Sam Shamoun Menjawab: Seorang Pentakosta Mengajukan Pertanyaan-Pertanyaan Sulit

 Ditranskripsikan ulang oleh Leonard Tiopan Panjaitan

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=hG1prIBNmyo&t=5716s

Berikut narasi mendalam, lengkap, dan panjang yang ditulis ulang dari transkrip tanya‑jawab antara Sam Shamoun dan sepasang suami‑istri berlatar Pentakosta di AS.

Pendahuluan: Dua Pencari, Satu Percakapan Panjang

Sore itu, panggilan suara tersambung. Di seberang, seorang pria bernama Isaiah—dibesarkan dalam tradisi Pentakosta–karismatik namun sempat renggang dari iman—memperkenalkan diri. Di sampingnya, Tiffany, sang istri, seorang mantan Muslim yang kini mengikuti Kristus. Mereka datang bukan untuk perdebatan, melainkan pencarian: bagaimana menata pernikahan, menyikapi pelayanan pelepasan, memahami Ekaristi dan jalan sakramental, hingga—yang paling sulit bagi sebagian—gagasan purgatory. Lawan bincang mereka, Sam Shamoun, tidak tampil sebagai hakim; ia lebih sebagai pemandu—mengakui dirinya sendiri sedang “belajar‑ulang,” menemukan “jalan kuno” (ancient paths) Gereja perdana, dan kini berdiri di sisi Katolik dengan kerendahan hati seorang peziarah.

Isaiah bercerita, masa remajanya diwarnai tarik‑ulurnya iman: dari netral, kembali percaya sekitar usia 17 tahun, lalu naik‑turun, dan baru dua tahun terakhir ia merasa konsisten mengikut Tuhan. Dinamika keluarga ikut mewarnai: orangtua mereka berpindah‑pindah denominasi, ada saudara yang masuk Katolik, bahkan ada pandangan‑pandangan “alternatif” yang memengaruhi cara keluarga memandang gereja dan Alkitab. Di tengah kebingungan latar, pasangan ini mencari keteraturan iman—satu benang merah yang kokoh untuk membangun rumah tangga mereka.

Tema 1 — Pernikahan, Keterbukaan pada Kehidupan, dan Kepercayaan pada Allah

Pertanyaan pertama Isaiah menyentuh keluarga berencana—mengapa Gereja Katolik menolak kontrasepsi artifisial dan bagaimana menghayati tanggung jawab ekonomi keluarga. Sam menjawab secara prinsipil: bagi Gereja, tujuan perkawinan bukan hanya persatuan suami‑istri, tetapi juga keterbukaan kepada keturunan—“beranak cucu dan penuhi bumi” (Kejadian 1). Anak adalah warisan dan berkat Tuhan (Mazmur 127), sehingga upaya yang dengan sengaja memutus makna prokreasi dianggap melawan rancangan Allah. Ia merujuk tradisi penafsiran atas kisah Onan (Kejadian 38) dan hukum levirat (Ulangan 25:5‑10) untuk menekankan betapa pelestarian keturunan dan kesetiaan kepada rancangan Allah menjadi bagian dari etos biblis.

Soal abstinensi dalam pernikahan, Sam mengarahkan pada 1 Korintus 7: suami‑istri tidak saling menolak; pantang hanya dimungkinkan atas kesepakatan bersama, untuk waktu terbatas, guna doa dan puasa, lalu kembali bersatu “supaya tidak dicobai.” Dengan begitu, keintiman tidak diturunkan derajatnya, melainkan ditata—fungsi unitif dan prokreatifnya tetap dihargai. Pada saat yang sama, Sam mengajak pasangan muda ini percaya bahwa Allah memelihara: banyak keluarga sederhana tetap bertahan dan bertumbuh karena belajar mempercayakan realitas ekonomi mereka kepada Tuhan, tanpa menafikan kebijaksanaan pengelolaan dan dialog dengan gembala jemaat (misalnya terkait Natural Family Planning).

Sam juga menyentil dimensi demografis—bagaimana budaya yang alergi pada anak akhirnya menghadapi krisis generasi. Namun ia segera menarik benang utama kembali ke teologi tubuh: bukan retorika demografi yang menjadi dasar, melainkan ketaatan pada sabda dan percaya pada penyelenggaraan Allah. Narasi ini menempatkan pasangan sebagai rekan sekerja Allah yang memelihara kehidupan, bukan sebagai penguasa otonom atasnya.

