Sam Shamoun Berdebat dengan Seorang Apologet Yahudi Ortodoks tentang Tritunggal
Ketika Argumen dari Kitab Suci Ibrani Saling Berhadapan: Sam Shamoun Berdebat dengan Seorang Apologet Yahudi Ortodoks tentang Tritunggal
Disusun dari transkrip video "Sam Shamoun Debates Honest ORTHODOX JEW on the Trinity [FULL DISCUSSION]" — sumber: YouTube (youtube.com/watch?v=LDBUf0_Vu5E).
Catatan: Apa yang sebenarnya diungkapkan Perjanjian Lama tentang hakikat Allah — dan apakah hal itu menunjuk pada adanya pluralitas di dalam satu Allah? Dalam dialog yang intens dan berjalan cepat ini, Sam Shamoun terlibat dengan seorang apologet Yahudi dalam sebuah diskusi mendalam tentang Tritunggal, dengan hanya menggunakan Kitab Suci Ibrani (Tanakh). Percakapan ini menelusuri bagian-bagian kunci seperti Kejadian 1, Ayub 33:4, Keluaran 23:21, Zakharia 3, dan Kejadian 16, mengangkat pertanyaan-pertanyaan menantang tentang Roh Allah, Malaikat TUHAN, dan penggunaan bahasa jamak untuk Allah. Sam Shamoun berargumen bahwa Perjanjian Lama itu sendiri mengungkapkan adanya distingsi di dalam Allah — menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada Roh-Nya, bahwa Roh secara aktif turut mencipta, dan bahwa Malaikat TUHAN memiliki otoritas ilahi, termasuk kuasa untuk mengampuni dosa. Ia juga mengkaji bagaimana tokoh-tokoh seperti Hagar, Manoah, dan Musa bereaksi ketika berjumpa dengan Malaikat TUHAN, yang seringkali mereka kenali sebagai Allah sendiri. Diskusi ini juga menanggapi keberatan-keberatan umum, seperti bahasa jamak yang merujuk pada individu, dan menunjukkan bagaimana konteks dalam Kitab Suci mendukung pemahaman yang lebih dalam dan lebih kompleks tentang keesaan Allah — pemahaman yang selaras dengan doktrin Tritunggal. Perdebatan ini menantang para penonton untuk mempertimbangkan ulang asumsi-asumsi yang selama ini dipegang, dan menelaah apakah Tanakh sendiri meletakkan dasar bagi pemahaman tentang Allah sebagai lebih dari satu pribadi, namun tetap satu wujud ilahi.
Pengantar
Video ini merekam sebuah diskusi langsung (live) antara Sam Shamoun, seorang apologet Kristen, dengan seorang lawan bicara yang memperkenalkan dirinya melalui akun bernama "Jewish Apologetics" — seorang apologet Yahudi Ortodoks yang menyatakan tugasnya adalah membela Yudaisme sekaligus menyanggah Kekristenan dan Islam. Berbeda dari dua video sebelumnya yang melibatkan Saksi Yehuwa, perdebatan ini murni berputar di seputar Tanakh (Perjanjian Lama/Kitab Suci Ibrani) — Shamoun secara eksplisit berkomitmen untuk tidak menggunakan Perjanjian Baru sama sekali dalam membangun argumennya, kecuali pada satu titik menjelang akhir ketika lawan bicaranya sendiri yang mengangkat isu dari Injil Yohanes.
Suasana diskusi ini jauh lebih keras dan blak-blakan dibanding dua video sebelumnya: kedua pihak saling menyela, sesekali melontarkan sindiran tajam, dan pada satu bagian bahkan saling menyinggung soal bagaimana tradisi masing-masing memandang tokoh agama pihak lain — sebuah subtopik yang akan dibahas tersendiri di bagian akhir narasi ini. Meskipun demikian, di penghujung acara keduanya berpisah secara sopan, saling bertukar kontak untuk melanjutkan diskusi di lain waktu.
Berikut alur argumen utama disusun ulang secara tematis, mengikuti pembagian segmen yang sudah ditandai dalam video.
