Kisah Perbincangan Sam Shamoun dengan Seorang Saksi Yehuwa
Ketika Kitab Suci Sendiri Membantah Terjemahannya: Kisah Perbincangan Sam Shamoun dengan Seorang Saksi Yehuwa.
Disusun dari transkrip video "Jehovah's Witness Left Speechless After Sam Shamoun Exposes Key Doctrinal Errors" — sumber: YouTube (youtube.com/watch?v=4tMPghNcsqQ)
Pengantar
Video yang menjadi dasar narasi ini menampilkan seorang apologet Kristen bernama Sam Shamoun dalam sebuah percakapan dengan sepasang suami-istri. Sang istri adalah anggota aktif organisasi Saksi Yehuwa, sementara suaminya — yang memandu jalannya diskusi — sedang mempertanyakan sejumlah ajaran yang selama ini ia terima, dengan alasan ingin memastikan keluarganya "menyembah Yesus yang benar." Ia sendiri menyebut niatnya bukan untuk menyerang keyakinan istrinya, melainkan untuk menguji ajaran tersebut secara terbuka.
Sepanjang perbincangan, Shamoun mengangkat tiga isu besar: pertama, praktik Perjamuan Tuhan (Ekaristi) di kalangan Saksi Yehuwa; kedua, sejumlah bagian dalam New World Translation (Terjemahan Dunia Baru/NWT) — Alkitab resmi Saksi Yehuwa — yang menurutnya telah diubah dari makna aslinya; dan ketiga, kesaksian para penulis Kristen abad pertama dan kedua tentang jati diri Yesus. Ciri khas metode Shamoun dalam video ini adalah bahwa ia hampir seluruhnya memakai sumber-sumber terbitan Saksi Yehuwa sendiri — termasuk edisi Alkitab interlinear Yunani-Inggris yang mereka terbitkan secara daring — untuk menunjukkan adanya jarak antara teks Yunani asli dan terjemahan bahasa Inggris (dan Indonesia) yang dibaca jemaat sehari-hari.
Berikut adalah alur argumen tersebut disusun ulang secara tematis.
1. Perjamuan Tuhan dan Doktrin "Kelas Terurap" 144.000 Orang
Diskusi dibuka dengan topik Ekaristi. Shamoun menunjukkan bahwa gereja-gereja purba merayakan Perjamuan Tuhan setiap minggu, sementara dalam praktik Saksi Yehuwa, jemaat pada umumnya hanya menyaksikan roti dan anggur diedarkan tanpa ikut menerimanya — hak untuk benar-benar makan dan minum unsur-unsur itu dipercaya hanya berlaku bagi "kelas terurap," yaitu kelompok yang jumlahnya dibatasi pada 144.000 orang.
Shamoun menantang sang istri untuk menunjukkan satu ayat pun dalam Alkitab yang secara eksplisit membatasi partisipasi dalam perjamuan itu hanya kepada 144.000 orang tersebut. Argumennya: angka itu hanya muncul di Wahyu 7, dan bahkan di sana pun ayat tersebut berbicara tentang dua belas ribu orang dari setiap dua belas suku Israel — suatu penyebutan yang sangat spesifik dan etnis, bukan istilah umum tentang "orang-orang terurap secara rohani."
Di titik inilah ia menyoroti apa yang disebutnya sebagai inkonsistensi penafsiran: jika kedua belas suku dalam Wahyu 7 ditafsirkan secara rohani/simbolis (bukan suku Israel yang sesungguhnya), maka atas dasar apa angka 144.000 itu sendiri harus dibaca secara harfiah? Menurutnya, penafsir Saksi Yehuwa memilih membaca satu bagian ayat secara harfiah (angkanya) dan bagian lain secara simbolis (sukunya) — sebuah pilihan yang, ia katakan, tidak muncul dari teks itu sendiri, melainkan dari doktrin yang sudah ditetapkan lebih dulu oleh organisasi.
Ia lalu membawa perhatian ke ayat-ayat berikutnya di Wahyu 7, yang berbicara tentang "kumpulan besar orang banyak yang tidak seorang pun sanggup menghitungnya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa," yang oleh ajaran Saksi Yehuwa diidentifikasi sebagai kelompok "orang-orang lain" yang akan hidup di bumi, bukan di surga. Namun Shamoun menunjukkan Wahyu 7:15, yang menyatakan kumpulan besar itu "berdiri di hadapan takhta Allah" — sementara menurut ajaran Saksi Yehuwa sendiri, takhta Allah berada di surga. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin kelompok yang disebut akan tinggal di bumi itu justru digambarkan berdiri di hadapan takhta surgawi.