Tema 2 — Deliverance dan Batas‑Batasnya: Antara Kuasa Allah dan Disernmen

Topik kedua: pelayanan pelepasan (deliverance). Dapatkah pelepasan sungguh terjadi di luar ritus resmi eksorsisme Katolik? Sam menjawab dengan nuansa. Di satu sisi, ia menegaskan kedaulatan Allah: Tuhan dapat berkarya di luar batas denominasi. Ia mengutip kisah murid yang melihat orang mengusir setan “dalam nama Yesus” tetapi “bukan golongan kita,” lalu Yesus menegur mereka agar tidak melarang (Markus 9:38‑39; Lukas 9:49‑50). Di sisi lain, Sam memperingatkan bahaya kekaguman pada fenomena: Yesus sendiri menubuatkan ada orang yang bernubuat dan mengusir setan dalam nama‑Nya, tetapi ditolak pada akhirnya karena tidak melakukan kehendak Bapa (Matius 7:21‑23); Yudas Iskariot pun pernah diberi kuasa menyembuhkan dan mengusir setan (Matius 10:1‑8), namun tidak bertahan setia. Mukjizat bukan meterai keotentikan; ketaatan adalah ujinya.

Sam mengkritisi praktik deliverance yang menjadikan emosi sebagai panggung: kesembuhan yang bersifat sementara/psikosomatis sering dijual sebagai mujizat permanen. Bila Roh Kudus bekerja, kata Sam, buahnya bertahan dan menghasilkan pertobatan. Karena itu, ia mendorong disernmen pastoral yang dewasa: mengakui kuasa Allah yang bebas, sekaligus menolak sensasionalisme. Bagi mereka yang memilih jalur Katolik, itu berarti tunduk pada prosedur resmi yang menyekat antara gangguan rohani, psikologis, dan medis—seraya tetap memusatkan perhatian pada buah hidup yang taat.

Tema 3 — Terang dan Tanggung Jawab: “Yang Banyak Diberi, Banyak Dituntut”

Pertanyaan ketiga mengandung gemetar rohani: bila seseorang sudah diperkenalkan pada apa yang disebut “kepenuhan iman” (dalam kerangka Sam: Gereja Katolik dan tradisi apostolik), apakah bertahan di tempat semula membahayakan keselamatan? Sam tidak menembakkan vonis, namun mengedepankan prinsip tanggung jawab atas pengetahuan. Ia menunjuk Lukas 12:47‑48—hamba yang mengetahui kehendak tuannya, namun lalai, akan dihukum lebih berat; dan 2 Petrus 2:20‑22—mereka yang pernah lolos dari kecemaran dunia karena pengenalan akan Kristus, lalu berpaling, keadaannya lebih buruk daripada sebelumnya. Semakin besar terang, semakin besar tuntutan ketaatan dan pertobatan.

Di sini Sam menegaskan kerendahan hati: mengetahui kebenaran bukan tiket otomatis ke surga; keselamatan dipelihara dalam ketaatan konkret, ditopang sakramen, doa, tobat, dan pengudusan berkelanjutan. Pesan implisitnya jelas: bila hati sudah diyakinkan, melangkahlah sesuai terang yang diberikan—bukan dengan ketakutan terhadap manusia, melainkan dengan takut akan Allah yang kasih‑Nya menyempurnakan.

Tema 4 — Menjadi Katolik: Jalan Sakramental, Ekaristi, dan Disiplin Rohani

Ketika Isaiah bertanya “Bagaimana caranya menjadi Katolik?”, Sam menguraikan jalur OCIA/RCIA, kemungkinan baptis/konfirmasi, hidup Ekaristi dan sakramen tobat secara rutin. Bagi Sam, Ekaristi bukan sekadar simbol; ia membaca Yohanes 6:53‑58 secara realistis: makan daging dan minum darah Putra Manusia adalah syarat hidup kekal—sebuah bahasa sakramental yang mengisyaratkan partisipasi pada kehidupan Kristus yang tak dapat musnah. Roti hidup ini bukan “bonus devosi,” melainkan nutrisi rohani, obat bagi jiwa, dan sumber daya untuk berjuang melawan kelemahan.

Sam melukiskan hidup rohani sebagai disiplin—seperti atlet dan prajurit. Ia mengutip 1 Korintus 9:24‑27 (lari dan tinju rohani), 1 Timotius 4:7‑8 (latih dirimu beribadah), dan 2 Timotius 2:3‑5 (tanggung derita sebagai prajurit). Sementara Galatia 5:16‑26 menjadi peta medan perang: “berjalan dalam Roh” versus “keinginan daging.” Semakin orang menuruti Roh, semakin ia mendapat daya untuk menahan diri; semakin ia menggampangkan daging, semakin rapuh ia terhadap ledakan amarah, iri, dan ketidakmurnian. Ekaristi tampak sebagai “protein” jiwa, pengakuan dosa sebagai “rawat luka,” dan doa‑puasa‑meditasi Kitab Suci sebagai “latihan harian” menuju keteguhan.

Ada pula hikmah pastoral tentang keluarga: rumah yang penuh sukacita, penuh kelembutan, dan kesetiaan adalah buah Roh; sebaliknya, nagging berkepanjangan, kemarahan tak terkendali, atau ketidakmurnian justru menggerogoti martabat pernikahan. Di sini Sam bicara sangat praktis—bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menggugah umat supaya kembali ke ritme rahmat: doa, sakramen, dan kebajikan sehari‑hari.

Tema 5 — Purgatory: Kasih yang Memurnikan hingga Tuntas

Pertanyaan terakhir menggugah rasa ingin tahu teologis: di manakah dasar Alkitab untuk purgatory? Sam memulai dengan mengarahkan cara baca: jangan menuntut Alkitab berbicara hanya dengan istilah yang kita harapkan; lihat pola dan praktik iman umat Allah sepanjang sejarah keselamatan. Ia membawa pendengar kepada 2 Makabe 12:39‑46—sebuah teks Yahudi pra‑Kristen—di mana doa dan persembahan dilakukan bagi mereka yang wafat dalam kondisi tidak sepenuhnya murni (misalnya menyimpan benda terlarang), agar dosanya dihapus. Tindakan itu dipuji sebagai saleh dan kudus. Bagi Sam, ini bukti bahwa gagasan pemurnian pascakematian bukan “temuan belakangan,” melainkan praktik Israel—dan Yesus sendiri menghormati tradisi Hanukkah yang terkait latar sejarah perikop tersebut (Yohanes 10:22‑23).

Sam menyebut pula 1 Korintus 3:11‑15—mengenai pekerjaan yang diuji api; ada yang “diselamatkan seakan‑akan dari dalam api.” Ia menekankan: purgatory bukan lokasi untuk orang yang menolak Allah, melainkan kasih Allah yang memurnikan orang‑orang yang wafat dalam rahmat, tetapi belum sepenuh suci. Dalam terang ini, mendoakan arwah serta mempersembahkan Ekaristi bagi jiwa‑jiwa yang dimurnikan menjadi tindakan kasih Gereja yang berjalan bersama para kudus—melampaui sekat waktu.

Benang Merah: Ketaatan yang Bertumbuh, Kasih yang Memelihara

Dari seluruh percakapan, benang merahnya bukan perpindahan denominasi per se, melainkan ketaatan yang bertumbuh. Sam menempatkan ketaatan di atas ekstasi religius; ia menilai buah lebih penting daripada fenomena. Ia menempatkan keluarga sebagai taman tempat ketaatan kecil—dari saling memberi diri dalam pernikahan, membuka diri pada kehidupan, mendidik anak dalam sukacita dan damai, hingga melatih diri untuk “berjalan dalam Roh.” Ia menempatkan Ekaristi sebagai pusat gravitasi hidup kristiani dan purgatory sebagai cerminan kasih Allah yang tidak setengah hati: kasih yang bukan saja mengampuni, tetapi juga menyembuhkan sampai tuntas.

Di sisi lain, Sam juga menyadari kerapuhan manusia. Ia mengaku, bila manusia yang menulis Alkitab, tentu kita akan menulis “sesuai selera.” Tetapi karena Allah yang berbicara, manusia diajak menyesuaikan diri pada sabda, bukan sebaliknya. Itulah sebabnya, ia berkali‑kali kembali ke Kitab Suci—bukan untuk senjata debat, melainkan sebagai cermin untuk menguji jalan hidup. Di hadapan cermin itu, baik yang bertanya maupun yang menjawab berdiri setara: orang berdosa yang dikasihi, dipanggil untuk bangkit, dibersihkan, dan dituntun menuju kudus.

Penutup: Dari Percakapan ke Peziarahan

Bagi Isaiah dan Tiffany, percakapan ini bukan garis finis, melainkan anak tangga berikutnya. Bila mereka memutuskan menapaki jalan sakramental, itu bukan sekadar “masuk organisasi,” melainkan menerima pola hidup: misa dan Ekaristi, tobat yang teratur, doa yang disiplin, puasa yang mendidik hasrat, meditasi Kitab Suci yang menyiram akal budi, serta kebajikan sehari‑hari yang menghaluskan karakter. Bila mereka memilih tetap tinggal pada tradisi lama, panggilan yang sama tetap berlaku: taatlah pada terang yang sudah diterima, berubahlah oleh Roh, dan ukurlah segala hal dengan kasih yang berbuah.

Percakapan itu ditutup tanpa fanfare. Tidak ada spektakel. Hanya keheningan di mana hati yang mencari menemukan pijakan baru. Jika ada satu kalimat yang merangkum suasana, mungkin ini: Allah lebih tertarik pada kesetiaan kita sehari‑hari—pada cara kita mencintai pasangan, mendidik anak, mengelola hasrat, berdoa dalam kesunyian, mengaku dosa, dan makan roti hidup—daripada pada sensasi agama yang berlalu seperti asap. Jalan kuno itu masih ada, dan undangannya pun masih sama: “Mari, ikutlah Aku.”


Komentar

Postingan Populer