Dr. Bambang Noorsena: Sejarah Injil
Sumber: Sejarah Injil | Dr Bambang Noorsena - YouTube
I. Pengantar:
Struktur Kitab Suci Yahudi dan Kristen
Orang Yahudi
menyebut kitab suci mereka dengan singkatan TaNaK. Singkatan ini berasal dari
tiga bagian besar kitab suci Yahudi: pertama, Torah (Kitab Taurat), yang
terdiri dari lima kitab — yakni Kejadian (Bereishit), Keluaran (Shemot), Imamat
(Vayikra), Bilangan (Bemidbar), dan Ulangan (Devarim). Kedua, Nebi'im (Kitab
Nabi-Nabi), yang terbagi menjadi nabi-nabi awal dan nabi-nabi akhir, termasuk
di dalamnya dua belas nabi kecil. Ketiga, Ketuvim (Tulisan-Tulisan Suci), yang
diawali dari Kitab Mazmur (Tehillim) hingga kitab terakhir.
Sistematika pembagian ini sangat penting untuk dipahami. Itulah mengapa dalam Injil Lukas pasal 24 ayat 44, Yesus menyebut: “...seperti yang tertulis mengenai Aku dalam Kitab Taurat Musa, dalam kitab para nabi, dan dalam Mazmur.” Yesus menyebut 'Mazmur' secara khusus karena Mazmur merupakan kitab pertama dari bagian Ketuvim dalam sistematika Yahudi.
Yang
menarik, meskipun umat Yahudi dan umat Kristen telah berpisah sejak Konsili
Yahudi di kota Yavneh (sekitar tahun 90 Masehi), kitab suci Perjanjian Lama
mereka pada hakikatnya tetap sama. Orang Yahudi menyebutnya TaNaK, sedangkan
orang Kristen menyebutnya Perjanjian Lama — dengan perbedaan hanya pada
penafsiran. Orang Kristen meyakini bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama
menubuatkan kedatangan Mesias, yang digenapi dalam diri Yesus Kristus.
Adapun
istilah 'Perjanjian Baru' berakar dari nubuatan dalam Kitab Nabi Yeremia pasal
31 ayat 31, di mana Tuhan berfirman bahwa Ia akan mengadakan perjanjian baru
dengan umat-Nya, yaitu Yehuda dan Israel. Perjanjian baru itu digenapi dengan
turunnya Roh Kudus. Dokumen-dokumen kesaksian para saksi mata tentang
penggenapan janji-janji Tuhan inilah yang dikumpulkan dan menjadi Perjanjian
Baru.
II. Isi dan
Persebaran Perjanjian Baru
Perjanjian
Baru terdiri dari: (1) empat Kitab Injil sebagai fokus utama tentang Yesus
Kristus; (2) Kisah Para Rasul yang mencatat sejarah gereja mula-mula yang
berdiri di Yerusalem sekitar tahun 33 Masehi, beserta persebarannya ke timur
dan ke barat; serta (3) surat-surat dan Kitab Wahyu.
Penginjilan
ke arah timur tercermin dari kehadiran umat dari Media, Partia, dan Mesopotamia
pada peristiwa Pentakosta (Kisah Para Rasul 2). Ke arah barat, hal ini tampak
jelas dari perjalanan misi Rasul Paulus, juga Rasul Yohanes yang memberitakan
Injil di wilayah Yunani dan Turki, termasuk ketika ia menerima wahyu di Pulau
Patmos dan kemudian menulis Injil Yohanes di kota Efesus hingga wafatnya.
III. Autentisitas
Kitab Suci: Menjawab Tuduhan Pemalsuan
A. Perjanjian
Lama: Milik Bersama Tiga Tradisi
Ketika ada
tuduhan bahwa orang Kristen memalsukan kitab suci, perlu dipilah dua hal.
Pertama, mengenai Perjanjian Lama: jika orang Kristen memalsukan kitab suci,
maka kitab mereka tentu sudah berbeda dari kitab orang Yahudi. Kenyataannya,
orang Yahudi yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus pun membaca Perjanjian Lama
yang sama dengan yang diikuti oleh orang Kristen. Yang berbeda hanyalah
penafsiran.
Bahkan orang
Samaria — yang jumlahnya kini sekitar 600 orang di Nablus, Palestina — juga
membaca Torah yang sama, meskipun dalam dialek yang berbeda. Ini menunjukkan
bahwa naskah kitab suci tidak pernah dibakar demi penyeragaman; varian-varian
naskah tetap eksis dan tidak ada yang hilang.
Penemuan
Naskah Laut Mati yang kini disimpan di Museum Israel memberikan bukti yang luar
biasa. Gulungan Kitab Nabi Yesaya misalnya, yang panjangnya sekitar 7,31 meter,
terbukti tidak berubah. Berdasarkan uji karbon radioaktif, naskah tersebut
berasal dari abad ke-3 sebelum Masehi hingga abad ke-1 Masehi — artinya sudah
ada sebelum zaman Yesus. Hampir seluruh Perjanjian Lama ditemukan di sana,
kecuali Kitab Ester.
B. Perjanjian
Baru: Keunggulan Naskah yang Luar Biasa
Untuk
Perjanjian Baru, kita memiliki lebih dari 5.000 naskah dalam berbagai bentuk,
mulai dari papirus, kodeks (seperti Codex Vaticanus, Codex Alexandrinus, Codex
Sinaiticus), hingga kitab berjilid. Ini merupakan jumlah yang jauh melampaui
karya-karya kuno lainnya.
Sebagai
perbandingan, karya-karya filsuf terkemuka yang diajarkan di bangku kuliah
hanya memiliki naskah yang sangat sedikit: Aristoteles memiliki 7 salinan
dengan jarak 1.300 tahun antara penulis dan naskah tertua yang ditemukan; Plato
7 salinan; Herodotus 8 salinan dengan jarak 1.350 tahun. Sementara itu,
Perjanjian Baru memiliki lebih dari 5.000 naskah, dengan jarak antara penulis
dan naskah tertua yang sangat dekat.
Contohnya,
Papirus 52 — naskah Injil Yohanes yang kini disimpan di John Rylands Library —
berasal dari sekitar tahun 115 Masehi. Mengingat Rasul Yohanes meninggal di
Efesus sekitar tahun 96 Masehi, jarak antara peristiwa dan naskah hanya sekitar
18 tahun. Papirus 66 (P66) berasal dari sekitar tahun 120 Masehi, dengan jarak
hanya 24 tahun dari kematian Rasul Yohanes.
Tidak ada
naskah kuno mana pun yang jarak antara penulisan asli dan salinan tertua yang
ditemukan lebih dekat daripada Perjanjian Baru. Selain itu, persebaran
naskahnya yang sangat luas juga tidak tertandingi oleh karya kuno mana pun.
IV. Para Penulis
Injil: Saksi Mata dan Murid Para Rasul
Mengenai
penulis Injil, Dr. Bambang menegaskan bahwa ia lebih mengutamakan sumber-sumber
gereja purba daripada asumsi para teolog modern. Alasannya: para penulis gereja
purba hidup lebih dekat dengan zaman Rasul, berbicara dalam bahasa yang sama,
dan memiliki kebudayaan yang sama, sehingga jauh lebih akurat ketimbang asumsi
teolog abad ke-20.
Contohnya,
Hippolytus — yang meninggal tahun 235 Masehi — adalah murid Irenius; Irenius
adalah murid Polycarpus; Polycarpus adalah murid Yohanes; dan Yohanes adalah
murid Yesus. Mata rantai ini sangat jelas dan tidak dapat dibandingkan dengan
teolog abad ke-20 yang bukan saksi mata.
A. Markus:
Penulis Injil Pertama
Markus nama
Ibraninya adalah Yohanes, dan nama Latinnya adalah Marcus — nama yang sangat
bergengsi pada masa itu, menunjukkan latar belakang keluarga yang terpelajar.
Menurut catatan sejarah gereja kuno, Markus adalah seorang Yahudi diaspora dari
Alexandria, Afrika Utara. Ibunya bernama Maria (Kisah Para Rasul 12:12), dan
pamannya adalah Barnabas — yang juga berasal dari Alexandria dan termasuk dalam
tujuh puluh murid.
Rumah ibunya
Maria merupakan tempat yang sangat penting: di sanalah perjamuan malam terakhir
Yesus berlangsung (Markus 14:12-27), di sanalah para rasul berkumpul setelah
Kenaikan Yesus, di sanalah pemilihan Matias sebagai pengganti Yudas dilakukan,
dan bahkan pencurahan Roh Kudus terjadi di sana. Rumah itu menampung 120 orang
— sebuah loteng bertingkat di tengah Bukit Sion, yang hanya mungkin dimiliki
oleh keluarga Yahudi diaspora yang kaya.
Markus
termasuk dalam tujuh puluh murid (bukan dua belas rasul), pernah mengundurkan
diri dari pelayanan, namun kemudian kembali melayani dan menjadi penerjemah
Rasul Petrus — terbukti dari kemampuan bahasanya yang luas. Rasul Petrus
menyebutnya “Markus, anakku” (1 Petrus 5:13). Menurut tradisi gereja, Markus
wafat sebagai martir di kota Alexandria.
Dalam Injil
Markus pasal 14 ayat 51-52, terdapat kisah seorang pemuda yang melarikan diri
dengan meninggalkan kainnya ketika Yesus ditangkap. Para ahli gereja purba
menafsirkan bahwa pemuda itu adalah Markus sendiri — sebuah sandiasma (tanda
tangan tersembunyi) sang penulis.
B. Lukas: Penulis
Injil dan Kisah Para Rasul
Lukas juga
termasuk tujuh puluh murid. Ia seorang tabib dari Antiokhia, yang kemudian
melayani sebagai rekan sekerja Rasul Paulus. Dalam Injil Lukas pasal 1 ayat 2,
Lukas menyebut bahwa ia mendasarkan tulisannya pada kesaksian para 'autoptai' —
dari kata Yunani yang berarti saksi mata (auto = sendiri, optai = melihat).
Ada bukti
kuat yang menunjukkan bahwa Lukas sendiri adalah saksi mata: dalam Injil Lukas
24, kisah dua murid yang berjalan ke Emaus hanya disebutkan satu namanya, yaitu
Kleopas, sementara murid lainnya tidak disebutkan namanya. Menurut catatan
gereja kuno, murid yang tidak disebutkan itu adalah Lukas sendiri. Ia sengaja
meninggalkan sandiasma bahwa dialah murid yang tanpa nama itu.
V. Injil Kanonik
versus Injil Apokrif
Berdasarkan
pemahaman historis bahwa keempat Injil dapat dibuktikan bersumber dari para
saksi mata, sangat mudah untuk menolak apa yang disebut 'injil-injil rahasia'
seperti Injil Yudas, Injil Thomas, atau Injil Maria Magdalena. Tulisan-tulisan
tersebut tidak memiliki nilai sejarah dan tidak dapat diverifikasi melalui mata
rantai kesaksian.
Menariknya,
injil-injil apokrif itu sendiri mengklaim bersifat 'rahasia' justru karena
tidak bisa diperiksa secara historis. Irenius, dalam karyanya 'Melawan Para
Bidat,' menegaskan: “Di bawah kolong langit ini hanya ada empat Injil, yaitu
Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.” Iranius adalah murid Polycarpus, yang
merupakan murid Yohanes — sehingga ia memiliki otoritas yang sangat kuat untuk
menyatakan hal ini.
Bukti lain
bahwa injil-injil apokrif baru muncul belakangan adalah: Marcion, seorang tokoh
bidah sekitar tahun 140 Masehi yang pahamnya dekat dengan gnosis, tidak pernah
mengutip Injil Thomas atau Injil Yudas dalam seleksinya terhadap Perjanjian
Baru. Ini menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ke-2, injil-injil apokrif
tersebut memang belum ada.
VI. Kronologi
Penulisan dan Kanonisasi Perjanjian Baru
Perjanjian
Baru ditulis antara tahun 45 hingga sekitar tahun 90-an Masehi (paling akhir
tahun 96, yaitu tahun kematian Rasul Yohanes). Ini berarti bahwa antara tahun
33-45 Masehi, gereja belum memiliki Perjanjian Baru tertulis. Gereja lebih
dahulu ada sebelum Alkitab Perjanjian Baru ada.
Pada masa
sebelum ada teks tertulis, yang menjadi pegangan gereja adalah Perjanjian Lama
dan kesinambungan ajaran para Rasul yang dipelihara lewat liturgi. Liturgi
sudah ada sebelum Alkitab Perjanjian Baru — termasuk perjamuan kudus (ekaristi)
yang diajarkan langsung oleh Yesus pada malam terakhir-Nya.
Kutipan
tertua dari Perjanjian Baru terdapat dalam buku Didakhe — buku katekisasi
tertua di dunia, yang ditulis sekitar tahun 90-100 Masehi. Di sana sudah
termuat Doa Bapa Kami lengkap dengan doksologinya. Kanonisasi resmi kitab-kitab
Perjanjian Baru dilakukan dalam Konsili Kartago tahun 397, namun proses ini
merupakan peneguhan terhadap apa yang sudah lama diakui dan digunakan gereja.
VII. Tanya Jawab:
Pertanyaan dari Peserta
A. Apakah Yesus
Benar-Benar Disalibkan?
Penyaliban
Yesus bukan hanya tercatat dalam Alkitab, tetapi juga dalam berbagai sumber
sejarah sekuler dari abad yang sama, antara lain:
1)
Flavius Josephus, sejarawan Yahudi abad pertama:
mencatat bahwa Yesus disalibkan pada masa pemerintahan Pontius Pilatus.
2)
Cornelius Tacitus, sejarawan Romawi yang menulis
sekitar tahun 90 Masehi: mencatat penyaliban Yesus pada masa Prokurator Pontius
Pilatus.
3)
Talmud Yahudi (traktat Sanhedrin): menyatakan bahwa
'Yeshua telah digantung pada menjelang Paskah.'
4)
Lukianos dari Samosata, penulis satir Yunani: menyebut
penyaliban Yesus.
5)
Mara bar Serapion, dalam surat dari penjara kepada
anaknya: menyebut 'Raja Yahudi yang telah disalibkan.'
Klaim bahwa
Yesus tidak disalibkan muncul baru pada abad ke-7 Masehi — jauh setelah
peristiwanya terjadi. Secara metodologi sejarah, ini tidak memenuhi syarat
untuk dijadikan sumber yang otoritatif tentang peristiwa abad ke-1.
B. Bukti
Arkeologi yang Menguatkan Injil
Arkeologi
terus memberikan konfirmasi atas historisitas Injil. Salah satu contoh penting
adalah kolam Betesda yang disebutkan dalam Injil Yohanes pasal 5. Ketika
Yohanes menyebutkan bahwa kolam itu memiliki lima serambi, para teolog semula
meragukan historisitasnya. Namun pada tahun 1962, penemuan arkeologi
mengkonfirmasi keberadaan kolam dengan lima serambi itu, terletak di dekat
Gereja Santa Anna di Yerusalem.
Selain itu,
penggalian di Kota Daud (Bukit Sion) baru-baru ini menemukan tembok yang
berasal dari zaman Raja Daud, membuat seorang arkeolog Israel sampai meneteskan
air mata karena selama bertahun-tahun ia hanya melihat catatan kronologis,
namun kini akhirnya menemukan bukti fisiknya.
C. Perbedaan
Alkitab Protestan dan Katolik (Deuterokanonika)
Perbedaan
antara Alkitab Protestan dan Katolik terletak pada kitab-kitab deuterokanonika
— yang oleh Gereja Katolik disebut sebagai Kanon Kedua, sementara banyak gereja
Protestan menyebutnya 'intertestamental book' (buku antara Perjanjian Lama dan
Baru). Perbedaan ini bukan soal pemalsuan; ini sudah ada jauh sebelum ada
denominasi Kristen.
Kitab-kitab
deuterokanonika seperti 1 Makabe dan 2 Makabe relevan secara historis, misalnya
untuk memahami perayaan Hanukkah yang disebutkan dalam Yohanes pasal 10 ayat
22. Dengan ditemukannya naskah-naskah kitab deuterokanonika dalam bahasa Ibrani
di Qumran (Laut Mati), argumentasi bahwa kitab-kitab ini hanya ada dalam bahasa
Yunani pun runtuh.
D. Ibadah Jemaat
Mula-Mula: Transisi dari Sinagog ke Gereja
Jemaat
mula-mula adalah orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias.
Mereka masih mempertahankan pola ibadah Yahudi, termasuk waktu-waktu doa harian
yang disebut 'idunesalu' — sebagaimana dicatat dalam Kitab Psitta (Alkitab
berbahasa Aram/Siria, bahasanya Yesus).
Dalam Kisah
Para Rasul pasal 3 ayat 1, disebutkan bahwa Petrus dan Yohanes naik ke Bait
Allah “menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang.” Pola ibadah ini
kemudian diteruskan oleh gereja dengan makna baru: waktu-waktu doa dikaitkan
dengan jam-jam kesengsaraan Kristus. Gereja koptik Ortodoks misalnya, memiliki
Salat Bakr (pagi), Salat jam pertama, Salat jam ketiga (memperingati
Pentakosta), Salat jam keenam (doa tengah hari, ketika Petrus menerima
penampakan), Salat jam kesembilan (Kisah Para Rasul 3:1), Salat Maghrib
(memperingati pengangkatan jenazah Kristus sebelum Sabat), Salat Naung
(menjelang tidur), dan Salat Nisfu Lail (tengah malam).
Ada dua pola
ibadah yang diwarisi dari tradisi Yahudi: ibadah sinagog (berpusat pada
pembacaan Firman dan khotbah) dan ibadah Bait Suci (berpusat pada korban).
Dalam gereja, ibadah korban diteruskan dalam bentuk sakramen Perjamuan
Kudus/Ekaristi — sebagai kenangan dan partisipasi dalam pengorbanan Kristus di
Kalvari.
Pada masa
awal, gereja memiliki dua hari ibadah: Sabat (hari ketujuh, bersama saudara
Yahudi, untuk khotbah dan pembacaan Firman) dan Hari Minggu (hari pertama,
khusus memperingati kebangkitan Kristus dengan pemecahan roti/ekaristi).
Pemisahan resmi antara gereja dan sinagog terjadi pada Konsili Yahudi di Yavneh
sekitar tahun 90 Masehi.
E. Tradisi Gereja
sebagai Padanan Hadis dalam Islam
Tradisi
gereja (tulisan-tulisan para Bapa Gereja) memiliki keunggulan dibandingkan
hadis: para murid para rasul tidak hanya meneruskan ucapan secara lisan, tetapi
juga menulis dokumen. Ignasius dari Antiokhia menulis tujuh surat, Polycarpus
menulis surat kepada jemaat, Irenius menulis buku 'Melawan Para Bidat,'
Hippolytus menulis berbagai karya teologis.
Berbeda
dengan sistem periwayatan hadis di mana nama-nama muncul dalam rantai sanad
tetapi isinya bisa berbeda (seperti dalam kasus Abu Hurairah yang dikutip untuk
dua riwayat bertentangan soal siapa yang dikorbankan Ibrahim — Ishak atau
Ismail), dalam tradisi gereja, para murid rasul sendiri menulis dan
menandatangani dokumen mereka.
F. Mengapa Injil
Ditulis dalam Bahasa Yunani?
Injil
ditulis dalam bahasa Yunani karena Yesus berkarya di Galilea — wilayah dengan
kemajemukan bahasa yang tinggi — dan bahasa Yunani pada masa itu merupakan
bahasa internasional (lingua franca) yang dapat dipahami oleh banyak bangsa.
Dengan demikian, Injil dapat tersebar ke seluruh dunia.
G. Doksologi
dalam Doa Bapa Kami
Doksologi
dalam Doa Bapa Kami — “Karena Engkaulah yang punya kerajaan dan kuasa dan
kemuliaan sampai selama-lamanya” — yang biasanya ditulis dalam tanda kurung
dalam beberapa edisi Alkitab modern, bukan berarti palsu. Doksologi ini
merupakan bagian dari praktik liturgi gereja yang sangat kuno, sebagaimana
tercatat dalam Didakhe (sekitar tahun 90-100 Masehi).
Perbedaan
antara edisi yang mencantumkan dan yang tidak mencantumkan doksologi ini timbul
karena ada naskah-naskah kuno (seperti Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus)
yang tidak memuatnya, sementara Textus Receptus (standar yang diterbitkan tahun
1550 oleh Stephanus) memuat doksologi tersebut. Lembaga Alkitab Indonesia
memilih jalan tengah yang paling moderat: mencantumkannya dalam tanda kurung
tanpa menghilangkannya.
VIII. Penutup:
Pendekatan yang Bijak dan Bermartabat
Dr. Bambang
Noorsena menekankan bahwa dalam menghadapi kesalahpahaman tentang kitab suci
Kristen, cara yang paling tepat dan bermartabat adalah dengan mengkonternya
menggunakan data-data sejarah yang dapat diverifikasi, bukan dengan serangan
balik yang emosional. Ia juga menekankan pentingnya menerapkan metode yang
sama: jika kritik tertentu diterapkan pada Alkitab, metode yang sama harus
konsisten diterapkan pula pada kitab-kitab lain.
Ia juga
mengingatkan bahwa perdebatan internal antara Katolik dan Protestan — misalnya
soal deuterokanonika — sebaiknya tidak diekspos ke publik luas karena justru
melemahkan posisi umat Kristen. Yang perlu diperkuat adalah pemahaman historis
dan apologetika yang kokoh, sehingga iman Kristen dapat dipertanggungjawabkan
dengan cerdas di tengah masyarakat yang majemuk.
Sebagai
penutup, Dr. Bambang Noorsena mendoakan agar gereja semakin dewasa dalam
menyikapi berbagai isu, tidak kehilangan jati diri iman di tengah kemajemukan
agama, dan mampu menyampaikan kebenaran tidak hanya dalam ajaran tetapi juga
dalam perilaku — sehingga buahnya bisa dilihat dan menjadi berkat bagi orang
lain.
Catatan:
Dokumen ini merupakan transkripsi yang telah disunting
dan disusun ulang dari ceramah Dr. Bambang Noorsena berjudul 'Sejarah Injil'
yang tersedia di YouTube. Transkripsi asli dihasilkan secara otomatis dengan
sejumlah kesalahan pengucapan dan nama diri yang telah dikoreksi dalam
penyusunan ulang ini.
Komentar