Keluarga Sinodal yang Misioner dalam Perwujudan Iman
Kajian APP 2026
Oleh Leonard Tiopan Panjaitan – 13 Januari 2026
Paroki St.Faustina Kowalska, Desa Tonjong,
Tajur Halang, Kab.Bogor
Ringkasan
Kajian memaparkan analisis mendalam dan komprehensif
mengenai dinamika pastoral di Keuskupan Bogor, dengan fokus spesifik pada tema
strategis “Keluarga Sinodal yang Misioner dalam Perwujudan Iman”. Dokumen ini
disusun sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak untuk memahami arah gerak
Gereja lokal yang tengah mempersiapkan diri memasuki Tahun Pastoral 2026, yang
menempatkan keluarga sebagai subjek utama penggembalaan.1 Analisis ini tidak hanya berhenti pada tataran
teologis-pastoral, tetapi juga mengeksplorasi secara ekstensif integrasi
dimensi ekologis yang menjadi ciri khas kepemimpinan Mgr. Paskalis Bruno
Syukur, OFM, dalam merespons krisis iklim global melalui perspektif ensiklik Laudato
Si' dan Laudate Deum.
Keuskupan Bogor, dengan karakteristik demografis
yang unik sebagai wilayah penyangga ibu kota sekaligus daerah pedesaan yang
luas, menghadapi tantangan ganda: fenomena masyarakat komuter urban yang
mengalami “kemiskinan waktu” dan komunitas diaspora rural yang bergulat dengan
isolasi geografis.3 Kajian ini menguraikan
bagaimana visi “Keluarga Sinodal” - keluarga yang berjalan bersama,
mendengarkan, dan berpartisipasi - diterjemahkan ke dalam aksi nyata “Misioner”,
mulai dari meja makan keluarga hingga ke tempat pembuangan sampah. Melalui studi
kasus mendalam pada paroki-paroki kunci seperti Katedral Bogor, Santo
Herkulanus Depok, dan Keluarga Kudus Cibinong, kajian ini memetakan
keberhasilan dan tantangan dalam mengimplementasikan “pertobatan ekologis”
sebagai habitus baru keluarga Katolik.4
Temuan utama menunjukkan bahwa transisi dari
pastoral sektoral (anak, remaja, OMK, lansia) menuju pastoral integral berbasis
keluarga adalah langkah krusial untuk memastikan keberlanjutan iman dan
kelestarian lingkungan. Keluarga tidak lagi dipandang sekadar sebagai objek
yang perlu dilayani sakramennya, melainkan sebagai unit ecclesial dasar yang
memiliki agensi untuk menguduskan dunia melalui pengelolaan sampah, pertanian
organik, dan kesaksian hidup di tengah masyarakat majemuk.
Bab 1: Lanskap Eklesiologis dan Sosiologis Keuskupan
Bogor
1.1 Profil Demografis dan Geografis: Sebuah Dualitas
Keuskupan Bogor, sebagai salah satu keuskupan
sufragan dari Keuskupan Agung Jakarta, melayani wilayah pastoral yang mencakup
spektrum sosiologis yang sangat luas, meliputi Provinsi Jawa Barat, Banten, dan
sebagian wilayah selatan Jakarta.6 Dengan estimasi populasi umat Katolik mencapai lebih dari
90.000 jiwa yang tersebar di 23 hingga 27 paroki, Keuskupan ini
merepresentasikan mikrokosmos dari tantangan Gereja Indonesia modern.7
Dualitas karakteristik wilayah menjadi tantangan
utama dalam perumusan kebijakan pastoral yang seragam. Di satu sisi, terdapat wilayah
urban padat seperti Kota Bogor, Depok, Cibinong, dan kawasan Sentul.
