruan pastoral menolak tambang dan perkebunan skala besar
yang mengancam ekosistem rawa sagu, sumber pangan utama masyarakat setempat.
Mereka menegaskan bahwa “tanah adalah ibu” yang tidak boleh dijual.15
3. JPIC dan SKP Papua: Laporan dari Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) se-Tanah Papua tahun 2024/2025 secara eksplisit menghubungkan kekerasan militer, pelanggaran HAM, dan ekspansi industri ekstraktif (seperti Food Estate di Merauke). Mereka menyerukan penghentian proyek-proyek yang tidak menghormati hak masyarakat asli Papua dan mendesak pemulihan martabat manusia.1
Bab 3: Korporasi dan Krisis Iklim: Manajemen Risiko dan Tanggung Jawab Moral
3.1
Pergeseran Paradigma Bisnis Global
Laudato Si’ tidak anti-bisnis,
namun anti terhadap bisnis yang tidak etis. Paus Fransiskus memanggil dunia
usaha untuk melihat peran mereka sebagai “panggilan mulia” yang harus diarahkan
untuk melayani kesejahteraan umum dan menjaga keberlanjutan planet.19 Dalam dekade
terakhir, seruan ini bertemu dengan realitas finansial baru: perubahan iklim
adalah risiko material bagi bisnis.
3.2
Regulasi OJK dan Pengukuran Risiko Iklim
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) telah menjadi pionir di antara negara berkembang dalam mengintegrasikan
keuangan berkelanjutan. Melalui POJK No. 51/POJK.03/2017, OJK mewajibkan
lembaga jasa keuangan dan emiten untuk menyusun Rencana Aksi Keuangan
Berkelanjutan dan Laporan Keberlanjutan.20
Lebih jauh, OJK mengembangkan
panduan teknis Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS).21 Ini adalah kerangka
kerja yang memaksa bank untuk tidak lagi buta terhadap dampak iklim.
1.
Stress Testing (Uji Ketahanan): Bank diminta untuk
mengukur dampak risiko fisik (banjir, kenaikan muka air laut) dan risiko
transisi (pajak karbon, perubahan teknologi) terhadap portofolio kredit mereka.
2.
Skenario NGFS: OJK mengadopsi skenario dari Network for Greening the
Financial System, termasuk skenario “Net Zero 2050” (transisi teratur) dan “Delayed
Transition” (transisi mendadak yang kacau). Ini memaksa perusahaan untuk
memproyeksikan kelangsungan bisnis mereka hingga tahun 2050.21
Analisis risiko ini sejalan dengan
prinsip “kehati-hatian” (precautionary principle) yang ditekankan dalam Laudato
Si’, di mana ketidakpastian ilmiah tidak boleh menjadi alasan untuk menunda
tindakan pencegahan kerusakan lingkungan.
3.3
Penerapan ESG (Environmental, Social, Governance)
Penerapan ESG di Indonesia dan
global sering kali terjebak dalam formalitas pelaporan. Laudato Si’
menantang perusahaan untuk melampaui kepatuhan administratif menuju integrasi
nilai yang substantif.
Tabel 1: Evaluasi
Penerapan ESG dalam Terang Laudato Si’
|
Komponen ESG |
Praktik Umum
Korporasi |
Kritik &
Perspektif Laudato Si’ |
Arah Perbaikan |
|
Environmental (E) |
Fokus pada efisiensi energi
& pengurangan limbah demi penghematan biaya. |
Menolak “eko-efisiensi” yang
hanya menunda kerusakan. Menuntut “pertobatan ekologis”. |
Transisi total dari energi
fosil, bukan sekadar offsetting karbon. Adopsi ekonomi sirkular. |
|
Social (S) |
CSR filantropis terpisah dari
inti bisnis. Kepatuhan minimum pada hukum perburuhan. |
Bisnis harus melayani “martabat
manusia”. Menolak budaya “membuang” pekerja demi efisiensi. |
Upah layak (living wage),
pemberdayaan rantai pasok lokal, penghormatan hak adat (FPIC). |
|
Governance (G) |
Transparansi untuk pemegang
saham (shareholder). |
Transparansi demi “Kesejahteraan
Umum” (Bonum Commune). Menolak korupsi yang merusak lingkungan. |
Dewan direksi yang paham
iklim, pelibatan pemangku kepentingan (stakeholder) luas termasuk
komunitas terdampak. |
Tantangan utama di
Indonesia meliputi kurangnya data historis iklim yang akurat, keterbatasan
kapasitas SDM, dan budaya bisnis jangka pendek.23 Namun, peluang
investasi hijau (Green Bonds) terus tumbuh, menandakan pergeseran pasar
ke arah keberlanjutan.24
Bab 4: Green Productivity: Menjembatani Efisiensi dan Ekologi
4.1
Kerangka Kerja Green Productivity (APO)
Asian Productivity Organization
(APO) memperkenalkan konsep Green Productivity (GP) sebagai strategi
untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kinerja lingkungan. GP menolak
dikotomi lama bahwa perlindungan lingkungan akan merugikan profitabilitas.
Sebaliknya, GP berargumen bahwa efisiensi lingkungan adalah efisiensi
ekonomi.25
Metodologi GP
terdiri dari 6 langkah sistematis 26:
1.
Memulai (Getting Started): Membentuk tim GP
dan melakukan survei awal (walk-through survey).
2.
Perencanaan (Planning): Identifikasi masalah, analisis
keseimbangan material (material balance), dan penetapan target.
3.
Generasi & Evaluasi Opsi: Mencari solusi teknis dan
manajerial (misalnya: substitusi bahan, modifikasi proses).
4.
Implementasi: Melaksanakan opsi terpilih berdasarkan prioritas teknis dan
ekonomis.
5.
Monitoring & Review: Memantau hasil kinerja lingkungan dan produktivitas.
6.
Keberlanjutan (Sustaining): Mengintegrasikan
perubahan ke dalam sistem manajemen perusahaan (ISO 14001, dsb).
4.2
Analisis Kritis: GP dalam Perspektif Laudato Si’
Meskipun GP menyediakan alat teknis
yang sangat baik, Laudato Si’ memberikan kerangka moral agar GP tidak
jatuh ke dalam teknokrasi.
1.
Bahaya Teknokrasi: Jika GP hanya digunakan untuk memaksimalkan output dengan input
minimal tanpa memperhatikan siapa yang mendapat manfaat, maka ia
melanggengkan ketimpangan. Paus Fransiskus mengingatkan, “kecerdasan teknis
tanpa hikmat moral dapat menjadi ancaman”.27
2.
Manusia sebagai Pusat: APO sendiri menekankan produktivitas yang “berpusat pada
manusia” (human-centered productivity).28 Hal ini sangat
selaras dengan Ajaran Sosial Gereja yang menempatkan “martabat kerja” di atas
modal. Implementasi GP di pabrik harus memastikan bahwa efisiensi tidak dicapai
dengan memeras tenaga kerja atau menciptakan kondisi kerja yang tidak manusiawi
(seperti yang sering terjadi di industri fast fashion atau perkebunan).
3.
Inklusivitas Sosial: GP harus diterapkan tidak hanya di perusahaan besar tetapi juga
memberdayakan UMKM dan sektor informal (pemulung, petani kecil) dalam sistem
daur ulang dan produksi, sesuai dengan rekomendasi APO untuk melibatkan sektor
informal dalam manajemen limbah.29
Bab 5: Arah Pembangunan Masa Depan: Pancasilanomics dan Ekonomi
Sirkular
5.1
Ekonomi Sirkular sebagai Model Alternatif
Model ekonomi linear “ambil-buat-buang”
(take-make-dispose) telah terbukti tidak berkelanjutan dan menciptakan
budaya “membuang” (throwaway culture) yang dikecam keras oleh Paus
Fransiskus.3 Sebagai gantinya,
dunia bergerak menuju Ekonomi Sirkular.
Ekonomi sirkular meniru siklus alam
di mana limbah dari satu proses menjadi makanan bagi proses lain. Studi
Bappenas dan UNDP menunjukkan potensi luar biasa bagi Indonesia: penerapan
ekonomi sirkular di 5 sektor kunci (makanan, tekstil, konstruksi, elektronik,
plastik) dapat meningkatkan PDB sebesar Rp 593-638 triliun pada tahun 2030 dan
menciptakan 4,4 juta lapangan kerja hijau (green jobs).31
Secara teologis, ekonomi sirkular
adalah manifestasi dari “pertobatan ekologis” dalam sistem ekonomi. Ia
menghargai materi sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki nilai dan tujuan, menolak
pemborosan, dan menuntut tanggung jawab atas jejak yang ditinggalkan.33
5.2
Pancasilanomics: Ekonomi Jalan Tengah
Indonesia memiliki landasan
filosofis sendiri yang sangat kompatibel dengan Laudato Si’, yaitu Ekonomi
Pancasila. Pemikir seperti Arif Budimanta mengistilahkannya sebagai Pancasilanomics.
Sistem ini bukanlah kapitalisme liberal maupun sosialisme negara, melainkan
sistem ekonomi yang berlandaskan moralitas ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan
sosial.34
Tabel 2: Konvergensi
Laudato Si’ dan Ekonomi Pancasila
|
Prinsip Laudato
Si’ |
Prinsip Ekonomi
Pancasila |
Implikasi
Kebijakan |
|
Solidaritas |
Gotong Royong |
Penguatan Koperasi dan UMKM
sebagai soko guru ekonomi, bukan hanya korporasi besar. |
|
Tujuan Universal
Harta Benda
(Universal Destination of Goods) |
Fungsi Sosial Hak
Milik (Pasal 33 UUD
1945) |
Sumber daya alam (air,
tambang) harus dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat banyak, bukan
segelintir oligarki. |
|
Opsi bagi Kaum
Miskin (Preferential
Option for the Poor) |
Keadilan Sosial (Sila ke-5) |
Kebijakan afirmatif untuk
petani gurem, nelayan, dan masyarakat adat dalam akses lahan (TORA). |
|
Ekologi Integral |
Ketuhanan &
Kemanusiaan |
Pembangunan tidak boleh
merusak alam karena alam adalah ciptaan Tuhan dan ruang hidup manusia. |
5.3
Visi Pembangunan 2030 dan Seterusnya
Dalam terang analisis di atas, arah
pembangunan yang benar bagi Indonesia dan dunia harus mencakup:
1.
Transformasi Paradigma: Meninggalkan obsesi PDB sebagai satu-satunya indikator
kemajuan. Mengadopsi indikator kesejahteraan yang komprehensif (Beyond GDP)
yang mencakup kesehatan ekosistem dan kohesi sosial.
2.
Moratorium dan Penegakan Hukum: Menghentikan
ekspansi izin di hutan alam dan gambut secara permanen. Penegakan hukum yang
tegas terhadap pembakar hutan dan korporasi perusak lingkungan tanpa pandang
bulu.
3.
Kedaulatan Pangan Lokal: Menggeser fokus dari Food Estate skala industri yang
rapuh dan merusak, menuju kedaulatan pangan berbasis pertanian keluarga yang
beragam dan adaptif terhadap iklim lokal, sebagaimana diserukan oleh gerakan
pangan lokal di Papua.17
4.
Pendidikan Ekologis: Universitas dan sekolah harus menjadi pusat pembentukan
karakter ekologis. Kampus-kampus Katolik di Indonesia (seperti Unika
Soegijapranata dan Atma Jaya) yang telah mendeklarasikan diri sebagai Laudato
Si’ University harus memimpin dengan contoh nyata dalam manajemen kampus
hijau dan kurikulum keberlanjutan.36
5.
Peran Masyarakat Sipil dan Agama: Agama harus terus
menjadi suara moral yang kritis. Kolaborasi lintas iman (seperti NU,
Muhammadiyah, dan KWI) dalam isu lingkungan harus diperkuat untuk menekan
kebijakan yang tidak pro-lingkungan.
Bab 6: Kesimpulan
Ensiklik Laudato Si’
menawarkan lebih dari sekadar nasihat spiritual, yakni memberikan diagnosis
yang presisi mengenai penyakit peradaban modern – paradigma teknokratis yang
memisahkan ekonomi dari etika dan manusia dari alam. Bagi Indonesia, pesan ini
sangat mendesak. Praktik pembangunan yang mengandalkan perambahan hutan agresif
untuk sawit dan tambang, yang sering kali disertai kekerasan terhadap
masyarakat adat, adalah jalan buntu yang mengkhianati amanat konstitusi dan
nilai-nilai luhur Pancasila.
Jawaban atas tantangan ini terletak
pada keberanian untuk melakukan “pertobatan ekologis” secara struktural. Hal
ini menuntut integrasi manajemen risiko iklim yang ketat dalam dunia usaha
(seperti inisiatif OJK), penerapan produktivitas hijau (APO) yang berkeadilan,
dan transisi menuju ekonomi sirkular. Sikap tegas Gereja Katolik Indonesia yang
menolak terlibat dalam bisnis pertambangan memberikan teladan moral bahwa
integritas dan kesetiaan pada misi perlindungan “Rumah Bersama” harus
ditempatkan di atas keuntungan materi.
Masa depan pembangunan yang benar
adalah pembangunan yang memanusiakan manusia dan memuliakan alam. Ini adalah
visi ekonomi yang berwajah gotong royong, yang mengakui bahwa kita tidak
mewarisi bumi dari nenek moyang, melainkan meminjamnya dari anak cucu kita. Di
sinilah Laudato Si’ dan Pancasila bertemu: dalam cita-cita mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan kelestarian bagi seluruh alam
ciptaan.
Referensi:
1.
Excerpts from
Laudato Si for Discussion in Class, https://www.scu.edu/media/ethics-center/environmental-ethics/encyclical-handout.pdf
2.
laudato-si-summary.pdf, https://www.cbcew.org.uk/wp-content/uploads/sites/3/2020/05/laudato-si-summary.pdf
3.
Summary and
Commentary on Laudato Si': the Pope's encyclical on ..., https://iefworld.org/fl/LaudatoSi_commentary2015.pdf
4.
Introduction
to Laudato Si, https://rcav.org/system/resources/W1siZiIsIjIwMjAvMDgvMDcvMm1rbTN2NjNsdV9BcmNoYmlzaG9wX01pbGxlcl9zX3JlbWFya3NfYXRfdGhlX0xhdWRhdG9fU2lfU3ltcG9zaXVtLnBkZiJdXQ/Archbishop%20Miller%E2%80%99s%20remarks%20at%20the%20Laudato%20Si%20Symposium.pdf
5.
Laudato Si
Summary | CAPP-USA, https://capp-usa.org/2025/03/laudato-si-summary/
6.
Laudato si'
(24 May 2015) - The Holy See, https://www.vatican.va/content/francesco/en/encyclicals/documents/papa-francesco_20150524_enciclica-laudato-si.html
7.
Konflik
Agraria di Perkebunan Kelapa Sawit - SIAR,
https://siar.or.id/2024/02/27/konflik-agraria-di-perkebunan-kelapa-sawit/
8.
KONFLIK
AGRARIA DI INDONESIA: CATATAN REFLEKTIF ...,
https://ejournal.brin.go.id/jmb/article/view/8797
9.
Ekspansi dan
Konflik - Kelapa Sawit di Indonesia - KITLV,
https://www.kitlv.nl/assets/files/ind-ekspansi-konflik-kelapa-sawit-di-indonesia-id-fa.pdf
10.
Gereja
Katolik Indonesia Menolak Privilese Mengelola Tambang ..., https://penakatolik.com/2024/06/05/gereja-katolik-indonesia-menolak-privilese-mengelola-tambang-dari-pemerintah-indonesia/
11.
KWI dan PGI
Tak Akan Ajukan IUP Tambang - Betahita, https://betahita.id/news/detail/10322/kwi-dan-pgi-tak-akan-ajukan-iup-tambang.html?v=1718369117
12.
“Laudato Si”
Mendorong Gereja Katolik Indonesia Keluar dari Zona ..., https://www.mirifica.net/laudato-si-mendorong-gereja-katolik-indonesia-keluar-dari-zona-nyaman/
13.
Melihat
Keunikan dan Arti Lambang Uskup Samuel Oton Sidin, OFM ..., https://www.mirifica.net/melihat-keunikan-dan-arti-lambang-uskup-samuel-oton-sidin-ofmcap/
14.
70 Tahun
Uskup Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM Cap, https://www.hidupkatolik.com/2024/12/15/82101/70-tahun-uskup-sintang-mgr-samuel-oton-sidin-ofmcap-beharap-bisa-terus-berkarya.php
15.
Bupati, Uskup
dan Para Pastor Sepakat Memajukan Asmat,
https://www.asmatkab.go.id/article/bupati-uskup-dan-para-pastor-sepakat-memajukan-asmat
16.
Gereja
Katolik Manggarai Tolak Tambang | Mirifica News, https://www.mirifica.net/gereja-katolik-manggarai-tolak-tambang/
17.
SKP Se-Tanah
Papua Desak Negara Hentikan Kekerasan Dan ...,
https://jubi.id/rilis-pers/2025/skp-se-tanah-papua-desak-negara-hentikan-kekerasan-dan-pulihkan-martabat-kemanusiaan/
18.
SKP Gereja
Katolik Se-Tanah Papua Keluarkan Seruan Pastoral ..., https://www.katolikana.com/2024/08/23/skp-gereja-katolik-se-tanah-papua-keluarkan-seruan-pastoral-agar-masyarakat-asli-papua-dilindungi/
19.
VOCATION of
the BUSINESS LEADER: A REFLECTION - Uniapac,
https://uniapac.org/wp-content/uploads/2019/11/The-Vocation-of-Business-Leader-ENG.pdf
20.
Evaluating
ESG Profile on Firm Performance - OJK, https://ojk.go.id/id/data-dan-statistik/research/working-paper/Documents/OJK_WP.18.07.pdf
21.
banking
climate risk management and scenario analysis 2024 - OJK, https://ojk.go.id/en/berita-dan-kegiatan/info-terkini/Documents/Pages/Climate-Risk-Management-Scenario-Analysis-CRMS-2024/Book%202_Technical%20Guidebook%20CRMS%20OJK%202024.pdf
22.
banking
climate risk management and scenario analysis - OJK, https://ojk.go.id/en/berita-dan-kegiatan/info-terkini/Documents/Pages/Climate-Risk-Management-Scenario-Analysis-CRMS-2024/Book%201_General%20Guidebook%20CRMS%20OJK%202024.pdf
23.
Penerapan ESG
di Indonesia: Tantangan dan Harapan (2024),
https://dpkapindojaktim.com/penerapan-esg-di-indonesia-tantangan-dan-harapan-2024/
24.
Peluang dan
Tantangan Investasi Berbasis ESG di Indonesia,
https://mediaasuransinews.co.id/market/peluang-dan-tantangan-investasi-berbasis-esg-di-indonesia/
25.
Green Productivity
- APO, https://www.apo-tokyo.org/p_glossary/green-productivity-3/
26.
Green
Productivity methodology - APO, https://www.apo-tokyo.org/p_glossary/green-productivity-methodology/
27.
Pope Francis'
Critique of the 'Technocratic Paradigm' - ISCAST, https://iscast.org/wp-content/uploads/2024/04/01-Roberts-talk.pdf
28.
Human-centred
approach to increasing workplace productivity,
https://www.ilo.org/publications/human-centred-approach-increasing-workplace-productivity-evidence-asia
29.
Asian
Productivity Organization's Green Productivity Initiative, https://sdgs.un.org/partnerships/asian-productivity-organizations-green-productivity-initiative
30.
Lenten
Reflection: Transitioning to a Circular Economy, https://nazareth.org/lenten-reflection-living-a-circular-economy/
31.
circular
economy in indonesia, https://lcdi-indonesia.id/wp-content/uploads/2021/02/Executive-Summary-The-Economic-Social-and-Environmental-Benefits-of-a-Circular-Economy-in-Indonesia.pdf
32.
the economic,
social, and environmental benefits of a,
https://lcdi-indonesia.id/wp-content/uploads/2021/02/Full-Report-The-Economic-Social-and-Environmental-Benefits-of-a-Circular-Economy-in-Indonesia.pdf
33.
Integrating
Circular Economy and Laudato Si': A Christian ... - MDPI, https://www.mdpi.com/2077-1444/16/3/326
34.
Penerapan
Sistem Ekonomi Pancasila Dalam Mendorong ...,
https://www.kemenkopmk.go.id/penerapan-sistem-ekonomi-pancasila-dalam-mendorong-pembangunan-manusia-indonesia
35.
(PDF) Struktur
Ekonomi Pancasila (Pancasilanomics) - ResearchGate, https://www.researchgate.net/publication/381151402_Struktur_Ekonomi_Pancasila_Pancasilanomics
36.
Laudato Sí
Action Platform, https://ius-sdb.com/laudato-si-action-platform/
37.
(PDF) The
Implementation of LAUDATO SI as the Embodiment of ..., https://www.researchgate.net/publication/385702869_The_Implementation_of_LAUDATO_SI_as_the_Embodiment_of_Integral_Ecology_in_Atma_Jaya_Yogyakarta_University
Komentar