Dr. Bambang Noorsena: Salam Maria dan Shalawat Nabi

 Judul Lengkap: 

SALAM MARIA DAN SHALAWAT NABI: KEBETULAN ATAU ADA MISTERI BESAR DI BALIKNYA?

Dr. Bambang Noorsena

Sumber: 

DR. BAMBANG NOORSENA: SALAM MARIA DAN SHALAWAT NABI... KEBETULAN ATAU ADA MISTERI BESAR DIBALIKNYA?! - YouTube

I. Pengantar: Bahasa Arab dan Kristianitas

Hari ini kita akan membahas doa Salam Maria dalam bahasa Arab. Di Indonesia, kaitan antara Kristianitas dengan bahasa Arab memang terasa asing. Namun apabila kita pergi ke Timur Tengah, kita akan mendapati begitu banyak penduduk Kristen di sana. Bahkan di Lebanon, komposisinya hampir lima puluh berbanding lima puluh antara Muslim dan Kristen — suatu negara yang sebenarnya memiliki unsur Kristiani yang sangat besar. Sebagian besar dari mereka berasal dari Gereja Katolik Ritus Timur yang dikenal sebagai Gereja Maronit.

Di Mesir, dari jumlah penduduk yang hampir mencapai 100 juta jiwa, sekitar 20% atau lebih adalah orang Kristiani. Kebanyakan dari mereka berasal dari Gereja Ortodoks Koptik — gereja Ortodoks Oriental yang merupakan pewaris takhta suci Alexandria yang didirikan oleh Santo Markus. Di samping itu, terdapat pula gereja-gereja Timur yang berada dalam persatuan dengan Takhta Suci Roma, dikenal sebagai gereja-gereja uniat — antara lain Gereja Maronit di Lebanon, Gereja Katolik Syria yang berpusat di Aleppo, dan Gereja Koptik Katolik di Mesir.

Gereja juga pernah mengalami skisma. Skisma pertama terjadi pada tahun 451 antara gereja-gereja non-Kalsedonian (Koptik Ortodoks, Syriak Ortodoks, Armenian Ortodoks) dengan gereja Konstantinopel dan Roma. Skisma kedua terjadi pada tahun 1054 antara Gereja Roma Katolik dan Gereja Yunani Ortodoks (Ortodoks Timur). Kemudian pada tahun 1517 muncul gereja-gereja Protestan. Meski demikian, usaha ekumenis menuju persatuan gereja terus dilakukan, dengan keyakinan bahwa Roh Kudus tidak akan membiarkan umat-Nya bercerai-berai lebih dari 1.600 tahun.

II. Sejarah Bahasa Arab dalam Liturgi Gereja

Pemakaian bahasa Arab dalam liturgi gereja hampir setua gereja itu sendiri. Pada peristiwa Pentakosta yang tercatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2, sudah ada pendatang-pendatang dari Roma dan bangsa Arab. Artinya, bangsa Arab sejak awal telah terlibat dalam proyek keselamatan ilahi. Menurut Yustinus Martir, salah seorang penulis gereja awal, orang-orang Majus yang digambarkan datang dari Timur itu berasal dari tanah Arab — sebagaimana tercermin dari persembahan mereka: emas, kemenyan, dan mur.

Perkembangan bahasa Arab pra-Islam justru banyak ditemukan di lingkungan Gereja. Hal ini diakui pula oleh para intelektual Muslim, seperti Quraish Shihab dalam bukunya “Mukjizat Al-Qur’an” yang menyebut prasasti-prasasti Arab Kristiani. Prasasti pertama yang ditemukan adalah Prasasti Umm al-Jimal, terletak di perbatasan Yordania dan Suriah, ditulis dalam huruf Aram Nabati. Prasasti kedua adalah Prasasti Jabat yang ditemukan di Suriah pada tahun 571 M — tahun yang sama dengan kelahiran Nabi Muhammad menurut tradisi Islam — tertulis dalam tiga bahasa: Aramaik, Yunani, dan Arab, serta memuat ungkapan “bismil ilah” (Demi Nama Allah). Prasasti ketiga adalah Prasasti Umm al-Jimal Kedua yang diawali dengan kalimat “Allahu gara li Ulai” (Allah memberkati keluarga Ulai).

Dalam sejarah gereja, Santo Hilarion yang wafat tahun 371 M dikenal sebagai pengabar Injil di kalangan suku-suku Arab. Pada Konsili Ekumenis Ketiga di Efesus (431 M), salah satu uskup yang hadir dalam catatan gerejawi disebut “Abdelas” — yang sebenarnya berarti Abdullah. Ini membuktikan bahwa bahasa Arab sesungguhnya tidak asing bagi umat Kristiani.

Pada masa kekuasaan Amir Abu Waqqas al-Ash’ari atas Suriah, Patriak Yuhanna Abu Shedra Kedua dari Gereja Ortodoks Suriah disponsori oleh penguasa Muslim tersebut untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Arab. Ketika terjemahan selesai dan ditunjukkan kepada sang Amir, ia mempertanyakan ungkapan “putra Allah” yang bertentangan dengan akidahnya. Sang Patriak menjawab dengan gagah berani: “Sekalipun seribu anak panah Tuan menembus dadaku, tak boleh ada satu huruf pun hilang dari Injil Tuhan kami Yesus Kristus.” Mendengar jawaban itu, Abu Waqqas berkata, “Silakan teruskan, kamu lebih tahu apa yang kamu perbuat.”

III. Liturgi Arab dan Kosakata Bersama

Buku Brevir (buku doa harian Gereja) dalam bahasa Arab disebut “Kitab Shalawat” — yaitu kitab salat-salat. Gereja kuno memang bersembahyang tujuh kali sehari, sesuai dengan Mazmur 119:164. Waktu-waktu salat tersebut dalam bahasa Arab Kristiani disebut: Salat Saa’i al-Awal (Jam Pertama), Salat Saa’i Tsalats (Jam Ketiga), Salat Saa’i Sadis (Jam Keenam), Salat Saa’i Tasi’ah (Jam Kesembilan), Salat Gurub (Maghrib), Salat Naum (sebelum tidur), dan Salat Nisf al-Lail (tengah malam). Praktik ini tidak hanya ada di Gereja Ortodoks, tetapi juga di gereja-gereja Katolik Ritus Timur.

Contoh lain kosakata liturgi Arab Kristiani yang menarik: doa Kemuliaan (Gloria) dalam ritus Maronit berbunyi “Al-Majdu lillah wa al-Ibni wa Ruh al-Qudus, alana wa ula awanin wa ila dahrin” (Kemuliaan bagi Bapa dan Putra dan Roh Kudus, sekarang dan selalu serta sepanjang segala masa. Amin). Lagu Paskah dalam bahasa Arab berbunyi: “Al-Masih qama bayna al-amwat wa watha al-mawt bil mawt wa wahaba al-hayata lilladzina fil qubur” (Kristus telah bangkit dari antara orang mati; dengan kematian-Nya Ia menginjak-injak maut dan mengaruniakan kehidupan bagi mereka yang di dalam kubur). Pertukaran salam Paskah: “Al-Masih qam!” (Kristus telah bangkit!) — “Haqqan qam!” (Benar, Ia telah bangkit!)

IV. Teks Doa Salam Maria dalam Bahasa Arab

Doa Salam Maria dalam bahasa Arab biasanya diawali dengan: “Assalamu alaiki ya Maryam” (Salam bagimu, wahai Maria). Perlu dicatat bahwa nama “Maryam” bukan nama Islam, melainkan nama yang sama dalam bahasa Ibrani (Miryam), Aram (Maryam), Latin/Yunani (Maria), dan Arab (Maryam). Tanda salib diucapkan: “Bismil Abi wal-Ibni wa Ruh al-Qudus, al-Ilahu al-Wahid. Amin” — dalam ritus Arab biasanya ditegaskan: “al-Ilahu al-Wahid” (Allah Yang Esa), artinya Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah Allah Yang Esa.

Teks lengkap Doa Salam Maria dalam bahasa Arab:

Assalamu alaiki ya Maryam, — Salam bagimu, wahai Maria,

ya mamtali’atan ni’mah, — wahai engkau yang penuh rahmat/karunia,

Arrabu ma’aki. — Tuhan sertamu.

Mubarakatun anti finisa’i, — Diberkatilah engkau di antara wanita,

wa mubarakatun samaratu batniki Yasu’a (Yesus). — dan diberkatilah buah rahimmu, Yesus.

Ya Khidisah Maryam, — Ya Santa Maria,

ya walidatal Ilah, — wahai Bunda Allah (Sang Pelahir Allah),

shalli ’alaina nahnul qatha’a — doakanlah kami orang-orang berdosa ini

alana wafisaati mautina. — sekarang dan pada saat kami mati. Amin.

 

Sumber teks doa ini berasal dari Alkitab. Bagian “Salam bagimu, penuh rahmat, Tuhan sertamu” diambil dari Injil Lukas 1:28, ketika Malaikat Gabriel masuk ke tempat Maria. Ungkapan “Diberkatilah engkau di antara wanita, dan diberkatilah buah rahimmu” diambil dari Lukas 1:42, pada saat perjumpaan Maria dengan Elisabet. Sedangkan gelar “ya walidatal Ilah” (Bunda Allah/Theotokos) bersumber dari Lukas 1:43 ketika Elisabet berkata, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

V. Gelar Theotokos: Bunda Allah

Gelar “walidatal Ilah” atau “walidatullah” dalam bahasa Arab, yang merupakan terjemahan dari kata Yunani Theotokos, muncul pada Konsili Efesus dan Konsili Kalsedon. Gelar ini tidak berarti Maria secara fisik melahirkan Allah Sang Bapa — Allah Bapa bersifat transenden dan tidak dapat dilihat oleh siapapun. Gelar ini merujuk pada Sabda Allah (Sang Firman) yang menjadi manusia melalui inkarnasi. Sebagaimana Yohanes 1:14 menyatakan, “Sabda itu menjadi manusia” dan “Sabda itu bersama-sama Allah dan Sabda itu sendiri adalah Allah”.

Konsili Efesus diselenggarakan untuk menghadapi ajaran Nestorius, Patriak Konstantinopel, yang menolak gelar Theotokos bagi Maria. Nestorius berpandangan bahwa yang dilahirkan Maria hanyalah Kristus-manusia (Kristotokos), bukan Allah-manusia. Ortodoksi Gereja menegaskan bahwa kemanusiaan dan keilahian Kristus tidak terbagi, tidak terpisah, tetapi juga tidak berbaur dan tidak berubah — bagaikan pedang dan api: api menajamkan pedang, namun pedang tidak menjadi api dan api tidak menjadi pedang.

Ajaran ini bukan baru muncul pada Konsili Kalsedon atau Efesus. Ignasius dari Antiokia — murid langsung Rasul Yohanes dan Rasul Petrus, yang mati syahid di Roma pada tahun 107 M — sudah merumuskan: “Hanya ada satu tabib, yang sekaligus daging dan sekaligus roh, yang lahir secara fisik dan yang tidak lahir secara fisik, yang adalah Allah manusia (antropoteos).” Ignasius juga menulis: “Yang satu dilahirkan dari Santa Perawan Maria, dan yang satu berasal dari Allah.”

VI. Persekutuan Orang-Orang Kudus

Permohonan “doakanlah kami” kepada Maria berkaitan dengan ajaran Kristiani yang sangat apostolik: persekutuan orang-orang kudus. Bagi orang Kristiani, kematian adalah awal dari kehidupan yang baru — bukan akhir dari segalanya. Sesuai dengan janji Kristus dalam Yohanes 11:25-26: “Akulah kebangkitan dan hidup. Barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya.”

Surat Ibrani 12:22-23 menegaskan hakikat persekutuan ini: “Kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi, dan kepada beribu-ribu malaikat... dan kepada roh-roh orang benar yang telah menjadi sempurna.” Meminta doa kepada orang-orang kudus bukan berarti menyembah mereka — sama seperti meminta seorang ibu untuk mendoakan anaknya sebelum ujian. Gereja Ortodoks dan Katolik memiliki praktik ini, sebagaimana umat NU dalam Islam mengenal tawassul (pengantaraan). Dalam konteks ini, devosi kepada Bunda Maria adalah bagian dari persekutuan umat yang hidup dalam Kristus.

VII. Salam Maria dan Shalawat Nabi: Titik Temu Spiritual

Dalam Al-Qur’an, surat ke-19 diberi nama “Surah Maryam.” Umat Islam percaya bahwa Maria dipilih melampaui wanita-wanita lain — hal ini ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Di Mesir terdapat “Pohon Maryam” di Matariyah, salah satu situs perjalanan Keluarga Kudus dari Israel menuju Mesir.

Posisi Bunda Maria dalam Kristianitas memiliki perbandingan yang menarik dengan posisi Nabi Muhammad dalam Islam. Dalam Kristianitas, penerima pertama sang Firman ketika menjadi manusia adalah Bunda Maria — sehingga ia disebut dalam Kitab Wahyu sebagai “tabut perjanjian yang baru.” Dalam Islam, penerima wahyu pertama adalah Nabi Muhammad. Maka dalam Islam, Nabi Muhammad diberi salam — “Salamu ’alaika ya Nabiyyu” — dan umat membacakan shalawat: “Allahumma shalli ’ala Muhammad ya Rabbi, shalli ’alaihi wa sallim.”

Perbedaannya: dalam Islam, shalawat dipersembahkan kepada Nabi Muhammad; sementara dalam Kristianitas, kitalah yang meminta shalawat (doa) dari Bunda Maria. Namun benang merah yang menyatukan keduanya adalah penghormatan kepada pribadi yang menjadi perantara penerimaan sabda ilahi — sebuah titik temu spiritual yang layak untuk direnungkan dalam semangat dialog dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Catatan Redaksional

Dokumen ini merupakan transkripsi yang telah diedit dan disunting dari ceramah lisan Dr. Bambang Noorsena. Tanda baca, struktur paragraf, dan sistematika pembahasan telah disesuaikan untuk keperluan pembacaan tertulis, tanpa mengubah substansi dan muatan teologis dari materi aslinya. Transliterasi Arab menggunakan ejaan fonetis yang umum digunakan di Indonesia.


Komentar

Postingan Populer