Wilayah ini didominasi oleh keluarga-keluarga muda dan pekerja profesional yang
menjadi bagian dari kaum komuter Jakarta. Ritme hidup di wilayah ini sangat
cepat, transaksional, dan sering kali terjebak dalam individualisme khas
perkotaan. Gereja di wilayah ini sering kali harus bersaing dengan “kesibukan
duniawi” untuk mendapatkan ruang dalam kehidupan umatnya.8
Di sisi lain, terdapat wilayah rural dan diaspora
yang membentang hingga ke pedalaman Banten (seperti Rangkasbitung dan
stasi-stasinya) serta wilayah pegunungan Jawa Barat. Di wilayah ini, tantangan
pastoral bergeser dari “manajemen waktu” menjadi “manajemen akses”. Umat
Katolik sering kali merupakan minoritas kecil yang hidup berdampingan dengan
masyarakat mayoritas Muslim yang kuat secara tradisi. Isu depopulasi menjadi
nyata, seperti yang terjadi di Stasi Cikotok, di mana kejayaan masa lalu
sebagai daerah tambang telah pudar, meninggalkan komunitas basis yang menyusut
drastis, kadang hanya menyisakan segelintir lansia yang setia menjaga kapel.3
1.2 Fenomena Keluarga Komuter: Tantangan “Gereja
Tidur”
Salah satu temuan sosiologis yang paling signifikan
dalam kajian ini adalah dominasi “keluarga komuter” di paroki-paroki besar
penyangga Jakarta (Depok, Cibinong, Gunung Putri). Istilah “berangkat gelap,
pulang gelap” bukan sekadar metafora, melainkan realitas harian bagi ribuan
kepala keluarga dan ibu bekerja di Keuskupan Bogor.9
Dampaknya terhadap kehidupan “Keluarga Sinodal”
sangat mendalam:
1)
Defisit Komunikasi: Kelelahan fisik dan mental setelah menempuh perjalanan
berjam-jam di KRL atau jalan tol mengurangi drastis energi untuk dialog
berkualitas antar-pasangan dan antar-generasi di rumah.
2)
Alih Daya Pendidikan Iman: Karena keterbatasan waktu, pendidikan iman anak sering kali “dialihdayakan”
sepenuhnya ke sekolah Katolik atau Sekolah Minggu, mereduksi peran orang tua
sebagai katekese utama (prima educatrix).10
3)
Gereja Akhir Pekan: Partisipasi dalam kehidupan paroki sering kali terbatas pada
perayaan Ekaristi hari Minggu, sementara keterlibatan dalam lingkungan atau
wilayah menjadi beban tambahan yang dihindari.
Dalam konteks ini, visi “Keluarga Sinodal yang
Misioner” harus diterjemahkan secara sangat pragmatis. Misioner bagi keluarga
komuter mungkin tidak berarti pergi ke tanah misi yang jauh, melainkan misi
untuk “hadir” secara penuh (mindful presence) bagi pasangan dan
anak-anak di sela-sela waktu yang sempit, serta misi untuk membawa nilai-nilai
Injil ke dalam gerbong kereta dan ruang kantor.
1.3 Visi Keuskupan: Meningkatkan Martabat Manusia
Visi dasar Keuskupan Bogor adalah “Menghadirkan
Kerajaan Allah, dengan mengabdikan diri secara aktif dalam meningkatkan
keimanan dan martabat manusia melalui pemberdayaan semua potensi”.11 Frasa “martabat manusia” ini menjadi kunci
hermeneutika (tafsir) bagi seluruh gerakan pastoral.
Martabat manusia di Keuskupan Bogor tidak dipahami
secara abstrak. Ia terwujud dalam:
1)
Pemberdayaan Ekonomi: Melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), Gereja
berupaya mengangkat martabat keluarga yang terhimpit beban ekonomi biaya
tinggi.9
2)
Perlindungan Ekologis: Mengakui bahwa kerusakan lingkungan (sampah, polusi air) secara
langsung merendahkan martabat hidup manusia, terutama mereka yang miskin. Oleh
karena itu, gerakan ekologis di Bogor selalu bersifat sosial-pastoral, bukan
sekadar konservasi alam an sich.13
3)
Inklusi Sosial: Memberikan tempat yang layak bagi mereka yang sering
terpinggirkan dalam struktur masyarakat, seperti lansia yang kesepian dan OMK
yang kehilangan arah.1
Bab 2: Ziarah Pastoral Menuju 2026: Sebuah Peta
Jalan Strategis
Arah pastoral Keuskupan Bogor tidak bergerak secara
acak, melainkan mengikuti sebuah “roadmap” atau peta jalan yang terencana
dengan matang. Analisis terhadap dokumen-dokumen pastoral menunjukkan adanya
strategi “pembangunan bertahap” yang berpuncak pada tahun 2026.
2.1 Evaluasi Fokus Pastoral 2024-2025
Sebelum memasuki tema keluarga di tahun 2026,
Keuskupan Bogor telah meletakkan fondasi yang kuat pada elemen-elemen pembentuk
keluarga itu sendiri.
1)
Tahun 2024: Fondasi pada Tunas Gereja (Anak dan
Remaja)
Pada tahun ini, fokus diarahkan pada anak-anak dan
remaja.1 Ini adalah investasi jangka panjang. Gereja menyadari bahwa
di tengah gempuran digitalisasi dan sekularisme, anak-anak membutuhkan pendampingan
iman yang lebih dari sekadar hafalan dogma. Mereka membutuhkan pengalaman iman
yang hidup. Program-program seperti Bina Iman Anak (BIA) dan Bina Iman Remaja
(BIR) diperkuat, tidak hanya di paroki tetapi juga didorong pelaksanaannya di
lingkungan-lingkungan.