1. Ayub 18 dan Ayub 33:4 — Ketika Bahasa Jamak Coba Dijadikan Bantahan
Diskusi dibuka dengan apologet Yahudi itu mengajukan tantangan langsung terhadap klaim yang pernah disampaikan Shamoun di video-video sebelumnya: bahwa dalam Perjanjian Lama tidak pernah ditemukan kata kerja berbentuk jamak yang merujuk pada satu pribadi tunggal. Sebagai bantahan, ia mengangkat Ayub 18:2-3, di mana Bildad — salah satu sahabat Ayub — menjawab Ayub seorang diri, namun memakai kata kerja berbentuk jamak ("berapa lama kamu sekalian..."). Menurutnya, ini membuktikan bahwa bahasa jamak bisa saja merujuk pada satu orang tanpa implikasi apa pun tentang jamaknya pribadi Allah.
Shamoun tidak membantah fakta gramatikalnya, tetapi langsung membawa lawan bicaranya ke Ayub 33:4, di mana Elihu — tokoh lain dalam kitab itu — berkata, "Roh Allah telah membuat aku." Dari sana ia membangun argumen bahwa Roh Allah yang menciptakan manusia menunjukkan adanya keterlibatan lebih dari satu "pihak" dalam tindakan penciptaan — Allah dan Roh-Nya. Pertanyaan intinya: apakah Roh itu identik dengan Allah, atau berbeda dari-Nya?
2. Apakah Roh Allah Berbeda dari Allah Sendiri?
Bagian ini menjadi salah satu titik paling tajam dalam keseluruhan diskusi. Ketika ditanya apakah Roh identik dengan Allah, sang apologet Yahudi menjawab "ya" — namun Shamoun segera menunjukkan konsekuensinya: jika Roh benar-benar identik sepenuhnya dengan Allah, maka ayat-ayat yang menyatakan Allah "mencurahkan Roh-Nya" (misalnya Yoel 2:28-29) akan berarti Allah mencurahkan diri-Nya sendiri kepada diri-Nya sendiri — sebuah pernyataan yang aneh secara logis.
Setelah didesak dengan pertanyaan berulang — apakah Roh "identik" atau "bagian dari" Allah, dan apakah "bagian dari" berarti ada perbedaan (distingsi) di dalam diri Allah — lawan bicara Shamoun akhirnya mengakui bahwa ada semacam distingsi: Roh adalah "bagian" Allah yang dapat "dicurahkan" atau "diambil" dan diberikan kepada orang lain (seperti dalam kisah Musa membagikan sebagian Roh yang ada padanya kepada 70 tua-tua Israel, Bilangan 11). Bagi Shamoun, pengakuan ini sudah cukup untuk menetapkan poin pentingnya: Tanakh sendiri, tanpa perlu Perjanjian Baru, sudah menunjukkan adanya semacam pembedaan di dalam diri Allah — antara Allah dan Roh-Nya — sekalipun keduanya tetap disebut sebagai satu Allah yang sama.
3. Mengapa Bahasa Jamak Tidak Serta-Merta Menyangkal Tritunggal
Menyadari argumennya tentang Ayub 18 mulai goyah, sang apologet Yahudi mengajukan penjelasan tambahan: bahasa jamak, menurutnya, sering dipakai dalam Tanakh bukan untuk menunjukkan jamaknya pribadi, melainkan karena satu individu dapat mewakili keturunannya. Ia mencontohkan Kejadian 28:14, di mana Yakub dinubuatkan akan "menyebar ke barat dan ke timur" — sesuatu yang secara harfiah dilakukan bukan oleh Yakub sendiri, melainkan oleh keturunannya (bangsa Israel).
Shamoun langsung menerima logika ini dan membalikkannya: jika bentuk tunggal bisa dipakai untuk merujuk pada kelompok besar keturunan seseorang, maka pola yang sama semestinya berlaku pula untuk memahami mengapa Ayub, seorang diri, kadang disapa dengan bahasa jamak — sebab kata-kata yang ditujukan kepadanya sesungguhnya juga ditujukan kepada keturunannya. Ia memperkuat argumen ini dengan Kejadian 4:10, di mana Allah berkata kepada Kain bahwa "darah-darah" (bentuk jamak dalam bahasa Ibrani) adiknya berseru dari tanah — sebuah bentuk jamak yang, menurut penjelasan tradisional dalam Talmud yang dikutip Shamoun, merujuk pada seluruh keturunan yang seharusnya lahir dari Habel namun tidak pernah ada karena pembunuhan itu. Setelah argumen ini dipaparkan, lawan bicaranya mengakui (mengalah) pada poin spesifik ini, sembari menyatakan ingin melanjutkan ke argumen berikutnya.