Poin yang ingin ditekankan Shamoun bukan sekadar detail tafsir, melainkan metode: menurutnya, seseorang yang membaca Alkitab tanpa asumsi dari luar — tanpa dituntun oleh literatur resmi organisasi tertentu — tidak akan sampai pada kesimpulan-kesimpulan doktrinal semacam itu. Ia menyebut proses pembelajaran Alkitab yang dipandu oleh buku dan brosur organisasi, di mana jemaat diarahkan membuka ayat tertentu dan menjawab pertanyaan yang sudah disusun, sebagai bentuk "pemrograman" yang membuat orang sulit melihat celah dalam penafsiran yang mereka terima.
2. Galatia 3:20 — Kata "Pribadi" yang Ditambahkan
Sebelum masuk ke topik ini, sang suami menyampaikan sejumlah keberatan yang sudah ia siapkan bersama istrinya. Salah satunya menyangkut Galatia 3:20, sebuah ayat yang sering dipakai dalam diskusi tentang keesaan Allah.
Dalam edisi NWT, ayat ini diterjemahkan dengan menyisipkan kata "pribadi" — sehingga berbunyi kurang lebih "Allah adalah satu pribadi." Shamoun kemudian membuka edisi interlinear Yunani-Inggris resmi milik Saksi Yehuwa sendiri (tersedia di situs web mereka) dan menunjukkan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan "satu" (heis, dieja "eis") di ayat itu berdiri sendiri — tidak ada padanan kata Yunani untuk "pribadi" maupun "pihak" di sana. Ia mengulang penelusuran ini di beberapa terjemahan lain yang secara resmi direkomendasikan atau digunakan oleh organisasi Saksi Yehuwa dalam materi mereka — termasuk Bishop's Bible dan American Standard Version — dan menunjukkan bahwa tidak satu pun dari terjemahan itu memuat kata "pribadi."
Untuk memperlihatkan inkonsistensi, Shamoun membandingkannya dengan Galatia 3:28, yang memakai kata Yunani yang sama persis (heis, "satu") ketika menyatakan bahwa dalam Kristus tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan, sebab "kamu semua adalah satu." Di ayat ini, jelas "satu" tidak berarti satu pribadi tunggal secara harfiah, melainkan kesatuan komunitas — banyak orang yang menjadi satu kesatuan. Dengan logika yang sama, Shamoun berargumen, kata "satu" pada Galatia 3:20 semestinya juga bisa dibaca sebagai kesatuan hakikat (keesaan Allah), bukan otomatis berarti "satu pribadi" — kecuali jika kata itu memang diterjemahkan secara konsisten sebagai "pribadi" pula di ayat 28, yang justru tidak dilakukan penerjemah NWT.
Ia juga menunjuk penambahan serupa di Galatia 3:28 versi NWT, yang menyisipkan frasa "dalam kesatuan dengan" — sebuah frasa yang, menurutnya, juga tidak ada dalam teks Yunaninya. Kesimpulan yang ia tarik: kata-kata tambahan semacam ini bukan sekadar demi kejelasan, melainkan diarahkan untuk mendukung kesimpulan teologis tertentu — dalam hal ini, menolak gagasan bahwa Allah dapat dipahami sebagai lebih dari satu pribadi dalam satu hakikat.
3. 1 Petrus 1:11 — Menghilangkan "Roh Kristus"
Argumen berikutnya, yang oleh Shamoun disebut sebagai salah satu temuan paling serius, menyangkut 1 Petrus 1:11. Ayat ini berbicara tentang para nabi Perjanjian Lama yang menyelidiki keselamatan yang akan datang, dan menjelaskan bahwa "Roh Kristus"-lah yang ada di dalam diri mereka dan menubuatkan penderitaan serta kemuliaan Mesias.
Shamoun kembali membuka interlinear Yunani resmi milik Saksi Yehuwa dan menunjukkan bahwa teks Yunaninya secara jelas memuat frasa yang berarti "Roh Kristus" (pneuma Christou). Ia lalu membandingkannya dengan sejumlah terjemahan Inggris lain — termasuk Bible in Living English dan King James Version — yang semuanya secara konsisten menerjemahkan frasa itu sebagai "Roh Kristus."
Namun ketika ia membuka teks bahasa Inggris resmi NWT untuk ayat yang sama, frasa tersebut diterjemahkan menjadi "roh yang ada dalam diri mereka" — kata "Kristus" dihilangkan sepenuhnya, padahal interlinear Yunani milik organisasi yang sama dengan jelas mencantumkannya. Bagi Shamoun, ini adalah bukti paling telanjang dari apa yang ia sebut manipulasi terjemahan: bukan soal ketidaktahuan bahasa Yunani, sebab publikasi Saksi Yehuwa sendiri mengakui makna aslinya, melainkan pilihan sadar untuk mengubah kata dalam edisi yang dibaca jemaat.