2)
Tahun 2025: Jembatan Antargenerasi (OMK dan Lansia)
Tahun 2025 mengambil tema “Menghidupi Gereja Sinodal
Bersama Lanjut Usia dan Orang Muda: Membangun Gereja sebagai Peziarah
Pengharapan”.2 Pemilihan dua kelompok usia yang kontras ini - OMK
(energi masa depan) dan Lansia (memori masa lalu) - adalah langkah strategis
yang brilian.
1.
Konteks Yubileum: Tahun ini bertepatan dengan Yubileum Agung 2025 yang
dicanangkan Paus Fransiskus dengan tema “Pilgrims of Hope”.14
2.
Solidaritas Sinodal: Gereja Keuskupan Bogor ingin menyambungkan kembali rantai yang
putus. Lansia sering kali mengalami kesepian (loneliness) dan perasaan
tidak berguna. OMK sering kali mengalami kecemasan (anxiety) akan masa
depan. Dengan mempertemukan keduanya, terjadi pertukaran: Lansia memberikan
hikmat dan doa, OMK memberikan semangat dan kehadiran.1
3.
Relevansi Dokumen Dilexi te: Pertemuan para imam pada akhir 2025 juga mengangkat seruan
apostolik Dilexi te (Dia Mengasihiku), yang menekankan kasih Kristus
kepada mereka yang kecil dan lemah, yang dalam konteks ini sangat relevan bagi
pelayanan kepada lansia yang sakit dan terisolasi.1
2.2 Tahun 2026: Keluarga sebagai Puncak Integrasi
Peta jalan ini bermuara pada Tahun Pastoral 2026
dengan tema besar: “Membangun Keluarga Sinodal Yang Menciptakan Misi
Pengharapan dan Perdamaian”.2
Mengapa Keluarga? Karena keluarga adalah locus
(tempat) di mana hasil pembinaan anak (2024) serta sinergi OMK dan Lansia
(2025) bertemu dan hidup bersama.
1)
Keluarga sebagai Subjek, Bukan
Objek: Pergeseran paradigma terbesar adalah menempatkan
keluarga bukan lagi sebagai pasien yang menunggu disembuhkan oleh pastor,
melainkan sebagai dokter yang menyembuhkan masyarakat. Surat Gembala menegaskan
bahwa keluarga adalah “subjek pastoral” yang memiliki mandat misioner otentik.3
2)
Definisi Keluarga Sinodal:
1.
Berjalan Bersama: Suami dan istri yang berjalan seiring, orang tua dan anak yang
saling mendampingi. Tidak ada yang berjalan sendiri atau meninggalkan yang
lain.
2.
Mendengarkan: Keluarga yang menyediakan ruang aman bagi setiap anggota untuk
berbicara dan didengarkan tanpa penghakiman.
3.
Partisipasi: Keluarga yang tidak menutup pintu rumahnya, tetapi terlibat
dalam duka dan kecemasan tetangga serta lingkungan alamnya.
Tabel 1: Evolusi Fokus Pastoral
Keuskupan Bogor (2024-2026)
|
Tahun Pastoral |
Fokus Subjek |
Tema Sentral |
Relevansi dengan Visi
Keluarga 2026 |
|
2024 |
Anak-anak & Remaja |
Pembinaan Iman Dasar |
Mempersiapkan
anak-anak menjadi anggota keluarga yang berkarakter Kristiani. |
|
2025 |
OMK & Lansia |
Sinodalitas
Antargenerasi, Peziarah Pengharapan |
Membangun jembatan
komunikasi antara generasi muda dan tua dalam keluarga besar. |
|
2026 |
Keluarga |
Keluarga Sinodal, Misi
Pengharapan & Perdamaian |
Integrasi seluruh
elemen (anak, OMK, lansia) dalam satu wadah Ecclesia Domestica yang
misioner. |
Bab 3: Dimensi Ekologis: Jantung Spiritualitas
Keuskupan Bogor
Tidak mungkin berbicara tentang pastoral Keuskupan
Bogor tanpa membahas dimensi ekologis. Di bawah penggembalaan Mgr. Paskalis
Bruno Syukur, OFM, ekologi telah bergeser dari isu pinggiran menjadi arus utama
(mainstream) pastoral. Latar belakang Fransiskan dari Bapa Uskup
memberikan warna yang sangat kuat: alam bukan sekadar sumber daya, melainkan
saudara.18
3.1 Teologi Pertobatan Ekologis
Konsep “Pertobatan Ekologis” yang didengungkan dalam
ensiklik Laudato Si' menjadi landasan teologis gerakan ini. Di Keuskupan
Bogor, pertobatan ini dimaknai sebagai perubahan fundamental dalam cara
beriman.
1)
Iman yang Membumi: Bapa Uskup sering menegaskan dalam homili dan surat gembalanya
bahwa iman Katolik tidak boleh hanya terarah vertikal ke surga, tetapi harus
menjejak kuat di bumi. Merusak bumi berarti menghina Sang Pencipta.19
2)
Keluarga sebagai Sekolah
Ekologi: Surat gembala dan katekese keuskupan menempatkan
keluarga sebagai tempat pendidikan primer untuk ekologi. Kebiasaan mematikan
lampu, tidak membuang makanan, dan memilah sampah harus dimulai dari rumah,
bukan dari sekolah atau gereja.20
3.2 Implementasi Laudato
Si' dan Peringatan 10 Tahun (2025)
Tahun 2025 menandai satu dekade ensiklik Laudato
Si'. Keuskupan Bogor merespons momentum ini dengan sangat serius, bekerja
sama dengan Gerakan Laudato Si' Indonesia (GLSI).
1)
Modul Pendidikan Laudato Si': Salah satu capaian strategis adalah peluncuran Modul Pendidikan
Laudato Si' yang disusun bersama Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK).
Modul ini terdiri dari 4 buku (TK, SD, SMP, SMA) dan mencakup 9 tema ekologis
(air, tanah, udara, energi, dll.).22 Meskipun ditujukan untuk sekolah, modul ini dirancang untuk
memicu diskusi di rumah, melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran anak.
2)
Sentul Eco Edu Tourism Forest: Keuskupan Bogor memiliki akses dan kemitraan strategis dengan
kawasan hutan edukasi di Sentul. Tempat ini menjadi pusat formasi bagi para
animator Laudato Si' dari seluruh Indonesia, termasuk dari Keuskupan Bogor.24 Ini menegaskan posisi Bogor sebagai “ibu kota
ekologis” bagi Gereja Katolik Indonesia.
Bab 4: Operasionalisasi Iman: Gerakan Kolekte Sampah
dan Ekonomi Sirkular
Jika “Keluarga Sinodal” adalah visinya, maka “Gerakan
Kolekte Sampah” adalah salah satu aksi konkretnya yang paling revolusioner. Program
ini mengubah paradigma pengelolaan sampah dari masalah sanitasi menjadi
tindakan liturgis dan ekonomis.
4.1 Dari “Membuang” Menjadi “Mempersembahkan”
Istilah “Kolekte Sampah” dipilih dengan sengaja
untuk memberikan bobot teologis. Dalam tradisi Katolik, kolekte adalah
persembahan umat kepada Tuhan dan Gereja. Dengan menyebutnya “kolekte sampah”,
Gereja Keuskupan Bogor mengajak umat untuk melihat sampah terpilah bukan
sebagai limbah menjijikkan, melainkan sebagai persembahan yang bernilai.4
1)
Peluncuran: Gerakan ini diluncurkan secara resmi di Paroki BMV Katedral
Bogor pada Maret 2022, dihadiri oleh Dirjen PSLB3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati
dan Walikota Bogor Bima Arya, serta didukung oleh UNDP dan pihak swasta
(Mayora, Le Minerale).4 Ini menunjukkan model kolaborasi pentahelix yang ideal.
4.2 Mekanisme Teknis Berbasis Keluarga
Keberhasilan gerakan ini bergantung sepenuhnya pada
kedisiplinan keluarga di rumah. Mekanismenya dirancang untuk memaksa terjadinya
perubahan perilaku (habitus):
1)
Pemilahan di Hulu (Rumah): Keluarga harus menyediakan wadah terpisah di rumah untuk sampah
organik, plastik, kertas, dan logam/kaca. Ini adalah tantangan terberat karena
menuntut konsistensi harian.26
2)
Penyetoran (Gereja): Saat pergi ke gereja pada hari Minggu atau jadwal tertentu,
keluarga membawa sampah anorganik bersih mereka ke drop box yang
disediakan di area paroki.28
3)
Pengolahan (Ekonomi Sirkular): Gereja bekerja sama dengan off-taker (pengepul atau
industri daur ulang) yang membeli sampah tersebut.
4)
Manfaat Sosial: Dana yang terkumpul dari penjualan sampah masuk ke kas sosial
paroki atau lingkungan, digunakan untuk membantu umat yang membutuhkan
(beasiswa, sembako). Inilah wujud nyata ekonomi sirkular yang berkeadilan.4
4.3 Eco-Enzyme: Laboratorium di Dapur Keluarga
Selain sampah anorganik, pengelolaan sampah organik
dilakukan melalui pembuatan Eco-Enzyme. Program ini sangat populer di
paroki-paroki seperti Katedral dan Sentul.