4. Kejadian 1:26 — "Marilah Kita Menciptakan Manusia" dan Yesaya 44:24
Dengan dasar yang sudah dibangun — bahwa Roh berbeda dari Allah namun tetap disebut Allah, dan bahwa Roh ikut serta dalam penciptaan manusia (Ayub 33:4) — Shamoun beralih ke Kejadian 1:26, ayat terkenal di mana Allah berfirman, "Marilah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita."
Ia menautkan ayat ini dengan Kejadian 1:2, yang menyebutkan Roh Allah "melayang-layang" di atas permukaan air pada saat penciptaan — memakai kata kerja Ibrani yang sama dengan yang dipakai dalam Ulangan 32:10-11 untuk menggambarkan seekor burung rajawali yang "melayang-layang" penuh kesadaran di atas sarangnya. Dari kesamaan kata kerja ini, Shamoun berargumen bahwa Roh yang "melayang-layang" pada penciptaan bukanlah kekuatan pasif tanpa kesadaran, melainkan entitas yang sadar dan aktif — sehingga masuk akal jika Allah, dalam Kejadian 1:26, sesungguhnya sedang berbicara kepada Roh-Nya sendiri ketika berkata "marilah Kita."
Sang apologet Yahudi mencoba menangkis dengan mengutip Yesaya 44:24, yang menyatakan Allah "menciptakan segala sesuatu seorang diri" tanpa ada pihak lain yang terlibat — sebuah ayat yang sering dipakai kalangan Yahudi dan kelompok unitarian untuk menyangkal keterlibatan pihak lain dalam penciptaan. Shamoun menanggapi bahwa "seorang diri" dalam konteks itu berarti tidak ada kuasa asing atau ilahi lain dari luar yang membantu-Nya (bukan malaikat ciptaan, bukan dewa lain) — namun hal itu tidak menafikan bahwa Roh yang disebut dalam Kejadian 1:2 dan Ayub 33:4 tetaplah Roh Allah sendiri, bukan pihak luar, sehingga penciptaan yang dilakukan "bersama Roh" tetap sepenuhnya merupakan tindakan Allah "seorang diri" dalam pengertian tidak melibatkan sesuatu di luar diri-Nya.
5. Apakah Allah Berbicara kepada Roh-Nya?
Menyatukan seluruh argumen di atas, Shamoun menyimpulkan bagian ini dengan menegaskan bahwa dari Tanakh saja — tanpa menyentuh Perjanjian Baru — sudah dapat dibangun sebuah kasus bahwa Allah, dalam Kejadian 1:26, sedang berbicara kepada Roh-Nya sendiri yang hadir dan sadar sejak ayat 2, dan bahwa Roh itulah yang turut menciptakan manusia sebagaimana dinyatakan Ayub 33:4. Lawan bicaranya, meski tidak sepenuhnya menyerah, mengakui bahwa ini adalah salah satu opsi penafsiran yang masuk akal, sembari menawarkan opsi lain (misalnya menghubungkannya dengan konsep "Hokmah"/Hikmat dalam Amsal 8) — sebuah tawaran yang justru ditangkap balik oleh Shamoun sebagai pengakuan tidak langsung terhadap gagasan pra-eksistensi tokoh ilahi kedua, sebab tradisi Kristen mula-mula memang mengidentikkan Hikmat dalam Amsal 8 dengan pribadi Kristus yang pra-inkarnasi.
6. Keluaran 23:21 — Malaikat TUHAN, Nama Allah, dan Kuasa Mengampuni Dosa
Bagian berikutnya beralih ke topik yang akan mendominasi sisa diskusi: Malaikat TUHAN (Angel of the Lord/Malakh Hashem). Shamoun membuka dengan Keluaran 23:21, di mana Allah berfirman tentang malaikat yang akan diutus mendahului umat Israel: "Janganlah engkau memberontak terhadap dia, sebab pemberontakanmu tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia."
Ia menyoroti kaitan logis dalam ayat ini: alasan mengapa malaikat itu memiliki kuasa untuk tidak mengampuni (atau mengampuni) dosa pemberontakan terhadap dirinya secara eksplisit dikaitkan dengan fakta bahwa "nama Allah ada di dalam dia" — bukan sekadar bertindak atas nama Allah, melainkan menyandang nama Allah itu sendiri di dalam dirinya. Shamoun menantang lawan bicaranya untuk menunjukkan satu ayat pun di mana Allah menyatakan hal yang sama tentang nabi mana pun — bahwa "nama-Ku ada di dalam Musa" atau "di dalam Yesaya," misalnya.
Untuk memperkuat maknanya, Shamoun membandingkan frasa "mengampuni pelanggaran" dalam ayat ini dengan frasa yang sama persis dalam Yosua 24:19, di mana Yosua memperingatkan bangsa Israel bahwa Allah adalah Allah yang kudus dan "tidak akan mengampuni pelanggaran dan dosamu." Karena frasa Ibraninya identik, Shamoun menyimpulkan bahwa kuasa mengampuni atau tidak mengampuni yang dimiliki Allah dalam Yosua 24 adalah kuasa yang sama yang dikatakan dimiliki oleh malaikat itu dalam Keluaran 23. Lawan bicaranya berusaha menjawab bahwa Allah mungkin saja "memberikan" kuasa itu kepada malaikat sebagai wakil-Nya, namun Shamoun menunjukkan bahwa teks itu sendiri tidak pernah menyatakan kuasa itu "diberikan" — ia hanya menyatakan nama Allah "ada di dalam" malaikat tersebut sebagai penjelasan langsung atas kuasanya.
7. Zakharia 3 — Siapa yang Menegur Iblis?
Bagian ini menjadi salah satu argumen paling rumit secara tekstual dalam keseluruhan diskusi. Shamoun membawa lawan bicaranya ke Zakharia 3:1-2, sebuah penglihatan di mana Imam Besar Yosua digambarkan berdiri di hadapan Malaikat TUHAN, dengan Iblis (Hasatan) berdiri di sisi kanannya untuk mendakwanya. Ayat 2 kemudian berbunyi: "TUHAN berfirman kepada Iblis: TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis!"
Shamoun menyoroti struktur tata bahasa yang khas: karena ayat 1 hanya memperkenalkan tiga tokoh dalam adegan itu — Yosua, Malaikat TUHAN, dan Iblis — maka sosok "TUHAN" yang berbicara dan menegur Iblis pada ayat 2 tidak lain adalah Malaikat TUHAN itu sendiri yang disebutkan pada ayat 1. Ia juga menyoroti detail bahwa teguran itu diucapkan dalam bentuk orang ketiga ("TUHAN menghardik engkau"), bukan orang pertama ("Aku menghardik engkau") — sebuah pola bicara yang, menurutnya, juga ditemukan di Kejadian 16, ketika Malaikat TUHAN berbicara namun kemudian disebut sebagai TUHAN sendiri yang berbicara.
Lawan bicara Shamoun sempat mengajukan penjelasan alternatif — bahwa mungkin ada malaikat pendamping lain di bumi yang menampakkan penglihatan itu kepada Zakharia, terpisah dari "Malaikat TUHAN" yang sesungguhnya — sebuah usaha untuk memisahkan sosok yang dilihat manusia dari sosok ilahi itu sendiri. Diskusi kemudian melebar cukup panjang ke Zakharia pasal 1 dan 2 untuk menelusuri apakah memang ada lebih dari satu malaikat yang muncul di sana, sebelum akhirnya keduanya sepakat kembali fokus pada pertanyaan inti: di mana sesungguhnya penglihatan Zakharia 3 ini terjadi — di bumi atau di surga?
Untuk menjawabnya, Shamoun menautkannya dengan Ayub 1-2, di mana dikisahkan bahwa Iblis hanya muncul untuk mendakwa seseorang ketika ia hadir di antara "anak-anak Allah" (para malaikat) yang menghadap TUHAN di surga. Karena pola yang sama muncul di Zakharia 3 — Iblis hadir untuk mendakwa Yosua — Shamoun menyimpulkan bahwa penglihatan itu pun mesti berlatar surga, bukan bumi, sehingga sosok "Malaikat TUHAN" yang menegur Iblis di sana benar-benar hadir dan bertindak di ranah surgawi, bukan sekadar sebagai representasi duniawi semata.
8. Kejadian 16 — Hagar dan "Allah yang Melihatku"
Argumen berikutnya berpindah ke Kejadian 16:7-14, kisah Hagar yang melarikan diri dari Sara dan berjumpa dengan Malaikat TUHAN di padang gurun. Malaikat itu berbicara kepadanya, menjanjikan bahwa keturunannya akan sangat banyak jumlahnya — sebuah janji penciptaan/perkembangbiakan yang, menurut Shamoun, seharusnya hanya bisa diucapkan oleh Allah sendiri, bukan makhluk ciptaan.