Motifnya, menurut Shamoun, berkaitan dengan implikasi teologis ayat ini: jika diakui bahwa Roh yang berbicara melalui para nabi Perjanjian Lama — yang secara tradisional disebut Roh Yehuwa — adalah juga "Roh Kristus," maka hal itu menyiratkan kesetaraan status ilahi antara Kristus dan Yehuwa, sebuah kesimpulan yang bertentangan dengan ajaran resmi bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan (yang dalam teologi Saksi Yehuwa diidentifikasi dengan Malaikat Agung Mikhael), bukan Allah itu sendiri.
4. Kolose 1:16–17 — Kata "Lain" yang Muncul dan Menghilang
Topik keempat menyangkut salah satu ayat paling sering diperdebatkan antara umat Kristen Trinitarian dan Saksi Yehuwa: Kolose 1:16–17, yang menyatakan bahwa "segala sesuatu" diciptakan melalui dan untuk Kristus, dan bahwa Ia "ada sebelum segala sesuatu."
NWT menerjemahkan frasa "segala sesuatu" di ayat-ayat ini menjadi "segala sesuatu yang lain" — penambahan kata "lain" sebanyak empat kali dalam satu perikop yang sama. Penambahan ini secara langsung mengubah makna: dari "Kristus adalah pencipta segala sesuatu" menjadi "Kristus adalah salah satu ciptaan, yang melaluinya Allah menciptakan hal-hal lain" — sebuah bacaan yang mendukung posisi bahwa Kristus sendiri adalah makhluk ciptaan.
Sang suami sempat mengajukan pembelaan: bahwa kata seperti "segala sesuatu" atau "semua yang hidup" di bagian lain Alkitab (misalnya penyebutan Hawa sebagai "ibu semua yang hidup") juga lazim dipahami dengan pengecualian tertentu tanpa perlu kata "lain" ditambahkan secara eksplisit — jadi menurutnya, penambahan itu tidak serta-merta menyesatkan. Shamoun menanggapi bahwa perbandingan ini kurang tepat, sebab dalam kasus Hawa, konteks ayat itu sendiri (mengenai keturunannya) yang membatasi makna "semua yang hidup" — bukan kata tambahan yang disisipkan ke dalam teks. Sementara dalam Kolose 1, konteksnya justru eksplisit merinci cakupan "segala sesuatu": "baik yang di surga maupun yang di bumi, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, baik takhta, kerajaan, pemerintah, maupun penguasa" — sebuah daftar yang justru menegaskan totalitas ciptaan tanpa pengecualian, bukan mengisyaratkan adanya pengecualian bagi Kristus sendiri.
Yang menurut Shamoun paling mengungkap adalah perbandingan antar-edisi NWT: dalam edisi tahun 1984, kata "lain" itu masih dicetak dalam tanda kurung siku — konvensi standar penerbitan yang menandakan bahwa kata tersebut ditambahkan oleh penerjemah dan tidak ada dalam naskah asli. Namun dalam edisi revisi yang lebih baru, tanda kurung itu dihilangkan sepenuhnya, sehingga kata "lain" tampak seolah-olah memang bagian asli teks Yunani — padahal, ketika Shamoun kembali membuka interlinear Yunani resmi Saksi Yehuwa untuk ayat yang sama, kata Yunani untuk "lain" (allos) sama sekali tidak ditemukan di sana.
5. Kesaksian Bapa Gereja Mula-Mula: Ignatius dari Antiokhia
Bagian terakhir dari perbincangan beralih dari soal terjemahan ke soal sejarah gereja. Shamoun berargumen bahwa organisasi seperti Saksi Yehuwa maupun kelompok-kelompok lain yang menolak keilahian Kristus umumnya juga cenderung menghindari kajian mendalam atas sejarah gereja abad-abad awal — karena, menurutnya, catatan sejarah itu justru bertentangan dengan klaim bahwa ajaran tentang keilahian Kristus baru muncul belakangan (misalnya pada masa Konsili Nicea).
Sebagai contoh, ia mengangkat sosok Ignatius dari Antiokhia, seorang uskup di Antiokhia, Siria — kota yang menurut Kisah Para Rasul 11:26 adalah tempat pertama kali para pengikut Yesus disebut "orang Kristen." Menurut catatan sejarah gereja yang diakui luas (termasuk oleh para sejarawan sekuler), Ignatius adalah murid langsung para rasul, termasuk Petrus, Paulus, dan Yohanes. Ia menuliskan tujuh surat dalam perjalanannya menuju Roma pada sekitar tahun 107 M, di mana ia dihukum mati dengan dilemparkan kepada binatang buas di Colosseum. Dalam salah satu suratnya kepada jemaat di Roma, ia bahkan meminta agar tidak ada yang berupaya menyelamatkannya dari hukuman itu, karena ia ingin mati sebagai martir bagi Kristus.
Shamoun kemudian membacakan sejumlah kutipan dari surat-surat Ignatius tersebut — yang tersedia secara daring dan dapat diverifikasi siapa pun. Dalam surat kepada jemaat di Efesus, Ignatius menyebut Yesus Kristus sebagai "Allah kita" (theos hēmōn). Dalam surat yang sama, ia menulis frasa yang secara harfiah berbunyi umat Kristen adalah "orang-orang yang darahnya dipercikkan oleh darah Allah" — sebuah ungkapan yang mengandaikan Kristus adalah Allah yang berdarah dan berdaging. Dalam bagian lain suratnya, ia menyebut Kristus sebagai "satu-satunya tabib, baik jasmani maupun rohani, yang diperanakkan sekaligus tidak diperanakkan, Allah yang hadir dalam daging, kehidupan sejati dalam kematian, baik dari Maria maupun dari Allah."
Dalam surat kepada jemaat di Magnesia, Ignatius menulis tentang Yesus Kristus sebagai "Firman-Nya yang kekal, yang tidak keluar dari kesunyian" dan yang "bersama Bapa sebelum permulaan zaman" — sebuah pernyataan yang mengandaikan pra-eksistensi Kristus yang tanpa awal. Dan dalam surat kepada Polikarpus (murid rasul Yohanes lainnya yang juga dikenal luas dalam sejarah gereja), Ignatius menulis, "carilah Dia yang di atas segala waktu, yang kekal dan tak kelihatan, namun menjadi kelihatan demi kita; yang tak dapat disentuh dan tak dapat menderita, namun menjadi dapat menderita demi kita, dan dengan segala cara menanggung derita bagi kita."
Bagi Shamoun, kesaksian-kesaksian ini penting karena datang bukan dari konsili abad keempat, melainkan dari seseorang yang secara langsung diajar oleh para rasul dan menuliskannya kurang dari satu dekade setelah wafatnya Rasul Yohanes — jauh sebelum, menurutnya, ada alasan untuk menuduh ajaran itu sebagai "penyimpangan" yang dipengaruhi filsafat Yunani belakangan, sebagaimana kadang dituduhkan terhadap doktrin Trinitas. Ia menyimpulkan bahwa baik Ignatius maupun Polikarpus — dua tokoh yang sama-sama mati sebagai martir dan dikenal luas dalam historiografi gereja — jelas bukan penganut paham bahwa Kristus adalah makhluk ciptaan atau sekadar malaikat, melainkan mengakuinya sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia.
Penutup: Inti Perdebatan
Sepanjang percakapan, sang suami tampak berusaha menyampaikan sejumlah keberatan atas nama istrinya sembari membiarkan dirinya sendiri menimbang argumen yang diajukan, sementara sang istri, menurut penggambaran dalam video, tampak diam mendengarkan dengan ekspresi yang digambarkan sebagai "terkejut" oleh apa yang baru saja ia lihat langsung dari sumber-sumber resmi organisasinya sendiri.
Inti argumen yang dibangun Shamoun sepanjang diskusi ini konsisten: bukan mengandalkan sumber luar atau tafsiran pribadi, melainkan mengonfrontasikan terjemahan populer NWT dengan edisi interlinear Yunani yang diterbitkan oleh Saksi Yehuwa sendiri, serta dengan berbagai terjemahan Alkitab berbahasa Inggris lain yang mapan. Dari situ ia menyimpulkan adanya sejumlah pola: kata-kata tertentu ditambahkan (seperti "pribadi" di Galatia 3:20, atau "lain" di Kolose 1) atau dihilangkan (seperti "Kristus" di 1 Petrus 1:11) secara selektif, dengan hasil akhir yang secara konsisten mengarah pada satu kesimpulan teologis: menegaskan bahwa Kristus bukan Allah, melainkan makhluk ciptaan.
Video ini sendiri, sebagaimana lazimnya konten apologetika semacam ini, disajikan dari sudut pandang yang jelas berpihak — yakni sudut pandang Kristen Trinitarian yang secara aktif berupaya membantah teologi Saksi Yehuwa. Sebagaimana perdebatan doktrinal lintas tradisi pada umumnya, pihak Saksi Yehuwa sendiri memiliki penjelasan dan pembelaan atas pilihan-pilihan penerjemahan tersebut — misalnya argumen bahwa penambahan kata seperti "lain" dimaksudkan untuk memperjelas makna kontekstual, bukan mengubahnya — sehingga pembaca yang ingin memahami perdebatan ini secara utuh disarankan menelaah pula sumber-sumber resmi dari pihak Saksi Yehuwa sendiri sebagai pembanding.
Komentar