1)
Proses: Ibu-ibu dan OMK mengumpulkan kulit buah, mencampurnya dengan
gula merah dan air, lalu memfermentasikannya selama 3 bulan.
2)
Dampak: Cairan yang dihasilkan digunakan sebagai disinfektan alami,
pupuk, dan pembersih sungai. Kegiatan ini mengubah dapur keluarga menjadi
laboratorium ekologis mini, mendekatkan anggota keluarga melalui aktivitas
bersama.30
Tabel 2: Mekanisme Gerakan
Kolekte Sampah dalam Keluarga
|
Tahapan |
Aktor Utama |
Aktivitas Kunci |
Nilai Sinodal &
Misioner |
|
1. Persiapan |
Seluruh Anggota
Keluarga |
Membersihkan sampah
plastik/kertas, memisahkan dari organik. |
Dialog &
Kerjasama: Melatih disiplin bersama dan saling mengingatkan. |
|
2. Liturgi |
Orang Tua & Anak |
Membawa sampah ke
gereja saat jadwal misa/kegiatan. |
Misioner:
Membawa “hasil usaha” untuk kebaikan bersama (persembahan). |
|
3. Konversi |
Tim Lingkungan Hidup
Paroki |
Menimbang, mencatat,
dan menjual ke off-taker. |
Pelayanan:
Mengubah limbah menjadi berkah bagi yang membutuhkan. |
|
4. Pemanfaatan |
Komunitas Basis |
Dana digunakan untuk
aksi sosial/karitatif. |
Solidaritas:
Dari sampah menjadi kasih bagi sesama. |
Bab 5: Studi Kasus Paroki dan Dinamika Lapangan
Untuk memahami bagaimana visi besar ini mendarat di
lapangan, kajian ini menganalisis dinamika di beberapa paroki yang
merepresentasikan tipologi berbeda di Keuskupan Bogor.
5.1 Paroki Perkotaan dan Penyangga: Depok dan
Cibinong
Di wilayah padat penduduk ini, isu lingkungan sangat
terasa karena sempitnya lahan dan tingginya volume sampah rumah tangga.
1)
Paroki Santo Herkulanus, Depok: Paroki ini menjadi model paroki ekologis yang sangat maju.
Seksi Lingkungan Hidup-nya tidak hanya mengurus sampah, tetapi mengintegrasikan
ekonomi. Setiap hari Minggu, “Keluarga Muda” dan Seksi LH membuka tenda yang
menjual hasil pertanian organik dan melayani bank sampah.5 Ini menciptakan ekosistem di mana keluarga muda
mendapatkan dukungan ekonomi sekaligus berkontribusi pada lingkungan.
2)
Paroki Keluarga Kudus, Cibinong: OMK di sini mengambil peran sentral. Mereka menjadi motor
penggerak kolekte sampah di halaman gereja, menunjukkan bahwa orang muda mampu
memimpin perubahan perilaku bagi generasi yang lebih tua.32
3)
Paroki Santo Thomas, Kelapa Dua: Terletak di dekat Mako Brimob, paroki ini menunjukkan sisi
misioner yang unik dengan menggandeng institusi kepolisian dalam “Gerakan Cinta
Lingkungan Hidup”. Ini membuktikan bahwa misi ekologis dapat menjadi jembatan
persaudaraan dengan instansi sekuler.33
5.2 Paroki Pusat: BMV Katedral Bogor
Sebagai paroki induk, Katedral memikul tanggung
jawab sebagai role model. Peluncuran Gerakan Kolekte Sampah Nasional di
sini memberikan legitimasi kuat. Selain itu, Katedral memiliki Biro Ekologi
yang aktif mengadakan rekoleksi dan pembinaan, memastikan bahwa gerakan praktis
selalu diisi dengan nutrisi spiritual.26
5.3 Paroki Berbasis Alam: Sentul dan Sukaraja
Di wilayah yang lebih asri, pendekatan pastoralnya
memanfaatkan alam sebagai sarana katekese.
1)
Paroki Sentul City (Laudato Si'
Center): Mengembangkan pertanian organik di lahan seluas 1,8
hektar (Taman Edukasi Ekologis Watugendong). Keluarga diajak untuk menanam,
memanen, dan memahami asal-usul makanan. Ini melawan budaya instan dan
mengajarkan penghargaan terhadap proses alam.35
2)
Paroki Santo Andreas, Sukaraja: Mengusung konsep “Eco-Pastoral”, di mana penataan fisik gereja
dan lingkungan sekitarnya dirancang untuk selaras dengan alam, menciptakan
suasana doa yang kontemplatif.36
5.4 Tantangan di Wilayah Rural: Stasi Cikotok
Kontras dengan paroki kota, Stasi Cikotok di Paroki
Rangkasbitung menghadapi tantangan eksistensial. Dengan jarak 125 km dari pusat
paroki dan jalan yang rusak, kehadiran imam sangat jarang. Keluarga-keluarga di
sini harus menjadi “imam” bagi rumah tangga mereka sendiri. Sinodalitas di sini
berarti kesetiaan segelintir umat (terkadang hanya 3 keluarga) untuk tetap
berkumpul, berdoa rosario, dan menjaga iman Katolik tetap hidup di tengah
mayoritas non-Katolik. Misi mereka adalah misi “kehadiran yang bertahan” (the
mission of enduring presence).3
Bab 6: Tantangan dan Hambatan dalam Mewujudkan
Keluarga Misioner
Meskipun visi dan program sudah sangat jelas, kajian
ini mengidentifikasi hambatan signifikan yang harus diatasi.
6.1 Tantangan Internal Keluarga
1)
Sekularisasi dan Individualisme: Di perumahan-perumahan elit Sentul atau Kota Wisata, tantangan
utamanya adalah individualisme. Keluarga sering kali merasa “cukup” dengan
dirinya sendiri dan enggan terlibat dalam komunitas lingkungan (“pagar tinggi,
hati tertutup”).
2)
Beban Ganda Ekonomi: Bagi keluarga kelas menengah ke bawah, desakan ekonomi membuat
isu ekologis terasa sebagai “kemewahan”. “Bagaimana memikirkan memilah sampah
jika memikirkan makan besok saja sulit?” adalah resistensi yang nyata.9
3)
Krisis Keteladanan: Sering kali anak-anak (yang mendapat pendidikan ekologis di
sekolah) lebih sadar lingkungan daripada orang tua mereka. Ketimpangan ini bisa
memicu konflik atau justru menjadi peluang evangelisasi anak terhadap orang
tua.
6.2 Tantangan Eksternal dan Struktural
1)
Infrastruktur Pengelolaan Sampah
Kota: Sering terjadi kasus di mana umat sudah memilah
sampah di rumah dan gereja, namun ketika diangkut oleh dinas kebersihan kota,
sampah tersebut dicampur kembali di truk. Hal ini menimbulkan demotivasi yang
luar biasa (rasa sia-sia). Oleh karena itu, kemandirian pengelolaan dengan off-taker
swasta yang terpercaya menjadi krusial.
2)
Mobilitas Penduduk: Di wilayah penyangga, tingkat perputaran penduduk (pindah
rumah/kontrakan) cukup tinggi, menyulitkan pembentukan komunitas basis yang
stabil dan persisten.
Bab 7: Rekomendasi Strategis dan Penutup
Berdasarkan analisis di atas, kajian ini merumuskan
rekomendasi strategis bagi Keuskupan Bogor untuk memaksimalkan Tahun Pastoral
Keluarga 2026.
7.1 Strategi Penguatan Internal
1)
Katekese Keluarga Terintegrasi: Materi persiapan perkawinan (KPP) dan pembinaan keluarga harus
secara eksplisit memasukkan modul “Pertobatan Ekologis”. Pasangan baru harus
diajak berkomitmen untuk membangun “Rumah Tangga Ramah Lingkungan” sebagai
bagian dari janji suci mereka menjaga kehidupan.
2)
Pastoral Digital untuk Komuter: Mengembangkan konten-konten pastoral singkat (podcast, renungan
WhatsApp) yang menemani keluarga komuter di perjalanan. Topiknya harus relevan:
“Menemukan Tuhan di KRL”, “Doa di Tengah Kemacetan”, “Memilah Sampah sebagai
Doa”.
3)
Pemberdayaan Lansia sebagai
Penjaga Tradisi: Melibatkan lansia secara aktif untuk mengajarkan
nilai-nilai kearifan lokal (seperti hemat air, menanam apotik hidup) kepada
cucu-cucu mereka, menjembatani kesenjangan generasi.
7.2 Strategi Misioner Keluar
1)
Gereja sebagai Hub Ekologis
Masyarakat: Paroki-paroki harus membuka fasilitas bank sampah
atau pasar organik mereka untuk masyarakat umum (non-Katolik). Ini adalah
metode evangelisasi yang sangat efektif dan minim resistensi di Jawa Barat.
Wajah Gereja yang peduli lingkungan adalah wajah yang bersahabat.
2)
Advokasi Kebijakan: Keuskupan Bogor, dengan kredibilitas Laudato Si'-nya,
perlu lebih vokal dalam mengadvokasi kebijakan lingkungan di tingkat pemerintah
daerah (Bogor, Depok, Banten), menyuarakan aspirasi masyarakat yang terdampak
kerusakan lingkungan.
Penutup
Menuju tahun 2026, Keuskupan Bogor sedang menapaki
jalan terjal namun mulia. Visi “Keluarga Sinodal yang Misioner dalam
Perwujudan Iman” bukanlah utopia, melainkan panggilan mendesak. Dengan
memadukan kekuatan spiritualitas Fransiskan, struktur pastoral yang rapi, dan
aksi nyata berbasis ekologi, keluarga-keluarga Katolik di Bogor sedang dibentuk
menjadi “nabi-nabi zaman baru”. Mereka tidak berkhotbah dengan kata-kata muluk,
melainkan dengan tangan yang kotor memilah sampah, dengan hati yang terbuka
bagi lansia yang kesepian, dan dengan kaki yang setia berjalan bersama di
tengah hiruk-pikuk metropolitan maupun kesunyian pedesaan. Di sanalah Kerajaan
Allah dihadirkan secara nyata.
Daftar Singkatan:
1.
OMK: Orang Muda Katolik
2.
KLHK: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
3.
GLSI: Gerakan Laudato Si' Indonesia
4.
MNPK: Majelis Nasional Pendidikan Katolik
5.
PSE: Pengembangan Sosial Ekonomi
6.
BMV: Beatae Mariae Virginis (Nama Katedral Bogor)
Referensi:
1.
Temu Imam Keuskupan Bogor 2025 : Memperdalam Semangat ..., https://keuskupanbogor.org/2025/11/19/temu-imam-keuskupan-bogor-2025-memperdalam-semangat-pastoral-dan-implementasi-hasil-sagki/
2.
Surat Gembala Tema Tahun Pastoral Keuskupan Bogor 2026, https://keuskupanbogor.org/2025/12/27/surat-gembala-tema-tahun-pastoral-keuskupan-bogor-2026-membangun-keluarga-sinodal-yang-menciptakan-misi-pengharapan-dan-perdamaian/
3.
“Kasihan, Romo Capek….” - Keuskupan Sufragan Bogor, https://keuskupanbogor.org/2025/12/28/kasihan-romo-capek/
4.
Keuskupan Bogor Gelar Peluncuran Gerakan Kolekte Sampah ..., https://keuskupanbogor.org/2022/03/03/keuskupan-bogor-gelar-peluncuran-gerakan-kolekte-sampah-indonesia/
5.
Seksi Lingkungan Hidup – GEREJA KATOLIK KELUARGA KUDUS, https://parokipasarminggu.com/2017/11/03/seksi-lingkungan-hidup/
6.
Keuskupan Bogor | PDF - Scribd, https://www.scribd.com/document/627935344/Keuskupan-Bogor
7.
Keuskupan Bogor - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Keuskupan_Bogor
8.
Tantangan Pastoral Keluarga di Dunia Modern | Mirifica News, https://www.mirifica.net/tantangan-pastoral-keluarga-di-dunia-modern/
9.
TANTANGAN DAN KEPERIHATINAN YANG AKTUAL DALAM ..., https://msfmusafir.wordpress.com/2009/02/27/tantangan-dan-keperihatinan-yang-aktual-dalam-hidup-keluarga/
10.
Penanaman Nilai Kekatolikan pada Keluarga Katolik di Keuskupan
..., https://www.atmajaya.ac.id/id/pages/7793-penanaman-nilai-kekatolikan-pada-keluarga-katolik-di-keuskupan-agung-jakarta-dan-keuskupan-bogor/
11.
Tentang Keuskupan, https://keuskupanbogor.org/tentang-keuskupan/
12.
Pertemuan Rutin Bulanan Biro Ekologi Keuskupan Bogor, https://keuskupanbogor.org/2017/07/03/pertemuan-rutin-bulanan-biro-ekologi-keuskupan-bogor/
13.
Deklarasi 10 Tahun Ensiklik Laudato Si, https://kas.or.id/deklarasi-10-tahun-ensiklik-laudato-si/
14.
SAGKI 2025: Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan, https://www.kaj.or.id/read/2025/11/12/19774/berjalan-bersama-sebagai-peziarah-pengharapan.php
15.
Menjadi Gereja Sinodal Yang Misioner Untuk Perdamaian, https://www.mirifica.net/berjalan-bersama-sebagai-peziarah-pengharapan-menjadi-gereja-sinodal-yang-misioner-untuk-perdamaian/
16.
Tema Tahun Pastoral 2026 - Keuskupan Sufragan Bogor, https://keuskupanbogor.org/data/uploads/2025/12/Tema-Pastoral-Keuskupan-Bogor-Tahun-2026.pdf
17.
Surat Gembala Natal 2025 | Keuskupan Bogor, https://www.mabuseba.org/2025/12/surat-gembala-natal-2025-keuskupan-bogor.html
18.
Laudato Si' - paus fransiskus - Spiritualitas Katolik, https://spiritualitaskatolik.wordpress.com/wp-content/uploads/2015/12/laudato-si.pdf
19.
KLHK-Keuskupan Bogor luncurkan Kolekte Sampah Indonesia, https://www.antaranews.com/berita/2737737/klhk-keuskupan-bogor-luncurkan-kolekte-sampah-indonesia
20.
Uskup Bogor: OMK bersemangat gagas langkah konkret atasi krisis
..., https://penakatolik.com/2017/02/27/uskup-bogor-omk-bersemangat-gagas-langkah-kongkret-atasi-krisis-lingkungan/
21.
Temu Ekologi Kaum Muda Keuskupan Bogor, https://keuskupanbogor.org/2017/06/21/temu-ekologi-kaum-muda-keuskupan-bogor/
22.
Gerakan Laudato Si' Indonesia dan Lembaga Pendidikan Katolik ..., https://www.katolikana.com/2025/09/13/gerakan-laudato-si-indonesia-dan-lembaga-pendidikan-katolik-luncurkan-modul-pendidikan-laudato-si/
23.
“GLSI Bekerja Sama Dengan Lembaga-Lembaga Pendidikan ..., https://liputannusantara.id/glsi-bekerja-sama-dengan-lembaga-lembaga-pendidikan-katolik-melalui-majelis-nasional-pendidikan-katolik-mnpk-meluncurkan-modul-pendidikan-laudato-si/
24.
10 Tahun Laudato Si', 'Anggur Baru' di Tengah Krisis Iklim dan
Ekologi, https://seputarcibubur.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-1789645674/10-tahun-laudato-si-anggur-baru-di-tengah-krisis-iklim-dan-ekologi?page=all
25.
Gerakan LSI, Lembaga Pendidikan Katolik Luncurkan Modul ..., https://keuskupanbogor.org/2025/09/07/gerakan-lsi-lembaga-pendidikan-katolik-luncurkan-modul-pendidikan-laudato-si/
26.
Gerakan Kolekte Sampah Keuskupan Bogor, Pengurangan Sampah ..., https://www.bmvkatedralbogor.org/gerakan-kolekte-sampah-keuskupan-bogor-pengurangan-sampah-dengan-pendekatan-agama/
27.
KLHK Apresiasi Gerakan Kolekte Sampah Menuju Indonesia Bersih ...,
https://www.sinarharapan.net/klhk-apresiasi-gerakan-kolekte-sampah-menuju-indonesia-bersih-2025/
28.
Keuskupan Bogor Bantu Kurangi Sampah Melalui Gerakan Kolekte ..., https://sanga.id/2022/03/keuskupan-bogor-bantu-kurangi-sampah-melalui-gerakan-kolekte-sampah/2/
29.
KAJ Ajak Umat Memilah Sampah dan Meramaikan Lomba Ekonomi ..., https://www.hidupkatolik.com/2026/01/04/86766/kaj-ajak-umat-memilah-sampah-dan-meramaikan-lomba-ekonomi-sirkular-2026.php
30.
Pemberdayaan Komunitas Bank Sampah Berkah di Desa ..., https://www.youtube.com/watch?v=xlLNN7p262w
31.
Kurangi Sampah di Bogor, LPI DD dan Eco Enzyme Nusantara ..., https://greatedunesia.id/aktivitas/kurangi-sampah-di-bogor-lpi-dd-dan-eco-enzyme-nusantara-resmikan-bank-eco-enzyme-bogor/2021/
32.
Keterlibatan OMK PKKC Dalam Gerakan Kolekte Sampah, https://keuskupanbogor.org/2022/03/27/keterlibatan-omk-pkkc-dalam-gerakan-kolekte-sampah/
33.
Gerakan Cinta Lingkungan Hidup Paroki St. Thomas Kelapa Dua, https://keuskupanbogor.org/2017/01/27/gerakan-cinta-lingkungan-hidup-paroki-st-thomas-kelapa-dua-depok/
34.
Biro Ekologi - Keuskupan Sufragan Bogor, https://keuskupanbogor.org/mengenai-gereja/komisi-komisi/biro-ekologi/
35.
Gerakan Laudato Si' Indonesia, Komitmen Merawat Bumi Makin ..., https://www.hidupkatolik.com/2024/06/09/77787/gerakan-laudato-si-indonesia-komitmen-merawat-bumi-makin-bergulir.php
36.
Gereja Santo Andreas - Sukaraja - Jadwal Misa Katolik, https://jadwalmisa.id/cari/jawa-barat/kab-bogor/gereja-santo-andreas-sukaraja
Komentar