Sam Shamoun Menjawab: Mengapa Indulgensi Dipandang Menantang Teologi Protestan

 Ditranskripsikan ulang oleh Leonard Tiopan Panjaitan

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=aTnnDT818bE

Catatan: Dokumen ini merupakan parafrasa dan restrukturisasi menyeluruh dari naskah dialog, bukan kutipan verbatim.

1) Fokus Pertanyaan dan Klarifikasi Istilah

Pembahasan bermula dari pertanyaan: adakah dasar biblis untuk mendoakan orang yang telah meninggal—khususnya mereka yang “hidup dalam Kristus” namun diyakini masih perlu pemurnian—serta apakah tindakan rohani orang beriman di dunia dapat memberi manfaat bagi mereka?

Pembicara menilai topik ini kerap rancu karena istilah “indulgensi” disalahpahami sebagai “berdoa kepada orang mati”. Karena itu ia menekankan pembedaan: berdoa *kepada* orang kudus (meminta doa syafaat) berbeda dari berdoa atau mempersembahkan tindakan rohani *untuk* orang yang telah wafat. Fokus dialog ini adalah yang kedua: doa diarahkan kepada Allah, sambil memohon belas kasih-Nya bagi mereka yang telah meninggal.

2) Inti Masalah: Purgatori, Pemurnian, dan “Manfaat” bagi yang Wafat

Setelah definisi dianggap jelas, pertanyaan dipersempit: bila seseorang meninggal dalam iman namun belum sepenuhnya disempurnakan, mungkinkah doa, amal, dan tindakan rohani dari pihak orang hidup “diperhitungkan” oleh Allah demi kebaikan si mendiang?

Dalam tradisi Katolik, pertanyaan ini biasanya terkait dengan gagasan pemurnian pascakematian (purgatori) dan konsep “pengurangan hukuman sementara”. Di sinilah istilah indulgensi biasanya ditempatkan: bukan sebagai transaksi, melainkan sebagai praktik rohani yang dihubungkan dengan pertobatan, doa, dan perbuatan kasih, serta orientasi pada belas kasih Allah.

3) Argumen Teks #1: 2 Makabe 12:39–46 (Doa dan Atonemen bagi yang Gugur)

Pembicara mengemukakan 2 Makabe 12:39–46 sebagai rujukan utama. Ringkasnya: setelah peperangan, jenazah beberapa prajurit Yahudi ditemukan mengenakan jimat/”token” berhala yang dilarang hukum Taurat. Hal itu dipandang sebagai sebab mereka gugur. Namun responsnya tidak berhenti pada penghakiman moral: umat diajak berdoa, bertobat, dan melakukan tindakan konkret.

Yudas Makabe mengumpulkan persembahan untuk dibawa ke Yerusalem sebagai “persembahan pemurnian/penebusan” (atonement), dengan harapan bahwa pada hari kebangkitan Allah berbelas kasih kepada mereka yang telah mati. Dalam penekanan pembicara, logika teks ini bergantung pada keyakinan kebangkitan: bila kematian mengakhiri segalanya, doa bagi orang mati dianggap sia-sia; tetapi bila kebangkitan benar, tindakan doa dan persembahan itu dinilai sebagai pikiran yang saleh dan patut.

4) Menjawab Keberatan “Itu Pagan”: Akar Yahudi dan Klaim Historis

Untuk menangkis tuduhan bahwa doa bagi yang wafat adalah praktik “pagan”, pembicara memberi dua garis jawab. Pertama, sekalipun sebagian kalangan menolak 2 Makabe sebagai kanon, kitab itu tetap merupakan sumber historis Yahudi yang merekam praktik dan keyakinan religius Yahudi pra-Kristen. Dengan demikian, praktik doa bagi yang wafat—setidaknya dalam kisah itu—ditampilkan sebagai praktik yang berasal dari tradisi Yahudi, bukan dari penyembahan berhala.

Kedua, pembicara mengaitkan peristiwa Makabe dengan Hanukkah (Perayaan Pentahbisan Bait). Ia menilai kehadiran Yesus pada “Hari Raya Pentahbisan” (Yohanes 10:22–23) sebagai indikasi bahwa perayaan tersebut tidak dianggap sesat. Dari sini ia membangun argumen bahwa kitab yang merekam asal-usul perayaan itu patut diberi bobot serius.

5) Argumen Teks #2: 1 Korintus 15:29 (Baptisan “untuk” Orang Mati)

Pilar kedua adalah 1 Korintus 15:29, yang menyebut praktik “dibaptis untuk orang mati” dan mengaitkannya dengan perdebatan kebangkitan. Ayat itu bertanya: jika orang mati tidak dibangkitkan, mengapa ada orang yang melakukan baptisan “untuk” mereka?

Dalam pembacaan pembicara, ayat ini menunjukkan adanya komunitas Kristen awal yang menganggap tindakan rohani orang hidup dapat dilakukan demi kepentingan orang yang telah meninggal—dengan asumsi kebangkitan benar dan Allah dapat memperhitungkan tindakan tersebut. Ia menilai ayat ini sering menjadi bagian “sulit” bagi pembaca yang menolak kemungkinan manfaat rohani bagi yang wafat, karena berbagai tafsir alternatif bermunculan untuk menghindari implikasi tersebut.

6) Mengapa Ini Menantang Kerangka Protestan Tertentu?

Pembicara menilai ketegangan muncul bila seseorang memegang asumsi ketat: setelah kematian, nasib seseorang tertutup final dan tidak ada tindakan orang hidup yang dapat memberi manfaat rohani bagi yang telah wafat. Jika asumsi ini dijadikan kunci, maka doa bagi yang wafat tampak tidak berguna dan teks seperti 1 Korintus 15:29 harus dijelaskan dengan cara yang sangat tidak langsung.

Sebaliknya, jika seseorang menerima gagasan pemurnian pascakematian, maka ada “ruang teologis” untuk mengerti mengapa doa dan tindakan kasih orang hidup dapat dipersembahkan bagi yang wafat. Dalam kerangka ini, 2 Makabe 12 dan 1 Korintus 15:29 dipakai sebagai petunjuk bahwa praktik semacam itu—dengan berbagai bentuk dan perdebatan tafsir—tidak sepenuhnya asing dalam horizon iman akan kebangkitan.

7) Catatan Tambahan: “Pola” Perayaan dan Pencatatan

Dialog juga memuat argumentasi yang lebih luas tentang “pola” dalam sejarah Israel: ketika sebuah perayaan besar diadakan untuk memperingati karya Allah, biasanya ada catatan tertulis yang memelihara ingatan akan peristiwa itu. Pembicara mencontohkan berbagai perayaan Alkitab yang memiliki narasi asal-usulnya.

Dengan pola itu, ia menyimpulkan bahwa bila Hanukkah dihormati sebagai perayaan yang sah dan peristiwa asal-usulnya dicatat dalam literatur Makabe, maka literatur itu semestinya tidak dipandang sebagai catatan sembarangan. (Catatan: ini adalah argumen teologis-historis yang sifatnya persuasif, bukan kesimpulan yang otomatis diterima semua tradisi.)

8) Pertanyaan Lanjutan: 1 Petrus 3:19 (Roh-roh di Penjara)

Di akhir dialog, muncul pertanyaan tentang 1 Petrus 3:19, yakni Kristus “memberitakan” kepada roh-roh di penjara. Pembicara menolak mengaitkan bagian ini dengan purgatori, karena konteksnya merujuk pada mereka yang tidak taat pada zaman Nuh.

Karena itu, “penjara” dipahami sebagai keadaan penghukuman bagi orang fasik, bukan tempat pemurnian bagi orang benar. Pemberitaan Kristus dipahami sebagai deklarasi kemenangan dan penegasan bahwa kebenaran Allah—yang dulu diabaikan—kini terbukti.

9) Ringkasan Benang Merah

Benang merah yang dirapikan dari dialog ini adalah: (1) istilah harus dibedakan agar topik tidak melenceng (berdoa “kepada” vs berdoa “untuk”), (2) 2 Makabe 12 dipakai sebagai contoh doa dan tindakan penebusan bagi yang wafat dalam horizon kebangkitan, (3) 1 Korintus 15:29 dipakai sebagai indikasi praktik “demi orang mati” yang terkait kebangkitan, dan (4) 1 Petrus 3:19 dipandang tidak mendukung purgatori.


Komentar

Postingan Populer