Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Tuesday, September 22, 2009

Yesus adalah Manusia dan Allah

Akhir-akhir ini banyak orang termasuk sebagian Umat Kristen yang meragukan ke-Allah-an Yesus Kristus. Cukup banyak orang Kristen yang menggambarkan Yesus dengan berbagai versi pun banyak juga orang Kristen yang pindah ke lain hati. Penyebabnya sangat beragam, tetapi saya pribadi membuat 2 (dua) macam tipologi manusia (Kristen) yang mudah meragukan Yesus, membuat ajaran Yesus bermacam versi hingga pada akhirnya meninggalkanNya. Dua tipologi adalah sbb:

  1. Kaum rasionalistik-ambivalen à Tipe ini biasanya terjadi karena kurang pahamnya mereka terhadap ajaran Kristen yang sahih, terlalu mengedepankan rasio semata-mata, ditambah kurangnya jam terbang untuk melacak balik sejarah Yesus ketika menjadi Daging. Pelacakan balik ini sangat diperlukan terutama yang bersumber dari kesaksian dan tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja Perdana. Hal ini berguna untuk menambah “amunisi” pengetahuan iman seseorang. Jadi akal budi seseorang yang keluar sebagai pendapatnya itu tidak cukup untuk mengenal secara lebih dalam Siapa dan Bagaimana Yesus. Sifat ambivalennya adalah seakan-akan orang mengenal betul 100% ajaran-ajaran Yesus tanpa mau mempelajari kesaksian umat Kristen perdana (yang pernah hidup sejaman dengan para Rasul). Alkitab dijadikan tolak ukur satu-satunya berdasarkan akal-budinya sendiri sehingga melahirkan sosok Yesus yang beranekaragam. Orang semacam ini tidak peduli dengan Tradisi Suci Gereja. Bahkan baginya gereja dilihat cukup sebagai kumpulan orang-orang Kristen tanpa perlu menegakkan suatu displin iman yang tegas, benar serta “traceable” sampai ke awal Gereja mula-mula. Ini tercermin dari ribuan denominasi Kristen hingga berjumlah 33.000 di seluruh dunia.
  2. Kaum humanistik-egaliter à Tipe ini biasanya terjadi pada segelintir orang yang terlalu menekankan aspek kemanusiaan Yesus secara tidak proporsional. Dia dianggap dapat berbuat dosa dan memiliki kecenderungan kedagingan yang sama sifatnya dengan manusia fana. Ini menyebabkan pemahaman teologi dan iman terhadap Yesus menjadi ‘sinkretik’ dengan penggambaran sisi kemanusiaan Yesus layaknya manusia yang berpotensi untuk berbuat dosa.
Singkat kata, tulisan pendek ini mau menjelaskan – seperti yang sudah ditetapkan dalam Doktrin Gereja Katolik dan Katekismus – Yesus memiliki SATU PRIBADI dengan DUA KODRAT. Yakni 100% Manusia dan 100% Allah. Dua Kodrat ini bersatu dalam Pribadi Yesus tetapi tidak bercampur satu sama lainnya. Kodrat ini bersifat dualitas yang esa (Oneness in Duality) tetapi memiliki derajat yang unik. Artinya derajat ke-Allah-an 100% dan ke-Manusia-an 100% menyemat pada diri atau Pribadi Yesus dari Nazareth.

Namun demikian, ada kalanya orang atau umat Kristen masih berasumsi atau mempertimbangkan bahwa Yesus itu secara kemanusiaanNya bisa saja berpikiran dan atau bertindak jahat yang menghasilkan dosa.

Oleh sebab itu saya pribadi mau menegaskan bahwa Yesus TIDAK PUNYA POTENSI untuk berpikir dan atau berbuat jahat, dosa. Ia sepenuhnya, luar dan dalam, baik Sebagai Manusia 100% dan Allah 100% adalah KEBENARAN. Karena sebagai SANG KEBENARAN baik dalam rupa daging dan Roh Murni, Dia tidak memiliki KEINGINAN dan atau NIAT dan atau memiliki POTENSI untuk berbuat KESALAHAN, dan atau KEJAHATAN dan atau berbuat DOSA. Inilah sebenarnya yang membedakan secara lebih spesifik kemanusiaan Yesus dengan kemanusiaan kita sebagai mahluk fana. Itu juga sebabnya FREE WILL (Kehendak Bebas) yang dimiliki YESUS sedikit berbeda dengan FREE WILL manusia.

Ini bisa dilihat, dalam kisah dimana adalah ketika menjelang penyalibanNya (malam kamis Putih di taman Getsemani) Dia mengatakan : “…Bapa, Sekiranya Piala ini berlalu daripadaKu..” Apakah ini menggambarkan Pribadi Yesus yang berpotensi untuk berbuat dosa? Jawabannya adalah bahwa rasa takut, rasa marah atau mungkin rasa sedih adalah ATRIBUT SIFAT kemanusiaan Yesus yang sama dengan kita sebagai manusia biasa. Atribut ini bukanlah potensi dosa. Free will Yesus ketika mau menolak Piala Penebusan bukan berarti Dia mau berniat mengingkari misi tuntasnya untuk disalibkan tetapi mau menggambarkan penderitaan berat Yesus sebagai manusia (100%) memanggul dosa-dosa manusia baik di masa lalu maupun di masa datang. Ini semacam ”keluh-kesah” sesaat karena begitu hebatnya derita itu sehingga manusia biasa pun tak akan mampu menanggung beban itu.

Oleh sebab itu free will Yesus ”dicegah dini” pada kesempatan pertama oleh sifat ke-Allah-anNya secara sempurna. Proses pencegahan dini free will oleh sifat ke-Allah-anNya ini bukan berarti sebagai manusia Dia tidak mampu mengurungkan niatNya itu (untuk menolak Piala Penderitaan) tetapi berhubung sifat ke-Allah-anNya itu melekat otomatis pada Pribadi Yesus maka secara ”feit accompli” ke-Allah-anNya itu turun tangan langsung mengatasi situasi tersebut. Dengan demikian pada akhirnya Yesus menjalani proses penyaliban dan hingga akhirnya proses penebusan dosa-dosa manusia berjalan sukses 100%.

Perlu juga kita camkan dalam hati bahwa sebagai Firman Allah maka Yesus sudah ada sejak kekekalaan. Artinya kini sebagai Firman Allah, yang telah masuk dalam sejarah manusia dengan menjadi daging, Dia tetaplah Allah yang sempurna 100% tanpa noda, tanpa cacat cela dan tanpa dosa. Dia tetap murni Roh Allah 100%. Sifat ke-Manusia-an Yesus juga jauh di atas rata-rata manusia biasa. Ini terbukti dari deritaNya yang sangat berat (tak terucapkan oleh bibir manusia) nampak dari ribuan cambukan, siksaan, aniaya yang tak terperikan. Ratusan liter darah telah keluar dari badan Yesus hingga berceceran di sepanjang jalan siksaan. Namun Yesus sebagai manusia yang nampak tak berdaya pada saat itu, berhasil menjalani siksaan dasyat itu secara sempurna hingga ke kalvari. Inilah keunikan sifat kemanusiaan Yesus. Kalau sifat kemanusiaan dalam siksaan yang tak terperikan ini dijalani oleh manusia biasa, saya pikir pasti ia sudah mati kehabisan tenaga dan darah. Ia pasti sudah tewas sebelum mencapai puncak kalvari.

Lebih jelasnya lagi mari kita lihat kutipan-kutipan Injil sebagai data pendukung sbb:

A. Yesus adalah 100% Manusia

1.      Fil 2 : 7 --> ....melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.
2.      Ibr 2 : 14 --> Karena anak2 itu adalah anak2 dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnakan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.
3.      Ibr 2 :17 -->  Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara2Nya......
4.      Yoh 1 : 14 -->  Firman itu telah menjadi manusia...........
5.      Gal 4 : 4 -->  ......yang lahir dari seorang perempuan.....(artinya Ia adalah seorang manusia).
6.      Mrk 6 : 3 --> ........, anak Maria......(artinya : karena Maria adalah seorang manusia maka anaknya pastilah juga manusia).
7.      Luk 1 : 42 --> Yesus buah rahim Maria.............(keterangan sama seperti di atas).

B. Yesus adalah 100% Ilahi


1.      Kol 2 : 9 --> Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an (ke-Ilahi-an).
2.      Kol 1 : 19 --> Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.

C. Yesus tidak memiliki POTENSI untuk berbuat Dosa dan atau kejahatan.

1.      2 Kor 5 :21 --> Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
2.      1 Yoh 3 : 5 --> ......supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.
3.      Yoh 8 : 46 --> Siapakah diantaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa ?
4.      Ibr 4 : 15 --> ...... Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.
5.      1 Pet 2 : 22 --> Ia tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulutNya.


Penulis: Leonard T. Panjaitan

No comments: