Pantocrator

Pantocrator
Dominus Iesus

Sunday, September 6, 2009

10 Biarawati Gereja Episkopal AS Bergabung ke dalam Gereja Katolik

*) Menegaskan Apresiasi Mereka akan Orthodoksi dan Persatuan Gereja Katolik

BALTIMORE, Maryland, AUG. 31, 2009 (Zenit.org).- Hari Kamis, sebuah komunitas biarawati Episkopal dan pemimpin mereka akan diterima masuk ke dalam Gereja Katolik oleh Uskup Baltimore AS.

Sepuluh suster dari Serikat Saudari Dina dari Orang-orang Suci akan diterima ke dalam Gereja oleh Uskup Agung Edwin O’Brien bersama dengan Pastor Episkopal Rm.Warren Tange, berita ini dilaporkan oleh media keuskupan Baltimore kamis lalu.

Menghabiskan waktu selama tujuh tahun dalam doa dan kecermatan sikap, para suster tersebut akhirnya tertarik terhadap iman Katolik khususnya aspek orthodoksi dan persatuan.

Kepala biara dari komunitas yang berlokasi di Catonsville itu, Bunda Christina Christie, menegaskan bahwa setelah mempelajari ajaran Katolik selama dua tahun, para suster itu “sangat bergairah” karena penerimaan mereka menjadi Katolik.

Di kapel biara mereka, para biarawati tersebut akan menerima sakramen krisma dan akan memperbaharui janji mereka yakni kemiskinan, kesalehan dan ketaatan.

Pemimpin mereka, Rm.Warren Tange, juga akan masuk menjadi anggota Gereja pada saat bersamaan, meskipun dia masih bergumul apakah ada kemungkinan dia dapat menjadi imam Katolik.

Bunda Christina menegaskan, “Kami merasa Allah membimbing kami ke arah ini dalam waktu yang lama”.

Pernyataan yang disampaikan dari komunitas tersebut adalah bahwa banyak dari mereka merasa kesulitan akibat adanya perubahan kebijakan dalam gereja Episkopal, termasuk masalah legitimasi pentahbisan imam wanita, pentahbisan uskup homoseksual dan masalah-masalah lain yang secara moral sangat lemah.

Seorang biarawati yang lain, Suster Mary Joan Walker, mengatakan. “Kami tetap berpikir bahwa kami masih dapat membantu dengan menjadi saksi orthodoksi”.

Kepala biara tersebut menjelaskan, bahwa ternyata usaha mereka “tidak membantu sebesar harapan mereka itu akan terjadi dalam Gereja Episkopal.”

Kepala biara itu lantas berujar bahwa: “Orang-orang yang tidak mengenal kami lantas melihat kami seakan-akan kami sepakat dengan apa yang sedang terjadi dalam Gereja Episkopal; dengan tetap setia dan tidak melakukan apa-apa, lalu kami mengirimkan pesan yang menyatakan bahwa pandangan mereka tidak benar.

Para suster tersebut mengakui bahwa beberapa dari teman mereka di Gereja Episkopal merasa disakiti oleh keputusan mereka meninggalkan gereja episkopal, yang kemudian menuduh para suster tersebut meninggalkan perjuangan untuk mempertahankan orthodoksi dalam gereja mereka.

“Kami tidak begitu,” lanjut Suster Emily Ann Lindsey. “Kami melakukannya dalam aspek yang berbeda saat ini.”

Kepemimpinan Paus

Dalam ketidaknyamanan atas beberapa isu tertentu dalam gereja mereka, para suster tersebut menghabiskan banyak waktu untuk melakukan penelitian atas berbagai kelompok pecahan Espiskopal, begitu juga terhadap denominasi Kristen lainnya. Pada akhirnya, para suster tersebut menyadari bahwa mereka secara tanpa paksaan tertarik ke dalam Gereja Katolik.

“Ini adalah karya besar dari Roh Kudus,” ujar Bunda Christina.

Saat ini, bertahun-tahun setelah mempelajari Konsili Vatikan Ke-2 dan ajaran-ajaran Gereja lainnya, para suster tersebut menegaskan bahwa ajaran-ajaran tersebut bukan lagi halangan untuk diatasinya.

Pada awalnya konsep infalibilitas paus adalah isu yang sangat sulit bagi sebagian para suster tetapi sekarang para suster tersebut menegaskan bahwa Paus menjalani sebuah otoritas yang tidak ada dalam Gereja Episkopal.

“Persatuan yang Kristus maksudkan dapat dijumpai dalam Gereja Katolik di bawah kepemimpinan Paus, “ ujar mereka.

“Persatuan adalah isu yang tepat diantara semua isu ini, “ ujar Suster Catherine Grace Bowen. “Ini adalah daya dorong yang utama.”

Meskipun ada dua orang biarawati yang memutuskan untuk tidak menjadi Katolik, namun mereka akan tetap hidup bersama komunitas tersebut dan bekerja bersama-sama dengan para suster lainnya.

Para biarawati tersebut mendedikasikan hidup mereka untuk berdoa, memberikan layanan retret, mengunjungi orang-orang yang ada dalam perlindungan sosial serta membuat kartu-kartu bernuansa religius.

Komunitas yang tetap memelihara tradisi dengan memakai pakaian hitam panjang dan penutup kepala berwarna putih ini merupakan cabang komunitas yang berasal dari Inggris. Cabang AS inilah yang ada di Baltimore sejak 1872, melayani orang-orang miskin dalam area mereka sebagai bagian dari karisma panggilan mereka untuk membantu sesama.

Sumber: Permalink: http://www.zenit.org/article-26730?l=english

*) Diterjemahkan oleh Leonard T.Panjaitan

No comments: