Dr. Bambang Noorsena: Salam Maria dan Shalawat Nabi
Judul Lengkap:
SALAM MARIA DAN SHALAWAT NABI: KEBETULAN ATAU ADA MISTERI
BESAR DI BALIKNYA?
Dr. Bambang Noorsena
Sumber:
I. Pengantar: Bahasa Arab dan Kristianitas
Hari ini kita akan membahas doa Salam Maria dalam
bahasa Arab. Di Indonesia, kaitan antara Kristianitas dengan bahasa Arab memang
terasa asing. Namun apabila kita pergi ke Timur Tengah, kita akan mendapati
begitu banyak penduduk Kristen di sana. Bahkan di Lebanon, komposisinya hampir
lima puluh berbanding lima puluh antara Muslim dan Kristen — suatu negara yang
sebenarnya memiliki unsur Kristiani yang sangat besar. Sebagian besar dari
mereka berasal dari Gereja Katolik Ritus Timur yang dikenal sebagai Gereja
Maronit.
Di Mesir, dari jumlah penduduk yang hampir mencapai
100 juta jiwa, sekitar 20% atau lebih adalah orang Kristiani. Kebanyakan dari
mereka berasal dari Gereja Ortodoks Koptik — gereja Ortodoks Oriental yang
merupakan pewaris takhta suci Alexandria yang didirikan oleh Santo Markus. Di
samping itu, terdapat pula gereja-gereja Timur yang berada dalam persatuan
dengan Takhta Suci Roma, dikenal sebagai gereja-gereja uniat — antara lain
Gereja Maronit di Lebanon, Gereja Katolik Syria yang berpusat di Aleppo, dan Gereja
Koptik Katolik di Mesir.
Gereja juga pernah mengalami skisma. Skisma pertama
terjadi pada tahun 451 antara gereja-gereja non-Kalsedonian (Koptik Ortodoks,
Syriak Ortodoks, Armenian Ortodoks) dengan gereja Konstantinopel dan Roma.
Skisma kedua terjadi pada tahun 1054 antara Gereja Roma Katolik dan Gereja
Yunani Ortodoks (Ortodoks Timur). Kemudian pada tahun 1517 muncul gereja-gereja
Protestan. Meski demikian, usaha ekumenis menuju persatuan gereja terus
dilakukan, dengan keyakinan bahwa Roh Kudus tidak akan membiarkan umat-Nya bercerai-berai
lebih dari 1.600 tahun.
II. Sejarah Bahasa Arab dalam Liturgi Gereja
Pemakaian bahasa Arab dalam liturgi gereja hampir
setua gereja itu sendiri. Pada peristiwa Pentakosta yang tercatat dalam Kisah
Para Rasul pasal 2, sudah ada pendatang-pendatang dari Roma dan bangsa Arab.
Artinya, bangsa Arab sejak awal telah terlibat dalam proyek keselamatan ilahi.
Menurut Yustinus Martir, salah seorang penulis gereja awal, orang-orang Majus
yang digambarkan datang dari Timur itu berasal dari tanah Arab — sebagaimana
tercermin dari persembahan mereka: emas, kemenyan, dan mur.
Perkembangan bahasa Arab pra-Islam justru banyak
ditemukan di lingkungan Gereja. Hal ini diakui pula oleh para intelektual
Muslim, seperti Quraish Shihab dalam bukunya “Mukjizat Al-Qur’an” yang menyebut
prasasti-prasasti Arab Kristiani. Prasasti pertama yang ditemukan adalah
Prasasti Umm al-Jimal, terletak di perbatasan Yordania dan Suriah, ditulis
dalam huruf Aram Nabati. Prasasti kedua adalah Prasasti Jabat yang ditemukan di
Suriah pada tahun 571 M — tahun yang sama dengan kelahiran Nabi Muhammad menurut
tradisi Islam — tertulis dalam tiga bahasa: Aramaik, Yunani, dan Arab, serta
memuat ungkapan “bismil ilah” (Demi Nama Allah). Prasasti ketiga adalah
Prasasti Umm al-Jimal Kedua yang diawali dengan kalimat “Allahu gara li Ulai”
(Allah memberkati keluarga Ulai).
Dalam sejarah gereja, Santo Hilarion yang wafat tahun
371 M dikenal sebagai pengabar Injil di kalangan suku-suku Arab. Pada Konsili
Ekumenis Ketiga di Efesus (431 M), salah satu uskup yang hadir dalam catatan
gerejawi disebut “Abdelas” — yang sebenarnya berarti Abdullah. Ini membuktikan
bahwa bahasa Arab sesungguhnya tidak asing bagi umat Kristiani.
Pada masa kekuasaan Amir Abu Waqqas al-Ash’ari atas
Suriah, Patriak Yuhanna Abu Shedra Kedua dari Gereja Ortodoks Suriah disponsori
oleh penguasa Muslim tersebut untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Arab.
Ketika terjemahan selesai dan ditunjukkan kepada sang Amir, ia mempertanyakan
ungkapan “putra Allah” yang bertentangan dengan akidahnya. Sang Patriak
menjawab dengan gagah berani: “Sekalipun seribu anak panah Tuan menembus
dadaku, tak boleh ada satu huruf pun hilang dari Injil Tuhan kami Yesus Kristus.”
Mendengar jawaban itu, Abu Waqqas berkata, “Silakan teruskan, kamu lebih tahu
apa yang kamu perbuat.”
III. Liturgi Arab dan Kosakata Bersama
Buku Brevir (buku doa harian Gereja) dalam bahasa Arab
disebut “Kitab Shalawat” — yaitu kitab salat-salat. Gereja kuno memang
bersembahyang tujuh kali sehari, sesuai dengan Mazmur 119:164. Waktu-waktu
salat tersebut dalam bahasa Arab Kristiani disebut: Salat Saa’i al-Awal (Jam
Pertama), Salat Saa’i Tsalats (Jam Ketiga), Salat Saa’i Sadis (Jam Keenam),
Salat Saa’i Tasi’ah (Jam Kesembilan), Salat Gurub (Maghrib), Salat Naum
(sebelum tidur), dan Salat Nisf al-Lail (tengah malam). Praktik ini tidak hanya
ada di Gereja Ortodoks, tetapi juga di gereja-gereja Katolik Ritus Timur.
Contoh lain kosakata liturgi Arab Kristiani yang
menarik: doa Kemuliaan (Gloria) dalam ritus Maronit berbunyi “Al-Majdu lillah
wa al-Ibni wa Ruh al-Qudus, alana wa ula awanin wa ila dahrin” (Kemuliaan bagi
Bapa dan Putra dan Roh Kudus, sekarang dan selalu serta sepanjang segala masa.
Amin). Lagu Paskah dalam bahasa Arab berbunyi: “Al-Masih qama bayna al-amwat wa
watha al-mawt bil mawt wa wahaba al-hayata lilladzina fil qubur” (Kristus telah
bangkit dari antara orang mati; dengan kematian-Nya Ia menginjak-injak maut dan
mengaruniakan kehidupan bagi mereka yang di dalam kubur). Pertukaran salam
Paskah: “Al-Masih qam!” (Kristus telah bangkit!) — “Haqqan qam!” (Benar, Ia
telah bangkit!)
IV. Teks Doa Salam Maria dalam Bahasa Arab
Doa Salam Maria dalam bahasa Arab biasanya diawali
dengan: “Assalamu alaiki ya Maryam” (Salam bagimu, wahai Maria). Perlu dicatat
bahwa nama “Maryam” bukan nama Islam, melainkan nama yang sama dalam bahasa
Ibrani (Miryam), Aram (Maryam), Latin/Yunani (Maria), dan Arab (Maryam). Tanda
salib diucapkan: “Bismil Abi wal-Ibni wa Ruh al-Qudus, al-Ilahu al-Wahid. Amin”
— dalam ritus Arab biasanya ditegaskan: “al-Ilahu al-Wahid” (Allah Yang Esa),
artinya Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah Allah Yang Esa.
Teks lengkap Doa Salam Maria dalam bahasa Arab:
Assalamu alaiki ya Maryam, —
Salam bagimu, wahai Maria,
ya mamtali’atan ni’mah, —
wahai engkau yang penuh rahmat/karunia,
Arrabu ma’aki. — Tuhan
sertamu.
Mubarakatun anti finisa’i, —
Diberkatilah engkau di antara wanita,
wa mubarakatun samaratu batniki
Yasu’a (Yesus). — dan diberkatilah buah rahimmu, Yesus.
Ya Khidisah Maryam, — Ya
Santa Maria,
ya walidatal Ilah, — wahai
Bunda Allah (Sang Pelahir Allah),
shalli ’alaina nahnul qatha’a —
doakanlah kami orang-orang berdosa ini
alana wafisaati mautina. —
sekarang dan pada saat kami mati. Amin.
Sumber teks doa ini berasal dari Alkitab. Bagian
“Salam bagimu, penuh rahmat, Tuhan sertamu” diambil dari Injil Lukas 1:28,
ketika Malaikat Gabriel masuk ke tempat Maria. Ungkapan “Diberkatilah engkau di
antara wanita, dan diberkatilah buah rahimmu” diambil dari Lukas 1:42, pada
saat perjumpaan Maria dengan Elisabet. Sedangkan gelar “ya walidatal Ilah”
(Bunda Allah/Theotokos) bersumber dari Lukas 1:43 ketika Elisabet berkata,
“Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”
V. Gelar Theotokos: Bunda Allah
Gelar “walidatal Ilah” atau “walidatullah” dalam
bahasa Arab, yang merupakan terjemahan dari kata Yunani Theotokos, muncul pada
Konsili Efesus dan Konsili Kalsedon. Gelar ini tidak berarti Maria secara fisik
melahirkan Allah Sang Bapa — Allah Bapa bersifat transenden dan tidak dapat
dilihat oleh siapapun. Gelar ini merujuk pada Sabda Allah (Sang Firman) yang
menjadi manusia melalui inkarnasi. Sebagaimana Yohanes 1:14 menyatakan, “Sabda
itu menjadi manusia” dan “Sabda itu bersama-sama Allah dan Sabda itu sendiri
adalah Allah”.
Konsili Efesus diselenggarakan untuk menghadapi ajaran
Nestorius, Patriak Konstantinopel, yang menolak gelar Theotokos bagi Maria.
Nestorius berpandangan bahwa yang dilahirkan Maria hanyalah Kristus-manusia
(Kristotokos), bukan Allah-manusia. Ortodoksi Gereja menegaskan bahwa
kemanusiaan dan keilahian Kristus tidak terbagi, tidak terpisah, tetapi juga
tidak berbaur dan tidak berubah — bagaikan pedang dan api: api menajamkan
pedang, namun pedang tidak menjadi api dan api tidak menjadi pedang.
Ajaran ini bukan baru muncul pada Konsili Kalsedon
atau Efesus. Ignasius dari Antiokia — murid langsung Rasul Yohanes dan Rasul
Petrus, yang mati syahid di Roma pada tahun 107 M — sudah merumuskan: “Hanya
ada satu tabib, yang sekaligus daging dan sekaligus roh, yang lahir secara
fisik dan yang tidak lahir secara fisik, yang adalah Allah manusia
(antropoteos).” Ignasius juga menulis: “Yang satu dilahirkan dari Santa Perawan
Maria, dan yang satu berasal dari Allah.”
VI. Persekutuan Orang-Orang Kudus
Permohonan “doakanlah kami” kepada Maria berkaitan
dengan ajaran Kristiani yang sangat apostolik: persekutuan orang-orang kudus.
Bagi orang Kristiani, kematian adalah awal dari kehidupan yang baru — bukan
akhir dari segalanya. Sesuai dengan janji Kristus dalam Yohanes 11:25-26:
“Akulah kebangkitan dan hidup. Barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup
walaupun ia sudah mati. Dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku
tidak akan mati selama-lamanya.”
Surat Ibrani 12:22-23 menegaskan hakikat persekutuan
ini: “Kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem
surgawi, dan kepada beribu-ribu malaikat... dan kepada roh-roh orang benar yang
telah menjadi sempurna.” Meminta doa kepada orang-orang kudus bukan berarti
menyembah mereka — sama seperti meminta seorang ibu untuk mendoakan anaknya
sebelum ujian. Gereja Ortodoks dan Katolik memiliki praktik ini, sebagaimana
umat NU dalam Islam mengenal tawassul (pengantaraan). Dalam konteks ini, devosi
kepada Bunda Maria adalah bagian dari persekutuan umat yang hidup dalam
Kristus.
VII. Salam Maria dan Shalawat Nabi: Titik
Temu Spiritual
Dalam Al-Qur’an, surat ke-19 diberi nama “Surah
Maryam.” Umat Islam percaya bahwa Maria dipilih melampaui wanita-wanita lain —
hal ini ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Di Mesir terdapat “Pohon
Maryam” di Matariyah, salah satu situs perjalanan Keluarga Kudus dari Israel
menuju Mesir.
Posisi Bunda Maria dalam Kristianitas memiliki
perbandingan yang menarik dengan posisi Nabi Muhammad dalam Islam. Dalam
Kristianitas, penerima pertama sang Firman ketika menjadi manusia adalah Bunda
Maria — sehingga ia disebut dalam Kitab Wahyu sebagai “tabut perjanjian yang
baru.” Dalam Islam, penerima wahyu pertama adalah Nabi Muhammad. Maka dalam
Islam, Nabi Muhammad diberi salam — “Salamu ’alaika ya Nabiyyu” — dan umat
membacakan shalawat: “Allahumma shalli ’ala Muhammad ya Rabbi, shalli ’alaihi
wa sallim.”
Perbedaannya: dalam Islam, shalawat dipersembahkan
kepada Nabi Muhammad; sementara dalam Kristianitas, kitalah yang meminta
shalawat (doa) dari Bunda Maria. Namun benang merah yang menyatukan keduanya
adalah penghormatan kepada pribadi yang menjadi perantara penerimaan sabda
ilahi — sebuah titik temu spiritual yang layak untuk direnungkan dalam semangat
dialog dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
Catatan Redaksional
Dokumen
ini merupakan transkripsi yang telah diedit dan disunting dari ceramah lisan
Dr. Bambang Noorsena. Tanda baca, struktur paragraf, dan sistematika pembahasan
telah disesuaikan untuk keperluan pembacaan tertulis, tanpa mengubah substansi
dan muatan teologis dari materi aslinya. Transliterasi Arab menggunakan ejaan
fonetis yang umum digunakan di Indonesia.
Komentar