Sam Shamoun Mengejutkan Penelepon Yahudi dengan Menunjukkan Trinitas dalam Perjanjian Lama

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=1SgENuD1tL8.

Note:

Apologis Kristen Sam Shamoun menunjukkan kepada seorang pria Yahudi bagaimana dalam Perjanjian Lama Allah menyatakan diri-Nya sebagai Tritunggal—Bapa, Anak, Roh Kudus—dalam Kitab Kejadian ketika Ia berfirman, "Marilah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita." Inti dari bagian ini adalah menunjukkan bahwa Allah bukanlah pribadi tunggal, karena Ia berbicara dalam bentuk jamak, yang menunjukkan bahwa Bapa dan Yesus hadir dalam penciptaan, dan hal ini dapat kita lihat melalui penciptaan Adam yang disebut sebagai "mereka" meskipun ia adalah satu pribadi—sebab meskipun ia tunggal, perempuan itu berasal darinya, dan bersama-sama mereka menjadi satu daging. Terkejut mendengar bahwa Allah sendiri berkata bahwa kesendirian itu tidak baik, ia menjelaskan bahwa jika Allah sendiri mengatakan hal ini, maka Allah sendiri tidak mungkin merupakan Pribadi Tunggal, karena itu Ia adalah Triniter.


(Ayat-ayat Alkitab) Kejadian 1:26; Kejadian 2:19–24

Stempel Waktu 🟢

[0:00] Kejadian: Pluralitas Bapa, Anak, Roh

[2:53] Allah Berkata "Marilah Kita" dan "Mereka"

[5:35] Adam sebagai Laki-laki dan Perempuan

[10:05] Bagaimana Menjadi Satu Mencerminkan Allah

Segmen 1: Kejadian — Pluralitas Bapa dan Anak, Roh

Percakapan dibuka dengan nada gembira dari sang penelepon. Ia mengaku senang karena pembicaraan ternyata sudah sampai ke Kejadian 1:26, ayat yang sebenarnya sudah ia siapkan untuk pertanyaan berikutnya. Selama ini, katanya, begitulah cara ia memahami hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru: ketika Perjanjian Baru berbicara tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus, ia selalu mengaitkannya kembali dengan saat Allah berfirman, “Marilah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita, menurut rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, ternak, seluruh bumi, dan segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Ia bertanya apakah pemahamannya benar, mengingat pada saat itu belum ada malaikat maupun nabi. Sebagai perbandingan, ia mengajukan analogi dari pengalaman manusia sendiri: manusia memiliki tubuh jasmani, wujud rohani, dan jiwa—tiga hal berbeda yang bersama-sama membentuk satu pribadi. Baginya, ada keselarasan yang begitu kuat antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam hal ini.

Shamoun menanggapi dengan meluruskan sekaligus memperdalam pemahaman itu. Ia menjelaskan bahwa analogi yang tepat bukanlah tubuh dan jiwa manusia—sebab manusia tetap satu pribadi meski memiliki tubuh dan jiwa. Yang lebih tepat, katanya, adalah bahwa Bapa, Firman-Nya, dan Roh-Nya bukanlah diri yang sama satu sama lain. Karena mereka berbeda (distinct), mereka benar-benar dapat berinteraksi satu sama lain, saling mengasihi, dan memiliki persekutuan. Itulah sebabnya Kitab Suci mencatat, “Marilah Kita”—sebuah ungkapan yang menunjukkan bahwa Allah sedang berbicara kepada pihak lain yang berkesadaran, bukan berbicara kepada diri-Nya sendiri.

Shamoun mengakui bahwa pada tahap itu malaikat memang sudah diciptakan, dan bahwa para rabi tradisional berpendapat Allah sedang berbicara kepada para malaikat. Namun ia menegaskan akan membahas argumen itu secara khusus, poin demi poin, sembari mengajak lawan bicaranya menyelami Kejadian 1 lebih dalam lagi.

Sebelum masuk ke pembahasan sistematis itu, Shamoun memberi satu contoh tambahan yang menarik: kutipan dari Targum Yerusalem atas Kejadian 3, di mana “Firman TUHAN Allah” berkata, “Lihatlah, Adam yang telah Kuciptakan adalah sendirian di dunia-Ku, sebagaimana Aku sendirian di surga yang tinggi.” Ia menekankan bahwa ini adalah tafsiran Yahudi, bukan Kristen, yang justru mengakui bahwa di tempat-tempat ketika Allah “berbicara” atau “menampakkan diri,” yang sesungguhnya bertindak adalah Firman Allah. Firman Allah-lah yang berkata, “Aku menciptakan Adam”; Firman Allah-lah yang “menciptakan manusia menurut gambar-Nya.” Orang-orang Yahudi ini, tegas Shamoun, bukan orang Kristen dan sama sekali tidak dipengaruhi oleh Perjanjian Baru, namun dari pembacaan Kitab Suci mereka sendiri mereka dapat melihat bahwa Allah bersifat multi-personal dan kompleks.

Yang dilakukan Perjanjian Baru, lanjutnya, hanyalah menegaskan kebenaran yang sudah tersirat itu: “Ya, memang demikian.” Firman yang dimaksud—yang bukan Bapa yang dikenal orang Yahudi—adalah pribadi hidup yang berbicara, dapat diajak bicara, yang mencipta, yang menghukum, yang mengampuni; melakukan apa yang Allah lakukan. Firman itulah yang menjadi manusia bernama Yesus. Berkaitan dengan Kejadian 1, Shamoun berjanji akan menelusurinya secara sistematis, menegaskan bahwa memahami hal ini sesungguhnya tidak memerlukan penguasaan bahasa Ibrani secara pribadi, karena leksikon-leksikon yang tersedia sudah cukup membantu—hanya saja banyak orang tidak menangkap detail penting yang tersembunyi di dalam teks aslinya.

Segmen 2: Allah Berkata “Marilah Kita” dan “Mereka”

Shamoun mengajak lawan bicaranya memperhatikan satu prinsip penting: bagaimana manusia meniru Allah, meski secara terbatas, fana, dan temporal. Allah, jelasnya, tidak bersifat fisik; secara hakikat Ia tidak memiliki tubuh, dan tidak terikat pada ruang maupun tempat—berbeda dengan manusia. Maka ketika Kitab Suci mengatakan manusia menyerupai Allah, itu bukan berarti manusia identik dengan Allah—sesuatu yang mustahil, sebab tidak ada apa pun yang identik dengan Allah. Namun demikian, manusia menyerupai Allah lebih dekat daripada makhluk mana pun, karena memang itulah kehendak Allah sejak semula.

Untuk membuktikan keistimewaan penciptaan manusia ini, Shamoun mengajak membaca narasi Kejadian secara cermat. Setiap kali Allah menciptakan sesuatu sebelumnya, formulanya selalu sama: “Jadilah… jadilah… jadilah.” Namun ketika sampai pada penciptaan manusia, formula itu berubah total—Allah tidak lagi berkata “jadilah,” melainkan “Marilah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita.” Seluruh kosakata penciptaan berubah secara mencolok. Sebagai perbandingan, sebelum ayat itu, Allah hanya berkata, “Jadilah terang,” dan terang pun jadi. Tidak pernah sekalipun Allah berkata “marilah Kita” saat menciptakan hal-hal lain—selalu “jadilah,” lalu terjadilah demikian. Tetapi begitu tiba pada manusia, kosakata itu berubah.

Perubahan ini, kata Shamoun, sejak dahulu telah mengusik para rabi dalam tradisi Talmud. Salah satu jalan keluar yang mereka tawarkan adalah menyatakan bahwa Allah sedang berbicara kepada para malaikat. Namun Shamoun menampik penjelasan itu, sebab para rabi sendiri mengakui bahwa malaikat sama sekali tidak berperan dalam penciptaan—mereka hanyalah penonton pasif. Untuk menghindari kesimpulan bahwa Allah sedang berbicara kepada pihak lain yang benar-benar terlibat dalam penciptaan, sebagian penafsir berargumen bahwa Allah hanya menyapa semacam “dewan surgawi” tanpa benar-benar melibatkan mereka.

Shamoun mengajak membaca teksnya kembali secara saksama: “Allah berfirman: Marilah Kita menjadikan manusia (Ibraninya: Adam—istilah yang nanti akan menjadi kunci penting) menurut gambar Kita, menurut rupa Kita.” Ia meminta perhatian khusus pada perubahan kata ganti berikutnya: “dan biarlah mereka berkuasa.” Siapa “mereka” itu? Pada titik ini, yang baru diciptakan hanyalah satu sosok—Adam. Namun Adam justru disebut sebagai “mereka,” bentuk jamak. Mengapa demikian? Shamoun mengaku belum menjelaskannya di titik ini, tetapi menegaskan ia akan membuktikan bahwa Adam, sebagaimana disebutkan dalam teks, sesungguhnya bukan satu pribadi tunggal.

Segmen 3: Adam sebagai Laki-laki dan Perempuan

Di sinilah Shamoun mulai membuktikan klaimnya secara tekstual. Ia menunjukkan bunyi ayat berikutnya dalam bahasa Ibrani: Allah menciptakan Adam menurut gambar-Nya; menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kata kuncinya di sini, tegas Shamoun, adalah bahwa satu Adam itu ternyata adalah laki-laki dan perempuan sekaligus—sebuah “mereka.”

Menurutnya, Allah dengan sengaja menunjukkan hal ini di dalam penciptaan Adam yang bersifat jamak: satu Adam, namun lebih dari satu pribadi dengan daging yang sama meski berbeda jenis kelamin. Ini mencerminkan kenyataan bahwa satu Allah juga lebih dari satu pribadi dengan satu hakikat yang sama. Shamoun berjanji akan menunjukkan hal ini secara sistematis.

Ia lalu membawa lawan bicaranya ke Kejadian 5:1–2: “Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu Allah menciptakan Adam, dibuat-Nya dia” (perhatikan, kata Shamoun, di sini Adam disebut “dia,” tunggal) “menurut rupa Allah.” Namun kemudian datang kejutannya: “laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka, dan diberkati-Nya mereka serta diberi-Nya nama Adam pada waktu mereka diciptakan.” Adam, simpul Shamoun, bukanlah satu pribadi. Meski disebut sebagai “dia” (tunggal), Adam sesungguhnya bersifat multi-personal: laki-laki dan perempuan, dua jenis kelamin berbeda, dua sosok fisik berbeda, dua tubuh fisik berbeda—namun bersama-sama mereka adalah satu Adam.

Lalu bagaimana ini mencerminkan Allah? Dalam menciptakan manusia yang bersifat jamak, jelas Shamoun, Allah sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa Sang Pencipta pun bersifat jamak. Sebagaimana Adam adalah lebih dari satu pribadi—dua jenis kelamin berbeda, dua sosok fisik berbeda, dua tubuh fisik berbeda, namun memiliki satu hakikat yang sama sehingga mereka adalah satu Adam—demikian pula Allah yang menciptakannya adalah lebih dari satu pribadi: pribadi-pribadi yang berbeda namun memiliki hakikat yang sama. Dan karena hakikat mereka sama, mereka adalah satu Allah, meski bukan satu pribadi.

Untuk memperkuat argumennya, Shamoun beralih ke kisah dalam Kejadian 2:19–24. Ia menceritakan bagaimana TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang di padang dan burung di udara, lalu membawanya kepada manusia untuk melihat nama apa yang akan diberikannya. Pada saat itu, belum ada Hawa. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, burung-burung di udara, dan segala binatang di padang, tetapi ia sendiri tidak menemukan penolong yang sepadan dengan dirinya. Karena itu, TUHAN Allah membuatnya tidur nyenyak, lalu diambil-Nya salah satu rusuknya—dalam bahasa Ibrani kata ini juga bisa berarti “sisi” atau “lambung”—dan ditutup-Nya tempat itu dengan daging. Dari rusuk atau sisi yang diambil-Nya dari manusia itu, TUHAN Allah membangun seorang perempuan.

Dari manakah asal perempuan itu? Bukan dari debu tanah, tegas Shamoun, melainkan dari rusuk Adam sendiri. Dalam artian tertentu, perempuan itu memang selalu menjadi bagian dari “satu kesatuan” itu—itulah sebabnya sejak awal Adam disebut sebagai “mereka.” Ketika perempuan itu dibawa kepada manusia, ia berkata, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai adalah isha, yang berasal dari kata ish (laki-laki atau suami); isha berarti perempuan atau istri—penamaan yang menegaskan asal-usulnya dari laki-laki itu sendiri. Karena itulah, kata Shamoun, “sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Segmen 4: Bagaimana Menjadi Satu Mencerminkan Allah

Shamoun menyoroti satu hal penting: kata “satu” yang digunakan dalam frasa “satu daging” itu adalah kata Ibrani yang sama dengan yang dipakai dalam Shema—pengakuan iman utama Yudaisme, “Shema Yisrael, Adonai Eloheinu, Adonai Echad” (“Dengarlah, hai Israel: TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa/satu”). Di titik inilah, menurut Shamoun, hubungan antar-ayat menjadi jelas terlihat: ketika Allah berfirman, “Marilah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita,” koneksinya kini tampak nyata.

Satu manusia, satu daging itu, sesungguhnya lebih dari satu pribadi: dua tubuh fisik berbeda, dua jenis kelamin berbeda, dua pribadi fisik yang berbeda. Namun karena keduanya memiliki hakikat yang sama, mereka tetap disebut satu Adam. Maka Allah yang menciptakan Adam secara jamak itu pun, pada hakikat-Nya sendiri, adalah jamak. Itulah sebabnya Ia berfirman, “Marilah Kita”—karena satu Allah ini lebih dari satu pribadi. Bukan pribadi yang sama, tetapi karena memiliki hakikat yang sama, mereka adalah Allah yang sama.

Itulah inti persoalannya, tegas Shamoun—bukan soal tubuh dan jiwa manusia, melainkan soal Adam yang adalah laki-laki dan perempuan. Bersama-sama, keduanya adalah satu daging, satu Adam. Perhatikan, katanya, mereka bukan dua daging, melainkan satu. Namun ini tidak berarti kedua tubuh yang berbeda dan nyata itu tidak ada: Hawa memiliki dagingnya sendiri dengan ciri-ciri dan anggota tubuh yang khas baginya; laki-laki memiliki daging dan anggota tubuhnya sendiri, yang membedakannya sebagai laki-laki, bukan perempuan. Namun karena yang satu berasal dari yang lain, dan bersama-sama mereka saling melengkapi, meskipun mereka berdua, mereka dianggap satu.

“Itulah ajaran tentang Tritunggal,” tegas Shamoun. Allah Bapa, Firman-Nya yang diperanakkan dari-Nya, dan Roh-Nya yang kekal—mereka bukanlah diri yang sama satu dengan yang lain. Itulah sebabnya mereka dapat berbicara satu sama lain, berelasi satu sama lain, memiliki persekutuan satu sama lain, dan saling mengasihi satu sama lain—karena asal mereka satu, hakikat mereka satu. Ini adalah satu Allah, bukan tiga allah.

Penelepon menanggapi dengan penuh rasa terima kasih, mengakui bahwa penjelasan itu membuat segalanya jauh lebih masuk akal baginya. Shamoun kemudian menutup argumennya dengan satu poin terakhir yang mengejutkan: ia mengajak memperhatikan bagaimana Allah sendiri, dalam Kejadian 2, berkata bahwa “tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Ini, tegas Shamoun, adalah satu-satunya momen dalam seluruh kisah penciptaan di mana Allah menyatakan sesuatu “tidak baik”—berbeda dengan pola yang berulang sebelumnya, di mana setiap ciptaan dinyatakan “baik, baik, baik.”

Jika Allah sendiri menyatakan bahwa kesendirian—menjadi pribadi tunggal yang sendirian—adalah sesuatu yang tidak baik, maka mustahil Allah sendiri adalah pribadi yang tunggal dan sendirian. Sebab Ia adalah dasar dari segala keberadaan dan dasar dari segala kebaikan, yang sepenuhnya baik adanya—dan karena itu, Ia tidak mungkin merupakan pribadi yang soliter.


Komentar

Postingan Populer