Yang menjadi inti argumen Shamoun adalah ayat 13: setelah percakapan itu, Hagar menyebut nama TUHAN yang telah berbicara kepadanya dengan sebutan "Engkaulah Allah yang melihat aku," sambil bertanya heran, "Sungguhkah di sini juga aku melihat Dia yang telah melihat aku?" Bagi Shamoun, reaksi kagum dan sedikit ketakutan semacam ini hanya masuk akal jika Hagar percaya bahwa ia benar-benar telah melihat Allah sendiri — bukan sekadar seorang malaikat ciptaan biasa.
Lawan bicara Shamoun berulang kali mencoba menjelaskan bahwa malaikat itu hanyalah "wakil" yang berbicara dan bertindak atas nama Allah, dan bahwa kata yang dipakai Hagar ("El") bisa saja dipakai untuk merujuk pada malaikat, bukan hanya Allah. Namun Shamoun terus mendesak pada satu titik logis: siapa pun sosok tunggal yang benar-benar dilihat dan diajak bicara Hagar dalam narasi itu — sebab hanya ada satu sosok yang disebutkan hadir, yaitu Malaikat TUHAN — dan sosok itulah yang oleh Hagar sendiri disebut sebagai "TUHAN yang berbicara kepadaku" dan "Allah yang melihatku." Pada akhirnya, setelah berputar-putar cukup panjang, lawan bicaranya mengakui poin ini secara eksplisit: sosok yang dilihat Hagar memang Malaikat itu sendiri, yang di dalam teks disebut dengan nama-nama ilahi.
9. Hakim-Hakim 13 — Manoah Melihat Malaikat dan Takut akan Kematian
Untuk memperkuat pola yang sama, Shamoun membawa contoh lain: kisah Manoah, ayah dari Simson, dalam Hakim-hakim 13. Setelah menyadari bahwa sosok yang berbicara kepadanya dan istrinya adalah Malaikat TUHAN (ayat 21), Manoah justru berseru ketakutan, "Pastilah kita akan mati, sebab kita telah melihat Allah."
Argumen Shamoun di sini konsisten dengan pola sebelumnya: menurutnya, dalam Kitab Suci Ibrani, reaksi ketakutan akan kematian semacam ini secara khas hanya muncul ketika seseorang percaya telah melihat Allah sendiri secara langsung — bukan reaksi lazim terhadap penampakan malaikat biasa. Lawan bicaranya membalas bahwa kata yang dipakai Manoah, "Elohim," bisa saja bermakna lebih luas dan dipakai pula untuk malaikat, sehingga rasa takutnya bisa jadi memang murni karena bertemu malaikat, bukan Allah. Perdebatan pada poin spesifik ini berakhir tanpa titik temu yang tegas — masing-masing pihak bertahan pada penafsiran awal mereka.
10. Keluaran 24 dan Bilangan 12 — Musa, Para Tua-Tua, dan Wujud Allah yang Terlihat
Topik berikutnya menyangkut Keluaran 24:9-11, yang menceritakan Musa bersama Harun, Nadab, Abihu, dan tujuh puluh tua-tua Israel naik ke gunung dan "melihat Allah Israel." Teks itu bahkan menyebutkan detail visual: di bawah kaki-Nya ada semacam lantai dari batu safir bening. Shamoun menekankan bahwa teks tidak memberi kualifikasi apa pun bahwa ini hanyalah penglihatan (visi) semata, dan bahwa mereka semua tetap hidup meski telah melihat Allah — sebuah detail yang, menurutnya, sengaja dicatat penulis untuk menunjukkan bahwa biasanya melihat Allah berarti kematian, namun di sini Allah berkenan menahan tangan-Nya.
Lawan bicaranya berargumen bahwa peristiwa ini terjadi dalam konteks penglihatan di dalam awan, dan mengaitkannya dengan Bilangan 12:6-8, di mana Allah menyatakan bahwa Ia biasanya menyatakan diri kepada nabi melalui mimpi atau penglihatan, kecuali kepada Musa yang berbicara dengan-Nya secara langsung ("mulut dengan mulut", melihat "rupa/wujud TUHAN"). Menurutnya, ini menunjukkan bahwa semua penampakan Allah kepada manusia — termasuk kepada tujuh puluh tua-tua — sesungguhnya terjadi lewat penglihatan, bukan secara harfiah.
Shamoun membalikkan argumen ini: jika Bilangan 12 secara eksplisit membedakan cara Allah berbicara kepada Musa (langsung, bukan lewat penglihatan/mimpi) dari cara-Nya berbicara kepada nabi lain, maka justru ayat itu mengonfirmasi bahwa dalam kasus Musa, perjumpaannya bersifat nyata dan langsung, bukan sekadar visi batin. Dari sini keduanya berdebat panjang tentang tingkatan penampakan: menurut Shamoun, dalam Keluaran 24, hanya Musa seorang yang masuk ke dalam awan dan melihat wujud Allah secara penuh, sementara Harun dan para tua-tua lainnya, yang berada lebih jauh, hanya melihat sebagian — kaki dan lantai di bawahnya — sesuai kedekatan masing-masing kepada awan itu.
11. Ketegangan Seputar Sumber-Sumber Yahudi dan Sosok Maria
Menjelang pertengahan-akhir diskusi, ketika Shamoun hendak kembali ke Zakharia 3 untuk menuntaskan poin yang belum selesai, terjadi selisih tajam yang menyimpang sejenak dari topik teologis utama. Lawan bicara Shamoun melontarkan tuduhan bahwa Perjanjian Baru berbicara sangat buruk tentang orang Yahudi, sembari mengutip — dengan nada mengejek — sejumlah ungkapan sangat menghina tentang Yesus yang berasal dari tradisi polemik Yahudi kuno (tradisi yang secara historis dikenal luas dalam kajian akademik sebagai bagian dari corpus Toledot Yeshu dan sejumlah rujukan Talmud yang bernada serupa).
Shamoun menanggapi dengan membandingkan bahwa nabi-nabi Perjanjian Lama sendiri — Yesaya dan Yehezkiel — menggunakan bahasa yang sangat keras terhadap bangsa Israel, bahkan menyamakan mereka dengan Sodom dan Gomora, tanpa hal itu dianggap sebagai kebencian terhadap bangsa sendiri. Dari sana ia berargumen bahwa Perjanjian Baru, yang ditulis oleh orang-orang Yahudi (termasuk Yohanes) tentang sesama orang Yahudi yang menolak Yesus, semestinya dipahami dalam kerangka yang sama: kritik internal dalam tradisi kenabian, bukan kebencian rasial terhadap seluruh bangsa Yahudi — sebuah poin yang ia perkuat dengan menyebut bahwa figur perempuan yang paling dihormati dalam iman Kristen, yakni Maria, adalah seorang perempuan Yahudi.
Diskusi kemudian melebar ke pertanyaan siapa yang lebih dulu menyebarkan narasi negatif tentang Maria. Lawan bicara Shamoun berargumen bahwa tradisi Talmud yang menyebut Maria secara tidak hormat baru dikodifikasikan pada abad ke-5–6 Masehi, sebagai reaksi balik atas penganiayaan yang dialami komunitas Yahudi di bawah kekuasaan Kristen pada masa itu. Shamoun membantah kronologi ini dengan merujuk pada tulisan Origenes (abad ke-2–3 M) yang menanggapi seorang penulis pagan Yunani bernama Celsus — sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa Celsus sendiri mengklaim mendapat cerita tentang asal-usul kelahiran Yesus yang tidak hormat dari kalangan Yahudi, pada masa ketika komunitas Kristen sendiri sedang dianiaya oleh Kekaisaran Romawi, bukan sebaliknya. Perdebatan pada subtopik ini berakhir tanpa kesepakatan, dengan kedua pihak sepakat untuk kembali ke pembahasan Zakharia 3.
Perlu dicatat, pertukaran argumen di bagian ini berlangsung dengan nada yang cukup panas dan personal dari kedua belah pihak, mencerminkan sensitivitas sejarah panjang antara kedua tradisi agama tersebut — sebuah dinamika yang lumrah muncul dalam diskusi lintas-iman yang berlangsung spontan dan tidak terskrip.
12. Zakharia 3 (Lanjutan) — Pakaian Kotor Disingkirkan dan Dosa Diampuni
Kembali ke Zakharia 3, Shamoun membawa lawan bicaranya ke ayat 3-4, yang menggambarkan Yosua sang Imam Besar mengenakan pakaian kotor sementara berdiri di hadapan Malaikat itu. Malaikat itu kemudian memerintahkan agar pakaian kotor itu ditanggalkan, dan berkata secara langsung dalam orang pertama: "Lihat, aku telah menjauhkan kesalahanmu daripadamu."
Bagi Shamoun, ini adalah puncak dari keseluruhan argumen Zakharia 3: seorang malaikat, dalam orang pertama, mengklaim telah menghapuskan kesalahan (dosa) seseorang — sebuah tindakan yang secara teologis semestinya hanya bisa dilakukan Allah sendiri. Lawan bicaranya kembali mengajukan dua pembelaan yang sudah muncul sebelumnya: pertama, bahwa malaikat itu berbicara mewakili Allah dan atas nama-Nya; kedua, merujuk kembali ke Keluaran 23:21, bahwa "nama Allah ada di dalam dia" menjelaskan mengapa ia bisa melakukan hal itu — namun ini, menurutnya, tidak lantas berarti sang malaikat adalah Allah, melainkan diberi wewenang oleh-Nya.
Shamoun menanggapi pembelaan ini dengan cara yang menarik: ia menyatakan bahwa jika penjelasannya adalah "Allah memberikan kepada sang Anak esensi dan otoritas-Nya sendiri karena sang Anak diperanakkan dari-Nya" (istilah yang dipakainya untuk menggambarkan hubungan ini), maka penjelasan itu justru semakin dekat dengan doktrin Kristen kuno tentang Kristus sebagai Anak yang "diperanakkan" dari Bapa, mewarisi hakikat dan otoritas Bapa itu sendiri — bukan sekadar diberi kuasa sebagai perwakilan biasa.
Pada titik ini, lawan bicara Shamoun untuk pertama kalinya mengangkat rujukan dari Perjanjian Baru sendiri: Yohanes 20:21-23, di mana Yesus memberikan kuasa kepada para murid-Nya untuk menyatakan pengampunan dosa. Shamoun menyambut rujukan ini dan menunjukkan bahwa dalam ayat-ayat tersebut, Yesus terlebih dahulu menghembuskan Roh Kudus kepada para murid — sebuah tindakan yang menurutnya, menurut Tanakh, hanya bisa dilakukan Allah. Ia lalu membandingkan cara para rasul menyatakan pengampunan (dalam Kisah Para Rasul 2:38, "bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis... demi pengampunan dosamu" — selalu dalam nama Yesus, bukan atas nama diri mereka sendiri) dengan cara Malaikat TUHAN dalam Zakharia 3, yang berkata langsung "Aku telah menjauhkan kesalahanmu," tanpa embel-embel "demi nama Allah." Bagi Shamoun, perbedaan pola bicara inilah yang menjadi bukti pemungkas: para rasul mengampuni dosa atas nama pihak lain (Yesus), sementara Malaikat TUHAN dalam Zakharia mengampuni dosa atas namanya sendiri — sebuah kewenangan yang, menurutnya, hanya masuk akal jika sang malaikat memang adalah Allah sendiri yang menyatakan diri.
Penutup: Perpisahan yang Sopan dan Ajakan Belajar
Menjelang akhir sesi, karena keterbatasan waktu di pihak lawan bicaranya, keduanya sepakat mengakhiri diskusi. Meskipun perdebatan berlangsung intens dan sesekali memanas, keduanya berpisah dengan nada hormat — Shamoun membagikan alamat kontaknya untuk melanjutkan diskusi di lain waktu, dan saling mengucapkan berkat, sekalipun sang apologet Yahudi tetap menyatakan tidak memercayai Yesus.
Dalam penutupnya kepada penonton, Shamoun menyimpulkan bahwa argumen-argumen yang baru saja ia paparkan — bahwa bahasa jamak dapat memiliki alasan tersendiri, bahwa Roh Allah menunjukkan adanya distingsi di dalam Allah, bahwa Kejadian 1:26 masuk akal dipahami sebagai Allah berbicara kepada Roh-Nya, dan bahwa Malaikat TUHAN berulang kali dikenali sebagai Allah sendiri oleh tokoh-tokoh seperti Hagar, Manoah, dan dalam penglihatan Zakharia — seluruhnya sudah ia dokumentasikan dalam artikel-artikel dan sesi-sesi diskusinya sebelumnya, dan ia mendorong para penontonnya untuk mempelajari, menguasai, dan turut memakai argumen-argumen tersebut dalam diskusi mereka sendiri dengan kalangan Yahudi maupun kelompok lain yang menyangkal Tritunggal.
Komentar